
Kesaksian ini disampaikan oleh seorang saksi mata yang tidak ingin namanya dicatat. Aku menuliskannya sebagaimana ia menceritakannya.
Kereta terakhir selalu datang dengan suara yang berbeda.
Bukan lebih keras, bukan pula lebih pelan — hanya terasa lebih kosong.
Aku sudah bekerja sebagai petugas kebersihan kereta selama hampir tujuh tahun. Jam kerjaku selalu sama: masuk ketika sebagian besar orang lain pulang, dan pulang ketika kota baru mulai bersuara lagi. Aku hafal bau besi rel yang basah, suara langkah di peron yang memantul terlalu panjang, dan cara lampu stasiun berubah warna ketika malam semakin larut.
Kereta terakhir bukan bagian yang kusukai, tapi juga bukan yang kuhindari. Ia hanya… lain.
Malam itu, sekitar pukul 23.47 WIB, kereta dari arah timur berhenti di jalurnya seperti biasa. Penumpang turun satu per satu. Tidak banyak. Sebagian besar sudah lelah, sebagian lain terburu-buru, seolah ingin segera berada di tempat lain. Setelah peron kembali lengang, masinis memberi tanda singkat. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang tertinggal — setidaknya, begitulah seharusnya.
Aku naik ke gerbong paling belakang, membawa kereta dorong kecil berisi kantong sampah dan alat pel. Lampu di dalam gerbong menyala redup. Kursi-kursi tampak kosong, tersusun rapi, seakan tidak pernah diduduki siapa pun malam itu.
Di situlah aku mencium aroma melati.
Awalnya samar. Aku mengira itu berasal dari pakaian penumpang sebelumnya — parfum murah yang tertinggal di udara. Tapi aroma itu terlalu bersih. Terlalu utuh. Tidak tercampur bau manusia, tidak pula menyatu dengan logam atau debu.
Aku berjalan pelan menyusuri lorong gerbong. Di baris kursi ketiga dari belakang, sesuatu tergeletak di lantai.
Sebuah tiket kereta.
Warnanya sudah kusam. Kertasnya tidak lagi kaku. Ketika kuambil, ujungnya hampir robek di antara jari-jariku. Aku membaca tanggalnya tanpa banyak harap — barangkali tiket lama yang tertinggal entah dari mana.
12 Juni 1953.
Aku membaca ulang. Lalu sekali lagi.
Tiket itu tidak mencantumkan kode digital, tidak ada QR, hanya nomor seri cetak dan cap tinta yang hampir pudar. Aku berdiri terlalu lama di sana, sampai suara pengeras stasiun memanggil petugas untuk bersiap menutup jalur.
Di ruang petugas, aku menunjukkan tiket itu pada Pak Rasminto, masinis tua yang sudah bekerja bahkan sebelum aku lahir. Ia menatap tiket itu lama, lebih lama dari yang kuharapkan.
“Masih ada, ya,” katanya pelan.
“Apa, Pak?”
Ia tidak langsung menjawab. Tangannya merapikan topinya, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan ketika ingin mengalihkan pembicaraan.
“Dulu,” katanya akhirnya, “kami percaya kereta terakhir tidak pernah benar-benar kosong.”
Aku menunggu, tapi Pak Rasminto tidak melanjutkan. Ia hanya mengembalikan tiket itu kepadaku, seolah benda itu milikku sejak awal.
Malam-malam berikutnya, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Aroma melati muncul tidak setiap hari, tapi cukup sering untuk membuatku berhenti menganggapnya kebetulan. Selalu di gerbong terakhir. Selalu setelah semua penumpang turun. Tidak pernah ada sampah di kursi tempat aroma itu paling kuat, seolah seseorang duduk dengan sangat rapi.
Suatu malam, ketika kereta hampir berangkat kembali ke depo, aku melihatnya.
Seorang wanita berdiri di ujung gerbong.
Ia tidak menatapku. Wajahnya pucat, tapi cantik dengan cara yang tenang, seperti foto lama yang warnanya memudar. Rambutnya panjang, terurai, tidak diikat. Ia mengenakan daster putih — bukan putih bersih, melainkan putih yang sudah terlalu sering dicuci, terlalu lama disimpan.
Usianya kira-kira dua puluh tiga tahun.
Ia tidak bergerak. Tidak menakutkan. Tidak meminta apa pun. Kehadirannya seperti kursi kosong yang tiba-tiba terasa tidak kosong lagi.
Ketika pintu gerbong terbuka dan suara peluit terdengar, wanita itu melangkah turun. Perlahan. Tidak menoleh. Aroma melati tertinggal lebih lama dari langkahnya.
Aku tidak mengejarnya. Aku tidak memanggilnya. Aku bahkan tidak yakin apakah yang kulihat benar-benar terjadi.
Beberapa hari kemudian, aku kembali menemukan tiket. Tanggal berbeda. Tahun tetap sama.
Aku mulai mencatat jam-jam tertentu. Waktu kereta berhenti. Waktu aroma muncul. Waktu aku merasa tidak sendirian meski gerbong jelas kosong. Catatan itu tidak rapi. Kadang hanya satu baris. Kadang kosong selama berhari-hari.
Aku bertanya pada petugas lain. Sebagian tertawa. Sebagian menghindar. Satu orang menyebut nama wanita itu — nama yang tidak pernah kudengar sebelumnya — lalu berhenti bicara, seolah kata itu terlalu tua untuk diucapkan.
Pak Rasminto akhirnya bercerita, tapi tidak sebagai pengakuan. Lebih seperti mengulang sesuatu yang sudah terlalu sering diulang.
“Tahun lima puluhan,” katanya, “ada kecelakaan kecil. Tidak masuk berita. Seorang penumpang wanita tertinggal. Kereta jalan.”
“Dia meninggal?”
Pak Rasminto menggeleng. “Tidak pernah ditemukan.”
Malam terakhir sebelum aku mengajukan pindah jadwal, aku melihat wanita itu sekali lagi. Kali ini ia duduk.
Di kursi dekat jendela.
Ia menatap keluar, ke arah peron yang sudah sepi. Tangannya terlipat di pangkuan. Wajahnya tidak sedih. Tidak menunggu. Seolah perjalanan itu sendiri adalah tujuannya.
Ketika ia berdiri dan berjalan keluar, aku melihat sesuatu tertinggal di kursinya.
Tiket.
Aku tidak mengambilnya.
Kereta kembali bergerak. Aroma melati perlahan memudar. Gerbong kembali menjadi ruang kosong yang biasa.
Sejak malam itu, aku tidak lagi bekerja di kereta terakhir. Aku tidak pernah melihat wanita itu lagi. Tapi setiap kali aku mencium aroma melati di tempat yang tidak seharusnya, aku teringat satu hal yang Pak Rasminto katakan sebelum pensiun.
“Kereta bisa berhenti,” katanya. “Tapi tidak semua penumpang pernah benar-benar sampai.”
…………….
Author Profile
Categories
Related Posts
Terowongan Casablanca bukan tempat yang asing bagi warga Jakarta. Ia bukan bangunan bersejarah, bukan pula...
Read MoreDewaBukuJSW
Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Penyebab Awal (Prolog) Keraton itu tidak pernah benar-benar...
Read MoreDewaBukuJSW
Serial Title: Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil Keraton tidak berubah.Pagi datang seperti biasa. Siang berjalan...
Read MoreDewaBukuJSW
Seorang saksi mata yang tidak ingin disebut namanya menceritakan pengalamannya kepada penulis. Ia mengatakan ia...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Terminal Tirtonadi tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan setelah tengah malam...
Read More