Skip to content

SAILORMOON — BAYANGAN DI TELUK PLUIT (PART 6)

Jakarta Utara, Teluk Pluit. Pukul 05.23 pagi.

Kabut tebal menggantung di atas perairan.
Dari kejauhan, pelabuhan tua Pluit tampak seperti kota mati — kapal-kapal kargo terbengkalai, crane berkarat menatap kosong ke arah laut, dan burung camar melayang rendah di udara dingin yang mengandung aroma solar dan garam.

Satu mobil hitam meluncur pelan di jalan yang mengarah ke dermaga 17 — jalan sempit yang hanya dilalui oleh truk-truk logistik dan nelayan lokal.
Di balik kemudinya, DewaBuku duduk tenang dengan pandangan fokus ke depan. Ia masih mengenakan jas panjangnya yang kini kering sebagian. Di kursi penumpang, SailorMoon menggenggam tongkat kristalnya erat, matanya menatap ke luar jendela, ke arah langit kelabu yang seolah menahan sesuatu yang akan pecah kapan saja.

“Pluit selalu punya rasa yang aneh,” ujar SailorMoon pelan. “Antara hidup dan mati, antara laut dan langit… semuanya seperti ditunda.”

DewaBuku hanya menatap jalan.
“Tempat seperti ini menyimpan rahasia lebih banyak daripada museum dan laboratorium. Termasuk rahasia yang nggak seharusnya dibuka.”

Mobil berhenti di depan gudang tua bertuliskan “PT. LUNARIA MARITIME SUPPLY” — papan namanya sudah miring, tapi masih memantulkan sisa cahaya lampu pagi.
SailorMoon menatap papan itu dengan kening berkerut. “Lunaria… nama itu mirip dengan ‘Lunaris Drive’.”

“Benar,” sahut DewaBuku sambil keluar dari mobil. “Proyek Lunaris dulunya disamarkan lewat berbagai nama dagang. Salah satunya Lunaria Maritime — perusahaan fiktif yang digunakan untuk memindahkan peralatan penelitian tanpa menarik perhatian publik.”

Ia berjalan menuju pintu besi gudang yang terkunci dengan rantai besar. DewaBuku mengeluarkan silet peraknya dan menyelipkannya ke celah gembok. Hanya butuh satu detik — klik — gembok itu terbuka seperti benda yang menyerah pada masa lalunya sendiri.

Mereka masuk.

Di dalam gudang….

Udara lembab bercampur aroma logam dan debu. Cahaya pagi menembus lewat jendela kecil di atap, menyorot barisan peti kayu besar bertuliskan kode rahasia:
LD-03, LD-05, LD-07…

Sailormoon terbartuk-batuk, dengan sigap DewaBuku mengambil masker baru dari saku jaketnya dan memberikannya ke Sailormoon, “Nih, pakai masker. Udara disini kotor.”
“Terimakasih,” jawab Sailormoon sambil memakai masker medis pemberian DewaBuku.

SailorMoon mulai mengucapkan password untuk tongkat kristalnya menyorotkan cahayanya ke sekeliling gudang yang tampak terbengkalai itu. Di ujung ruangan, tampak sebuah meja kerja tua dengan tumpukan kertas, botol pelumas, dan foto berbingkai lusuh — foto Yanto sedang tersenyum di depan kapal, bersama tiga pria berpakaian laboratorium.

Namun wajah ketiga pria itu… telah disobek rapi dari fotonya, hanya wajah Yanto yang tersisa.

SailorMoon merinding.
“Ini bukan cuma tempat kerja, DewaBuku. Ini… seperti altar kenangan.”

DewaBuku membuka salah satu peti dengan hati-hati. Di dalamnya ada tabung kaca panjang berisi cairan kehijauan, di mana tampak serpihan logam melayang di dalamnya — seolah hidup.
“Ini sisa inti Lunaris Drive,” katanya pelan. “Teknologi yang mampu mengubah sinar bulan menjadi energi psionik.”

“Energi… yang bisa memperkuat pikiran manusia?”

“Lebih dari itu,” DewaBuku menatap tabung itu serius. “Energi ini bisa menembus batas antara realita dan ilusi. Dengan kata lain — bisa mengubah keinginan manusia jadi kenyataan… tapi dengan harga yang mengerikan.”

