Skip to content

Petualangan Berkemah di Gunung Lawu dan Terbakar

petualangan_gunung_lawu

Rombongan pemuda dari Jakarta itu tampak begitu antusias saat mereka tiba di kaki Gunung Lawu, lebih tepatnya di Tawangmangu yang masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Terdiri dari lima orang, mereka adalah Andi, Budi, Seno, Fajar, dan Anton. Semua bersahabat sejak SMA, dengan minat yang sama terhadap alam. Bagi mereka, perjalanan ini adalah kesempatan melepaskan penat dari hiruk-pikuk kota dan menikmati suasana hutan yang tenang.

Malam mulai turun ketika mereka sampai di area perkemahan yang sudah mereka pilih. Tenda-tenda sudah berdiri, dan mereka bersiap untuk menghabiskan malam pertama di tengah hutan. Dengan api unggun yang menyala, suara jangkrik, dan udara sejuk, suasana terasa sempurna. Tapi siapa sangka, ketenangan itu akan terganggu oleh satu tindakan sembrono?

Di antara kelima pemuda itu, Anton dikenal sebagai yang paling sulit diatur. Meski usianya sama, kepribadiannya kerap membuat teman-temannya geleng-geleng kepala. Kali ini pun tak ada bedanya. Setelah menghisap rokok terakhirnya, Anton melempar puntung rokok dengan santai ke semak-semak. Asap tipis berhembus dan lenyap tertiup angin malam.

“Andaikan kita bisa terus di sini,” gumam Anton sambil tertawa kecil.

Andi, yang duduk tidak jauh dari Anton, melihat puntung rokok itu dengan mata waspada. “Ton, puntungnya jangan sembarangan. Ini hutan, bisa bahaya,” tegur Andi.

Anton mengangkat bahu. “Alaaaah, santai aja, Bro. Udah basah juga tanahnya.”

“Nggak semua tanah di sini basah. Ingat bencana kebakaran hutan? Itu sering terjadi karena hal kecil kayak gini,” balas Andi, suaranya terdengar tegas.

Alih-alih merasa bersalah, Anton justru tampak jengkel. “Kenapa sih, ngomel mulu? Santai dikit. Kita liburan, bukan buat dengar ceramah.”

Ketegangan mulai terasa, dan sebelum situasi semakin panas, Seno segera mengambil alih suasana. “Sudah, sudah. Besok kita mau jalan-jalan ke dalam hutan. Jangan rusak suasana.”

Andi hanya menghela napas, mengalah demi menjaga suasana tetap damai.

Keesokan harinya, rombongan berkemas untuk menjelajahi hutan. Mereka berjalan menembus pepohonan yang menjulang tinggi. Hutan Lawu memang menawan ~ dedaunan rimbun memberikan rasa sejuk, suara burung berkicau menenangkan, dan aroma tanah basah menambah nuansa alami yang khas. Dalam perjalanan itu, mereka berbincang, tertawa, dan sesekali berhenti untuk berfoto.

Namun, di antara keseruan tersebut, tak seorang pun menyadari bahwa api dari puntung rokok semalam ternyata masih menyimpan bara kecil yang cukup untuk membakar semak kering. Semakin siang, angin yang bertiup membuat bara itu menyala dan merambat ke tenda mereka.

Saat mereka kembali ke perkemahan, yang mereka temui hanyalah abu hitam dan sisa-sisa tenda yang hangus. Api telah melahap semuanya ~ tenda, pakaian, perlengkapan, bahkan uang yang mereka bawa untuk pulang sudah jadi bara api.

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi?!” pekik Fajar, shock melihat keadaan. Lututnya gemetar, wajahnya panik, keringat dingin mengucur deras. Seno berlari mendekati bekas tenda mereka, berharap ada sesuatu yang bisa diselamatkan, tapi harapan itu pupus seketika. Semua barang habis terbakar, menyisakan kepulan asap tipis yang terbang bersama angin.

“Ini gara-gara kamu, Ton!” seru Andi, emosinya tak lagi bisa ditahan. “Aku udah bilang, jangan sembarangan buang puntung rokok!”

Anton terdiam, wajahnya memucat. Ia sadar bahwa keteledorannya menjadi bencana besar bagi mereka. Untuk sesaat, tak ada yang berbicara. Hanya ada rasa marah, kecewa, dan penyesalan yang melingkupi mereka.

Suara langkah kaki dari arah hutan memecah kesunyian. Seorang pria berjaket kulit coklat tua, bercelana jeans biru longgar, memakai topi rajut biru tua di kepalanya, berkacamata hitam dan memakai masker, membawa senapan angin, berumur tiga puluh tahunan mendekat. Ia adalah Dewa Buku, seorang warga setempat yang bertugas menjaga kawasan perkemahan.

“Kalian baik-baik saja?” tanyanya, suaranya berat.

