Langit Kamboja sore itu berwarna seperti daging yang terbakar.
Udara lembab, sarat dengan aroma tanah, darah, dan minyak goreng tengik dari dapur-dapur kamp kerja paksa. Tahun 1978 — masa ketika manusia berhenti dianggap manusia di bawah kekuasaan Angkar, organisasi rahasia yang menaungi rezim Khmer Merah di bawah pimpinan Pol Pot.
Di barisan terdepan ladang pembangunan kota baru bernama Skun, puluhan tahanan berkepala plontos memikul tanah, batu, dan kayu. Tubuh mereka setipis tulang, kulit mereka menggantung seperti kain basah. Di antara mereka, seorang pria paruh baya bernama Chankponh memandangi tanah berlumpur di bawahnya — tanah yang seolah hidup dan berdenyut.
“Cepat! Gali lebih dalam!” teriak Khmonpar, seorang tentara muda Khmer Merah dengan seragam penuh noda darah. Cambuk kulit sapi di tangannya meledak di udara, menimbulkan suara crack yang membuat jantung berhenti sepersekian detik.
Chankponh hanya mengangguk pelan. Tangan kurusnya mencangkul lumpur, lalu berhenti. Ada sesuatu di bawah sana — tanahnya lembek tapi hangat, seperti daging segar. Ia menusukkan cangkul lagi. Sesuatu bergerak. Perlahan… dari lubang kecil selebar dua telapak tangan, keluar sesuatu yang berbulu dan mengilap seperti minyak hitam.
Seekor laba-laba besar, sebesar piring makan, melangkah perlahan ke permukaan.
“Laba-laba… raksasa…” bisik Chankponh.
Beberapa tahanan mundur ketakutan. Tapi sebelum ada yang sempat menjerit, bumi di bawah mereka berguncang pelan — seperti napas dari perut bumi yang ditahan selama berabad-abad.
Tanah-tanah yang mereka pijak memang lembab.
Dua hari berlalu sejak kemunculan pertama makhluk itu. Para tahanan mulai menemukan ratusan lubang serupa di sekitar lokasi penggalian. Semakin dalam mereka menggali, semakin banyak lubang yang terbuka. Setiap lubang selalu diikuti oleh suara gemerisik… ribuan kaki kecil yang menyeret lumpur.
“Aku bilang berhenti menggali di area itu,” ujar Kolonel Chenda, seorang pejabat lapangan Khmer Merah yang terkenal kejam. Wajahnya datar, dia masih muda….28 tahun, tapi bertubuh tegap dan kekar, matanya memantulkan sesuatu yang lebih dingin dari baja. “Tanah di sini hidup. Angkar ingin kita membangun kota, bukan membangunkan setan.”
Tapi perintah itu datang terlambat.
Malamnya, penjaga kamp yang bernama Phirun mendengar suara aneh dari arah barak. Seperti ribuan jarum kecil yang menggaruk papan kayu. Ia menyalakan lampu karbit, melangkah pelan ke arah gudang bahan makanan. Di bawah cahaya redup, lantai tampak bergelombang — bukan karena lumpur, tapi karena ratusan tarantula sebesar genggaman tangan berdesakan naik dari bawah papan.
Mereka merayap seperti gelombang hitam, berkerumun di kaki-kaki meja, di dinding, di lubang ventilasi.
Phirun menjatuhkan lampu. Api menyambar, menerangi pemandangan yang membuatnya hampir gila:
Di tengah koloni laba-laba itu, ada satu makhluk sebesar panci magicom, bulunya meneteskan lendir kehijauan, matanya banyak, berkilat seperti manik perak di malam gelap.
Sebelum Phirun sempat lari, tarantula itu melompat.
Keesokan paginya, para tahanan menemukan mayat Phirun tergantung di sudut gudang. Wajahnya membengkak, urat-uratnya menegang seperti akar. Dari mulutnya keluar sarang kecil laba-laba, ribuan anak tarantula menetas dari tenggorokannya.
Kolonel Chenda memerintahkan pembakaran seluruh area gudang. “Angkar tidak butuh alasan,” katanya dengan nada dingin. “Siapa pun yang menyentuh tanah terkutuk, akan dibersihkan.”
