Skip to content

URBAN LEGEND: MALL WILLOW PARK

Setiap kota besar pasti menyimpan luka yang dikubur dalam-dalam, dan dalam kasus Kota Langsa Raya, luka itu memiliki nama: Mall Willow Park. Sebuah mall yang dibangun jauh bertahun-tahun sebelum Suzuya Mall Langsa.

Mall itu berdiri megah pada tahun-tahun awal booming ritel Indonesia – empat lantai, 120 tenant, air mancur di atrium utama, dan konsep modern ala Amerika. Dulu tempat itu penuh hidup: lampu terang, musik pop, keramaian pengunjung. Namun, di balik glamour pembukaannya, proyek itu menyimpan banyak cacat konstruksi: retakan, kebocoran, korsleting listrik, dan – yang paling kelam – kecelakaan besar tahun 2012.

Media menyebutnya “kebakaran kecil”, tapi warga kota tahu bahwa di lantai paling bawah, sesuatu terjadi. Sesuatu yang membuat mayat-mayat tidak pernah ditemukan hingga hari ini. Mall itu benar-benar ditinggalkan sejak saat itu. Namun, anehnya, pemerintah tidak pernah mengumumkan penutupan resmi. Seolah-olah keberadaan mall itu ingin dilupakan begitu saja.

Tapi kota tidak lupa.
Dan rumor tidak pernah padam.

Orang-orang bilang, jika seseorang nekat masuk ke mall itu setelah maghrib, mereka akan mendengar suara:

anak kecil memanggil-manggil ibunya,

lift yang bergerak sendiri,

tok-tok-tok langkah tinggi di lantai tiga,

dan paling parah…. suara seseorang tertawa di foodcourt.

Tertawa seperti manusia, tapi tidak seperti manusia.

Rumor saja?
Semua orang pikir begitu.
Sampai kelompok urban explorer bernama NOVEMBER CREW datang.

Mereka adalah Konten Kreator

Mira, 23 tahun, adalah pemimpin kanal YouTube NOVEMBER CREW – konten eksplorasi tempat terbengkalai. Postingan mereka sering viral: rumah sakit jiwa, pabrik kosong, stasiun tua. Namun kali ini, Mira ingin sesuatu yang lebih besar.

Mall Willow Park adalah jackpot.
Hanya satu masalah: tidak ada yang berani masuk ke sana.

Bahkan petugas keamanan di sekitar lokasi selalu menghindar jika ditanya.

Namun Mira keras kepala.
Baginya, rasa takut adalah bahan bakar konten berkualitas.

Bersamanya:

Fikri, 25 tahun, kameramen yang terlalu banyak akal.

Arun, 24 tahun, tukang bercanda yang sok berani.

Lila, 22 tahun, editor video yang sebenarnya paling takut.

Keempatnya berjalan menuju mall saat matahari tenggelam, melewati halaman parkir yang retak, rumput liar yang tumbuh tanpa aturan, dan deretan lampu jalan yang mati. Aura tempat itu langsung membuat napas terasa berat – seperti udara tidak ingin mereka masuk.

Mall Willow Park berdiri seperti monster tidur: besar, gelap, dan menganga.

Namun mereka tetap masuk.

Mira menyalakan kamera.
Dan sejarah buruk kota itu kembali bergerak.

Mira berkata dalam hati, “Orang-orang bilang, atrium adalah lokasi paling angker. Apa iya?”

Begitu memasuki atrium, hawa dingin menyergap tulang. Bukan dingin AC, tapi dingin seperti berada di ruang bekas jenazah. Lampu-lampu sudah copot, toko-toko kosong seperti mulut yang menganga.

Di tengah atrium, air mancur mati berdiri kaku, penuh lumut.

Begitu mereka berjalan melintasinya, udara berubah.
Suara langkah mereka menggema seperti ribuan.

Dan itu bukan gema.
Itu seperti langkah-langkah lain yang mengikutinya dari atas lantai dua.

Seseorang – atau sesuatu – seolah berlari cepat di balkon, lalu menghilang.

Mira merasa itu hanya angin.
Fikri langsung memasang kamera night vision.
Arun menegur dirinya sendiri: “Jangan panik, bro….”
Lila mulai memegang rosario kecil tanpa suara.

Mall itu, sejak detik pertama mereka masuk, seperti…. mengamati.
Mengintai.

Menilai.