Sebelum SailorMoon sempat menjawab, terdengar suara langkah kaki berat di luar gudang.
DewaBuku segera memadamkan senter dan memberi isyarat diam dan menepi dibalik sebuah pilar beton yang cukup besar.

Pintu besi bergeser perlahan. Masuklah tiga pria berseragam hitam dengan simbol ular melingkar bulan sabit di lengan kanan mereka. Mereka berbicara dalam bahasa Italia campur Inggris — kalimat cepat, dingin, penuh kode.

“Umbra sedang mengawasi lokasi ini,” bisik salah satu dari mereka. “Yanto mungkin sudah mati, tapi sinyal dari chip-nya sempat aktif semalam.”

SailorMoon menatap DewaBuku, matanya memancarkan kesiapan bertarung.
Tapi DewaBuku menggeleng pelan.
“Bukan waktunya berkelahi. Mereka pion kecil. Kita butuh ke tempat inti sistem yang lebih mendesak untuk diatasi.”

Ia meraih tangan SailorMoon dan menuntunnya ke pintu belakang gudang.
Namun sebelum sempat keluar, salah satu mafia itu menyalakan detector scanner. Alat itu berbunyi bip keras, lalu lampu merah berkedip.

“SUBJECT DETECTED! TWO HEART SIGNATURES INSIDE!”

Suara lantang itu memantul di seluruh ruangan.

Tiga pria itu menodongkan senjata listrik. “Chi sei?! Siapa pun kalian, keluar sekarang!”

DewaBuku menghela napas.
“Sudah kubilang… kamu terlalu terang, SailorMoon.”

SailorMoon tersenyum tipis. “Kadang bayangan juga butuh sedikit cahaya…hehe…ketangkep deh.”

Ia melepaskan maskernya dan melompat ke udara, memutar tongkatnya.

DHUAARRRR!!!

Kilatan biru keperakan meledak — udara di dalam gudang berubah seperti pusaran gelombang air. Peti-peti kayu terangkat, dan ketiga pria itu terpental ke dinding tanpa sempat menembak. Sailormoon sudah siap tempur.

Namun tiba-tiba ada kabut asap berwarna ungu muncul dengan aroma harum semerbak luar biasa, wangi yang sangat lembut tetapi kuat, sebuah aroma yang sudah amat dikenal oleh DewaBuku ketika sedang berjalan-jalan di Klaten bersama teman-temannya….sebuah aroma yang mengingatkan kenangan manis sewaktu masih berhubungan baik dengan sahabat karibnya, seorang gadis desa berumur 17 tahun dari Klaten, Jawa Tengah, yang sering dibully oleh para tetangganya karena yatim piatu dan sangat miskin. Namanya Sri Sumarni. DewaBuku selalu menolongnya saat dia menangis hingga tangisan itu menjadi senyuman sebagai ucapan terimakasih. Saat itu Sri Sumarni menyimpan dendam dan mengungkapkan niat kepada DewaBuku untuk merantau ke Jakarta. Sebenarnya waktu itu DewaBuku sempat melarang tetapi Sri Sumarni nekat pergi juga. Singkat cerita, akhirnya Sri Sumarni direkrut oleh DewaBuku untuk menangani sebuah proyek di sebuah lokasi yang berlambang “Bulan Sabit” dengan DewaBuku sebagai mentornya, sebagai pelatihnya, dan juga sebagai…kekasihnya.

Selanjutnya, dari balik kabut asap itu, muncul sosok perempuan tinggi berambut hitam panjang, memakai mantel kulit dan masker berlogo bulan sabit.
Matanya berwarna merah muda menyala.

“Cukup teatrikal,” ucapnya datar. “SailorMoon… aku sudah menunggumu.”

DewaBuku langsung menatap tajam.
“Jadi kamu… yang di balik layar tadi malam?”

Perempuan itu melepaskan maskernya perlahan.
Tatapannya tajam, wajahnya sangat cantik, kulitnya halus bagai sutera berlapis kaca, tubuhnya sangat indah dan kencang, usianya 24 tahun.

“Marni? Kau…..” DewaBuku sangat kaget melihat perempuan cantik didepannya. Selama hampir 5 menit mereka beradu pandang. Perempuan itu memejamkan mata, dia menunduk dan menangis terisak untuk beberapa saat. Dia menyesali pertemuan ini karena ini sama saja dia harus membunuh sahabat karibnya.

