Skip to content

EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL

Penyebab Awal (Prolog)

Keraton itu tidak pernah benar-benar sepi.
Hanya saja, suara-suara yang ada di dalamnya seperti tahu kapan harus berhenti.

Siang itu berjalan pelan. Matahari tidak terlalu terik, tapi cukup untuk membuat bayangan terlihat jelas di lantai batu yang luas. Beberapa pengunjung berjalan dengan arah masing-masing. Tidak terburu-buru. Tidak juga benar-benar santai.

Museum berada di sisi yang tidak terlalu ramai. Udara di dalamnya lebih dingin dari luar, meskipun tidak ada pendingin ruangan yang terdengar bekerja. Bau kayu tua dan kain lama bercampur tipis, tidak mengganggu, tapi juga tidak bisa diabaikan.

Benda-benda dipajang dengan jarak yang terukur.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.

Seolah-olah, jarak itu sudah ditentukan sejak awal.

Di salah satu sudut ruangan, seorang pria berdiri cukup lama tanpa berpindah tempat.

Rambutnya hitam, jatuh sampai sebahu. Sebagian tertutup beanie hitam yang dipakai tanpa usaha terlihat rapi. Ia mengenakan kacamata hitam, meskipun cahaya di dalam ruangan tidak cukup terang untuk itu. Masker medis berwarna hijau muda menutup setengah wajahnya.

Coat hitam panjang yang ia kenakan jatuh lurus, dengan kerah bulu putih di kedua sisi. Kontras, tapi tidak mencolok. Celana baggy biru tua dan sneakers putih yang bersih membuatnya terlihat seperti seseorang yang tidak benar-benar datang untuk berbaur.

Ia tidak memegang apa pun.
Tidak mengambil foto.
Tidak membaca papan informasi.

Ia hanya melihat.

Dan tidak ada yang benar-benar memperhatikannya.

Kecuali… beberapa saat kemudian.

Lima gadis masuk hampir bersamaan. Suara mereka langsung mengisi ruangan, tapi tidak sampai mengganggu. Lebih seperti riak kecil di permukaan air yang sebelumnya terlalu tenang.

“Ini ya museumnya?” suara salah satu dari mereka, ringan.

“Ya ampun, banyak banget barangnya…” yang lain menyahut.

Mereka berjalan berkelompok. Sesekali berhenti, lalu tertawa kecil. Ponsel mereka beberapa kali terangkat, menangkap sudut-sudut yang menurut mereka menarik.

Winda terlihat paling aktif. Ia mengenakan t-shirt berwarna pink dan bertopi merah. Gerakannya ringan, seperti terbiasa dengan ritme tubuh yang terlatih. Susi yang mengenakan t-shirt coklat dengan rambut dikepang dua berjalan di sampingnya, berbicara lebih cepat dari yang lain, kadang memotong kalimat sendiri.

Meymey yang mengenakan topi rajut berwarna biru dan t-shirt abu-abu sedikit tertinggal, tapi tetap ikut memperhatikan. Sesekali ia mengeluh pelan tentang lelah, lalu kembali berjalan.

Hana yang memakai t-shirt ungu dengan ciri khas rambut hitam yang di-rebonding tidak banyak bicara. Matanya bergerak lebih sering dari yang lain. Tidak selalu mengikuti arah benda yang dilihat teman-temannya.

Wiwin dengan t-shirt hitam dan rambut pirang pada bagian tertentu berjalan paling belakang. Langkahnya pelan, tapi tidak ragu. Sesekali ia berhenti lebih lama dari yang lain, melihat sesuatu dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan.

Mereka berlima kini sedang mengelilingi sebuah guci emas didalam sebuah kubah kaca tebal berbentuk kotak. Mereka sedang mengobrol dengan penuh rasa penasaran.

Mereka tak menyadari ada sesosok pria misterius mengawasi dari kejauhan dari balik kacamata hitamnya. Kecuali Hana, dia memiliki indera keenam yang terasah dengan baik. Ia tahu bahwa pria di sudut ruangan itu mengawasi mereka secara diam-diam namun Hana cuek saja.