Mereka berjalan pelan melewati stand-stand fashion yang masih kental dengan suasana fashion.

Lantai satu dulunya dipenuhi butik – tempat orang membeli kemeja kerja, sepatu kasual, dan parfum impor. Kini, manekin-manekin tanpa kepala berdiri di depan kaca pecah.

Saat mereka merekam, angin sepoi masuk melalui jendela yang pecah.
Tapi kemudian….

Manekin-manekin itu bergeser.
Pelan.
Seolah mengikuti mereka.

Arun mencoba menertawakan ketakutannya sendiri.
Tapi langkah mereka makin cepat.

Sampai mereka tiba di toko bernama Belleza, toko pakaian yang dulunya terkenal.

Di situlah Mira melihatnya.

Di pojok toko, berdiri wanita bergaun putih, rambut panjang menutupi wajah. Tubuhnya tidak menyentuh lantai – menggantung beberapa centimeter.

Di belakangnya, tergantung lusinan baju, bergerak lembut seperti ditiup angin.
Padahal tidak ada angin.

Saat figur itu bergerak mendekat, lampu-lampu toko berkedip.
Dan ketika wajahnya mulai terlihat – kulitnya sobek, pipi berlubang, mulutnya seperti disobek dari dalam – Lila menjerit.

Namun yang paling mengerikan bukan penampakannya….
melainkan cara makhluk itu menghilang.

Ia tidak hilang seperti bayangan.
Ia dilebur, seperti foto yang dibakar.
Wajahnya meleleh, tubuhnya retak, dan dalam sekejap menghilang menjadi asap hitam pekat.

Tapi bau daging terbakar tetap tertinggal.

Mall ini tidak kosong.
Mall ini lapar.

Mereka memutuskan naik ke lantai dua melalui eskalator yang mati.

Semakin ke atas, suasana berubah menjadi lebih musty – bau karpet lembab, jamur, dan sesuatu yang seperti bangkai lama. Lampu darurat yang mati sesekali menyala sendiri, seolah memberi flash kamera.

Dan dalam flash itu….
Mereka melihatnya.

Puluhan.

Puluhan pengunjung berdiri di balcony lantai dua.

Tapi mereka bukan manusia.

Ada wanita yang wajahnya hilang setengah, orang tua tanpa kaki, anak kecil berlumuran darah memegang balon yang bocor, dan pria bertubuh hitam legam dengan mata putih melotot tak berkedip.

Mereka semua menatap NOVEMBER CREW.
Tanpa suara.
Tanpa gerak.

Dan ketika lampu mati kembali….

Semua makhluk itu hilang.
Tapi suara langkah kecil dari belakang mulai muncul.

Tok.
Tok.
Tok.

Arun menelan ludahnya.
Mira menoleh perlahan.

Di belakang mereka berdiri anak kecil berusia sekitar tujuh tahun, memakai sandal satu, tangan kirinya menggenggam boneka tanpa kepala.

Anak itu tersenyum.
Tapi senyumnya terlalu lebar.
Terlalu panjang.
Tidak mungkin dilakukan manusia.

Lila menangis.
Anak itu berlari ke arah mereka sambil tertawa seperti rekaman rusak.

Dan saat boneka itu jatuh ke lantai, kepalanya berputar sendiri.

Sungguh pemandangan yang tak seharusnya dilihat, tapi terpaksa dilihat, karena memang kelihatan.

Jika ada tempat terburuk di mall mana pun, itu adalah foodcourt.
Tempat raksasa tanpa dinding, penuh meja terbalik, kursi yang bersuara sendiri, dan lampu yang menggantung tanpa arah.

Namun begitu melangkah masuk, mereka sadar satu hal:

Foodcourt mall ini masih bau makanan.

Aroma ayam goreng, kopi susu, popcorn caramel.
Mustahil.
Sudah bertahun-tahun ditutup.

Suara sendok membentur piring terdengar samar.
Lalu suara tertawa.

Tertawa yang pernah didengar warga dalam cerita urban legend.
Tertawa panjang, parau, seperti seseorang yang memaksakan bahagia.

Dalam kabut tipis yang entah dari mana muncul, mereka melihatnya:
Meja panjang penuh makanan.
Ayam crispy panas.
Mie ramen beruap.
Pizza baru keluar oven.

Dan puluhan orang duduk mengelilingi meja.
Tapi mereka tidak punya wajah.

