Skip to content

Kisah Detektif Hercule Poirot di Las Vegas

“Cerpen ini hasil terjemahan dari Buku/Cerpen karya Agatha Christie”

Las Vegas, kota super kompleks yang tak pernah tidur, dipenuhi dengan hiruk-pikuk kehidupan malam yang tak kenal lelah. Di tengah gemerlap lampu neon dan suara gemerisik kasino, terjadi kejadian yang mengguncang kota ini. Seorang pengusaha kaya bernama Mr. To Lang Po Hwang yang biasa dipanggil dengan sebutan Mr. Po ditemukan tewas di suite mewahnya di Hotel Bellagio. Kasus ini mengundang perhatian seorang detektif berpengalaman, Hercule Poirot.

Poirot, dengan kepribadian eksentriknya dan kumis yang khas, datang ke tempat kejadian untuk memulai penyelidikan. Dia bertemu dengan petugas kepolisian setempat dari divisi kriminal kecil, Derek Johnson, yang sedang berusaha memahami kasus ini. Di sekitar mereka juga bertebaran beberapa orang polisi dari divisi kriminal khusus.

Derek Johnson: ‘Selamat datang di Las Vegas, Poirot. Saya sangat menghormati reputasi Anda dalam memecahkan kasus-kasus sulit.’

Hercule Poirot: ‘Terima kasih, Derek. Namun, saya berharap bahwa kasus ini tidak terlalu rumit. Bagaimanapun, kita harus memulai penyelidikan dengan langkah-langkah sederhana.’

Derek Johnson: ‘Benar sekali. Korban, Mr. Po, ditemukan tewas dengan luka tembak di kepalanya. Tidak ada saksi yang melihat apa pun, dan alibi tersangka masih belum pasti.’

Hercule Poirot: ‘Sangat menarik. Apakah ada barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian?’

Derek Johnson: ‘Kami menemukan sebuah pistol di dekat tubuh korban. Tetapi ada juga sidik jari yang tidak dikenali di sekitar tempat kejadian.’

Hercule Poirot: ‘Baiklah. Pertama-tama, kita harus melakukan wawancara dengan orang-orang yang memiliki hubungan dengan korban.’

Poirot dan Derek mulai mengumpulkan informasi dari orang-orang yang dikenal Mr. Po. Salah satunya adalah Lucy McManaman, seorang teman dekat yang sering kali diundang ke pesta-pesta mewah Mr. Po.

Hercule Poirot: ‘Lucy, bisakah kamu ceritakan kepada saya tentang hubunganmu dengan Mr. Po?’

Lucy McManaman: ‘Tentu, Mr. Poirot. Saya adalah teman lama Mr. Po. Kami sering kali menghabiskan waktu bersama di kasino dan klub malam.’

Hercule Poirot: ‘Apakah Anda pernah mendengar atau melihat sesuatu yang mencurigakan sebelum kematian Mr. Po?’

Lucy McManaman: ‘Samasekali tidak. Semuanya terlihat seperti biasa. Mr. Po selalu terlihat ceria dan santai.’

Setelah berbicara dengan Lucy, Poirot dan Derek melanjutkan penyelidikan mereka. Mereka kemudian mengunjungi Randy Savage, seorang pengusaha rival yang diketahui memiliki perselisihan bisnis dengan Mr. Po.

Hercule Poirot: ‘Randy, apakah Anda memiliki alibi yang kuat untuk waktu kejadian?’

Randy Savage: ‘Tentu saja, Mr. Poirot. Saya sedang menghadiri pertemuan bisnis di luar kota pada malam itu.’

Hercule Poirot: ‘Apakah Anda memiliki motif untuk membunuh Mr. Po?’

Randy Savage: ‘Tidak, saya tidak punya alasan untuk melakukannya. Meskipun kami memiliki persaingan bisnis, saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang sekejam itu.’

Poirot dan Derek mencatat informasi yang diperoleh dari wawancara dengan Randy dan melanjutkan penyelidikan mereka. Mereka kembali ke tempat kejadian dan memeriksa ulang setiap detail.

Saat mereka sedang berada di suite Mr. Po, seorang pelayan hotel datang untuk memberi tahu mereka bahwa mereka memiliki tamu yang ingin bertemu dengan detektif Poirot. Tamu itu adalah seorang pria tua yang dikenal sebagai Mr. Winston, seorang teman lama Hercule Poirot. Bersamaan dengan itu Derek Johnson merasakan keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya.