Namun malam-malam berikutnya, kejadian aneh terus berlanjut.
Salah satu penjaga menemukan sekarung daging mentah di dapur, tapi ketika diperiksa lebih dekat — itu bukan daging hewan, melainkan potongan tubuh manusia yang dibungkus dengan jaring laba-laba.
Para tahanan mulai hilang satu per satu. Kadang hanya ditemukan tulang kaki, atau wajah yang mengeras dalam ekspresi ketakutan.
Di tengah ketakutan itu, muncul desas-desus:
“Itu bukan laba-laba biasa… itu jelmaan para korban Khmer Merah yang mati kelaparan di tanah ini.”
Sementara itu, di kantor pusat Skun, Kolonel Chenda menerima seorang tamu: Pejabat Tinggi Angkar bernama Serey — pria gemuk dengan cincin emas di setiap jarinya. Serey dikenal sebagai pejabat yang mencuri jatah pangan rakyat untuk dijual di pasar gelap.
Dialog mereka di malam hari menjadi saksi kegelapan baru:
Chenda: “Laporan menunjukkan banyak pekerja mati. Apa Angkar ingin saya lanjutkan pembangunan di lahan itu?”
Serey: (menyeruput arak) “Lanjutkan. Kita butuh kota ini siap sebelum tahun depan. Jangan biarkan cerita rakyat menghentikan kemajuan.”
Chenda: “Ini bukan sekadar cerita. Saya melihat sendiri tubuh penjaga kami… di dalamnya penuh telur.”
Serey: (tertawa kecil) “Telur? Mungkin dia pantas mendapatkannya. Tanah ini milik revolusi. Bila makhluk-makhluk itu marah, biarkan mereka memakan pengkhianat. Asal jangan memakan saya. Mereka itu kan hanya rakyat jelata, sedangkan saya ini pejabat tinggi.”
Kalimat itu, ternyata, menjadi doa yang dikabulkan setan.
Seminggu kemudian, berita mencuat di kamp: pejabat Serey akan datang meninjau langsung lokasi proyek pada malam hari. Kolonel Chenda sudah memperingatkan, tapi Serey bersikeras — ingin melihat sendiri “tanah ajaib” yang katanya menyembunyikan kekayaan bawah tanah.
Malam itu, di tengah kabut yang turun, Serey berjalan di antara lubang-lubang tanah yang kini menganga seperti luka purba.
Seekor tarantula besar, sebesar kepala manusia, muncul di depannya — pelan, menatap tanpa suara.
Serey: (meludah ke tanah) “Makhluk menjijikkan. Hancurkan sarangnya!”
Beberapa tentara Khmer Merah maju dengan obor dan cangkul. Tapi begitu obor menyentuh tepi lubang, tanah di sekitarnya runtuh — menganga seperti mulut raksasa. Dari kedalaman itu, muncul makhluk yang ukurannya tak masuk akal: induk tarantula, sebesar manusia dewasa, tubuhnya hitam basah, bulunya berdiri seperti jarum logam.
Ia mengeluarkan suara mendesis, seperti napas ribuan jiwa yang dibakar.
Para tentara menembak. Peluru mengenai tubuh laba-laba itu, tapi seolah tidak menembus.
Ia melompat ke arah mereka, kaki-kakinya mencabik perut, rahangnya menggigit kepala. Jeritan manusia berpadu dengan suara pecahnya tulang.
Serey berlari. Tapi di depan, ia terjatuh ke dalam lubang.
Cahaya obor menyorot sejenak wajahnya yang ketakutan… sebelum ratusan tarantula kecil muncul dari dalam tanah, merayapi seluruh tubuhnya.
Jeritannya memecah malam:
“Chenda! Tolong aku! Aku pejabat Angka—AAARRGGHH!!!”
Chenda hanya berdiri membeku.
Ia tahu, menolong berarti mati bersama.
Ia tahu juga, tanah ini bukan lagi milik manusia.
Pagi menjelang. Bau daging terbakar memenuhi udara.