Mira gemetar.
Fikri memegangi kamera yang tiba-tiba berat, seperti ada tangan menggenggamnya dari belakang.

Salah satu “orang” itu menoleh.
Kepalanya bukan berputar biasa, tapi retak….
seperti patahan kayu.
Matanya tidak ada.
Mulutnya hitam pekat.

Dan ia tertawa.

Tawa itu berlipat, menggema dari seluruh penjuru foodcourt.

Itu bukan makhluk biasa.
Itu bukan hantu biasa.

Itu penunggu mall Willow Park.

Penunggu paling tua.
Paling kuat.
Dan paling lapar.

Dan juga paling…..nggak jelas.

Makhluk-makhluk di foodcourt berdiri.
Satu per satu.
Gerakan mereka seperti boneka rusak.

Saat semua makhluk bergerak maju, Mira menjerit agar mereka lari.

Mereka berlari ke lorong samping – lorong gelap berdebu yang mengarah ke area bioskop lantai tiga.

Namun sesuatu mulai terjadi.

Food court bergoyang.
Lantai bergetar.
Lorong memanjang.

Mereka berlari, tapi tidak pernah mencapai ujung lorong.

Seolah mall itu berubah bentuk.
Menggulung.
Menangkap.

Fikri jatuh tersungkur.
Tangannya meraih sesuatu – lantai yang licin.

Ketika ia melihat ke bawah….

Itu bukan lantai.
Itu wajah manusia.
Wajah yang membentuk lantai lorong, mata terbuka, menatapnya.

Wajah itu membuka mulut….
dan menggigit tangan Fikri.

Lila berteriak.
Arun menarik Fikri sekuat tenaga.

Tapi gigitan itu meninggalkan bekas….
bekas tangan manusia, tapi dingin seperti besi.

Mall ini hidup.
Dan mall ini marah.

Akhirnya dengan tenaga dan kekuatan yang tersisa, mereka berlari sekencang-kencangnya menuju lokasi yang mereka kira adalah pintu keluar darurat,

Akhirnya mereka mencapai bioskop.
Pintu ruang proyektor setengah terbuka.

Mereka masuk.

Ruang itu kecil, bau debu film lama.
Reel-reel berserakan.
Poster film tahun 2012 masih tergantung.

Namun mesin proyektor tiba-tiba menyala dengan sendirinya.
Listrik tidak ada.
Tapi mesin menyala.

Layar besar di studio 1 ikut menyala.

Dan film itu memutar rekaman CCTV mall tahun 2012.

Rekaman hari kebakaran.

Mereka melihat pengunjung berlarian.
Asap tebal.
Teriakan.
Lalu….

Seseorang muncul di rekaman.

Wanita bergaun putih dari lantai satu.

Hanya saja…. di rekaman ini wajahnya masih manusia.

Ia terseret ke bawah escalator.
Sesuatu menariknya.

Rekaman terus berputar.
Darah.
Jeritan.
Api.
Sampai layar retak.

Tiba-tiba suara menjerit muncul dari belakang mereka.

Seseorang muncul dari gelap:
wanita yang sama.

Tapi kini tubuhnya lebih rusak:
mulutnya robek hingga telinga, darah mengalir dari matanya, bagian perutnya berlubang seperti habis digerogoti sesuatu.

Ia berdiri di pintu.
Menghalangi jalan keluar.

Dan di belakangnya….
muncul ratusan tangan hitam dari kegelapan.

Mencari.
Meraih.
Mengajak.

Mengajak apa? Kemana? Untuk apa?
Tak ada yang mengerti.

Tetapi…..Mira akhirnya mengerti.
Mall Willow Park bukan tempat berhantu.

Mall Willow Park adalah penjara.
Penjara arwah, tragedi, dan sesuatu yang jauh lebih gelap:

Mall itu sendiri adalah entitas.
Bangunan yang hidup dari rasa takut, memori, dan kematian.

Semua hantu di dalamnya bukan sekadar arwah tersesat.
Mereka adalah:

pengunjung yang mati terjebak,

pekerja yang terbakar,

anak-anak yang tidak sempat lari,

roh-roh yang dimakan sang “penunggu”.

Mereka tidak bisa pergi.
Mereka terserap menjadi bagian dari struktur mall: lantai, tembok, manekin, poster, bahkan udara.

Dan sekarang….
Mall itu ingin menambahkan korban baru.