“Ya, tapi itu dulu….Namaku sekarang Lady Umbra. Aku tangan kanan Consortium Umbra di Asia Tenggara. Dan kau, DewaBuku, sudah terlalu lama menunda takdirmu.”

SailorMoon menegakkan tubuhnya. “Kalau kamu mencari Yanto, dia sudah mati. Kamu terlambat.”

Lady Umbra tersenyum sinis. “Kematian bukan masalah. Kami hanya butuh memorinya.”

Ia mengangkat tangannya, dan dari gelang hitam di pergelangannya memancar jaring holografik berwarna ungu gelap. Udara di sekitar mulai bergetar, dan tiba-tiba — siluet Yanto muncul di antara mereka. Tapi kali ini, matanya hitam seluruhnya.

“Selamat pagi, SailorMoon,” suara Yanto terdengar tapi seperti gema dari dimensi lain. “Kau datang tepat waktu… untuk melihat akhir dari cahaya.”

SailorMoon mundur satu langkah. “Ini bukan Yanto yang asli. Kamu cuma meniru bentuknya!”

Lady Umbra menatapnya dengan dingin. “Bukan tiruan. Ini adalah salinan jiwanya yang diambil sebelum dia mati — disimpan di chip Lunaris. Sekarang dia bagian dari kami.”

Sebelum SailorMoon sempat bergerak, Yanto-holograf itu mengangkat tangannya. Gelombang energi bulan keluar, menghantam dinding gudang, memecahkan kaca, dan membuat logam melengkung seolah cair.
SailorMoon berteriak menahan tekanan, berusaha menstabilkan kekuatannya.

DewaBuku berdiri di belakangnya, menatap situasi dengan cepat.
Ia menarik keluar silet peraknya, memantulkan cahaya yang aneh — bukan cahaya biasa, tapi pantulan dari kristal bulan di tongkat SailorMoon.

“Dengar, SailorMoon,” katanya cepat. “Energi mereka berasal dari resonansi gelombang psionik. Kau harus menurunkan intensitas cahaya bulanmu, lalu fokuskan jadi satu garis — ke titik pusat di dada Yanto.”

“Tapi itu bisa membunuhnya!”

“Dia sudah mati, SailorMoon. Sekarang kau hanya melawan kenangan yang dikendalikan kebencian.”

Air mata menetes di pipi SailorMoon, tapi ia mengangguk.
Tongkatnya bergetar. Cahaya biru perlahan memadat menjadi garis putih tipis — seperti sinar laser lembut — yang menembus udara dengan suara berdengung.

“LUNAR ALIGNMENT: MERCY STRIKE!”

Sinar itu menghantam dada hologram Yanto.
Sekilas, wajah Yanto berubah — menjadi lembut, manusiawi. Ia menatap SailorMoon dengan senyum terakhirnya.

“Terima kasih… bilang pada dunia… aku cuma mau makan nasi uduk, bukan… jadi monster.”

Tubuh hologram itu hancur menjadi ribuan partikel cahaya.

Lady Umbra berteriak marah, aura gelap meledak dari tubuhnya, memadamkan seluruh lampu di gudang.
Tapi ketika debu mulai turun, DewaBuku sudah berdiri di hadapannya — silet perak di tangan, menempel di lehernya.

“Umbra… berhenti sebelum kau benar-benar kehilangan bentukmu.”

Lady Umbra tertawa pelan. “Kau pikir aku takut? Aku bukan Sri Sumarni yang kau kenal dulu. Kau tahu kenapa kau dipanggil DewaBuku, bukan?”

DewaBuku menatapnya tanpa emosi. “Karena aku mengarsip semua yang sudah terlupakan.”

Lady Umbra menatap balik, matanya bergetar sejenak. “Termasuk… masa lalumu sendiri?”

Ia melepaskan semburan asap hitam dari tangannya. DewaBuku terhempas ke belakang, menghantam dinding, darah menetes dari pelipisnya. SailorMoon berlari ke arahnya, tapi Lady Umbra sudah menghilang dalam kabut hitam.

Beberapa menit kemudian

Gudang itu kini sunyi, hanya suara ombak dari pelabuhan yang terdengar.
SailorMoon membantu DewaBuku berdiri, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Kau terluka.”

“Bukan luka yang penting.” DewaBuku menatap dinding tempat Lady Umbra berdiri tadi. Di sana tertulis kalimat samar, seolah diukir dengan api:

“Project Umbra Phase II: Activation – Luna Sanctum, Jakarta Selatan.”