Tentara membakar sisa-sisa mayat dan sarang laba-laba yang mereka temukan. Tapi beberapa tahanan — yang kelaparan berat — justru mendekat diam-diam ke bangkai-bangkai tarantula yang hangus setengah gosong.
Mereka mencicipinya. Dagingnya lembut, aromanya seperti ikan asap.
Sejak hari itu, tarantula goreng menjadi makanan bertahan hidup di kamp Skun.
Siapa pun yang menolak memakannya akan mati kelaparan. Namun setiap malam, mereka yang pernah mencicipi daging itu bermimpi aneh — mimpi tentang ribuan mata kecil yang menatap dari dalam perut mereka.
Kolonel Chenda mulai kehilangan akal sehat. Ia melihat bayangan tarantula di setiap sudut barak, di permukaan air, bahkan di piring makannya. Sampai suatu malam, ia mendengar suara dari dalam tanah memanggil namanya pelan:
“Chenda… sekarang giliranku makan…”
Ia menatap tanah.
Di sana, muncul satu tarantula besar — tubuhnya gosong, tapi matanya menyala merah.
Di punggungnya, Chenda melihat wajah Serey — setengah hancur, tapi masih hidup… tertawa.
Chenda berteriak. Dunia di sekitarnya memudar.
Tujuh tahun kemudian, setelah rezim Khmer Merah tumbang, Chenda melarikan diri ke hutan Angkor dengan membawa rasa takutnya, para arkeolog menemukan reruntuhan kota Skun. Di salah satu ruang bawah tanah, mereka menemukan kerangka manusia yang menyatu dengan jaring laba-laba, dan di tengah ruangan itu, sebuah prasasti bertuliskan bahasa Khmer kuno:
“Yang memakan dosa, akan dimakan dosa.”
Dan dari lubang gelap di bawah prasasti itu, terdengar suara lembut….seperti ribuan kaki kecil yang bergerak pelan di kegelapan.
Waktu terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Pelarian sang kolonel muda, Chenda, sudah sampai di tepi sebuah hutan. Dulu organisasi rahasia Khmer Merah yang bernama “ANGKAR” menamakan hutan ini dengan nama “ANGKOR WAT” atau “Kota Candi”. luasnya 162,6 hektar atau 1,626 km². Pagi itu kabut putih melintas dengan cepat karena dihembus angin.
Hutan Angkor, salah satu hutan yang pernah dijadikan basecamp oleh ribuan tentara Khmer Merah di Kamboja ini menjadi semakin dingin. Kabut semakin tebal menyelimuti pepohonan tua yang akarnya menjulur seperti urat nadi bumi.
Di sela kabut itu, langkah kaki terdengar ~ berat, perlahan, seperti seseorang yang tahu bahwa setiap suara bisa berarti kematian. Dahulu, ia percaya pada janji-janji revolusi: dunia tanpa kelas, tanpa tuan dan budak. Tapi kini, yang tersisa hanyalah rawa penuh tengkorak dan suara bisu dari ribuan orang yang mati tanpa nama.
Pagi itu, ia menunggu seseorang di reruntuhan kuil Ta Prohm ~ tempat akar pohon beringin mencengkeram batu tua seperti tangan monster. Di tangannya, ada secarik kertas lusuh bertuliskan:
“Datanglah sendirian. Bawa darah masa lalumu. Aku bawa pesananmu.”
Suara mesin kecil terdengar dari kejauhan. Dari kabut muncul sosok pria berjaket kulit hitam dengan kerah bulu berwarna putih, mengenakan masker medis berwarna hijau muda dan juga kacamata hitam, topi rajut berwarna hitam juga selalu dipakainya. Sosok itu membawa peti kayu di bak belakang truk tua berpelat nomor yang sudah hilang angkanya. Rambutnya berkibar tertiup angin, dengan tatapan mata begitu tajam dan dingin, seolah bisa membaca dosa dari mata orang lain.
“Kau Dewa Buku?” tanya Chenda ragu.
Pria itu mengangguk pelan.
“Kau Chenda. Mantan algojo rezim Pol Pot. Aku tahu semua yang kau kubur. Bahkan yang belum kau kubur.”