Empat orang.
Tepat empat.
Seperti empat sekuriti yang hilang pada hari kebakaran 2012.

Seolah mall itu….
menyempurnakan siklusnya.

Siklus yang seperti apa? Ya siklus pengambilan para pengikut baru, dan Mall ini tidak pernah mengembalikan siapa yang sudah diambil.

Mereka mencoba kabur.
Berlari ke arah pintu masuk atrium.

Namun saat mereka melalui atrium….

Mall berubah bentuk.

Tangga memanjang.
Lorong berputar.
Toko-toko menutup sendiri.

Dan pintu utama mall…. hilang.
Tidak ada lagi pintu keluar.
Hanya dinding besar dengan tulisan:

WILLOW PARK – OPEN 24 HOURS

Makhluk foodcourt muncul.
Anak kecil dengan boneka muncul.
Manekin bergerak.
Wanita gaun putih melayang di atas mereka.

Ratusan tangan hitam meraih ke arah Mira.

Lila memeluk dirinya sambil berdoa memohon pengampunan semua dosa-dosanya….dia mengucap doa Rosario sebanyak-banyaknya, sebanyak yang dia bisa.
Arun menjerit memanggil nama ibunya.
Fikri mencoba memecahkan kaca dengan kamera tapi kaca itu tidak memantulkan mereka.

Karena mereka bukan pengunjung lagi….Ya, tanpa mereka sadari, mereka sudah berpindah alam….mereka sudah mati. Bagi masyarakat di sekitar lokasi itu, mereka berempat sudah mati tetapi sebenarnya mereka berempat hanya berpindah alam saja. Mereka sudah menjadi bagian dari mall.

Rekaman terakhir di kamera Mira – yang ditemukan bertahun-tahun kemudian oleh seorang pemulung – menunjukkan atrium mall.

Sunyi.
Kosong.
Damai.

Tapi jika video itu dihentikan tepat pada detik ke-47, di balkon lantai dua bisa terlihat siluet empat orang.

Duduk menghadap kegelapan.
Tidak bergerak.

Dan salah satunya tersenyum….
senyum yang terlalu panjang untuk manusia.

Mall Willow Park tidak pernah ditutup.
Sebab mall itu tidak pernah berhenti menerima pengunjung.

Mall itu hanya berhenti melepaskan mereka.

Bayangan pertama yang Mira lihat bukanlah sosok manusia.

Itu sesuatu yang bergerak secara terputus – seperti gambar CCTV rusak – meluncur di antara kolom-kolom beton. Ia tidak punya bentuk jelas. Setiap kali Mira mengedip, sosok itu berubah posisi, seolah mendekat tanpa gerakan.

Udara di lorong itu makin dingin. Rambut di tengkuknya berdiri.

Ia menarik napas panjang sebelum bicara kepada kedua temannya.

“Jangan berpisah…. apa pun yang terjadi.”

Namun larangan itu datang terlambat.

Ketika mereka berbalik untuk kembali, lorong yang tadi mereka lewati tidak lagi ada. Yang muncul hanyalah dinding kusam penuh noda jamur seolah lorong itu tidak pernah dibangun sama sekali.

Rafi melangkah mundur sambil memaki.

Arman memukul dinding itu, memaksa dirinya percaya bahwa ini cuma ilusi.

Tapi Mira tahu…. mall ini sedang mengubah dirinya sendiri.

Seperti labirin hidup.

Seperti makhluk yang bernapas.

Perubahan pertama dimulai dengan boneka.

Dari salah satu toko aksesori yang kosong, mereka mendengar suara gesekan kecil. Pintu geser toko bergerak sendiri, membukakan jalan seperti mempersilakan mereka masuk.

Arman menyorotkan senter.

Rak-raknya kosong…. kecuali satu.

Sebuah boneka anak perempuan bergaun merah berdiri tepat di tengah toko. Kepalanya miring 45 derajat, namun matanya mengikuti mereka.

Bukan pantulan cahaya. Bukan efek debu.

Mira memaksa dirinya menahan napas.

Lalu sesuatu terjadi yang membuat darahnya membeku.

Boneka itu mengangkat tangan – gerakan patah seperti sendi manusia yang dipaksa menggunakan engsel kaku. Suara kayu retak mengiringi gerakan itu.

Lengan kecilnya menunjuk langsung ke sebuah pintu pegawai di bagian belakang toko.