“Kami… tenda kami terbakar, Pak,” jawab Fajar lesu.
“Namaku Dewa Buku, panggil aku Om.” ujar Dewa Buku singkat. Dia mengamati mereka dengan tatapan tajam. “Apa kalian nggak dengar peringatan soal kebakaran? Buang sampah, terutama api atau puntung rokok, sembarangan bisa jadi musibah besar. Tidak hanya buat kalian, tapi untuk seluruh hutan.”

Anton mengalihkan pandangannya, malu dan geram pada dirinya sendiri. Namun, alih-alih meminta maaf, ia malah menjawab kasar, “Kami sudah tahu, nggak perlu ceramah.”

Dewa Buku menarik napas panjang. “Saya harap kalian ingat ini baik-baik. Hutan adalah rumah kami. Satu kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya.”

Perlahan pria itu berlalu, meninggalkan mereka yang terdiam dalam rasa bersalah. Setelah beberapa menit sunyi, Seno membuka suara, “Jadi sekarang apa? Kita nggak punya uang buat pulang.”

Andi, yang sejak tadi diam, mengusap wajahnya dengan frustasi. “Kita harus cari jalan. Ada yang punya ide?”

Mereka saling berpandangan. Lalu, Fajar, si pemikir praktis, menawarkan solusi sederhana tapi menyakitkan. “Kita jual sesuatu. Mungkin handphone.”

“Serius? Handphone satu-satunya?” tanya Anton.

“Kita butuh uang buat pulang, Ton,” ujar Fajar dingin. “Ini pilihan kita.”

Setelah diskusi singkat, mereka memutuskan menjual handphone milik Fajar karena ia memiliki simpanan data penting di perangkat lain. Perasaan mereka campur aduk kala itu, antara lapar, bingung, dan sedih menjadi satu. Tiba-tiba Budi berkata,”Guys, kita minta bantuan Om Dewa Buku aja.”

Akhirnya setelah bersusah payah menembus lebatnya hutan di Gunung Lawu, mereka berlima merasa lega setelah melihat Dewa Buku yang sedang memperbaiki papan penunjuk jalan.

“Om Dewa, kami mau minta bantuan…..” kata Fajar dengan gugup.
“Bantuan apa?” tanya Dewa Buku singkat.

Setelah mengutarakan maksud bantuannya, mereka berlima sangat bersyukur. Dengan bantuan Dewa Buku, mereka menemukan pembeli di sebuah dusun kecil dekat Gunung Lawu. Handphone itu laku seharga 700 ribu rupiah ~ jumlah yang cukup terbatas untuk membawa mereka kembali ke Jakarta.

“Om Dewa, dengan apa kami harus berterimakasih?” tanya Seno sungkan. Mendengar pertanyaan itu Dewa Buku hanya tersenyum sedikit, “Nggak perlu, Nak….jaga lingkungan dan hutan, itu sudah ucapan terimakasih yang terbaik untuk alam semesta, aku pulang dulu. Kalian jaga diri baik-baik.” jawab Dewa Buku sambil menyalami mereka berlima dan menghilang di lebatnya hutan Gunung Lawu.

Anton berujar,”Untung ada orang lokal yang memandu kita.”
Mereka semua mengangguk setuju dan memutuskan untuk pulang hari itu juga. Perjalanan pulang dipenuhi keheningan. Mereka merasa lelah, malu, tapi juga belajar banyak dari kejadian tersebut. Sesampainya di Jakarta, mereka berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Andi, yang paling sering memperingatkan, tahu bahwa pengalaman itu adalah pelajaran mahal bagi mereka semua—terutama bagi Anton.

“Mungkin ini cara alam mengingatkan kita,” kata Seno sebelum mereka berpisah. “Bahwa hutan bukan tempat buat sembarangan.”

Anton mengangguk, dengan mata yang lebih redup dari sebelumnya. “Aku akan ingat ini seumur hidup.”

Hutan, dengan segala keindahan dan bahayanya, telah mengajarkan mereka satu pelajaran penting: bertanggung jawab atas setiap langkah yang mereka ambil, sekecil apa pun itu.

=====TAMAT=====

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Pertemuan di Cafe Bunga Tulip Amsterdam

Arbella Van Der Wujk Di tengah keramaian kota Amsterdam yang sibuk, terdapat sebuah kafe bawah...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kisah Cinta dan Pengkhianatan di Balik Senyum Keluarga Bahagia

Dalam sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran kota Jawa Tengah, hiduplah sebuah keluarga yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kisah Hantu Pocong di Konser Sepultura di GBK Jakarta

Malam hari itu, pada tahun 1996 di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta diselenggarakan sebuah Konser...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
BUKAN BOCIL LAGI

DAFTAR TOKOH UTAMA Sasti Larasati (19 tahun) – Protagonis Mahasiswi Politeknik ternama di Surakarta, jurusan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta

Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta Jakarta berdenyut seperti biasanya: macet, panas, dan berisik. Tapi...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!