Skip to content

Bumi Bulat yang Tidak Sepenuhnya Bulat

bumi-bulat

Pukul sembilan pagi di kafe kecil yang menempel di sisi barat taman kota, udara masih setengah dingin. Embun menempel di kaca jendela, memantulkan bias matahari pertama yang menembus celah awan tipis. Alunan musik saxophone dari Kenny G mengalun dengan syahdu dan tenang didalam kafe. Suasana yang santai, hangat, dan nyaman benar-benar membuat semua pengunjung betah berlama-lama ngopi di kafe itu. Di pojok ruangan, seorang pria berusia tiga puluh lima tahun duduk dengan laptop terbuka dan secangkir kopi hitam yang uapnya naik pelan—seperti sedang berpikir.

Namanya Rangga Wirawan, seorang penulis lepas sekaligus pengamat fenomena langit. Rambutnya sedikit acak, kemeja berwarna biru muda yang dikenakannya tergulung sampai siku, dan di meja bundar di depannya berserakan kertas catatan dengan tulisan tangan berantakan. Di layar laptopnya, judul besar menyala:

“Bumi Bulat atau Datar? Menurut Saya, Bumi Itu Lonjong.”

Ia tersenyum kecil. Bukan karena yakin telah menemukan kebenaran mutlak, tapi karena sadar betapa lucunya manusia yang selalu ingin membulatkan atau mendatarkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak sesederhana itu.

Suara bel kecil di atas pintu berbunyi. Seorang pria membuka pintu kemudian masuk dan menutupnya. Dia berjalan santai memasuki ruangan itu, dia selalu memakai kacamata hitam, bermasker, bertopi rajut warna biru tua, dan mengenakan jaket kulit dengan kerah bulu berwarna krem….itulah ciri khasnya, dialah Dewa Buku JSW yang sudah menjadi sahabat dekat Rangga Wirawan selama bertahun-tahun. Rangga sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Setelah berdehem sebentar, dia menepuk pundak Rangga dengan tawa renyah.

“Masih mikirin bentuk bumi juga, Rang?” katanya sambil duduk di kursi seberang.

Rangga mengangkat wajahnya. “Heh, Dewa Buku. Kamu dateng pagi juga. Aku pikir masih tidur.”

“Tidur? Kalau denger Kamu nulis artikel kayak gini, siapa yang bisa tidur?” Dewa Buku menunjuk layar laptop dengan alis terangkat. “Bumi Lonjong? Itu kayak telur rebus?”

Rangga meneguk kopinya pelan. “Lebih tepatnya kayak jeruk Bali. Sedikit gepeng di kutub, agak melebar di khatulistiwa. Itu bukan teori aneh, bro. Itu sains. Logika.”

Dewa Buku mengernyit. “Tapi kenapa Kamu nulis kayak orang yang menentang dunia?”

Rangga terkekeh. “Karena dunia emang suka menertawakan yang berbeda. Ngomong-ngomong, kacamata dilepas dong, emangnya nggak capek apa?”

“Oh iya, sori hehe.” jawab Dewa Buku sambil melepas kacamata dan maskernya.
Rangga mengangkat secangkir kopinya, meminumnya, dan melirik Dewa Buku, “Wahhhh nikmatnya kopi ini, bagaikan surga dunia. Kalo mau kopi silahkan pesen, aku traktir hehe.”

Dewa Buku senang sekali, dia langsung memesan secangkir kopi.

Tanpa terasa sudah 2 jam lebih mereka berdua ngobrol sambil ngopi, membahas berita politik, sistem perpajakan di Indonesia, program Makan Bergizi Gratis yang benar-benar problematik, dan masih banyak lagi. Sesekali terdengar suara mobil dan sepeda motor berlalu-lalang di jalan raya. Mereka terdiam sejenak. Di luar jendela, sinar matahari menimpa aspal yang masih basah. Seorang anak kecil berlari mengejar burung merpati di taman, sementara seorang ibu tua menyapu dedaunan gugur.

“Kamu inget, Dewa,” kata Rangga lagi, “waktu SD kita disuruh gambar bumi bulat sempurna? Nggak ada yang nyuruh kita mikir kenapa bisa bulat. Sekarang, setelah Aku baca lagi teori tentang rotasi bumi, Aku baru sadar ~ nggak mungkin sesuatu yang muter jutaan tahun tetap bentuknya bulat sempurna.”

Dewa Buku memutar sendok kecil di dalam kopinya. “Jadi Kamu percaya bumi Lonjong karena rotasi?”

“Ya. Rotasi bikin gaya sentrifugal. Itu yang ‘narik keluar’ bagian khatulistiwa. Kayak kalau Kamu muter adonan di wadah, pinggirnya melebar, tengahnya ketarik.”

“Dan Kamu pikir itu penting buat ditulis?”

“Penting banget. Karena ini bukan cuma soal bentuk bumi. Ini soal cara kita berpikir.”