Chenda menelan ludah. “Aku datang untuk senjata. Bukan penghakiman.”
Dewa Buku tersenyum samar. “Senjata adalah penghakiman, kawan. Kau hanya perlu memilih siapa yang menulis sejarahnya.”
Ia membuka peti kayu. Di dalamnya berbaris senapan AK-47 yang terbungkus kain hitam, bau minyak mesin dan besi tua menyeruak. Tapi di bawah lapisan senjata itu, Chenda melihat sesuatu yang aneh ~ sebuah buku tebal bersampul kulit, penuh tulisan Khmer kuno.
“Itu apa?”
“Catatan dari biksu terakhir di Biara Phnom Kulen,” jawab Dewa Buku lirih. “Mereka menulis tentang makhluk yang hidup di bawah tanah…. Sak Srey Khmaoch ~ Ratu Laba-laba.”
Chenda tertawa pendek, tapi suaranya terdengar gugup. “Dongeng lama. Anak-anak Khmer sudah berhenti takut pada laba-laba.”
Dewa Buku menatapnya lama. “Kau salah. Laba-laba sudah berhenti takut pada manusia.”
Suara aneh terdengar dari dalam reruntuhan kuil ~ seperti gesekan kaki di batu, tapi terlalu berat untuk seekor hewan kecil. Dewa Buku meraih satu AK-47 dan melemparkannya ke tangan Chenda. “Kau mau mati dengan cara lama atau cara baru?”
Chenda tak menjawab. Ia mengikuti Dewa Buku menuruni tangga batu yang lembap dan gelap. Bau tanah bercampur karat memenuhi udara. Semakin jauh mereka melangkah, semakin terasa hawa dingin seperti lubang perut bumi.
Di ujung lorong, mereka menemukan sesuatu: puluhan tubuh tergantung di langit-langit gua, terbungkus jaring tebal berwarna kelabu. Tubuh-tubuh itu mengering, seperti diisap habis cairannya. Di dinding batu, ada ukiran baru, bukan buatan manusia: gambar raksasa berkaki delapan sedang memangsa wajah-wajah manusia.
“Ini kerja siapa?” bisik Chenda.
Dewa Buku menyalakan senter, cahayanya bergetar di dinding gua. “Bukan siapa….tapi apa.”
Lalu mereka mendengar suara itu ~ klik klik klik ~ seperti irama kuku logam di batu. Dari kegelapan, dua mata besar berwarna hijau menyala.
“Lari!” seru Dewa Buku, menembak membabi buta. Peluru berdesing, batu berhamburan, tapi makhluk itu hanya mundur sedikit lalu melompat lagi.
Cahaya senter sempat menangkap wujudnya: tubuh sebesar kerbau, kaki panjang berbulu, dan mulut yang berdenyut seperti rahim, memuntahkan untaian jaring putih bercahaya.
Chenda menembak, tapi senjatanya macet. Dewa Buku menariknya ke belakang. “Jangan buang peluru. Ini bukan makhluk dari sini. Ini sesuatu yang dibangunkan.”
Mereka berlari menembus lorong sampai ke permukaan. Matahari sudah tinggi, tapi kabut tak pergi. Di luar, suara mesin truk Dewa Buku masih menyala. Ia melempar buku kulit itu ke tangan Chenda.
“Kalau kau ingin tahu kenapa mereka bangun, buka halaman terakhir. Tapi jangan sebelum malam.”
Chenda menatap buku itu, tangannya bergetar.
“Kenapa kau bantu aku?”
Dewa Buku menatap ke arah kuil yang kini hening. “Karena revolusi gagal. Tapi manusia selalu punya kesempatan kedua. Kali ini, senjatanya bukan peluru ~ melainkan pengetahuan.”
Truk itu melaju perlahan, meninggalkan jejak lumpur dan bau solar di udara. Chenda berdiri di tengah reruntuhan, memandangi buku tua itu. Di sampul belakangnya tertulis dengan darah kering:
“Barang siapa membaca ini di bawah bulan purnama, maka ia bukan lagi manusia.”
Langit mulai kelabu.
