
Pagi di Jakarta Barat selalu datang tanpa upacara. Tidak ada pengumuman, tidak ada isyarat khusus selain cahaya pucat yang menyusup di sela gedung dan suara kendaraan yang sudah lebih dulu terjaga daripada manusianya. Wiwin biasanya sudah duduk di tepi tempat tidur sebelum jam enam, menatap lantai kamar kosnya yang bersih namun terasa seperti ruang tunggu — sementara, netral, tidak benar-benar milik siapa pun.
Ia berusia dua puluh dua tahun, terlalu muda untuk terlihat setenang itu, kata orang-orang di kantornya. Rambutnya pirang — hasil pewarnaan yang dirawat dengan disiplin — jatuh rapi sampai bahu. Kulitnya putih bersih, segar, seperti tidak pernah benar-benar disentuh debu kota. Ia jarang tertawa keras, jarang juga mengeluh. Di kantor, ketenangan itu dibaca sebagai kedewasaan. Ia menjadi idola tanpa pernah berusaha.
Rutinitasnya nyaris mekanis. Air hangat, kopi pahit tanpa gula, roti tawar yang dipanggang terlalu lama. Di perjalanan menuju kantor, ia membaca — kadang laporan, kadang novel. Beberapa bulan terakhir, ia membaca karya seorang penulis bernama DewaBuku JSW di situs resminya. Tulisannya pelan, tidak memaksa perasaan pembaca. Ia menyukai cara cerita-cerita itu berhenti tanpa menutup pintu sepenuhnya.
Kantor Wiwin berada di lantai delapan sebuah gedung perkantoran yang menghadap jalan besar. Pagi sampai siang hari di sana adalah arus konstan: rapat singkat, pesan singkat, senyum singkat. Ia bekerja dengan baik, itu diakui. Namun ada kelelahan yang tidak tercatat di laporan kinerja — kelelahan yang muncul dari terlalu sering hadir tanpa pernah benar-benar ada.
Bimo biasanya datang lebih pagi darinya. Ia selalu menyapa dengan suara sedikit lebih keras dari perlu, seolah memastikan kehadirannya dicatat. Mereka satu tim. Awalnya, perhatian Bimo terasa biasa: ajakan makan siang, tawaran mengantar pulang. Lama-lama, ajakan itu berubah menjadi pernyataan yang tidak memberi ruang untuk jawaban.
“Win, kamu tahu aku serius,” kata Bimo suatu pagi, sambil berdiri terlalu dekat di pantry. Bau kopi instan bercampur parfum murah mengisi udara. “Kita cocok. Tinggal kamu saja yang belum mau mengakuinya.”
Wiwin menutup cangkirnya, menatap meja stainless yang memantulkan cahaya lampu. “Aku tidak sedang mencari apa pun, Bim,” katanya. Suaranya datar, bukan dingin. Ia terbiasa memilih kata yang tidak memicu gema.
Bimo tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Kita lihat nanti,” katanya, seperti mencatat sesuatu di kepalanya.
Hari-hari berlalu tanpa kejadian besar, namun ada ketegangan tipis yang menempel seperti debu halus. Wiwin mulai merasa setiap langkahnya diawasi, setiap keputusan kecilnya dikomentari. Ia tidak takut, tepatnya — lebih seperti lelah. Kelelahan yang sama yang membuatnya suatu siang, saat jam istirahat, membuka tab baru di ponselnya dan mencari rumah kecil di pinggiran kota, jauh dari Jakarta Barat.
Keputusan itu tidak lahir dari satu peristiwa. Ia terkumpul perlahan, seperti catatan pengalaman yang disimpan tanpa judul. Ia membayangkan pagi yang tidak dibangunkan klakson, siang yang tidak diukur dengan tenggat. Ia menemukan sebuah rumah kecil dengan kebun terbengkalai di sebuah desa yang namanya nyaris tidak dikenalnya. Foto-fotonya sederhana: pagar kayu miring, tanah kering dengan sisa-sisa tanaman liar.