Sebuah pesan.

Atau peringatan.

Rafi menelan ludah.

Mira menggeleng cepat.

Firasatnya mengatakan pintu itu tidak seharusnya dibuka.

Tapi mall ini seperti permainan yang tak memberi pilihan.

Pintu pegawai itu membuka sendiri.

Udara basah dan berbau karat menyembur keluar.

Dari dalam, mereka mendengar suara langkah kaki kecil. Berjalan. Berhenti. Berlari. Menabrak pintu logam. Menarik sesuatu.

Arman menyorot ke dalam.

Machinery room.

Deretan mesin AC tua. Pipa-pipa berkarat. Ruang panjang yang terlalu gelap untuk dilihat ujungnya.

Dan di tengah ruangan itu….

Ada seorang anak kecil berdiri membelakangi mereka.

Gaun putih lusuh, rambut panjang menutupi punggungnya.

Mira langsung merasakan sesuatu yang salah. Anak itu tidak punya bayangan. Tidak memancarkan suhu tubuh. Tidak bergerak sedikit pun.

Hanya berdiri seperti menunggu seseorang mendekat.

Rafi, entah karena bodoh atau panik, memanggil:

“….Dek?”

Anak itu memutar badan.

Bukan sekadar berbalik.

Tetapi memutar – dengan derak tulang yang memanjang, kepala meregang hingga setengah lingkaran penuh sebelum badannya menyusul.

Wajahnya muncul.

Mira menjerit – tanpa suara.

Wajah anak itu tampak seperti manekin yang dilelehkan di satu sisi. Mata kirinya menetes seperti lilin, namun tetap berkedip pelan, seperti memaksa dirinya tetap hidup.

Ia tersenyum.

Mulutnya sobek sampai ke telinga.

Dan ia berlari ke arah mereka.

Mereka kabur, menutup pintu, mendorong apapun yang bisa digunakan. Tapi suara tangan kecil itu terus memukuI logam, makin cepat, makin kuat.

Mira tahu satu hal:
HANTU DI MAL INI BISA MENYENTUH.

Dan itu berarti mereka bisa melukai.

Ketika pintu akhirnya berhenti bergetar, suara lain menggantikan:

Bisik-bisik dari pipa AC di atas kepala mereka.

Seperti suara ratusan mulut kecil berbicara bersamaan.
Beberapa menangis.
Beberapa tertawa.
Beberapa membisikkan nama Mira.

Seolah mall ini tahu mereka satu per satu.

Arman mengarahkan senter ke ujung lorong servis.

Refleksi mata – bukan satu, tapi tiga – muncul.

Sesosok penjaga mall muncul dari kegelapan, memakai seragam lama, rompi kusam, wajah pucat seperti kertas lama yang basah. Namun yang paling mengerikan bukan sosoknya….

….melainkan apa yang ia seret.

Tiga mayat kering, ditarik dari kaki mereka, seperti boneka usang. Kepala mereka membentur lantai, menghasilkan suara “krak krak krak” yang membuat perut Mira mual.

Penjaga mall itu mendekat tanpa suara, mulutnya bergerak pelan, mengulang satu kalimat:

“Mall tutup jam sembilan…. pulanglah…. pulanglah…. pulanglah….”

Semakin dekat.

Semakin cepat.

Wajahnya meregang semakin panjang setiap langkah, rahang terbuka seperti cangkang kepiting patah.

Rafi menjerit dan berlari.

Arman ikut panik.

Mira mematung sebentar.

Sampai ia sadar – penjaga itu berada tepat di belakangnya.

Mereka sampai bingung….apakah mereka sudah mati atau belum mati? Lantas kalau belum mati kenapa hantu Mall bisa menyentuh mereka? Bukankah antara manusia dan hantu itu dibatasi oleh pembatas tipis yang tidak bisa ditembus oleh siapapun kecuali atas ijin Tuhan? Mereka tak tahu….tujuan mereka sekarang adalah ke atrium utama.

Mereka kembali ke atrium utama.

Namun sesuatu berubah.

Tangga eskalator yang tadinya menuju lantai dasar kini mengarah ke ruang gelap tanpa lantai – seperti lubang besar yang memanjang ke bawah, tak berujung.

Mall ini benar-benar hidup.

Dan ia ingin mereka turun.