Dan di antara kabut yang menggulung, jaring putih itu kembali bergerak. Diikuti reruntuhan kerikil-kerikil goa yang jatuh dari atas, sehingga memaksa Dewa Buku dan Chenda untuk bergeser dari tempat itu.
“Chenda, lokasi hutan Angkor ini ini ke Phnom Kulen jauh nggak?” tanya Dewa Buku setelah berlindung di sudut goa.
“Yaaaa lumayan.” jawab Chenda singkat. “Sampai kapan kita berlindung disini?”
“Jangan dipikir.” jawab Dewa Buku singkat.
Krek…krek…krek…Bzzzzzzzttt
Tiba-tiba makhluk tadi sudah ada 5 meter disamping mereka, sejatinya tidak mungkin makhluk itu mampu menyusup ke sudut goa yang sempit namun tetap saja mereka kuatir pada efek sampingnya. Sambil terus merayap sambil berlindung, Dewa Buku melancarkan tembakan-tembakan kearah makhluk itu.
“Chenda! kamu pakai ini saja. Kita berpencar! Kita bertemu di Phnom Kulen di tepi sungai!” teriak Dewa Buku sambil melemparkan senapan AK-47 kearah Chenda, dan semenit kemudian Dewa Buku sudah tidak terlihat lagi.
“Gawat! kalau disini terus, ya bisa mati konyol aku” pikir Chenda sambil terus menggenggam buku kecil pemberian Dewa Buku. Dia terus berlari sekuat tenaga sebelum makhluk besar itu keluar dari reruntuhan batuan goa. Suara lengkingan mirip gajah yang marah mulai terdengar dari dalam, tetapi rupanya keberuntungan masih menjadi milik Chenda sehingga dia sudah berhasil keluar dari mulut goa itu dengan selamat.
“Haduh bangsat….makhluk apa itu tadi….fiuhhh.” bisik Chenda sambil terengah-engah, dia berjalan mendekati tepi sungai lalu duduk disitu. “Waduh, hampir malam….aku seorang tentara, seorang patriot pemberani….baru kali ini aku merasa setakut ini….”
Sambil duduk, Chenda membersihkan senapan AK-47 yang dibawanya.
Satu jam kemudian….
Malam turun perlahan di dataran Phnom Kulen. Bulan purnama menggantung pucat di langit, memantulkan cahaya dingin ke sungai kecil yang mengalir di antara akar pepohonan tua.
Di tepi sungai itu, Chenda duduk sendirian. Di pangkuannya, buku kulit hitam pemberian Dewa Buku tampak berdebu dan mulai merekah di tepinya, seolah bernapas.
Ia menatap halaman terakhir.
Tulisan kuno Khmer itu menari-nari di matanya, lalu berubah menjadi huruf Latin yang bisa ia baca:
“Ketika manusia menumpahkan darah terlalu banyak, bumi menumbuhkan penjaganya.
Ia menjaring dosa, bukan jiwa.”
Chenda memejamkan mata. Ia tahu arti kata-kata itu. Tetapi penyesalan tiada berguna.
Selama bertahun-tahun ia membunuh atas nama ideologi. Ia percaya dirinya sedang membangun dunia baru.
Namun kini, dunia yang ia bangun menumbuhkan monster.
KREK….KRRETAAAKKKK….
Suara ranting patah terdengar. Chenda menoleh dengan spontan dan bernafas lega. Dari balik kabut muncul Dewa Buku, dengan jaket kulit hitamnya yang kini berlumuran tanah dan darah kering. Ia membawa tas kain besar di bahunya, dan di tangan kirinya tergenggam pistol Makarov tua.
“Kau membaca halaman terakhir itu, bukan?” tanyanya.
Chenda mengangguk pelan.
“Aku ingin tahu kenapa mereka memburu kita. Kenapa semua ini terjadi.”
Dewa Buku menatap bulan, lalu berkata pelan:
“Waktu revolusi runtuh, orang-orang Pol Pot menggali gua untuk menyembunyikan senjata Soviet. Tapi yang mereka temukan bukan logam, melainkan jaring putih raksasa yang sudah mengering selama ribuan tahun. Mereka pikir itu sarang kelelawar. Tapi itu… sisa kulit.”