Ia membelinya tanpa banyak cerita. Tabungannya cukup. Ia tidak mengadakan pesta perpisahan di kantor, hanya mengajukan pengunduran diri dengan alasan pribadi. Beberapa rekan bertanya, sebagian besar mengucapkan selamat dengan wajah bingung. Bimo tidak berkata apa-apa hari itu. Ia hanya menatap Wiwin dari jauh, lama.
Pagi terakhirnya di Jakarta Barat terasa lebih ringan dari dugaan. Ia bangun lebih awal, mengemasi buku-bukunya — termasuk beberapa cetakan cerita DewaBuku JSW yang pernah ia simpan. Ia meninggalkan kunci kamar kos di meja resepsionis, lalu naik ojek menuju terminal kecil. Matahari sudah cukup tinggi, tetapi udara masih menyimpan sisa dingin malam.
Rumah itu sunyi saat pertama kali ia tiba. Kebunnya memang terbengkalai: tanah keras, rumput liar setinggi betis, pot-pot retak yang entah pernah diisi apa. Wiwin berdiri lama di tengah halaman, tidak melakukan apa-apa. Ia mendengarkan. Ada suara serangga, angin yang bergerak tanpa tujuan jelas. Tidak ada yang mendesaknya untuk segera berguna.
Hari-harinya di sana berjalan pelan. Pagi hingga siang diisi dengan membersihkan kebun, menanam bunga sederhana — matahari kecil, melati, beberapa bibit yang ia beli tanpa rencana. Tangannya kotor, kukunya tidak lagi sempurna. Ia menemukan ritme baru: menyiram, membaca, duduk di beranda tanpa memeriksa waktu.
Ia sesekali membuka ponsel, membaca pesan yang tidak mendesak. Dari kantor, dari teman. Dari Bimo, beberapa kali. Ia tidak membalas. Keheningan desa memberinya jarak yang selama ini tidak ia miliki.
Suatu pagi, seorang pria datang ke rumahnya. Ia memperkenalkan diri sebagai DewaBuku JSW. Ia sedang dalam perjalanan tugas sebagai anggota Tim SAR, kebetulan singgah untuk mencari alamat yang keliru. Wiwin mengenal namanya sebelum wajahnya. Mereka duduk di beranda, minum teh hangat. Percakapan mereka tidak berat. Tentang cuaca, tentang menulis, tentang lelah yang datang tanpa drama.
“Kadang kita perlu pergi tanpa menjelaskan semuanya,” kata DewaBuku, sambil menatap kebun Wiwin. “Tidak semua orang perlu tahu alasan kita berhenti.”
Wiwin mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Beberapa hal memang cukup dipahami tanpa dibahas.
Pesan masuk tak lama kemudian. Kali ini tidak lagi berupa kalimat pendek yang seolah santai. Nadanya berubah — lebih teratur, lebih terukur, seperti seseorang yang sedang memastikan kata-katanya akan meninggalkan bekas. Tapi bekas yang buruk.
Wiwin membaca pesan itu perlahan, satu baris demi satu baris, tanpa mengulang. Ia tidak merasakan detak jantung yang melonjak atau napas yang memendek. Yang ada justru keheningan aneh, seperti saat seseorang akhirnya mendengar bunyi yang sejak lama ia duga akan datang.
Ia mengunci layar ponsel, lalu berdiri dan berjalan ke kebun. Matahari sudah cukup tinggi, tapi tanah di dekat pagar tampak lebih kering dari biasanya. Salah satu pot bunga—yang kemarin masih tegak—hari itu condong, daunnya menguning di ujung.
Wiwin menuangkan air pelan-pelan. Ia memperhatikan bagaimana tanah menyerapnya, bagaimana warna gelap kembali muncul di permukaan. Ada rasa bersalah kecil karena hampir lupa menyiram pagi itu, namun tidak cukup besar untuk membuatnya gelisah. Ia tahu, bunga layu bukan tanda kegagalan. Ia hanya penanda bahwa sesuatu perlu diperhatikan kembali.
