Serial Title: Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil

Keraton tidak pernah benar-benar sepi.
Bahkan ketika tidak ada upacara, tidak ada latihan, tidak ada langkah kaki yang terburu — ada sesuatu yang tetap tinggal. Bukan suara. Bukan juga bayangan.
Lebih seperti kebiasaan yang tidak pernah pergi.
Hari pelaksanaan Tingalandalem Jumenengan tiba tanpa penanda yang mencolok.
Tidak ada perubahan drastis pada langit. Tidak ada pertanda yang bisa dibaca dengan mudah.
Semua berjalan sebagaimana mestinya.
Persiapan dilakukan sejak pagi. Para abdi dalem bergerak dengan ritme yang sudah mereka kenal sejak lama. Tidak tergesa, tidak lambat.
Segalanya berada di tempatnya.
Atau setidaknya….terlihat demikian.
Empat jam sebelum acara dimulai, semua abdi dalem Keraton sudah selesai menyiapkan semua dekorasi dan perlengkapan ritual Tari Bedhaya Ketawang. Tidak terkecuali, tempat pemandian yang akan dipergunakan oleh sembilan gadis perawan yang sudah terpilih beberapa waktu sebelumnya.
Semuanya sudah melewati tahapan ritual khusus agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Semua sesajennya harus lengkap tanpa kurang suatu apapun. Karena itulah pantangan terbesarnya.
Saat itu suasana di pemandian sedang berlangsung sangat khidmat. Para abdi dalem yang rata-rata ibu-ibu dari keluarga Keraton sudah selesai melakukan ritual dan berlanjut untuk memandikan para penari itu. Satu gayung demi satu gayung air kembang mawar putih disiramkan dari atas kepala semua penari.
Wiwin dipersiapkan bersama delapan penari lainnya.
Setelah mandi air kembang mawar putih dan memakai handuk, sembilan penari itu semuanya duduk di meja-meja rias yang sudah dipersiapkan.
Sambil menunggu para penata rias Keraton selesai melakukan ritual diruangan sebelah yang berjarak sepuluh meter dari pemandian.
Meymey menyeletuk, “Win, kamu cantik sekali hari ini.”
“Ah masa? Beneran?” tanya Wiwin sambil mengibaskan rambut pirangnya.
“Enggak hehe….” sahut Meymey dengan muka konyolnya.
Barisan penata rias sudah mulai menuju ke meja rias masing-masing untuk mempercantik sang penari-penari pilihan.
Busana dikenakan dengan hati-hati. Dodot ageng dililitkan dengan presisi. Rambut ditata. Wajah dirias tanpa berlebihan.
Tidak ada yang berbicara terlalu banyak.
Tidak ada yang perlu dibahas.
Gerakan sudah ada. Formasi sudah ditentukan.
Dan beberapa hal….tidak pernah benar-benar diajarkan.
Hana berdiri di sisi ruangan.
Ia tidak lagi berada di ambang pintu.
Namun juga tidak benar-benar masuk.
Posisinya tetap sama.
Hanya jaraknya yang sedikit berubah.
Ia memperhatikan.
Tidak mencari.
Tidak juga menghindari.
Sejak malam itu, ia tahu….melihat bukan lagi pilihan.
Hanya ada satu hal yang Hana pikirkan saat ini. Sudah sejak pertama kali datang ke museum Keraton Surakarta, kenapa banyak sesajen yang berisi beragam makanan dan kue selalu saja tidak lengkap. Selalu saja seperti itu.
Susi tidak terlihat sejak pagi.
Tidak ada yang langsung menyadari.
Ia bukan bagian dari latihan.
Bukan juga bagian dari upacara.
Ketidakhadirannya tidak mengubah apa pun.
Setidaknya….belum.
Winda sempat bertanya.
“Si Susi ke mana ya?”
Meymey mengangkat bahu.
“Mungkin tidur.”
Tidak ada yang mencari.
Tidak ada yang merasa perlu.
Beberapa hal memang tidak langsung terasa hilang….sebelum seseorang mencoba mengingat.
DewaBuku berdiri di sisi luar pendapa.
Pakaiannya tetap sama. Tidak berubah dari hari-hari sebelumnya.
Bukan karena ia tidak punya pakaian, lemari pakaian dirumahnya berisi banyak pakaian yang warna dan modelnya sama semua.
Ia tidak masuk ke dalam keramaian.
Tidak juga menjauh.
Posisinya cukup untuk melihat.
Atau mungkin….tidak perlu terlalu dekat untuk itu.
Upacara dimulai.
Tidak dengan suara keras.
Tidak dengan perintah.
Lebih seperti sesuatu yang sudah lama menunggu untuk dilanjutkan.
Gamelan berbunyi.
Nada pelog mengalun pelan. Tidak tergesa. Tidak memaksa.
