Skip to content

TEROR PASAR GEDE SOLO

teror_pasar_gede_solo

Hari ini, Senin 27 Oktober 2025, Rani baru saja selesai mempersiapkan perbekalan untuk dibawa ke kota Solo besok pagi. Secara kebetulan ketika Rani berada di Kota Tua, Semarang Utara, dia bertemu dengan Pak Darmo beserta keluarganya yang sedang berlibur ke Kota Tua. Singkat cerita, mereka sudah mengadakan kesepakatan untuk wawancara sebagai bahan penelitiannya.

Keesokan harinya, Selasa 28 Oktober 2025, Rani sudah rapi dan wangi. Saat itu dia mengenakan kemeja biru tua dengan rompi jeans putih, dipadukan dengan celana jeans baggy biru muda dan sepatu sport berwarna pink, dia menggendong ransel berwarna biru muda di punggungnya. Pagi hari yang lumayan gerah di Stasiun Tawang, Semarang, Jawa Tengah….padahal baru jam 6.00 WIB seharusnya masih dingin. Barangkali hal itu disebabkan karena Rani berdesakan di angkot saat menuju ke stasiun ini. Rani adalah seorang mahasiswi semester akhir di UGM Yogyakarta yang kebetulan dia adalah gadis asli Semarang.

Setelah menyiapkan tiket, dia melangkah masuk ke salah satu gerbong kelas eksekutif kereta api Banyu Biru dan duduk di seat sesuai nomor tiketnya. Lima menit kemudian kereta api pun berangkat, sesuai kata si mbak pramugari tadi, untuk perjalanan ke stasiun Solo Balapan akan menempuh waktu hampir dua jam. Kereta berjalan semakin cepat, Rani tertidur pulas.

Begitu membuka matanya, kereta api sudah memasuki stasiun Solo Balapan….Rani langsung bersiap-siap. Keretapun berhenti, semua orang turun perlahan karena padatnya bukan main situasi saat itu. Untuk mempersingkat waktu, Rani memesan Ojol (ojek online) untuk menuju ke rumah temannya di daerah Gladag, Surakarta. Tak lama kemudian ojol pun sampai didepannya.

Ojol: “Dengan mbak Rani Oktaviani ya?”
Rani: :Iya mas, jangan ngebut ya mas”
Ojol: “oke mbak, ini helm-nya.”

Sepuluh menit kemudian, sampailah dia di rumah temannya yang berlokasi di belakang Kantor Pos Besar Gladag. Rani akan menginap disitu untuk beberapa hari dan syukurlah temannya sendiri yang meminta Rani untuk menginap dirumahnya. Hari itu diakhiri dengan hujan deras sampai malam hari.

Tepatnya pada hari Rabu keesokan harinya, tanggal 29 Oktober 2025 Rani bertemu Pak Darmo di kios miliknya.

“Selamat pagi pak Darmo,” sapa Rani dengan sopan
“Wah, akhirnya nak Rani sampai juga disini, mari mari mari….maaf berantakan hehe,” ujar Pak Darmo sambil membersihkan kursi plastik di kiosnya. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali melayani pembeli. Mereka semakin akrab.

“Nak Rani ini seumuran anak saya, mungkin jauh lebih muda dari anak saya,,,,saya panggil nak Rani dengan sebutan ‘Nduk’ saja ya biar nyaman? dari tadi kikuk banget,” ujar pak Darmo sambil melayani pembeli.

“iya pak, nggak apa-apa,” jawab Rani dengan sopan.

Setelah berbasa-basi sebentar sambil menikmati tempe goreng, wawancara pun dimulai.

“Pak, saya dengar cerita tentang Hantu Mbak Gendut. Apa itu benar?” tanya Rani sambil merekamnya dengan smartphone.

Pak Darmo: “Ah, itu cuma cerita lama, Nduk. Jangan terlalu dipikirkan.”

Rani: “Tapi, banyak pedagang yang bilang pernah melihatnya.”

Pak Darmo: “Ya, namanya juga cerita. Ada yang percaya, ada yang tidak.”

Rani: “Apa Bapak pernah melihatnya sendiri?”

Pak Darmo: “Saya sudah tua, Nduk. Mata saya sudah tidak jelas. Tapi, saya percaya ada kekuatan gaib di pasar ini.”

Setelah satu jam Rani mewawancarai Pak Darmo, dia mohon pamit pulang ke daerah Gladag.

Malam harinya….

Udara Solo di awal November terasa lembap dan gerah, meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rani, dengan ransel lusuh di punggungnya, menatap gerbang Pasar Gede yang tampak angker di bawah rembulan pucat. Lampu-lampu jalan yang berkedip menambah kesan suram pada bangunan pasar yang megah namun kuno itu.