Mereka berdua terus mengobrol tentang dunia, tentang bumi ini, tentang kehidupan….hingga akhirnya langit mendung pertanda akan turun hujan, Dewa Buku JSW segera berpamitan dan berjalan tergesa-gesa ke pintu lalu menutupnya perlahan.

Malamnya, Rangga duduk di balkon apartemennya, memandangi bulan sabit yang menggantung seperti potongan kuku cahaya. Laptop masih menyala di meja kecil. Di sampingnya ada secangkir teh yang mulai dingin.

Ia membuka folder berisi ratusan foto bumi dari luar angkasa. Foto-foto itu diambil dari berbagai lembaga: NASA, ESA, JAXA, sampai roket swasta milik perusahaan baru. Semua menunjukkan hal yang sama ~ bumi tampak bulat dari kejauhan.

Tapi Rangga tahu, yang “bulat” itu adalah persepsi jarak. Dari jauh, lekukan halus akan tampak sempurna. Sama seperti wajah seseorang yang tampak mulus dalam foto, tapi kalau didekati, terlihat pori-porinya.

Ia menulis lagi:

“Bumi itu bulat, tapi tidak sempurna. Ia melebar sedikit di tengah ~ dan itulah yang disebut Lonjong.”

Teleponnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari adik perempuannya, Nadia.

“Kak, aku baca draft tulisan kakak. Orang-orang bisa salah paham, lho. Hati-hati diserang kaum bumi datar 😂.”

Rangga tersenyum. Ia membalas singkat:

“Nggak apa-apa. Selama mereka mau baca sampai akhir, mereka bakal ngerti maksudku.”

Ia menatap langit lagi. Di atas sana, bulan bergerak perlahan melewati awan tipis. “Semua yang berputar,” gumamnya pelan, “pasti berubah bentuk. Termasuk manusia.”

Hari berganti hari….

Dua hari kemudian, tulisan Rangga diunggah ke situs pribadinya. Tak disangka, artikel itu viral. Ratusan komentar membanjiri kolom diskusi: ada yang setuju, ada yang menertawakan, ada yang memanggilnya “profesor telur bumi”.

Sore itu, Rangga dan Dewa Buku kembali bertemu di kafe yang sama. Langit berwarna oranye lembut, dan aroma kopi baru diseduh mengisi udara.

“Kamu jadi trending, Rang. Hebat juga,” kata Dewa Buku sambil membuka ponselnya. “Ada yang bilang Kamu agen NASA, ada juga yang bilang Kamu pengkhianat kaum bumi datar.”

Rangga tertawa keras. “Dunia ini lucu. Orang lebih senang memperdebatkan bentuk bumi daripada memperbaiki cara berpikirnya.”

Seorang barista muda menghampiri, meletakkan dua cangkir kopi di meja kayu yang sudah mulai kusam. “Mas Rangga, saya baca artikelnya. Keren banget, Mas,” katanya sambil tersenyum malu. “Saya baru tahu kalau bumi itu nggak bulat sempurna.”

Rangga mengangguk sopan. “Terima kasih, Dek. Sains nggak harus rumit kok. Kadang cukup dari logika sederhana.”

Dewa Buku menatapnya lama. “Tapi Kamu sadar, kan, Kamu sedang melawan arus besar?”

“Aku nggak melawan arus. Aku cuma berenang di jalur lain. Selama airnya sama, Aku masih di sungai yang sama.”

Ya….antara fakta dan keyakinan orang memang bertentangan, selalu bertentangan….

Malam itu, Rangga diundang untuk tampil di sebuah diskusi publik di kampus tempat ia dulu kuliah. Tema acaranya: “Bentuk Bumi dan Bentuk Pikiran.” Aula kampus penuh dengan mahasiswa, dosen, dan beberapa wartawan.

Moderator membuka acara dengan nada santai. “Kita semua tahu teori bumi bulat sudah diterima sejak lama. Tapi malam ini, Mas Rangga akan mengajak kita melihat dari sudut yang sedikit berbeda ~ bahwa bumi sebenarnya Lonjong.”

Rangga naik ke podium. Di hadapannya, ratusan mata menatap dengan rasa ingin tahu bercampur skeptisisme.

“Teman-teman,” katanya pelan tapi tegas, “ini bukan tentang teori baru. Ini tentang pemahaman. Bumi Lonjong bukan berarti teori lama salah, tapi berarti kita mengakui bahwa tidak ada bentuk yang sempurna dalam alam semesta. Semua bergerak, semua berubah.”

Ia menunjuk ke layar di belakangnya, menampilkan animasi rotasi bumi. “Rotasi menghasilkan gaya sentrifugal. Akibatnya, bumi melebar di khatulistiwa, tertekan di kutub. Itu fakta yang bisa diukur, bukan opini.”

Seorang mahasiswa mengangkat tangan. “Tapi Mas, kalau semua foto luar angkasa menunjukkan bumi bulat, gimana kita bisa yakin?”