Seperti membuka ruang….bukan mengisinya.
Sembilan penari memasuki ruang utama.
Langkah mereka teratur.
Tidak ada yang mendahului.
Tidak ada yang tertinggal.
Formasi terbentuk.
Persis seperti yang seharusnya.
Tidak kurang.
Tidak lebih.
Wiwin berada di salah satu posisi inti.
Wajahnya tenang.
Gerakannya halus.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada jeda.
Seolah-olah tubuhnya tidak lagi perlu berpikir untuk bergerak. Raga itu memang miliknya, tetapi gerakan itu….bukan!
Hana berdiri lebih dekat dari sebelumnya.
Ia bisa melihat seluruh formasi.
Tidak ada yang terhalang.
Tidak ada yang tersembunyi.
Namun ada satu hal yang tetap tidak bisa ia pastikan.
Gerakan dimulai.
Lambat.
Terukur.
Berulang.
Setiap bagian mengikuti bagian lain tanpa suara perintah.
Gamelan mengalun.
Atau mungkin….hanya terdengar.
Hana menghitung.
Sekali.
Tidak dengan suara.
Tidak dengan gerakan.
Hanya dalam diam.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia berhenti pada hitungan kesepuluh.
Tidak melanjutkan.
Karena jumlah itu….tidak perlu dipastikan lagi.
Di salah satu sisi formasi, ada sesuatu yang tidak terlihat jelas.
Bukan bayangan.
Bukan cahaya.
Namun tetap mengambil tempat.
Gerakannya selaras.
Tidak terlambat.
Tidak juga mendahului.
Seolah-olah….memang bagian dari itu sejak awal.
Tidak ada yang bereaksi.
Tidak ada yang melihat ke arah yang sama.
Atau mungkin….tidak semua orang berdiri di tempat yang memungkinkan mereka untuk melihat.
Gamelan tetap berjalan.
Nada tidak berubah.
Ritme tidak bergeser.
Namun suasana menjadi lebih sunyi.
Bukan karena suara hilang.
Tapi karena sesuatu yang lain….hadir.
Di luar pendapa, angin tidak bergerak.
Daun tidak bergoyang.
Lampu tetap menyala dengan stabil.
Segalanya terlihat biasa.
Terlalu biasa.
DewaBuku tidak berpindah tempat.
Matanya mengarah ke dalam.
Namun tidak mencari detail.
Seolah-olah ia tidak perlu melihat seluruhnya untuk tahu apa yang sedang berlangsung.
Upacara berjalan hingga bagian akhir.
Tidak ada gangguan.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada sesuatu yang bisa disebut “tidak wajar” oleh mereka yang hadir.
Semuanya berlangsung sebagaimana mestinya.
Saat gerakan terakhir selesai, sembilan penari berhenti.
Bersamaan.
Tanpa selisih.
Tanpa suara tambahan.
Formasi tetap utuh.
Tepat.
Sembilan.
Hana tidak menghitung lagi.
Ia tahu. Meskipun tadi sempat ragu pada hitungan ke sepuluh.
Jumlah itu tidak pernah berubah.
“Tadi kan sepuluh?” pikir Hana.
Upacara ditutup.
Para penari keluar.
Langkah mereka tetap sama seperti saat masuk.
Tidak terburu.
Tidak juga tertahan.
Wiwin berjalan melewati Hana.
Sejenak Hana terdiam. Pikirannya berkecamuk tidak karuan.
Mata mereka bertemu.
Tidak lama.
Namun cukup.
Di dalam tatapan itu, tidak ada pertanyaan.
Tidak ada penjelasan.
Hanya sesuatu yang….sudah selesai.
Hana sudah tahu bahwa Wiwin tidak sendirian. Wiwin tampak sangat cantik dan menarik hari ini.
Sore datang perlahan.
Keraton kembali ke ritme awalnya.
Abdi dalem kembali ke tugas masing-masing.
Para tamu mulai berkurang.
Suara menjadi lebih sedikit.
Baru saat itulah, seseorang mulai mencari. Kecuali Wiwin.
“Si Susi ke mana ya?”
Pertanyaan yang sama.
Namun dengan nada yang berbeda.
Pencarian tidak dilakukan dengan panik.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada langkah yang terburu.
Hanya beberapa orang yang berjalan….ke tempat-tempat yang mungkin.
Ia ditemukan menjelang malam.
Bukan di kamar.
Bukan juga di halaman.
Tempatnya tidak jauh.
Namun bukan tempat yang biasa dipilih untuk beristirahat.
Tubuhnya tidak menunjukkan perlawanan.
Tidak ada luka.
Tidak ada tanda tergesa.
Seolah-olah….ia hanya berhenti.
Tangannya masih menggenggam sesuatu.
Kecil.
Tidak utuh.
Kue apem yang sudah digigit.