“Pasar ini menyimpan banyak cerita,” gumam Rani, mencoba menenangkan diri. Sebagai mahasiswa arkeologi semester akhir, ia terpilih untuk melakukan penelitian tentang sejarah Pasar Gede, pasar tradisional terbesar di Solo yang dibangun sejak zaman penjajahan Belanda.

Rani memberanikan diri melangkah masuk. Gerbang pasar yang biasanya ramai oleh lalu lalang pedagang dan pembeli, kini lengang dan sunyi. Hanya suara gesekan angin dan derit pintu besi yang menemani langkahnya.

“Permisi… permisi…” Rani mencoba menyapa, meski tahu tidak ada siapa-siapa di sana. Ia membawa senter kecil yang cahayanya menari-nari di dinding-dinding pasar yang dipenuhi grafiti dan lumut.

Rani sudah beberapa hari ini berkeliling Pasar Gede, mewawancarai para pedagang senior dan mengumpulkan data sejarah. Namun, ada satu hal yang membuatnya penasaran: cerita tentang Hantu Mbak Gendut.

Menurut legenda yang beredar di kalangan pedagang, Hantu Mbak Gendut adalah arwah penasaran seorang wanita gemuk yang meninggal secara tragis di pasar ini pada zaman dahulu. Konon, ia adalah seorang pedagang kaya yang dibunuh oleh perampok. Arwahnya tidak tenang dan sering menampakkan diri di malam hari, terutama di area los daging dan sayuran.

Awalnya, Rani menganggap cerita itu hanya bualan para pedagang untuk menakut-nakuti pembeli. Namun, semakin lama ia berada di Pasar Gede, semakin banyak kejadian aneh yang ia alami. Suara-suara bisikan di telinganya, bayangan-bayangan yang bergerak sendiri, dan bau melati yang tiba-tiba muncul di tengah malam.

“Ah, mungkin hanya imajinasiku saja,” pikir Rani, mencoba rasional. Namun, rasa penasaran dan keinginan untuk membuktikan kebenaran cerita itu semakin kuat.

Malam ini, Rani memutuskan untuk melakukan sesuatu yang nekat: bermalam di Pasar Gede. Ia ingin membuktikan sendiri apakah Hantu Mbak Gendut benar-benar ada.

Rani memilih sebuah los kosong di dekat area los daging sebagai tempatnya bermalam. Ia menggelar sleeping bag dan mengeluarkan buku catatan serta kamera. Ia juga membawa beberapa camilan dan minuman untuk menemaninya begadang.

“Oke, Rani, ini saatnya membuktikan apakah cerita itu benar atau tidak,” gumamnya, menyemangati diri sendiri.

Waktu terus berjalan. Rani membaca buku catatan dan sesekali memotret sudut-sudut pasar yang tampak menyeramkan di bawah cahaya rembulan. Suasana semakin sunyi dan mencekam.

Tiba-tiba, Rani mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Ia menahan napas dan mencoba mengintip dari balik sleeping bag.

“Siapa itu?” bisiknya dalam hati.

Suara langkah kaki itu semakin dekat. Rani semakin tegang. Jantungnya berdegup kencang.

Kemudian, ia melihat sesosok bayangan hitam besar yang berjalan melewati los tempatnya bersembunyi. Bayangan itu tampak seperti seorang wanita gemuk dengan rambut panjang yang terurai.

Rani membeku. Ia tidak bisa bergerak atau berbicara. Ia hanya bisa melihat bayangan itu berjalan semakin jauh dan menghilang di kegelapan.

“Apa… apa itu Hantu Mbak Gendut?” gumam Rani, dengan suara bergetar.

Rasa takutnya semakin menjadi-jadi. Ia mencoba menenangkan diri, tetapi tidak bisa. Ia merasa ada sesuatu yang mengawasi dirinya dari kegelapan.

Tiba-tiba, Rani mendengar suara bisikan di telinganya. Suara itu sangat pelan, tetapi ia bisa mendengar dengan jelas.

“Pergi… pergi dari sini…” bisik suara itu.

Rani merinding. Ia tahu suara itu bukan berasal dari manusia.

“Si… siapa kamu?” tanya Rani, dengan suara gemetar.

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang bertiup kencang di luar pasar.

Rani semakin ketakutan. Ia merasa ada sesuatu yang jahat di dekatnya. Ia ingin segera keluar dari pasar ini, tetapi kakinya terasa berat untuk melangkah.

Tiba-tiba, lampu-lampu di pasar mulai berkedip-kedip. Suasana semakin gelap dan mencekam.

Rani berteriak ketakutan. Ia mencoba berlari keluar dari los, tetapi ia tersandung sleeping bag dan jatuh tersungkur.

Saat ia mencoba bangun, ia melihat sesosok wanita gemuk berdiri di depannya. Wanita itu memiliki wajah pucat dengan mata merah menyala, bertaring, berbaju kebaya longgar yang sangat kusam. Rambutnya panjang dan kusut, menutupi sebagian wajahnya.