Chenda menelan ludah. “Makhluk itu sudah ada sebelum kita.”
“Ya.” Dewa Buku menyalakan rokok, asapnya berputar di udara. “Dan setiap kali manusia membunuh terlalu banyak, tanah memanggilnya kembali. Di bawah Phnom Kulen, ada puluhan telur yang belum menetas.”
Sunyi.
Hanya terdengar desir angin dan denting logam di tas kain Dewa Buku.
“Di dalam tas itu….” Chenda menatap curiga.
“Cairan fosfor putih. Buatan lama dari pabrik senjata di Rusia. Kalau kita ledakkan di gua bawah tanah, panasnya cukup untuk membakar semuanya ~ termasuk telur-telur itu.”
Chenda mendesah lega. “Jadi kita bisa menghentikannya.”
Dewa Buku memandangnya lama, matanya redup tapi tajam.
“Kita, ya?” katanya perlahan. “Kau yakin ingin menebus dosa dengan api, Chenda? Karena kadang, yang terbakar bukan hanya monster.”
“Maksudmu?” tanya Chenda penasaran.
Dewa Buku menghisap rokoknya lagi dan menghembuskannya keatas, kemudian menjawab “Kita bukan orang baik, Chenda….aku penyelundup senjata, kamu mantan tentara Khmer Merah….yang terbakar bukan hanya monster tetapi juga mimpi orang-orang tak berdosa yang sudah kita habisi.”
Chenda menundukkan kepalanya, air mata menetes pelan, “Iya, aku paham…”
“Baiklah, kamu bawa tas berisi fosfor putih ini saja, biar aku bawa senapan AK-47,” berkata Dewa Buku sambil menukar barang bawaan mereka.
Waktu terus berlalu….
Malam ini adalah malam yang sangat panjang bagi mereka berdua, setelah seharian menguras tenaga….tetapi harus kembali lagi masuk ke hutan Angkor untuk menyelesaikan apa yang belum mereka selesaikan.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba di mulut gua Angkor, tempat semua mimpi buruk itu bermula. Bulan purnama menyorot wajah batu kuil yang kini tampak seperti tengkorak raksasa.
Chenda membawa tas fosfor putih, Dewa Buku membawa senapan AK-47.
Langkah mereka menggema dalam kegelapan.
Jaring putih menggantung di dinding, berkilau seperti sutra hidup.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda: suara seperti bisikan manusia.
“Tolong kami… jangan biarkan kami kelaparan…”
Chenda menatap Dewa Buku, ngeri. “Kau dengar itu?”
Dewa Buku mengangguk pelan. “Mereka tidak mati. Hanya… diubah.”
Dari kegelapan muncul sosok-sosok kurus dengan wajah manusia tapi tubuh seperti laba-laba: tangan berubah jadi kaki panjang, mata berkilat hijau, kulit retak seperti karang. Mereka berbisik dalam bahasa yang patah, meminta ampun tapi menyerang di waktu bersamaan.
Dewa Buku menembak DETDETDETDETDETDET….. Tapi peluru hanya menembus tubuh mereka tanpa menghentikan mereka.
“Fosfornya, Chenda! Sekarang!”
Chenda membuka tas dan menumpahkan cairan putih ke dinding. Api menyala biru, menjalar cepat ke jaring-jaring. Gua berguncang, udara panas berdesis.
Makhluk-makhluk itu menjerit, tapi bukan jeritan binatang ~ jeritan manusia yang sadar bahwa mereka masih punya jiwa.
Di tengah kobaran api, Ratu Laba-laba muncul. Tubuhnya sebesar rumah, mata delapan berkilau seperti kaca, dan di dadanya menempel wajah perempuan manusia yang menangis.
Ia bersuara dengan gema dari masa lampau:
“Kau bakar tanahmu sendiri, Chenda. Kau bakar rahim dunia.”
Chenda gemetar, tanpa sadar buku kulit hitam jatuh di lantai goa karena tangannya refleks dia rentangkan kedepan. “Stop! Jangan mendekat!”
