Skip to content

Pertemuan di Cafe Bunga Tulip Amsterdam

Arbella Van Der Wujk

Di tengah keramaian kota Amsterdam yang sibuk, terdapat sebuah kafe bawah tanah yang tidak begitu dikenal. Cafe itu bernama ‘Cafe Bunga Tulip’, sebuah cafe yang tidak begitu besar milik seorang mahasiswa Indonesia yang sedang mengadu nasib di Belanda. Cafe itu terhubung dengan Fritzgewijk, yaitu sebuah nama halte bus kecil untuk transit dari Amsterdam ke Den Haag dan sebaliknya. Semua orang yang akan pergi keluar kota biasanya berangkat dari halte kecil itu.

Sekarang masih jam 8 pagi, waktu setempat. Di tempat ini, ada dua orang yang sedang santai, seorang laki-laki muda berusia 24 tahun dan seorang perempuan muda berusia 23 tahun yang tampaknya tidak pernah memiliki hubungan sebelumnya. Mereka bertemu di cafe ini dan akhirnya pertemuan itu membawa perubahan besar dalam kehidupan masing-masing.

Cuaca di pagi hari itu sangat cerah dengan suhu 18 derajat celcius, langit biru dengan angin berhembus begitu dingin membuat Arbella ingin meminum kopi susu kegemarannya di sebuah cafe langganannya, yaitu Cafe Bunga Tulip. Arbella menghirup aroma kopi yang harum sambil memperhatikan buku yang sedang dia baca. Kafe bawah tanah yang nyaman ini adalah tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu setelah hari kerja yang panjang. Dia tidak menyadari bahwa hari ini akan menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di meja seberang, seorang pria muda duduk dengan buku catatan di tangan, tampak tenggelam dalam pikirannya. Dia adalah Rangga, seorang seniman kelahiran Jakarta yang kebetulan sudah menetap di Belanda sejak lahir. Dirinya sedang berjuang untuk menemukan inspirasi baru. Matanya tertarik pada Arbella di meja seberangnya, dan dia merasa ada sesuatu yang menarik tentangnya.

Tanpa ragu, Rangga melintasi ruangan dan duduk di meja Arbella. ‘Maaf, apakah kursi ini kosong?’ tanyanya, tersenyum ramah.

Arbella tersentak sedikit, tidak terbiasa dengan orang yang mendekatinya begitu saja di kafe. Namun, dia tersenyum dan mengangguk. ‘Tentu saja, silakan duduk.’

‘Makasih, nama saya Rangga,’ ucapnya sambil menawarkan tangan.

‘Saya Arbella…..Arbella Van Der Wujk,’ jawab Arbella, merasa sedikit lega oleh kehangatan senyum Rangga.

Percakapan ringan pun dimulai antara keduanya. Mereka berbagi minat pada seni, buku, dan perjalanan. Arbella merasa nyaman dengan kehadiran Rangga, sesuatu yang jarang dia rasakan dengan orang asing. Sementara itu, Rangga merasa terhubung dengan Arbella, merasa bahwa pertemuan mereka tidaklah kebetulan semata.

Seiring waktu berlalu, pertemuan di kafe itu menjadi lebih sering. Mereka tertawa bersama, mengobrol tentang impian mereka, dan membagikan cerita-cerita hidup mereka. Arbella merasa seperti Rangga membawa warna baru dalam hidupnya, sementara Rangga menemukan inspirasi yang lama hilang dalam keberadaannya. Tanpa terasa sudah satu tahun lamanya mereka sangat dekat, saling mengenal dan saling menghormati privacy masing-masing, Rangga dan Arbella selalu menjaga sopan santun meskipun itu terhadap teman yang paling dekat sekalipun.

Namun, suatu hari, Rangga mengungkapkan bahwa dia harus meninggalkan kota untuk mengejar peluang seni yang luar biasa di Paris, Perancis. Arbella merasa sedih mendengarnya, tapi dia juga merasa bahagia untuk Rangga, karena dia tahu itu adalah impian yang telah lama dia kejar demi cita-cita dan masa depannya.

Malam hari itu terasa dingin menusuk tulang, aroma kopi susu di malam itu semerbak sampai keluar dari Cafe, bahkan tercium sampai di depan halte kecil ke arah luar kota. Disana, didepan cafe Bunga Tulip, seorang pemuda dengan ransel besar sedang berhadap-hadapan dengan seorang gadis cantik. Ya….hari ini adalah hari perpisahan mereka. Pada hari perpisahan ini, di kafe bawah tanah yang sama tempat mereka pertama kali bertemu, Arbella memberikan Rangga sebuah lukisan kecil yang dia buat khusus untuknya. Rangga tersentuh oleh kebaikan hati Arbella dan berjanji akan kembali untuk mengunjunginya suatu hari nanti.

Saat itu suasana tidak begitu ramai, sangat hening, hanya terdengar suara dari satu dua mobil yang melewati jalan kecil di depan cafe. Arbella mengambil sesuatu dari balik jaketnya.

‘Rangga, aku sengaja membuat lukisan kecil ini untukmu,’ kata Arbella dengan mata berkaca-kaca.

‘Bagus sekali, Arbella. Ternyata kamu pandai melukis,’ ucap Rangga.

Sepuluh menit mereka berbincang dan menceritakan kelakuan mereka sendiri dalam setahun ini, mereka tertawa bersama ketika teringat kelakuan Rangga yang culun, kelakuan Arbella yang lucu, dan pertemuan pertama mereka setahun yang lalu. Sekarang sudah tiba satnya untuk berpisah.

