Skip to content

Hantu Gaul di Gubuk Sawah Joko

Sore itu, Joko nyaris roboh ke kasur anyaman bambu setelah seharian membanting tulang di sawah membantu Bapaknya. Joko adalah pemuda yang tidak kenal takut, dan Bapaknya pun memang luar biasa tangguh, tetapi Joko merasa tulangnya sudah seperti ingin lepas satu-satu. Jarum jam menunjukkan pukul 17.30 wib, Joko mulai menyalakan lampu-lampu di semua tepi sawahnya yang berjumlah 50 lampu, dimana masing-masing lampu itu berkekuatan 100 watt sehingga meskipun hari sudah malam tetapi masih terlihat seperti sore hari, sangat terang benderang. Oleh karena itulah di teras gubuknya hanya dipasangi lampu LED 15 Watt saja sudah cukup lumayan sekedar untuk persyaratan saja. Joko menggunakan dua genset, satu untuk lampu-lampu di sawah, dan satunya lagi untuk di gubuknya. Setelah mandi air dingin dan menunaikan salat maghrib, ia meraih selimut tipis dan menutup matanya. Angin sawah berhembus pelan-pelan. Gubuk kecil yang diterangi lampu LED 15 watt itu berdinding anyaman bambu berukuran 5×5 meter, sekarang menjadi surga kecil buat Joko. Ia siap tidur.

Namun, baru saja ia hampir masuk alam mimpi, suara aneh terdengar dari arah genset di sudut ruangan. Brummm… brummm… lalu tiba-tiba mati. Joko menggeram kesal. “Ya Allah, genset rewel lagi!”

Belum sempat ia bangkit, terdengar suara ketukan pelan di pintu bambu.

“Tok-tok-tok.”

Joko terdiam. “Siapa malam-malam begini?” Perlahan, ia bangkit dan membuka pintu. Di depannya berdiri sesosok pocong dengan ikatan kain yang kendor, membuatnya tampak seperti mau jatuh. Pocong itu menyeringai lebar.

“Malem, Joko,” sapa si Pocong santai. “Gensetnya kenapa tuh? Mati, ya? Gue bisa benerin, kalau lu mau.”

Joko membelalak, ingin teriak, tapi yang keluar hanya bisikan lemah. “Pocong? Lu… mau benerin genset?”

Si Pocong mengangguk, melompat-lompat masuk ke dalam. “Iya dong! Pas masih hidup dulu gue teknisi kipas angin. Gue udah belajar teknik genset dari YouTube, Jok.”

“Nonton youtube pake apaan?” timpal Joko

“Pakai smartphone mbah dukun,” kata si pocong sambil benerin genset.

“Oooo…” Joko manggut-manggut

Lima menit kemudian lampu bisa menyala lagi meskipun nggak stabil, “Jok, voltasenya nggak stabil.”

“Nggak apa-apa, yang penting bisa buat nyalain elektronik dulu,” kata Joko menenangkan si pocong.

“Makasih, jangan kuatir….gue benerin sampai stabil arusnya,” ujar si pocong mantab.

Meskipun ngantuk, Joko nggak jadi tidur dan malah testing menyalakan televisi dan meninggalkannya begitu saja, dia langsung melompat ke tempat tidurnya, brukk….tengkurap sambil melotot

Sebelum Joko sempat berkata apa-apa, tiba-tiba suara ketawa perempuan melengking terdengar. Di pojok ruangan, kuntilanak dengan rambut panjang dan baju putih compang-camping muncul. Ia sedang memelototi televisi.

“Joko, remote-nya mana? Gue mau ganti channel. Berita politik bikin gue pening!”

Joko bangun dan terduduk lemas. “Aduuuhhhh apa lagi ini?”

Kuntilanak itu menoleh dengan mata melotot. “Lah, gue juga punya hak informasi, Jok! Gue mau tahu kabar dunia! Denger-denger harga cabe naik, gue penasaran bener.”

Belum selesai Joko mengatur napas, tiba-tiba terdengar suara kecil dari dekat DVD player. Seekor tuyul dengan topi snapback duduk santai sambil mengganti-ganti DVD film. “Jok, ini film horor versi kita kapan tamatnya? Gue pengen nonton Fast & Furious aja, deh!”

“Astaga… tuyul, lo juga ada di sini?”

Tuyul itu melirik sambil tersenyum lebar. “Iya dong. Di alam gue, kagak ada hiburan, bos! Film balapan ini lebih seru daripada horor-hororan yang udah gue tonton 100 tahun terakhir.”