Mira menatap ke bawah. Ada suara-suara. Ratapan samar. Suara metal jatuh. Suara seseorang berteriak jauh di bawah sana – seperti ada manusia hidup yang terperangkap.

Namun samar-samar, bercampur dengan suara itu, terdengar suara lain.

Suara perempuan dewasa.

Menangis.

Memanggil namanya.

Mira terpaku. Suara itu….
itu suara ibunya.

Mustahil. Ibunya sudah meninggal dua tahun lalu.

Namun suara itu jelas.
Jernih.
Putus asa.

Mira mengeluarkan ponselnya, merekam suara itu. Namun yang muncul hanya noise – frekuensi tinggi yang membuat telinga sakit.

Arman menarik bahunya.

“Kau dengar itu?”

Mira mengangguk.

“Kita turun,” katanya tiba-tiba. “Kita cari dia.”

Rafi hampir memukulnya.

“Dia sudah mati, Mira!”

Namun saat mereka berdebat, sesuatu merayap keluar dari lubang gelap basement itu.

Tangan manusia.

Bukan satu. BANYAK.

Hitam, kurus, memanjang seperti tangan orang kelaparan yang sudah berbulan-bulan tidak melihat cahaya.

Tangan-tangan itu meraih tepi escalator, merangkak keluar seperti laba-laba.

Mira, Rafi, dan Arman mundur secara bersamaan.

Tapi terlambat.

Makhluk pertama keluar.

Tubuhnya seperti manusia, tapi terbalik – punggungnya menghadap depan, wajahnya ada di posisi punggung, dan matanya membuka lebar ke arah mereka.

Ia bergerak lebih cepat daripada manusia.

Dan ia belum sendirian.

Puluhan makhluk lain merangkak keluar. Ruangan mall dipenuhi suara tulang patah, geraman rendah, dan derap kaki tak sinkron yang bergerak layaknya sekumpulan serangga raksasa.

Tidak ada jalan pulang melalui basement. Mereka merasa bahwa mereka harus pergi ke tempat yang belum mereka jelajahi.

Hanya ada satu tempat yang belum mereka jelajahi, yaitu…..

Lantai 3 – lantai yang sejak dulu dikabarkan ‘ditutup permanen’ karena kebakaran…. padahal tidak pernah ada kebakaran.

Tangga darurat satu-satunya berada di belakang area food court.

Mereka berlari secepat mungkin. Makhluk-makhluk dari basement mengikuti dari kejauhan, bergerak seperti kawanan tikus raksasa yang lapar.

Tangga darurat itu gelap.

Pintu menuju lantai 3 terkunci digembok. Namun Rafi memecahkan kaca alarm darurat, mengambil besi pemadam, dan menghantam gembok itu berkali-kali sampai pecah.

Pintu membuka.

Dan mereka langsung tahu:

Sungguh aneh….sejak tadi mereka mengalami kejadian-kejadian yang sama, ini berarti mereka tidak sendirian.

Kejadiannya sama lagi seperti tadi. Ada deretan manekin-manekin berdiri rapi sepanjang lorong lantai 3. Namun wajah mereka berbeda dari manekin normal –

♦ beberapa terlalu mirip manusia
♦ beberapa punya bekas luka
♦ beberapa tidak punya mata
♦ beberapa punya terlalu banyak mata
♦ beberapa bergerak sedikit ketika mereka tidak melihat

Arman berbisik:

“….ini…. bukan manekin toko….”

Tidak.

Ini adalah para korban mall ini.

Tubuh mereka membatu, namun jiwa mereka terperangkap, masih sadar, masih bisa merasa.

Manekin terdekat tiba-tiba mengulurkan tangan, memegang pergelangan Mira.

Tangan itu dingin, keras, tapi terasa seperti kulit manusia yang dipaksa membeku.

Mira menjerit.

Dan semua manekin menoleh bersamaan ke arahnya.

Leher patah. Sudut aneh. Bunyi tulang geser.

Mereka mulai bergerak.

Perlahan. Tersendat. Namun pasti mendekat.

Di ujung lantai 3 ada ruangan besar seperti auditorium. Lampu-lampu padam, namun di tengahnya berdiri sesuatu:

Sebuah patung perempuan raksasa, tingginya hampir tiga meter, wajahnya setengah hancur, matanya kosong.

Di pahatan dasarnya tertulis:

“We welcome all who enter.”

Patung itu bukan sekadar dekorasi.