Rangga dan Arbella terdiam beberapa saat, hening, tak bersuara, hanya terdengar isak tangis Arbella saat berhadap-hadapan dan menggandeng kedua tangan Rangga.

‘Rangga……’ sapa Arbella.

‘Arbella…..aku….,’ Rangga tidak sanggup untuk mengatakannya saat melihat mata Arbella yang sudah penuh dengan air mata.

‘Iya Rangga,’ jawab Arbella sambil tetap menatap mata Rangga,’ Kamu ingin bilang sesuatu?’

‘Aku tak sanggup mengatakannya, Arbella…..Percayalah, suatu hari nanti kita akan bersama lagi,’ kata Rangga berusaha untuk menghibur Arbella yang masih menangis sesenggukan. Didalam lubuk hatinya yang terdalam, Rangga berjanji untuk membuat ikatan cinta yang suci ketika sudah berada di waktu yang tepat.

Di bawah kilauan lampu Cafe yang lembut, Arbella dan Rangga saling berpelukan sebelum mereka berpisah. Air mata mereka berderai mengiringi janji suci mereka malam itu. Cukup lama mereka berpelukan, mereka berdua sadar bahwa perpisahan mereka bukan hanya sehari atau dua hari, tetapi cukup lama.

‘Rangga, aku pasti akan merindukanmu.’ kata Arbella sambil menyeka air matanya menggunakan kedua tangannya.

‘Aku juga,’ ucap Rangga sambil membantu Arbella mengusap air matanya dengan selembar tissue.

‘Jangan sedih, Rangga…..raihlah impian dan cita-citamu, doaku akan selalu mengiringi langkahmu,’ kata Arbella sambil tersenyum manis, padahal hatinya serasa hancur lebur, tidak rela untuk ditinggalkan oleh Rangga yang begitu dicintainya.

‘Kamu juga…..jangan menangis, Arbella,’ jawab Rangga berusaha untuk tegar

Sambil tersenyum, Arbella menjawab, ‘Nggak kok, aku nggak nangis…..aku kan kuat hehehe, ‘ucap Arbella dengan sikap manjanya yang lucu, hal seperti inilah yang membuat Rangga akan selalu kangen pada gadis ini.

‘Arbella, aku berangkat ya…..sebentar lagi bis terakhir akan berhenti di halte itu,’ kata Rangga.

‘Iya, sana gih keburu lewat tuh bisnya,’ kata Arbella kepada Rangga yang sedang bersiap-siap dengan ransel besarnya.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke halte bis Fritzgewijk sambil bercakap-cakap. Selang 5 menit kemudian bis kota yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

‘Arbella, jaga dirimu baik-baik…..aku berangkat ya…’ Rangga pamit untuk berangkat, ‘Jangan menangis, Arbella.’

‘Siapa yang menangis? Aku tersenyum kok…..tuuuh tersenyum tuuuh, ‘kata Arbella sambil menunjuk pipinya dengan dua telunjuknya. Rangga menjadi tertawa melihat pipi Arbella yang digembungkan mirip kelinci.

‘Kamu lucu banget, Arbella…..aku berangkat ya…daah. I love you,’ kata Rangga sambil masuk ke pintu bis dan duduk dikursi dekat jendela. Bis kota terakhir di malam itu mulai berjalan, Rangga tersenyum sambil melambaikan tangan kearah Arbella.

‘I love you too, Rangga,’ jawab Arbella sambil tersenyum dan melambaikan tangan, bis pun menjauh.

Malam itu semakin larut, sunyi dan sepi. Tangis Arbella pun pecah seketika merasakan sebuah kenyataan bahwa dia sangat mencintai Rangga, karena berkat keberadaan Rangga hidupnya menjadi serba indah dan penuh semangat. Bagi Arbella, Rangga tidak sama dengan lelaki-lelaki kebanyakan diluar sana yang hanya mengutamakan nafsu birahi semata, Rangga bukan tipe lelaki semacam itu, dia sangat menjunjung tinggi sopan santun dan selalu menghormati privacy perempuan.

Meskipun pertemuan mereka hanya berlangsung singkat dan jarak akan memisahkan mereka, Arbella dan Rangga tahu bahwa pertemuan di kafe bawah tanah itu akan selalu menjadi momen yang membawa warna baru dan mengubah arah hidup mereka. Mereka berpisah dengan harapan dan kenangan indah, siap untuk mengikuti impian mereka masing-masing, tetapi dengan keyakinan bahwa takdir akan membawa mereka bersama lagi suatu hari nanti, dalam nuansa kasih yang suci.

============== TAMAT =================

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Segelas Jamu di Warung Bu Sarmi

Siang itu, suasana Pasar Gede di Solo masih ramai meski matahari sudah tegak di atas...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kemiskinan Membawa Slamet Bersekutu Dengan Siluman Kera

Di sebuah desa tua bernama Ngelirip, berdiri sebuah makam kuno yang dijuluki warga sebagai Makam...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Hantu Gaul di Gubuk Sawah Joko

Sore itu, Joko nyaris roboh ke kasur anyaman bambu setelah seharian membanting tulang di sawah...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Acara Makan-makan Termegah Untuk Jenderal Min Aung Hlaing

Di sebuah restoran mewah di pusat ibu kota Naypyidaw, suasana haru dan tegang berbaur saat...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Akibat Mengerikan Dari Pembullyan di Masa Kecil

Tokoh Utama: 1. Hulk Hogan: -mantan pegulat profesional WCW -ahli memanfaatkan kekuatan dan kecepatannya untuk...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!