Donald Trump, mantan presiden Amerika Serikat yang terkenal dengan gaya flamboyannya, sedang berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri acara bisnis. Di sela-sela jadwalnya yang padat, ia mendapat undangan makan malam eksklusif di sebuah restoran mewah Jakarta yang dikepalai oleh Chef Juna, koki terkenal dengan reputasi galak.
Trump, yang selalu penuh percaya diri, masuk ke restoran itu dengan langkah mantap. Di depannya, Chef Juna sudah menunggu dengan ekspresi serius bak hakim yang akan menjatuhkan vonis.
“Selamat malam, Mr. Trump,” sapa Chef Juna dengan nada dingin namun profesional. “Saya akan menyajikan hidangan terbaik untuk Anda malam ini.”
Trump tersenyum lebar, tapi dalam hati mulai merasa waswas. “Sure, sure, I love good food. But make sure it’s perfect, okay? I’m the best at knowing food. I’ve eaten the greatest food in the world, believe me.”
Chef Juna hanya menaikkan alis, lalu berjalan ke dapur tanpa berkata apa-apa. Para pelayan mulai membawa hidangan pembuka: tartar ikan cakalang dengan caviar lokal. Trump memandangnya dengan curiga.
“What is this? It looks raw! Are you trying to poison me?” katanya setengah berteriak.
Pelayan itu gemetar, tapi sebelum ia sempat menjawab, Chef Juna muncul dari dapur. Dengan tatapan tajam, ia menjawab, “Itu adalah ikan segar yang ditangkap pagi ini di Manado. Disajikan mentah untuk menjaga keaslian rasanya. Kalau Anda tidak tahu caranya makan, mungkin Anda tidak layak makan di sini.”
Semua orang di ruangan terdiam. Trump, yang biasanya selalu punya jawaban, hanya terdiam sejenak. Tapi, seperti biasa, ia tidak mau kalah. “Listen, I know fish. I’ve eaten the best fish in Japan, in America. This is not the best fish. Believe me.”
Chef Juna menatap Trump dengan intens, lalu mendekat ke meja. “Kalau Anda mau ikan goreng yang penuh minyak, mungkin saya bisa buatkan, tapi ini adalah restoran fine dining. Kalau Anda tidak suka, pintu keluar ada di sana,” katanya sambil menunjuk pintu dengan pisau dapur di tangannya.
Trump mencoba mengontrol situasi. “Okay, okay. Let’s move on to the next dish. I’m sure it will be better. I trust you. Maybe.”
Hidangan utama akhirnya disajikan: rendang wagyu dengan nasi pandan. Tapi Trump kembali menemukan alasan untuk mengeluh.
“Why is this meat so dark? Is it burnt? I don’t eat burnt food. It’s sad, very sad,” kata Trump sambil menggelengkan kepala.
Chef Juna, yang sudah hampir kehilangan kesabaran, menahan napasnya. “Mr. Trump, rendang adalah salah satu makanan terenak di dunia. Daging ini dimasak berjam-jam dengan bumbu rempah yang kompleks. Anda beruntung bisa memakannya.”
“Tapi lihat ini,” Trump menunjuk piringnya. “It doesn’t look rich, it looks… tired.”
Ruangan kembali sunyi. Kali ini, Chef Juna benar-benar meledak. “Mr. Trump, Anda mungkin ahli dalam properti dan bisnis, tapi di dapur saya, saya adalah presidennya. Kalau Anda tidak mau makan, silakan pergi ke McDonald’s terdekat.”
Semua tamu di restoran menahan tawa, dan bahkan beberapa pelayan tidak bisa menyembunyikan senyuman mereka. Trump, yang merasa gengsi, akhirnya menyerah.
“Alright, alright. I’ll try it. But if I don’t like it, you’ll hear from my lawyers,” katanya dengan ekspresi setengah ngambek.
Ketika akhirnya mencicipi rendang itu, Trump terdiam. Wajahnya berubah, tapi ia mencoba menutupi rasa puasnya. “It’s… not bad. Maybe even… good. But don’t tell anyone I said that.”
Chef Juna hanya tersenyum tipis. “Tentu saja, Mr. Trump. Rahasia Anda aman di sini.”
Malam itu, Trump pulang dengan perut kenyang dan pelajaran berharga: jangan pernah meremehkan koki Indonesia, apalagi yang galak seperti Chef Juna.
Author Profile
Categories
Related Posts
Di sebuah gang sempit di pinggiran kota, ada seorang pedagang bensin eceran bernama Udin. Dengan...
Read MoreDewaBukuJSW
Tahun 2009 adalah tahun yang terasa biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagi Dinda, tahun itu...
Read MoreDewaBukuJSW
DAFTAR TOKOH UTAMA Sasti Larasati (19 tahun) – Protagonis Mahasiswi Politeknik ternama di Surakarta, jurusan...
Read MoreDewaBukuJSW
Malam itu, langit Jakarta Timur dipenuhi mendung tipis. Udara lembab setelah hujan sore, menyisakan aroma...
Read MoreDewaBukuJSW
Pukul empat sore di Malioboro, langit sore tampak berwarna tembaga. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan...
Read More