Skip to content

ANAK TANGGA YANG BERTAMBAH

Lokasi: Lawang Sewu

Alamat: Jalan Pemuda, Semarang, Jawa Tengah

Posisi Kejadian: Tangga Utama di Gedung A (Vestibula) dan Tangga ke Ruang Bawah Tanah (Lantai B1)

Waktu Kejadian: Minggu, 10 Januari 2021 mulai pukul 16.47 WIB

************************************************************

Lawang Sewu selalu tampak tenang dari kejauhan, seolah bangunan itu tahu bagaimana caranya menyembunyikan rahasia. Dari Tugu Muda, orang-orang melihatnya sebagai monumen sejarah kolonial — jendela-jendela tinggi, pintu berderet, dan aura megah yang telah dipotret ribuan kali. Namun bagi mereka yang bekerja di dalamnya — satpam lama, petugas restorasi, pemandu tur — ketenangan itu hanyalah lapisan paling luar. Di bawahnya ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang tak pernah dicatat di papan informasi: jam-jam tertentu yang dihindari, sudut-sudut yang jarang dilewati, dan satu ritual paling sepele sekaligus paling mengganggu — menghitung anak tangga.

Legenda itu bukan cerita pengunjung. Ia lahir dari rutinitas. Dari langkah kaki yang sama, dari hitungan yang sama, dari jam yang sama — lalu suatu senja, hitungannya meleset satu.

Mahasiswa arsitektur bernama Raka Wicaksana datang ke Lawang Sewu bukan untuk mencari sensasi. Ia datang dengan ransel berisi meteran, buku sketsa, kamera saku, dan keyakinan khas mahasiswa tingkat akhir: bahwa segala sesuatu bisa dijelaskan bila diukur dengan cukup teliti. Raka menulis skripsi tentang persepsi ruang dan ingatan kolektif pada bangunan bersejarah. Lawang Sewu, dengan lorong-lorong simetris dan tangga-tangga yang tampak identik, adalah laboratorium sempurna.

Ia mendengar cerita itu dari mulut ke mulut. Satpam lama menyebutnya sambil tertawa hambar, petugas restorasi menyebutnya sambil menurunkan suara. Jumlah anak tangga berubah setelah Magrib. Tidak selalu. Tidak di semua tangga. Tetapi cukup sering untuk membuat orang saling menatap.

Raka mencatat semuanya sebagai variabel: waktu, pencahayaan, kelelahan, sugesti. Ia menyusun rencana verifikasi sederhana. Menghitung naik dan turun. Mengulang. Merekam. Tanpa drama.

Hari pertama, ia datang sore. Tangga utama di salah satu sayap gedung dihitung: naik — empat puluh dua. Turun — empat puluh dua. Raka mencoret satu kotak di buku sketsa. Hari kedua, menjelang Magrib. Ia menunggu adzan dari kejauhan, membiarkan cahaya berubah dari kuning ke abu-abu.

Naik: empat puluh dua.

Turun: empat puluh tiga.

Perbedaan satu langkah itu kecil. Terlalu kecil untuk panik, terlalu besar untuk diabaikan. Raka mengulang. Ia menukar posisi kamera. Ia mengubah kecepatan langkah. Hasilnya tetap.

Satu.

Ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang berdiri di anak tangga paling bawah. Lorong kosong. Hanya gema sepatu dan bau lembap khas bangunan tua. Raka menuliskan catatan: kemungkinan ilusi perspektif saat transisi cahaya. Ia menutup buku.

Di hari ketiga, Raka bertemu DewaBuku JSW, seorang penulis di situs www.jatigift.com

DewaBuku datang sebagai pengamat, bukan pemburu kisah horor. Rambut hitamnya panjang sebahu, tubuhnya tegap, beanie hitam menutupi sebagian kepala, kacamata hitam dan masker hijau muda membuat wajahnya seperti potongan anonim dari keramaian kota. Ia mengenakan coat kulit hitam panjang dengan kerah bulu putih di kiri dan kanan, celana baggy biru tua, dan langkah yang tenang — langkah orang yang sudah lama belajar membaca ruang.