Rangga tersenyum. “Kamu lihat wajah seseorang dari jauh ~ tampak halus. Tapi kalau kamu dekati, ada tekstur, ada garis, ada detail yang nggak terlihat sebelumnya. Begitu juga bumi.”

Ruangan hening sejenak. Lalu terdengar tepuk tangan.

Hari itu memang hari yang cukup melelahkan bagi Rangga, ratusan pertanyaan terus mengalir deras kearahnya tetapi syukurlah dia dapat menjawabnya dengan jawaban yang mudah difahami oleh para peserta diskusi.

Hari berganti sore, dan sore beranjak malam….Setelah acara selesai, Rangga duduk sendirian di taman kampus. Angin malam meniup dedaunan, dan lampu jalan berpendar lembut. Ia menyalakan rokok, mengembuskan asap sambil menatap langit yang hitam berkilau bintang.

Dari kejauhan, ia mendengar suara adzan isya. Suara itu bergema lembut, seolah mengingatkan bahwa seberapa pun manusia ingin memahami langit, selalu ada sesuatu yang tetap di luar jangkauannya.

“Bumi ini Lonjong,” gumamnya, “tapi manusia sering lebih datar dari yang mereka kira.”

Teleponnya kembali bergetar. Pesan dari Nadia:

“Kak, aku bangga. Tapi aku penasaran ~ apa yang sebenernya kakak cari lewat tulisan itu?”

Rangga mengetik pelan:

“Aku cuma pengen orang sadar, kalau dunia ini nggak cuma hitam-putih. Nggak cuma bulat atau datar, kadang yang benar itu memang sulit difahami. Aku menulis tentang ini supaya cepat atau lambat orang-orang bisa berpikir berdasarkan logika, bukan hanya opini.”

“Oh gituuu…” Nadia cuma manggut-manggut.

Rangga mematikan ponselnya dan memasukkannya kedalam saku di celananya. Rokoknya sudah jadi abu karena tertiup angin tanpa disadarinya dan itu membuatnya kesal, “Sialan, sudah habis….saatnya pulang.”

Beberapa minggu kemudian, artikel Rangga dijadikan bahan diskusi oleh stasiun televisi nasional. Ia diundang sebagai narasumber, duduk di sebelah seorang profesor tua yang dikenal skeptis.

Profesor itu berkata dengan nada tenang, “Bumi memang Lonjong, Mas Rangga. Secara ilmiah disebut oblate spheroid. Tapi saya penasaran, kenapa Anda menulisnya seolah itu hal baru?”

Rangga tersenyum. “Karena banyak orang nggak tahu, Prof. Mereka sibuk memperdebatkan antara bulat dan datar, tapi lupa bahwa kebenaran sering kali berada di antara dua hal yang ekstrem.”

Siaran itu berakhir dengan tepuk tangan. Tapi yang paling berkesan bagi Rangga bukanlah tepuk tangan, melainkan bisik kecil sang profesor saat acara selesai:

“Anak muda, teruslah menulis. Dunia butuh orang yang bisa mengajarkan logika tanpa kehilangan rasa.”

Rangga menatapnya dengan mata berbinar. Ia merasa semua perdebatan, semua komentar sinis di internet, bahkan semua lelah yang ia rasakan ~ akhirnya terbayar. Seorang profesor telah mengakui tulisannya sebagai ilmu yang sangat berharga.

Beberapa bulan kemudian, Rangga kembali ke kafe yang sama, tempat semua ini dimulai. Di meja kayu yang sudah sedikit tergores, ia menulis catatan terakhir untuk eBook-nya:

“Bumi memang Lonjong. Tapi yang lebih penting, pikiran manusia juga seharusnya begitu ~ sedikit lentur, sedikit terbuka, dan siap menerima bahwa tidak ada bentuk kebenaran yang benar-benar sempurna.”

Hujan turun pelan di luar jendela, membentuk pola Lonjong di permukaan kaca. Dan di antara aroma kopi yang pahit dan suara petir di kejauhan, Rangga tersenyum.

Karena ia tahu, selama bumi terus berputar, cerita tentangnya tidak akan pernah selesai.

                         === TAMAT ===

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Ekspedisi ke Hutan Kamchanod di Thailand

Di sebuah desa kecil di Thailand, terletak sebuah hutan yang disebut Hutan Kamchanod. Hutan itu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kejadian Mengejutkan Albert Einstein Datang ke Jakarta 2024

Pada suatu hari di Jakarta, Indonesia, tahun 2024, kejutan tak terduga terjadi. Albert Einstein muncul...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Misteri Warung Mie Ayam Mang Kosim

Di sebuah sudut kecil di kecamatan Gajah Tunggal, terdapat sebuah warung mie ayam yang sangat...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Dongeng Terakhir Untuk Bintang Kecil

Hujan baru saja reda di kawasan Sukamaju, sebuah kota kecil di pinggiran Bandung. Jam menunjukkan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Bayang Hijau yang Tergerus

Indonesia, tahun 1935. Di tengah lebatnya hutan Kalimantan, suara gemerisik daun dan kicauan burung menyatu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!