“Kamu… kamu siapa?” tanya Rani, dengan suara tercekat.

Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Rani dengan tatapan kosong dan mengerikan.

Kemudian, wanita itu mengangkat tangannya yang besar dan gemuk. Kuku-kukunya panjang dan hitam, tampak seperti cakar binatang buas.

Rani menjerit histeris. Ia tahu wanita itu akan menyerangnya. Ia mencoba melindungi dirinya dengan kedua tangannya.

Namun, sebelum wanita itu sempat menyentuhnya, Rani mendengar suara seorang pria yang berteriak dari kejauhan.

“Mbak Gendut! Jangan ganggu dia!”

Wanita itu menoleh ke arah suara itu. Rani melihat seorang pria tua berlari ke arah mereka. Pria itu adalah Pak Darmo, salah satu pedagang senior di Pasar Gede yang sudah ia wawancarai tadi pagi.

“Pak Darmo?” tanya Rani, bingung.

Pak Darmo tidak menjawab. Ia terus berlari ke arah mereka sambil membaca mantra-mantra dalam bahasa Jawa kuno.

Saat Pak Darmo semakin dekat, wanita itu tampak kesakitan. Ia memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan.

“Aaaarrgghhh…” erang wanita itu.

Kemudian, wanita itu menghilang begitu saja. Meninggalkan Rani yang masih tergeletak di lantai dengan tubuh gemetar.

Pak Darmo menghampiri Rani dan membantunya berdiri.

“Kamu tidak apa-apa, Nduk?” tanya Pak Darmo, khawatir.

Rani mengangguk lemah. “Saya… saya tidak tahu apa yang terjadi,” jawabnya, dengan suara bergetar.

“Mbak Gendut tidak suka ada orang asing yang mengganggu tempatnya,” jelas Pak Darmo. “Dia adalah arwah penasaran yang tidak tenang.”

“Tapi… kenapa dia menyerang saya?” tanya Rani.

“Kamu terlalu penasaran dengan ceritanya,” jawab Pak Darmo. “Kamu sudah mengusik ketenangannya.”

Rani terdiam. Ia baru menyadari kesalahannya. Ia terlalu fokus pada penelitiannya hingga lupa menghormati tradisi dan kepercayaan lokal.

“Maafkan saya, Pak,” kata Rani, menyesal. “Saya tidak tahu kalau akan jadi seperti ini.”

“Sudahlah, Nduk,” kata Pak Darmo. “Yang penting kamu selamat. Sekarang, mari kita keluar dari sini.”

Pak Darmo membantu Rani keluar dari Pasar Gede. Mereka berjalan menuju pos keamanan di depan pasar.

“Sebaiknya kamu jangan kembali lagi ke sini, Nduk,” pesan Pak Darmo. “Mbak Gendut tidak akan membiarkanmu tenang.”

Rani mengangguk setuju. Ia sudah cukup trauma dengan kejadian malam ini. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan hantu Mbak Gendut.

“Terima kasih, Pak Darmo,” kata Rani. “Anda sudah menyelamatkan saya.”

“Sama-sama, Nduk,” jawab Pak Darmo. “Hati-hati di jalan.”

Rani meninggalkan Pasar Gede dengan perasaan lega dan takut. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mengusik hal-hal yang tidak seharusnya diusik. Keesokan harinya dia pulang ke Semarang dengan membawa semua data wawancara dan penelitiannya.

Sejak saat itu, Rani tidak pernah lagi kembali ke Pasar Gede. Ia menyelesaikan penelitiannya dengan data yang sudah ia kumpulkan sebelumnya. Ia juga tidak pernah lagi mendengar cerita tentang Hantu Mbak Gendut.

Namun, setiap kali ia melewati Pasar Gede, ia selalu teringat dengan kejadian mengerikan yang pernah ia alami. Ia juga selalu teringat dengan pesan Pak Darmo: jangan pernah mengusik hal-hal yang tidak seharusnya diusik.

                 ===THE END===

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Penjaga Terakhir Terowongan Casablanca

Terowongan Casablanca bukan tempat yang asing bagi warga Jakarta. Ia bukan bangunan bersejarah, bukan pula...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Penyebab Awal (Prolog) Keraton itu tidak pernah benar-benar...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 3 - Penumpang Yang Tidak Tercatat

SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Orang-orang yang bekerja di malam hari biasanya memiliki cara sendiri...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kereta Malam — Catatan Fenomena Wanita Berbaju Putih

Catatan ini disusun dari berbagai kesaksian tentang perjalanan kereta malam di Jawa Barat—tentang gerbong yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Pintu Alam Ghaib Dibalik Air Terjun Grojogan Sewu

Tahun kejadian: 2020Sumber cerita: pengalaman pribadi penulisLokasi: Kelurahan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Beberapa catatan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!