Skip to content

Ketika Cabai Menjadi Mata Uang (Episode 1)

Namanya Bu Aung San Suci. Orang-orang Pasar Johar lebih sering memanggilnya singkat saja: Bu Suci. Usianya baru dua puluh lima tahun, tapi hidup memperlakukannya seolah ia sudah melewati empat musim kemarau tanpa hujan. Ia seorang janda muda keturunan Myanmar, beranak satu, tinggal di sebuah rumah petak sederhana di kawasan Semarang Timur. Di sanalah ia meneruskan warung makan kecil peninggalan almarhum suaminya — warung yang dulu menjadi simbol harapan, kini berubah menjadi medan bertahan hidup. Saat ini dia mengenakan baju kebaya hitam bermotif bunga-bunga merah, rambutnya disanggul, membawa keranjang belanja dari bahan rotan berwarna putih kecoklatan, cenderung ke warna krem.

Tahun itu 2021. Tahun ketika angka-angka kehilangan makna, dan harga-harga seperti sedang mengejek manusia. Inflasi bukan lagi istilah ekonomi di berita televisi. Inflasi menjadi aroma di dapur, menjadi suara kertas uang yang terasa tipis di tangan, menjadi tatapan kosong saat menghitung sisa belanja harian.

Pagi itu, Bu Suci berdiri di depan cermin kecil yang kacanya retak di sudut. Rambutnya diikat seadanya. Di belakangnya, anaknya — Ayu — masih terlelap di kasur tipis. “Hari ini Ibu ke pasar dulu,” gumamnya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun.

Ia belum tahu bahwa hari itu akan mengubah cara pandangnya tentang harga, manusia, dan makna bertahan hidup.


Pasar Johar Semarang selalu punya denyut sendiri. Bau tanah basah, ikan asin, keringat, dan rempah bercampur menjadi satu. Tapi pagi itu, ada aroma lain yang lebih kuat: KEPANIKAN.

Bu Suci berhenti di depan lapak cabai. Matanya menyapu timbangan, lalu papan kecil bertuliskan angka. Ia menelan ludah.

“Sepuluh… juta?” suaranya nyaris tak keluar.

Pedagang itu mengangguk lesu. “Per kilo, Bu.”

Dunia seperti berhenti sejenak. Cabai rawit — bahan paling sederhana di dapurnya — kini setara dengan harga sebuah motor bekas. Jika cabai saja sepuluh juta, Bu Suci tak berani membayangkan harga bawang, beras, minyak, dan gas.

Di tengah kebisingan pasar, ia merasa sendirian. Uang di dompetnya terasa seperti kertas kosong.


Di ujung lorong pasar, ada satu lapak yang selalu dikerumuni orang. Pemiliknya adalah Pak Noto Boto Limo — pedagang cabai blasteran Jawa-Jepang namun berkulit hitam karena sering terpapar cahaya matahari yang terik di Pasar Johar, Semarang. Dia biasa dipanggil dengan sebutan Pak Noto, yang terkenal ramah dan dermawan. Tubuhnya tidak terlalu kurus alias sedang-sedang saja, Berambut keriting pendek, berkaos putih dengan celemek hitam, senyumnya lebar, dan suaranya selalu terdengar hangat meski keadaan dingin.

“Bu Suci,” sapa Pak Noto saat melihatnya. “Nggak usah kaget. Harga boleh gila, tapi hati jangan ikut gila.”

Bu Suci tersenyum dan bertanya, “Berapa harga cabai sekarang pak?” dan tentu saja dijawab oleh Pak Noto sambil tersenyum juga, “Cabai sekarang sudah naik, Bu….Sepuluh juta perkilo.”

“Wah gila juga ya?” ujar Bu Suci sambil tersenyum menutupi kegundahan hatinya.

Pak Noto melirik wajah Bu Suci dan mulai menurunkan timbangan, lalu mengambil segenggam kecil cabai. “Ini buat hari ini. Bayarnya nanti kalau warungnya rame lagi.”

Bu Suci tercekat. “Pak Noto…”

“Kalau semua orang cuma mikir untung, pasar ini sudah jadi kuburan nurani,” jawab Pak Noto pelan.

Di saat banyak orang menimbun, Pak Noto memilih berbagi. Tapi kebaikan selalu punya harga.


Munculnya Seorang Pengamat di Tengah Kerumunan

Pria itu berdiri tak jauh dari sana. Dia adalah pria berambut hitam panjang sebahu, berbadan tegap, memakai beanie hat hitam, mengenakan kacamata hitam dan masker medis berwarna hijau muda, mengenakan jaket kulit berupa coat hitam panjang dengan kerah bulu putih di sebelah kanan dan kirinya dan celana baggy blue jeans biru tua yang agak longgar dan memakai sneakers putih bermerek NIKE. Orang-orang memanggilnya DewaBuku. Dia bukan pedagang, bukan pembeli tetap. Dia pengamat. Dia mencatat manusia seperti mencatat paragraf-paragraf kehidupan.

Dia melihat Bu Suci dengan matanya yang basah tapi teguh. Dia melihat Pak Noto dengan timbangan jujurnya. Dan dia melihat bayangan lain — orang-orang yang mulai menyadari bahwa krisis adalah ladang emas bagi mereka yang tak punya rasa bersalah.

Inflasi selalu melahirkan dua jenis manusia: yang saling menguatkan, dan yang saling memangsa.


Pada saat DewaBuku sedang bergumam sendiri, tak jauh dari situ ada seorang pemuda yang sedang berbincang dengan para pedagang. Namanya Rangga. Distributor besar yang jarang terlihat, tapi pengaruhnya terasa di setiap papan harga. Ia bukan penjahat dengan wajah bengis. Ia rapi, wangi, dan selalu tersenyum.

“Pasar itu soal supply dan demand,” katanya suatu siang pada para pedagang. “Kalau orang lapar, harga naik itu wajar. Nggak masalah bagi saya.”

DewaBuku yang berdiri tak jauh dari situ mendengar perkataannya lalu bergumam, “Wajar katanya? Tapi kelaparan kan bukan angka? Baiklah, aku catat.


Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore berganti malam….

Malam itu, Bu Suci menutup warung lebih cepat. Pemasukan tak sebanding dengan biaya. Ia duduk di kursi kayu, menatap anaknya yang makan dengan lahap.

Di luar, hujan turun pelan. Di dalam, Bu Suci bertanya dalam hati: “Kalau cabai saja sudah jadi mata uang, apa lagi yang akan dijual manusia besok?”

Masih pada malam itu, seseorang sedang fokus kepada laptopnya di sebuah Kafe, dia adalah seseorang yang mengamati situasi pasar Johar tadi siang. Sekarang ini dia duduk ditemani secangkir cappuccino dan kue mochi. Pria itu sedang menulis satu kalimat di buku catatannya:

“Ketika harga kehilangan akal, manusia diuji — apakah ia masih punya hati.”

Dan di Pasar Johar, api kecil mulai menyala. Bukan api kemarahan. Tapi api perlawanan yang pelan, senyap, dan sangat manusiawi.


BERSAMBUNG KE EPISODE 2

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Ketika Cabai Menjadi Mata Uang (Episode 2)

Pasar Johar tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti wajah. Pagi itu, wajahnya lebih pucat...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Ketika Cabai Menjadi Mata Uang (Episode 3 Tamat)

Keesokan harinya, semua menjadi lebih menyakitkan hati para ibu rumah tangga, para pedagang, dan para...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!