Pria di sudut ruangan itu tetap di tempatnya.

Ia melihat mereka.
Tapi tidak dengan cara yang sama seperti pengunjung lain melihat sesuatu yang baru.

Lebih seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu yang belum terjadi.


Salah satu meja kecil di dekat dinding menampilkan sesajen. Tidak besar. Tidak juga mencolok. Hanya beberapa kue, bunga, dan benda kecil lain yang disusun rapi.

Tidak ada tulisan larangan.
Tidak ada penjaga di dekatnya.

Hanya diletakkan begitu saja.

Seolah-olah, tidak perlu dijelaskan untuk siapa itu ada.

Susi mendekat lebih dulu.

“Ini boleh dimakan nggak sih?” katanya sambil menoleh ke yang lain.

Winda tertawa. “Ya jangan asal ambil lah.”

Susi sudah mengambil satu. Kue kecil. Ia menggigit tanpa menunggu jawaban.

Tidak ada yang menegur.

Tidak ada yang berubah.

Setidaknya, tidak terlihat.

“Enak,” katanya santai.

Ia mengambil satu lagi.

Jumlah di atas nampan terlihat sama.

Meymey mengernyit sedikit. “Tadi kayaknya lebih banyak deh.”

“Ah perasaan lu aja,” jawab Susi.

Hana berdiri tidak jauh dari mereka. Ia tidak mendekat. Matanya tidak ke sesajen. Tapi ke arah belakang meja itu.

Kosong.

Setidaknya, terlihat begitu.

Ia menghela napas pelan.

“Kenapa?” tanya Wiwin.

Hana menggeleng. “Nggak… cuma…”

Ia tidak melanjutkan.

Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi seperti tidak menemukan bentuk yang tepat.

Pria di sudut ruangan itu mengalihkan pandangan sedikit.

Tidak ke arah sesajen.
Tapi ke arah Hana.

Sejenak.

Lalu kembali diam.


Waktu berjalan tanpa terasa cepat. Tapi juga tidak lambat.

Beberapa pengunjung keluar. Beberapa masuk. Pola yang sama, berulang tanpa terlihat berulang.

Di luar, langkah kaki abdi dalem terdengar pelan. Teratur. Tidak tergesa.

Dua orang masuk ke dalam museum. Pakaian mereka berbeda dari pengunjung biasa. Lebih sederhana, tapi membawa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dari kain yang mereka kenakan.

Pandangan mereka menyapu ruangan. Tidak lama. Tapi cukup untuk menemukan apa yang mereka cari.

Mereka berhenti di dekat lima gadis itu.

Percakapan terjadi. Pelan. Tidak semua kata terdengar jelas.

Winda terlihat terkejut. Susi lebih banyak bertanya. Meymey mulai memperhatikan dengan serius.

Wiwin tidak langsung menjawab.

Ia hanya mendengarkan.

Hana melihat ke arah pria di sudut ruangan.

Pria itu masih di sana.

Tidak mendekat.
Tidak juga pergi.

Seperti tidak terlibat.
Tapi juga tidak sepenuhnya terpisah.


Penjelasan diberikan. Singkat. Tidak bertele-tele.

Tentang sebuah acara.
Tentang sebuah kekosongan yang harus diisi.

Tentang sesuatu yang tidak bisa ditunda.

Nama disebut.

Wiwin.

Ia tidak langsung menolak.
Tapi juga tidak langsung menerima.

“Aku baru belajar…” katanya pelan.

Salah satu abdi dalem mengangguk. “Kami tahu.”

Tidak ada paksaan dalam nada suaranya.
Tapi juga tidak ada ruang untuk menghindar terlalu lama.

“Waktunya tidak banyak,” tambahnya.

Hana menatap Wiwin.

Lebih lama dari yang lain.

Seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih untuk tidak.

Susi sudah mulai terlihat antusias. “Serius ini? Kayak… langsung tampil gitu?”

Meymey menarik napas panjang. “Ini bukan acara biasa, Su.”

Winda diam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk.

Wiwin menunduk sebentar.

Tangannya saling menggenggam.

Kemudian ia mengangkat kepala.