Di sanalah ia berdiri agak lama, menyadari bahwa pelariannya selama ini bukan penyangkalan, melainkan jeda. Dan setiap jeda, cepat atau lambat, menuntut penutupan yang rapi.
Ia mulai menyiapkan diri bukan dengan rencana besar, melainkan dengan hal-hal sederhana: menuliskan kronologi di buku catatan, menyimpan tangkapan layar pesan, mengingat kembali percakapan-percakapan lama tanpa emosi tambahan. Tidak ada kemarahan yang ia kumpulkan, hanya kejelasan.
Saat ia kembali duduk di beranda, Wiwin sudah tahu bahwa ia akan kembali ke kota. Bukan untuk menetap, dan bukan untuk membuktikan apa pun—hanya untuk menyelesaikan satu simpul yang tertinggal.
Satu simpul yang harus diluruskan secepatnya. Ia kembali ke Jakarta Barat beberapa hari kemudian, pagi hari yang cerah tanpa kesan istimewa. Jalanan sudah padat, tetapi tidak sepadat yang ia ingat. Atau mungkin ia yang berubah cara memandangnya.
Gedung kantor itu terlihat sama—cat dinding, pintu putar, satpam yang masih berdiri di posisi yang sama. Beberapa mantan rekan kerja mengenalinya hampir seketika. Ada yang tersenyum ragu, ada yang menyapa dengan nada hati-hati, seolah Wiwin adalah halaman lama yang tiba-tiba dibuka kembali.
“Eh, Win?” seseorang memanggil. “Kamu ke sini?”
Wiwin mengangguk singkat. “Cuma sebentar.”
Ia tidak naik ke lantai delapan. Ia memilih kafe kecil di seberang gedung, tempat yang dulu sering dipakai Bimo dan circle-nya untuk istirahat siang. Dari luar, ia bisa melihat mereka—tertawa, berbicara cepat, dunia yang masih berjalan dengan ritme lamanya.
Bimo terlihat paling vokal seperti biasa.
“Gue tuh heran,” katanya kepada dua temannya, sambil menyandarkan punggung ke kursi. “Orang dikasih perhatian malah kabur. Padahal gue niat baik.”
Salah satu temannya tertawa pendek. “Mungkin lo terlalu niat, Mo.”
“Ah, perempuan kayak Wiwin itu cuma perlu diyakinin,” Bimo melanjutkan. “Gue kenal dia. Dia nggak bakal berani ribut.”
Wiwin masuk tanpa tergesa. Suara mereka mereda perlahan, seperti radio yang volumenya diturunkan. Beberapa pasang mata beralih kepadanya, sebagian terkejut, sebagian tidak siap.
Bimo tersenyum, refleks. “Akhirnya muncul juga,” katanya, nada suaranya dibuat ringan. “Mau duduk?”
Wiwin duduk. Ia menaruh tas di samping kursi, lalu menatap satu per satu wajah di meja itu. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya kesadaran penuh bahwa inilah tempat simpul itu berada.
Sebuah simpul masalah yang dibuat oleh Bimo. Bimo menulis tentang laporan internal yang pernah Wiwin rapikan diam-diam di akhir bulan, tentang kesalahan kecil yang dulu sengaja tidak diperbesar karena tim sedang dikejar target. Ia menyebut nama atasan mereka, menyebut ruang rapat lantai delapan, bahkan menyebut jam lembur yang hanya tercatat di sistem internal.
Tidak ada kata ancam di sana. Tidak ada makian. Hanya rangkaian kalimat yang memberi isyarat bahwa ada hal-hal yang bisa diingatkan kembali, dibuka ulang, atau disalahartikan — jika Wiwin terus memilih diam dan menjauh. Saat jam lembur itu Wiwin dipanggil Bos untuk merevisi laporan keuangan bulanan di ruang kerja si Bos, dan itulah yang akan dimanfaatkan Bimo untuk menjelekkan reputasi Wiwin di kantor.