Sisa dari sesuatu yang pernah diambil.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Tidak ada yang menyimpulkan.
Hanya diam.
Sedikit lebih lama dari yang biasanya diperlukan.
Hana berdiri di antara mereka.
Tidak mendekat.
Tidak juga menjauh.
Ia tidak terkejut.
Tidak juga merasa ini baru terjadi.
Lebih seperti….sesuatu yang akhirnya terlihat.
Pihak Keraton mulai berunding dengan semua tokoh masyarakat yang tadi pagi hadir. Untunglah para tokoh masyarakat saat itu belum pulang.
Keempat teman almarhumah Susi juga ikut diajak berunding mengenai proses pemulangan jenazah itu.
Tidak lama kemudian mobil ambulan datang. Semuanya diproses dengan sangat rapi dan cepat.
“Kalian jangan pulang dulu, sudah maghrib.” kata salah seorang keluarga Keraton kepada keempat teman almarhumah Susi.
Mereka berempat pun menurut dan kembali ke kamar mereka. Walaupun masih sore tetapi hari ini sangat menguras pikiran mereka. Capek dan lelah. Winda, Meymey, Hana, dan Wiwin bersiap tidur. Tapi belum juga tertidur.
Malam turun.
Keraton kembali sunyi.
Seperti malam-malam sebelumnya.
Di salah satu sudut, meja kecil itu masih ada.
Tertata rapi.
Seperti biasa.
Beberapa orang mungkin tidak memperhatikan.
Atau mungkin tidak merasa perlu.
Namun jumlahnya….kembali utuh.
Tidak kurang.
Tidak lebih.
Tidak ada yang memastikan siapa yang menambah.
Tidak ada yang melihat kapan itu kembali.
Hanya ada.
Seperti sejak awal.
Keempat gadis itu sudah tertidur.
Tetapi tidak sepenuhnya tertidur.
Winda, Meymey, dan Hana menutupi wajah mereka dengan selimut.
Wiwin duduk terdiam di tepi tempat tidur sambil menatap jendela kaca lebar yang berjarak dua meter dari dirinya. Tirainya belum ditutup.
Udara malam itu cukup dingin. Hembusan angin diluar jendela terlihat menggerakkan dedaunan. Di luar jendela, samar-samar muncul seorang gadis cantik berambut hitam dikepang dua, mengenakan t-shirt coklat dan rok mini putih.
Disela isak tangisnya, gadis itu berkata,
“Wiwin, aku mau pulang….aku takut….”
Wiwin menatap gadis itu sambil tersenyum, dan berkata
“Kau sudah menjadi bagian dari kami, Nak….jangan menangis.”
Suara Wiwin saat itu bagaikan puluhan suara wanita yang digabung menjadi satu, anggun, berwibawa, dan….berbeda.
Gadis berkepang dua itu lenyap perlahan bersamaan dengan keluarnya asap putih dari ubun-ubun kepala Wiwin.
DewaBuku berdiri tidak jauh dari situ. Dari jendela kaca lebar itu.
Tidak mendekat.
Tidak juga pergi.
Ia melihat.
Namun tidak mencari penjelasan.
Beberapa hal memang tidak kembali karena dicari.
Beberapa hal….kembali karena memang harus kembali.
Malam berjalan pelan.
Seperti biasa. Semakin lama semakin larut.
Tidak ada perubahan yang bisa dicatat.
Tidak ada peristiwa yang bisa dijelaskan sepenuhnya.
Namun satu hal tetap tinggal.
Bukan di suatu tempat.
Bukan di suatu benda.
Lebih seperti….dalam hitungan yang tidak pernah berubah.
Sembilan tetap sembilan.
Yang hilang…
tidak pernah benar-benar termasuk sejak awal.
- THE END
*
*
PROLOG
EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN
EPISODE 2 — LATIHAN YANG TIDAK SEPENUHNYA DIAJARKAN
EPISODE 3 — MALAM YANG MENJADI TERLALU TENANG
EPISODE 4 — YANG KEMBALI TANPA DIPANGGIL (THE END)
*
Author Profile
Categories
Related Posts
Lokasi: Lawang Sewu Alamat: Jalan Pemuda, Semarang, Jawa Tengah Posisi Kejadian: Tangga Utama di Gedung...
Read MoreDewaBukuJSW
Kamar Kos Yang Selalu Kosong Saat Difoto Di daerah Ngoresan, Surakarta, ada sebuah rumah kos...
Read MoreDewaBukuJSW
Terowongan Casablanca bukan tempat yang asing bagi warga Jakarta. Ia bukan bangunan bersejarah, bukan pula...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Terminal Tirtonadi tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan setelah tengah malam...
Read MoreDewaBukuJSW
Kesaksian ini disampaikan oleh seorang saksi mata yang tidak ingin namanya dicatat. Aku menuliskannya sebagaimana...
Read More