“Kalau… memang harus,” katanya pelan.

Tidak ada yang bersorak.

Tidak ada yang merayakan.

Hanya keheningan yang sedikit lebih dalam dari sebelumnya.


Mereka diajak keluar dari museum. Melewati koridor yang tidak terlalu panjang, tapi terasa lebih sunyi.

Langkah kaki mereka terdengar lebih jelas di sini.

Atau mungkin… memang tidak ada suara lain yang tersisa.

Hana berjalan di samping Wiwin.

“Lo yakin?” tanyanya pelan.

Wiwin tidak langsung menjawab.

“Aku nggak tahu,” katanya akhirnya.
“Tapi rasanya… aku memang harus di sini.”

Hana tidak menanggapi.

Ia menoleh sedikit ke belakang.

Pria itu tidak mengikuti mereka.

Masih di dalam museum.

Masih di tempat yang sama.

Tapi entah kenapa… terasa seperti jarak itu tidak benar-benar memisahkan.


Di dalam museum, ruangan kembali seperti semula.

Tenang.
Teratur.

Sesajen masih di tempatnya.

Tidak berubah.

Atau setidaknya… terlihat begitu.

Jumlahnya tetap.

Tidak berkurang.
Tidak bertambah.

Tirai tipis di jendela tidak bergerak.

Padahal angin di luar sempat lewat beberapa kali.

Pria itu akhirnya melangkah.

Satu langkah.

Berhenti.

Ia berdiri di depan meja sesajen.

Tidak menyentuh.

Tidak juga terlalu dekat.

Hanya melihat.

Lebih lama dari yang diperlukan.

Seolah-olah sedang memastikan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.

Beberapa hal memang tidak berubah.
Setidaknya, tidak dengan cara yang bisa langsung terlihat.

Ia mengalihkan pandangan ke arah pintu tempat lima gadis itu keluar tadi.

Kosong.

Langkah mereka sudah tidak terdengar lagi.

Namun ada sesuatu yang tertinggal.

Bukan benda.
Bukan suara.

Lebih seperti… keputusan yang belum sepenuhnya selesai.

Ia berdiri beberapa saat lagi.

Lalu berbalik.

Keluar dari ruangan tanpa tergesa.

Tidak ada yang menghentikan.

Tidak ada yang memperhatikan.

Seolah-olah, kehadirannya memang tidak dimaksudkan untuk dicatat.


Di luar, cahaya mulai berubah.

Sore perlahan turun, membawa bayangan yang lebih panjang dari sebelumnya.

Keraton tetap berdiri seperti biasa.

Tidak ada yang berbeda.

Hanya saja, beberapa hal sudah mulai bergeser.

Sedikit.

Hampir tidak terasa.

Tapi cukup untuk membuat sesuatu yang seharusnya tetap… mulai bergerak.

Dan tidak semua yang bergerak… akan kembali ke tempat semula.

*

Bersambung ke Episode 2 – Latihan Yang Tidak Sepenuhnya Diajarkan

*

*

PROLOG

EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN
EPISODE 2 — LATIHAN YANG TIDAK SEPENUHNYA DIAJARKAN
EPISODE 3 — MALAM YANG MENJADI TERLALU TENANG
EPISODE 4 — YANG KEMBALI TANPA DIPANGGIL (THE END)

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
URBAN LEGEND: MALL WILLOW PARK

Setiap kota besar pasti menyimpan luka yang dikubur dalam-dalam, dan dalam kasus Kota Langsa Raya,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kamar 302

Seorang saksi mata yang tidak ingin disebut namanya menceritakan pengalamannya kepada penulis. Ia mengatakan ia...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Pengantin Yang Selalu Duduk di Kursi Nomor 4

Gedung Landmark di Jalan Braga terlihat berbeda saat malam. Siang hari, bangunan itu masih tampak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Prolog Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Pada suatu ketika di tahun 2024 akan diselenggarakan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
TEROR PASAR GEDE SOLO

Hari ini, Senin 27 Oktober 2025, Rani baru saja selesai mempersiapkan perbekalan untuk dibawa ke...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!