Mungkin sudah menjadi takdir Chenda untuk tewas hari ini, sang ratu laba-laba memancarkan jaring yang sangat kuat kearah Chenda….dan…..BLAPPP….Chenda tidak mampu berteriak karena langsung disedot kedalam mulut sang ratu laba-laba….taring-taringnya menancap di lutut Chenda dan secara perlahan dia dikunyah oleh ratu laba-laba.
“AAAAAAA…..TOLOOONG…BUNUH SAJA AKU….TEMBAK AKU DEWAAAA….SAKIIT…AAAAA….” teriak Chenda yang berada di antara hidup dan mati dengan kesakitan yang diluar batas ketahanan manusia.
“TIDAAAAAKKKK!!!” teriak Dewa Buku yang kini kehilangan temannya ” RASAKAN INI BANGSAT!!!”
DETDETDETDET DorDorDorDorDorDorDorDor DETDETDET ….Dewa Buku memberondong ratu laba-laba itu dengan penuh amarah yang menyala-nyala.
klik klik “Sialan….peluru habis.” gerutu Dewa Buku sambil membuang senapan AK-47 nya.
Terdengar suara lengkingan yang sangat nyaring mirip suara gajah yang sedang marah, ratu laba-laba melangkah dengan cepat kearah Dewa Buku, “Hai, manusia laknat….kini waktumu telah tiba.”
Dewa Buku agak panik, “Tidak semudah itu!”
Dengan secepat kedipan mata, Dewa Buku menarik granat terakhir dari saku jaketnya, menarik pin, dan melemparkannya ke arah jantung sang ratu.
DHUAAARRRR!!!
Ledakan mengguncang bumi. Suara lengkingan makhluk itu sangat menyeramkan. Api memancar seperti matahari mini yang menelan segala yang ada di sekelilingnya.
Suasana kembali sunyi dan sudah ada sedikit cahaya redup yang memantul didalam goa, ternyata hampir pagi.
“Maafkan aku, Chenda….aku tak sempat menyelamatkanmu…” bisik Dewa Buku sambil tetap berdiri menatap kosong serpihan-serpihan jasad ratu laba-laba.
Ketika kabut pagi datang, hanya satu orang yang keluar dari reruntuhan gua.
Dewa Buku JSW.
Tubuhnya terbakar sebagian, wajahnya berlumur debu, tapi di tangannya masih tergenggam buku kulit hitam itu. Buku yang pernah dia berikan kepada Chenda.
Ia berdiri di bawah sinar matahari, memandangi langit Phnom Kulen yang kini bersih dari kabut.
Seorang anak kecil muncul dari balik pohon, matanya polos.
“Paman, apa yang terjadi di sana?”
Dewa Buku tersenyum samar. “Tanah lapar, Nak. Tapi kali ini, dia sudah kenyang.”
Anak itu menatap buku di tangannya. “Apa itu kitab suci?”
Dewa Buku menatapnya lama, lalu menutup buku itu dengan pelan.
“Bukan. Ini sejarah… yang sebaiknya tidak diulang.”
Ia berjalan pergi meninggalkan reruntuhan, sementara dari kejauhan terdengar suara jangkrik yang pelan-pelan kembali hidup.
Di bawah tanah, mungkin masih ada jaring yang belum terbakar.
Tapi untuk sementara ~ Kamboja bisa bernapas lagi.
~ THE END ~
Categories
Related Posts
Hujan turun deras malam itu, menenggelamkan suara jangkrik dan menyapu aroma tanah yang baru digali....
Read MoreDewaBukuJSW
Di sebuah restoran mewah di pusat ibu kota Naypyidaw, suasana haru dan tegang berbaur saat...
Read MoreDewaBukuJSW
Di sebuah sudut kecil di kecamatan Gajah Tunggal, terdapat sebuah warung mie ayam yang sangat...
Read MoreDewaBukuJSW
Sore itu, Joko nyaris roboh ke kasur anyaman bambu setelah seharian membanting tulang di sawah...
Read MoreDewaBukuJSW
Indonesia, tahun 1935. Di tengah lebatnya hutan Kalimantan, suara gemerisik daun dan kicauan burung menyatu...
Read More