DewaBuku tidak langsung berbicara. Ia berdiri di ujung lorong, memperhatikan cara Raka berhenti di tiap anak tangga seolah setiap pijakan menyimpan catatan kaki sendiri. Baru setelah Raka selesai menghitung, DewaBuku mendekat. Dia membuka masker medisnya dan melepaskan kacamata hitamnya, tersenyum sopan sambil mendekati mahasiswa itu.

DewaBuku memperkenalkan diri sebagai penulis yang sedang mengumpulkan bahan dokumenter tentang bangunan dan ingatan. Ia tidak menyebut legenda. Ia bertanya tentang metode.

Raka menjelaskan dengan antusias yang tertahan. Tentang pengulangan, tentang bias, tentang kebutuhan data. DewaBuku mendengarkan, sesekali mengangguk, seperti orang yang tahu kapan harus menunggu. Mereka berdiskusi secara intens hingga kurang lebih satu jam. Saat itu memang wajah-wajah mereka terlalu serius, untuk mendinginkan situasi, Raka mulai berbasa-basi.

Raka: “Mas DewaBuku mau tahu krispi? saya bawa banyak nih.”
DewaBuku: “Nggak perlu repot-repot mas.”
Raka: “Nggak apa-apa, Mas….kita makan sama-sama.”

Obrolan itu membuat mereka lebih santai sambil memakan cemilan yang cukup menghibur, yaitu Tahu Krispi.

Raka: “Ngomong-ngomong, mas DewaBuku ada IG nggak? Saya mau follow.”
DewaBuku: “Oh ada, nanti kita bisa saling follow. Nama IG saya @jatigift.biz.id”
Raka: “Oke, mas DewaBuku, saya sudah follow hehe…”
DewaBuku: “Iya, terimakasih, saya sudah follback.”

Obrolan mereka semakin panjang hingga tahu krispi satu kilo telah habis mereka makan. Kemudian mereka mulai bersiap-siap untuk melanjutkan misi karena hari sudah hampir gelap.

Menjelang Magrib, DewaBuku mengusulkan satu hal: menghitung bersama, tanpa saling memberi tahu hasilnya. Mereka naik bersamaan, turun bergantian.

Hasilnya berbeda satu.

Raka menahan napas. DewaBuku tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya berkata bahwa bangunan tua menyimpan memori yang tidak selalu patuh pada angka. Kalimat itu terdengar filosofis, tetapi cara DewaBuku mengucapkannya lebih mirip peringatan praktis.

Malam itu, setelah pengunjung terakhir keluar, Raka meminta izin pada pengelola untuk satu kali penghitungan tambahan. Seorang satpam lama mengangguk pelan, seolah memberi restu pada kesalahan yang akan terjadi.

Tangga terasa lebih dingin. Cahaya lampu membuat bayangan memanjang. Raka mulai menghitung naik. Empat puluh dua.

Saat ia menuruni, di antara langkah ke-empat puluh satu dan lantai, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah diajarkan di kelas: jeda.

Ada satu langkah tambahan.

Bukan terlihat — dirasakan.

Seperti pijakan yang menahan telapak kaki setengah detik lebih lama. Seperti lantai yang bernapas pelan.

Raka menoleh.

Langkah itu tidak tampak sebagai bentuk utuh. Ia hadir sebagai perubahan suhu, sebagai tekanan ringan, sebagai desah nyaris tak terdengar. Raka menelan ludah. Kamera masih menyala. Buku sketsa terjepit di ketiak.

“itu tadi apa ya?” pikir Raka heran dan bingung.

DewaBuku berdiri beberapa anak tangga di atas. Ia tidak turun. Ia tidak memanggil.

Langkah itu bernapas.

Dan Raka menyadari satu hal yang membuatnya lebih takut daripada apa pun: langkah itu ada karena ia dihitung.

DewaBuku mulai memegang pundak Raka, “Kita pulang saja mas Raka, suasananya mulai nggak enak.”
“Saya juga merasakan suatu keanehan, Mas DewaBuku…..” jawab Raka pelan.