Di baris terakhir, Bimo menulis bahwa semua itu sebenarnya bisa “dibicarakan baik-baik”, asal Wiwin tidak terus bersikap seolah ia tidak berutang apa pun pada masa lalu di kantor itu.
Wiwin membaca pesan itu perlahan. Ia tidak panik. Ia menyimpan ponsel, menyiram bunga yang hampir layu. Ia tahu, beberapa pelarian tetap membutuhkan penutupan.
Ia kembali ke Jakarta Barat beberapa hari kemudian, pagi hari. Gedung kantor itu terlihat sama. Ia masuk tanpa seragam kerja, hanya pakaian sederhana. Di sebuah kafe kecil dekat kantor, circle Bimo berkumpul — teman-teman yang biasa mendengar ceritanya versi tunggal.
Wiwin duduk, menunggu waktu yang tepat. Bimo datang dengan senyum yang salah tempat. “Akhirnya kamu sadar,” katanya, suaranya terlalu keras.
Wiwin tidak membalas senyum. Ia berbicara tenang, mencatatkan kejadian demi kejadian — pesan, tekanan, ancaman — tanpa emosi berlebih. Ia tidak menuduh, hanya menyusun fakta. Teman-teman di meja itu terdiam.
Bimo mencoba memotong, “Apa kamu nggak sayang pada reputasi baikmu, Win? Aku bisa berbuat apapun kalau aku mau!” suaranya naik, “jujur saja, kamu pasti menginginkan sesuatu dariku.”
“Aku tidak ingin apa pun darimu,” kata Wiwin akhirnya. “Aku hanya ingin kamu berhenti.”
“Baiklah, Win. Aku akan membuat seolah-olah kamu ada main sama Bos,” ancam Bimo serius.
Wiwin hanya menarik napas dan duduk santai, “Silahkan, Bim. Toh aku sudah nggak kerja disini. Lagian si Bos juga sudah tahu cara kerjamu memanipulasi data. Kamu nggak sadar, dulu ada kamera pengawas di belakang meja kamu, ingat?”
Tidak ada sorak, tidak ada kemenangan. Bimo duduk diam, tidak berkutik, matanya menghindar. Pagi beranjak siang. Cahaya di kafe berubah sudut.
“Sialan.” hanya umpatan itu yang keluar dari mulut Bimo.
Wiwin keluar tanpa menoleh lagi. Jakarta Barat tetap sibuk, tapi ia tidak lagi merasa harus mengikutinya. Beberapa hari kemudian, ia kembali ke rumah kecilnya. Ia menanam bibit baru di kebun. Tangannya kotor, hatinya ringan. Tanpa beban.
Ia duduk di beranda, membaca satu cerita lagi. Angin bergerak pelan. Tidak ada yang perlu dikejar. Tidak ada yang perlu ditakuti. Hanya hari yang berjalan sebagaimana mestinya, dan itu cukup.
Tiba-tiba terdengar nada panggilan di ponselnya. Wiwin melihat satu nama yang tidak asing lagi.
“Mengganggu saja,” gumam Wiwin sambil memblokir nama itu.
Hidupnya kini terasa damai dan tenang.
THE END
*
About Author
Categories
Related Posts
Di sebuah restoran mewah di pusat ibu kota Naypyidaw, suasana haru dan tegang berbaur saat...
Read MoreDewaBukuJSW
Di sebuah lembah tersembunyi yang tak tercatat dalam peta mana pun, terdapat sebuah kebun apel...
Read MoreDewaBukuJSW
Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta Jakarta berdenyut seperti biasanya: macet, panas, dan berisik. Tapi...
Read MoreDewaBukuJSW
Dalam sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran kota Jawa Tengah, hiduplah sebuah keluarga yang...
Read MoreDewaBukuJSW
DAFTAR TOKOH UTAMA Sasti Larasati (19 tahun) – Protagonis Mahasiswi Politeknik ternama di Surakarta, jurusan...
Read More