“Luna Sanctum?” tanya SailorMoon.

“Itu markas bawah tanah,” jawab DewaBuku pelan. “Dulu bangunannya disamarkan jadi klinik medis di bawah Menara Antasari. Tapi kalau Consortium Umbra sudah aktif di sana… berarti tahap kedua dari rencana mereka sudah dimulai.”

SailorMoon menggenggam tongkatnya, cahaya biru berdenyut pelan. “Apa yang akan mereka lakukan?”

DewaBuku menatap laut yang kini mulai berwarna jingga. “Mereka akan membangkitkan Eclipse Core — inti dari semua energi bulan yang pernah disimpan manusia. Kalau itu berhasil diaktifkan… batas antara pikiran dan dunia nyata akan lenyap. Dunia akan jadi cermin dari ketakutan manusia.”

SailorMoon menatap horison. “Jadi… kita harus ke Luna Sanctum.”

DewaBuku tersenyum samar. “Kita? Tidak. Kali ini aku sendiri yang harus masuk dulu. Tempat itu dikunci dengan kode lama — kode yang hanya bisa dibuka oleh seseorang dari masa lalu.”

“Siapa maksudmu?”

DewaBuku menatap SailorMoon lama, sebelum menjawab lirih:
“Orang yang dulu mereka sebut Arsiparis Pertama Umbra….Seorang sahabat karib dari seorang perempuan….dan sayangnya, itu aku.”

SailorMoon terkejut. “Kau bagian dari mereka?!”

“Dulu,” ucap DewaBuku, suaranya datar tapi penuh penyesalan. “Aku yang mencatat seluruh eksperimen Lunaris Drive, aku juga yang memutuskan proyek itu ditutup. Tapi seperti semua dosa… Umbra tak pernah benar-benar mati.”

Ia melangkah menuju mobil, meninggalkan SailorMoon berdiri di tepi dermaga.

“Jangan ikut ke Luna Sanctum dulu. Jaga dirimu. Jika aku gagal, kau yang harus menyalakan kembali cahaya itu.”

SailorMoon menatap punggungnya yang menjauh — siluet hitam yang berjalan di antara kabut jingga pagi.
“DewaBuku…” gumamnya pelan. “Kalau dunia ini berubah jadi bayangan… aku akan jadi bulan yang menolak padam. Karena kau selalu membuat hati ini….ah sudahlah.”

Di Menara Antasari, Jakarta Selatan — 08.47 pagi

Lift bawah tanah bergetar perlahan. Di dalamnya, DewaBuku berdiri sendirian.
Lampu merah berkedip, dan suara mekanik terdengar dari speaker tua di atas pintu:

“Akses terbatas. Verifikasi biometrik: Arsiparis Pertama.”

Ia menempelkan jari ke panel logam. Lampu berubah hijau.
“ACCESS GRANTED”

Pintu terbuka.
Udara di dalam ruangan dingin dan sunyi.
Puluhan tabung kaca tinggi berjajar di sepanjang dinding, masing-masing berisi manusia yang tertidur, dengan simbol bulan sabit di dada mereka.

Dan di tengah ruangan, berdiri Lady Umbra, masih hidup, memegang bola energi ungu berputar cepat.

“Selamat datang kembali, DewaBuku.” katanya dengan nada getir. “Kau akhirnya pulang ke rumahmu.”

DewaBuku menatap ke sekeliling. “Kau menyalin semua eksperimen lama… tapi tak tahu satu hal.”

“Apa itu?”

Bahunya tegak.
“Setiap bayangan… butuh sumber cahaya.”

Lampu-lampu di langit-langit tiba-tiba padam, lalu menyala lagi — bukan warna putih, tapi cahaya biru keperakan.
Dari ventilasi udara, turun sosok bercahaya dengan rambut pirang melayang — SailorMoon, dengan tongkatnya bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Lady Umbra menjerit. “Bagaimana dia bisa menembus penghalang psionik?!”

DewaBuku tersenyum tipis. “Karena aku membukakan pintunya.”

DHUAAARRRR!!!

Suara ledakan mengguncang ruangan. Gelombang energi bulan bertabrakan dengan aura gelap Umbra. Tabung-tabung kaca pecah satu per satu, memantulkan sinar aneh seperti pelangi yang mati.