Joko mencubit dirinya sendiri, memastikan ia tidak sedang bermimpi. Ternyata ini semua nyata. Ia dikelilingi hantu-hantu gaul yang suka teknologi. Pocong sudah menyalakan genset, sementara Kuntilanak asyik mencari berita ekonomi di televisi. Tuyul mulai mengocok joystick PlayStation.

Dengan suara berat, Joko berusaha tetap waras. “Kalian ini ngapain sih di sini? Rumah gue kecil, nggak muat buat hantu-hantu beginian!”

Pocong yang sibuk mengecek kabel genset menoleh. “Santai aja, Jok. Kita cuma numpang main bentar. Kita juga manusia kok… eh, mantan manusia.”

Mendadak, lampu menyala terang. Genset kembali hidup. Pocong berdiri tegak, bangga dengan karyanya. “Nah, udah bener tuh. Bayar upah gue pake kopi nggak papa, Jok…..kalo bisa yang gula aren itu lho biar nggak kena diabetes militus”

Kuntilanak menghampiri dengan senyum lebar, rambutnya berkibar anggun—meski agak menakutkan. “Jok, ada snack nggak? Gue suka makan keripik kentang, sambil nonton drakor kalau bisa.”

Joko menyerah total. “Terserah kalian, deh….ambil aja sendiri. Tapi jangan bikin ribut, oke? Gue capek banget.”

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Musik tiba-tiba berdentum dari speaker aktif 5000 watt di sudut ruangan. Tuyul sudah memainkannya, membuat suasana gubuk seperti klub malam kecil.

“Pesta!…jedag jedug jedag jedug” Tuyul berteriak sambil menggoyang-goyangkan tubuh kecilnya.

Pocong mengangguk-angguk mengikuti irama, bahkan mulai berusaha bergoyang, meski keterbatasan ikatan kain membuat gerakannya aneh. Kuntilanak pun tak mau kalah, melambaikan rambutnya seirama musik.

Joko berusaha menutup telinganya. “Astaga, gue nyerah….gue nyerah dah”

Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba pintu kembali diketuk. Kali ini, seorang kakek tua berjubah hitam muncul. Wajahnya bijaksana, tetapi ada kilatan jahil di matanya.

“Assalamualaikum!” sapanya.

Semua hantu dan Joko membalikkan badan. “Walaikum salaaam….Mbah Dukun?!”

Mbah Dukun tersenyum santai. “Dengar-dengar ada kumpul-kumpul seru di sini. Nggak apa-apa kan kalau gue gabung?”

Pocong menyahut dengan semangat. “Boleh banget, Mbah! Kita mau bikin game turnamen PlayStation sebentar lagi. Ikutan aja!”

Dengan gelak tawa memenuhi ruangan kecil itu, Joko hanya bisa duduk di sudut, geleng-geleng kepala. Malam itu, ia sadar bahwa dunia ini penuh kejutan, bahkan dari dunia lain. Dan siapa sangka, gubuk kecil pinggir sawah bisa jadi tempat berkumpul hantu-hantu gaul yang mendambakan teknologi, makanan, dan hiburan modern yang tak pernah mereka rasakan selama di alam baka.

Waktu terus berjalan….

Malam berakhir dengan Joko yang akhirnya ketiduran di tengah keributan para hantu gaul yang masih berdebat soal film terbaik dan taktik bermain game. Besoknya, ia bangun dengan mata sembab, sementara gubuknya terasa lebih sunyi. Namun, sisa-sisa kehadiran mereka masih ada — genset yang lebih stabil, keripik kentang di mangkuk kaca, televisi yang tetap menyala, dan joystick PlayStation yang rusak karena rebutan.

                    =======TAMAT=======

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Bayang Hijau yang Tergerus

Indonesia, tahun 1935. Di tengah lebatnya hutan Kalimantan, suara gemerisik daun dan kicauan burung menyatu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Bumi Bulat yang Tidak Sepenuhnya Bulat

Pukul sembilan pagi di kafe kecil yang menempel di sisi barat taman kota, udara masih...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Gatotkaca dan Pablo Escobar Mendirikan Kerajaan Hastinapura

Di tengah kemegahan Danau Toba, terdapat sebuah cerita unik yang melibatkan dua tokoh tak terduga,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Petualangan Berkemah di Gunung Lawu dan Terbakar

Rombongan pemuda dari Jakarta itu tampak begitu antusias saat mereka tiba di kaki Gunung Lawu,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Lima Penjaga Apel

Di sebuah lembah tersembunyi yang tak tercatat dalam peta mana pun, terdapat sebuah kebun apel...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!