Akhirnya mereka berlari kecil menuju pos satpam dan mengatakan pada para satpam itu bahwa aktifitas ini akan mereka lanjutkan besok pagi, supaya badan lebih segar.

Satpam: “Baiklah, hati-hati di jalan.”
Raka dan DewaBuku mengangguk, bersalaman, dan pergi dari lokasi itu.

Raka tidak tidur malam itu. Rekaman diputar tanpa suara. Tidak ada penampakan. Tidak ada distorsi yang bisa ditunjuk dengan jari. Namun di menit tertentu, grafik audio memperlihatkan ritme halus — seperti napas yang tertahan.

Pagi berikutnya, DewaBuku datang membawa catatan sendiri. Ia berbicara tentang konsep ruang yang menyimpan — bukan sebagai metafora, melainkan sebagai kebiasaan manusia yang menempel terlalu lama. Lawang Sewu, kata DewaBuku, dibangun untuk mengatur arus: orang, udara, cahaya. Tangga bukan sekadar penghubung lantai; ia adalah alat disiplin. Setiap langkah mengulang perintah yang sama.

Raka mulai melihat skripsinya berubah arah. Dari verifikasi angka menjadi pemahaman hubungan. Ia mewawancarai satpam lama yang mengaku selalu menghitung diam-diam setelah Magrib, dan petugas restorasi yang menghindari satu tangga tertentu karena merasa pulang membawa langkah tambahan di sepatunya.

Antagonis cerita ini tidak pernah muncul sebagai sosok. Ia hadir sebagai hasrat manusia untuk menaklukkan ruang. Raka menyadari bahwa setiap penghitungan adalah klaim kepemilikan. Bahwa bangunan merespons dengan cara paling sederhana: menambah satu.

DewaBuku memperingatkan Raka untuk berhenti menghitung. Namun Raka ingin penutup. Ia ingin satu pengujian terakhir — bukan untuk angka, melainkan untuk makna.

Malam terakhir, mereka berdiri di tangga yang sama. Tidak ada kamera. Tidak ada buku. Hanya langkah.

Raka tidak menghitung.

Ia melangkah dengan ritme napas sendiri. Saat turun, tidak ada jeda. Tidak ada langkah tambahan.

Bangunan itu diam.

Raka menoleh ke DewaBuku. DewaBuku mengangguk. Seolah sebuah kontrak kecil telah selesai.

Keesokan harinya, Raka menyerahkan laporan pada pengelola — bukan tentang jumlah, melainkan tentang persepsi dan etika pengamatan. Skripsinya lulus dengan catatan unik. Lawang Sewu tetap menerima pengunjung.

Legenda tetap hidup.

Namun bagi Raka, satu hal menjadi jelas: beberapa ruang tidak ingin dipastikan. Mereka hanya ingin dilewati dengan hormat.

DewaBuku menuliskan kisah ini sebagai dokumenter naratif — bukan untuk membuktikan, melainkan untuk mengingatkan. Bahwa di antara langkah-langkah yang kita hitung, ada jeda yang seharusnya kita dengarkan.

Dan di Lawang Sewu, setelah Maghrib, tangga akan selalu menunggu siapa pun yang datang dengan niat menghitung — untuk menambahkan satu alasan agar kita berhenti, dan mengakui dengan rasional bahwa “mereka” itu ada.

THE END

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
EPISODE 3 — MALAM YANG MENJADI TERLALU TENANG

Serial Title: Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil Keraton tidak berubah.Pagi datang seperti biasa. Siang berjalan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Arsip itu Selalu Basah

Gedung tua itu berdiri tidak jauh dari kawasan pesisir Jakarta Utara. Cat dindingnya mulai mengelupas...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 4 - Penumpang Terakhir (The End)

SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Subuh selalu datang terlalu cepat bagi orang-orang yang bekerja di...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kamar Kos Yang Selalu Kosong Saat Difoto

Kamar Kos Yang Selalu Kosong Saat Difoto Di daerah Ngoresan, Surakarta, ada sebuah rumah kos...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Konspirasi Dibalik Pertandingan Gulat Profesional WWE

Di balik sorot lampu panggung dan aksi spektakuler WWE, didalam ring pertandingan gulat yang selalu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!