SailorMoon berputar di udara, mengayunkan tongkatnya dengan mantra yang belum pernah ia ucapkan sebelumnya:

“LUNAR ASCENSION — REBIRTH RAY!”

Cahaya perak memenuhi seluruh ruang bawah tanah. Bayangan Lady Umbra terbelah dua, dan dari tubuhnya keluar kabut hitam yang melengking seperti roh yang tersiksa.
Namun sebelum menghilang, ia menatap DewaBuku dengan senyum misterius.

“Kau pikir ini akhir, DewaBuku? Umbra bukan organisasi… Umbra adalah ide. Dan ide… tak bisa mati.”

Tubuhnya menguap jadi abu ungu yang tersedot ke dalam inti energi di tengah ruangan.
Lalu… keheningan.

SailorMoon menurunkan tongkatnya perlahan.
“Sudah berakhir?”

DewaBuku memandangi inti energi yang kini memucat. “Untuk sekarang… ya. Tapi jejak mereka tersebar di seluruh dunia.”

Ia berjalan mendekat ke inti yang hampir padam, lalu menyentuhnya.
“Setiap manusia punya bayangan. Dan setiap bayangan… menyimpan potensi untuk menjadi Umbra.”

SailorMoon menatapnya dengan tatapan lembut.
“Mungkin itu sebabnya… cahaya seperti aku butuh seseorang seperti kamu.”

DewaBuku menatap balik, membuka masker dan kacamata hitamnya — kali ini dengan senyum yang benar-benar hangat. “Dan mungkin… dunia ini masih punya harapan, selama bulan dan buku masih bersinar di malam yang sama.”

“So sweet…” pipi Sailormoon menjadi agak kemerah-merahan.
DewaBuku hanya tersenyum dan menggandeng tangan Sailormoon, mereka keluar dari tempat terkutuk itu.

Lampu-lampu ruangan perlahan padam.
Di atas Jakarta, matahari pagi akhirnya naik, membelah awan yang sejak semalam menyelimuti kota.

Beberapa hari kemudian, berita di televisi menyiarkan:

“Kebakaran misterius di bawah Menara Antasari berhasil dipadamkan. Polisi menemukan jaringan kabel dan tabung misterius, diduga bagian dari eksperimen ilegal.”

SailorMoon berdiri di atap gedung, menatap matahari sore yang mulai turun.
Di tangannya, sebuah buku catatan kecil — milik DewaBuku — dengan tulisan di halaman pertama:

“Cahaya tak akan menang melawan bayangan. Tapi keduanya bisa menulis kisah yang sama.”

Angin sore berhembus lembut, membawa aroma laut dari utara.
SailorMoon tersenyum, lalu berbisik pelan:

“Selamat beristirahat, DewaBuku. Sampai dunia membutuhkanmu lagi.”

Langit Jakarta perlahan berubah jingga, dan satu bintang kecil mulai muncul di atas horizon.

Bersambung ke: SAILORMOON — BAYANGAN TERAKHIR DI MATAHARI (PART 7)
(Ketika masa lalu Dewa Buku akhirnya terbuka sepenuhnya, dan langit Jakarta menyimpan rahasia yang bahkan bulan pun enggan menyinari…)

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
SAILORMOON - DEWA BUKU DAN DOSA YANG TAK BISA DITEBUS (PART 8)

Keesokan harinya…. Cuaca hari ini sama mendungnya dengan pikiran DewaBuku, mungkin sewaktu ada Brahma Surya...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON – ENERGI DAHSYAT CINCIN URANIUM USAGI (PART 18)

Setelah fragmen energi Brahma Surya terurai habis satu per satu, awan hitam dan kabut Teluk...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON – MENUJU PERANG TERAKHIR (PART 16)

Malam di Teluk Gong tidak pernah benar-benar gelap. Lampu-lampu pelabuhan tua masih menyala redup, memantul...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILOR MOON — KONSEKUENSI HILANGNYA DEWABUKU (PART 11)

Hening selalu punya cara untuk menyembunyikan bising. Jakarta pada dini hari itu terlihat seperti tubuh...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — BAYANGAN TERAKHIR DI MATAHARI (PART 7)

Jakarta Utara, pukul 03.47 dini hari.Hujan sudah berhenti, tetapi awan masih menggantung berat seperti menahan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!