Ia adalah pusat mal ini.

Pemilik pertama mall Willow Park – seorang wanita bisnis yang hilang bertahun-tahun lalu. Legenda kota menyebut ia tidak pernah ditemukan.

Kini mereka tahu alasannya.

Suara bergetar keluar dari patung itu, seperti seseorang berbicara dari dalam rongga batu.

“Tidak ada yang boleh pergi…. setelah melihat wajahku….”

Patung itu mulai pecah dari dalam, retakannya menyebar cepat seperti jaring laba-laba. Dari celah-celah itu, cairan hitam merembes keluar seperti darah kental.

Lalu….

Sebuah tangan keluar dari dalam patung.
Lalu tangan kedua.
Lalu wajah itu –

Wajah manusia yang dipaksa masuk ke dalam batu selama bertahun-tahun, kini keluar dengan bentuk yang salah.

Mira, Rafi, dan Arman berlari.

Makhluk itu bangkit, tinggi, cacat, dan berteriak – suara ribuan manusia yang tersiksa keluar sekaligus.

Teriakan itu memanggil semua roh di mall.

Manekin-manekin mulai berlari.
Makhluk-makhluk basement melompat ke dinding.
Penjaga mall muncul di pintu.
Anak kecil dari ruang AC menampakkan wajahnya lagi.

Semua menuju ke arah mereka bertiga.

Semua ingin membawa mereka menjadi bagian mall.

Satu-satunya jalan keluar adalah tangga menuju atap.

Mereka berlari tanpa menoleh. Pintu menuju atap terbuka. Angin malam menyambut.

Namun….

Arman terseret oleh manekin di belakang. Ia berteriak memanggil Mira.

Rafi hendak menolong, tapi Mira menariknya.

Jika mereka turun, mereka akan mati.

Mira menutup pintu atap sambil menangis, mendengar suara Arman diseret turun oleh puluhan tangan keras.

Hening sesaat.

Namun hening itu hanya menandai kedatangan sesuatu.

Mira menatap ke arah tepi atap.

Makhluk raksasa – wanita yang keluar dari patung – berdiri di sana. Tubuhnya patah, menunduk, menatap Mira dari jarak sangat dekat.

Ia membuka mulutnya.

Satu kalimat keluar – suara yang tidak mungkin lupa:

“Sekarang giliranmu.”

Makhluk itu menghampiri.

Mira mundur.

Namun tiba-tiba lantai atap mall bergetar.

Retak.

Dan….BRAAAKKKKK

ATAP MALL WILLOW PARK AMBRUK.

Mira jatuh bersama reruntuhan, tubuhnya terpental ke taman belakang mall.

Sakit. Parah. Namun ia masih hidup.

Mall itu runtuh perlahan, seperti gedung yang sudah terlalu lama menahan kutukannya.

Hantu-hantu di dalam mall berhenti bergerak.

Semua kembali diam.

Namun sebelum bangunan itu benar-benar hancur, Mira melihat sesuatu dari jendela lantai 3:

Arman berdiri di sana.
Tidak bergerak.
Wajah membatu.
Seperti patung.

Ia bukan manusia lagi.

Mall itu mengambilnya.

Mall itu…. kini telah memilih korban barunya.

Dan ia belum selesai.

Mira merangkak menjauh.

Namun di akhir reruntuhan, di antara debu….

Ia mendengar suara.

Suara boneka kecil dari toko tadi.

Berbisik pelan, memanggilnya:

“….kak Miraaa…. jangan pergi….”

===T A M A T===

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Kamar Kos Yang Selalu Kosong Saat Difoto

Kamar Kos Yang Selalu Kosong Saat Difoto Di daerah Ngoresan, Surakarta, ada sebuah rumah kos...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Arsip itu Selalu Basah

Gedung tua itu berdiri tidak jauh dari kawasan pesisir Jakarta Utara. Cat dindingnya mulai mengelupas...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Pintu Alam Ghaib Dibalik Air Terjun Grojogan Sewu

Tahun kejadian: 2020Sumber cerita: pengalaman pribadi penulisLokasi: Kelurahan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Beberapa catatan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 1 - Hitungan Yang Selalu Benar

SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Terminal Tirtonadi tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan setelah tengah malam...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 3 - Penumpang Yang Tidak Tercatat

SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Orang-orang yang bekerja di malam hari biasanya memiliki cara sendiri...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!