Hercule Poirot: ‘Derek, apakah anda kelelahan dalam penyelidikan ini?’

Derek Johnson: ‘Tidak Poirot, saya hanya berpikir bahwa saya belum buang air kecil dari tadi pagi.’

Hercule Poirot: ‘Baiklah, Derek. Kalau begitu silahkan ke toilet dan saya akan tanyai beliau.’

Setelah itu polisi yang bernama Derek Johnson berjalan agak terburu-buru kearah toilet diseberang sana. Hercule Poirot memelintir kumisnya dengan tangan kanannya dan menyambut jabat tangan dari Mr. Winston.’

Mr. Winston: ‘Hercule, apa kabar?’

Hercule Poirot: ‘Ah, Mr. Winston. Kabar baik. Ada yang bisa saya bantu?’

Mr. Winston: ‘Saya pikir saya memiliki informasi yang mungkin berguna bagi penyelidikan Anda. Saya telah melihat sesuatu yang mencurigakan di malam kejadian.’

Hercule Poirot: ‘Benarkah? Ceritakan kepada saya, tolong.’

Mr. Winston: ‘Saya sedang berjalan-jalan di lobi hotel pada malam itu ketika saya melihat seseorang keluar dari lift di lantai tempat Mr. Po menginap. Dia terlihat gelisah dan berjalan dengan cepat menuju pintu keluar.’

Hercule Poirot: ‘Apakah Anda dapat mengidentifikasi orang itu?’

Mr. Winston: ‘Maaf, saya tidak melihatnya dengan jelas. Tetapi saya bisa memberikan deskripsi fisiknya kepada petugas polisi.’

Hercule Poirot: ‘Terima kasih, Mr. Winston. Informasi ini sangat berharga bagi penyelidikan kami.’

Setelah dari toilet, Derek langsung bertemu Hercule Poirot. Derek melihat Mr. Winston masih bercakap-cakap dengan Hercule Poirot sambil berjabat tangan, sepertinya mau pamitan. Setelah berbicara dengan Mr. Winston, Poirot dan Derek kembali ke kantor polisi untuk membahas perkembangan terbaru dalam kasus pembunuhan Mr. Po.

Hercule Poirot: ‘Derek, saya percaya kita mendekati titik balik dalam penyelidikan kita. Informasi dari Mr. Winston mungkin merupakan kunci untuk mengungkap kebenaran di balik kematian Mr. Po.’

Derek Johnson: ‘Saya setuju, Poirot. Saya akan segera mengirim deskripsi fisik orang yang dilihat oleh Mr. Winston kepada tim identifikasi polisi. Tetapi mungkin saya tidak dapat membantu penyelidikan ini karena 3 hari lagi saya harus menghadiri ulang tahun keponakan saya ke New York City’

Hercule Poirot: ‘Tidak masalah, Derek. Kasus ini mendekati clear.’

Selang 3 hari kemudian, tim identifikasi polisi berhasil menemukan pelaku pembunuhan Mr. Po. Pelaku itu adalah seorang pria bernama Derek Johnson, petugas kepolisian yang sebelumnya bekerja di kantor polisi setempat, ia adalah anggota polisi dari divisi kriminal kecil. Derek Johnson ditangkap ketika sedang membeli tiket pesawat jurusan New York City.

Hercule Poirot: ‘Derek, saya kecewa sekali dengan tindakan Anda. Anda telah melanggar kepercayaan publik dan kode etik kepolisian.’

Derek Johnson: ‘Saya minta maaf, Mr. Poirot. Saya melakukan itu karena saya terlilit utang judi dan tidak tahan melihat Mr. Po hidup mewah sementara saya berjuang untuk bertahan hidup.’

Hercule Poirot: ‘Tidak ada alasan untuk melakukan tindakan keji seperti itu. Anda harus bertanggung jawab atas perbuatan Anda dan menerima hukuman yang pantas.’

Akhirnya, Derek Johnson ditangkap dan diadili atas pembunuhan Mr. Po. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi semua orang bahwa kejahatan tidak akan pernah tersembunyi untuk selamanya. Dengan kecerdasan dan ketekunan, Hercule Poirot berhasil mengungkap kebenaran di tengah gemerlap kota super kompleks Las Vegas.

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Misteri Pinjaman Online di Afrika Selatan

“Cerpen ini hasil terjemahan dari Buku/Cerpen karya Agatha Christie” Di tengah gemuruh kota Johannesburg, terdapat...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!