
Di balik sorot lampu panggung dan aksi spektakuler WWE, didalam ring pertandingan gulat yang selalu ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya, terjadi pertarungan sengit antara John Cena melawan The Hardy Boys. John Cena yang berjuang sendirian selalu saja dicurangi oleh Hardy Boys hingga berdarah-darah yang menyebabkan terjadinya kericuhan di deretan penonton maupun didalam ruang ganti para pemain WWE lainnya. Penonton terbagi menjadi dua golongan yaitu sebagai pendukung John Cena dan sebagai pendukung Hardy Boys. Pertandingan ini sangat tidak terkontrol, tetapi banyak orang diluar sana yang tidak mengetahui dengan pasti bahwa ada sesuatu yang tertutup rapat disana, di ruang kerja pemilik utama bisnis WWE. Disana tersembunyi sebuah konspirasi yang mencengangkan. Vince McMahon, pemimpin sekaligus pencipta WWE, bersama dengan Triple H dan Stephanie McMahon, memiliki kontrol penuh atas hasil pertandingan gulat profesional. Skenario keluarga McMahon, yang dirahasiakan dari mata publik, merinci siapa yang harus menang dan kalah dalam setiap pertandingan.
Pertarungan sengit antara John Cena dan Hardy Boys baru saja berakhir, ditandai dengan sorak sorai penonton yang terhanyut oleh dramanya. Di belakang layar, Vince McMahon duduk di kursi pimpinannya sambil menertawakan keberhasilan skenario yang telah dia atur sebelumnya.
‘Bagus sekali pertandingannya. Penonton pasti puas,’ ucap Vince sambil memberi isyarat kepada beberapa stafnya.
Triple H dan Stephanie McMahon duduk di sebelahnya, merencanakan pertandingan selanjutnya. Keputusan mengenai pemenang dan pecundang dibicarakan dengan cermat, memastikan keuntungan bisnis dan kelangsungan skenario keluarga McMahon.
Triple H berkata pada Stephanie, ‘Jangan lupa perintahkan divisi medis untuk merawat John Cena. Dia sangat berjasa pada banyak event untuk bisnis ini.’
‘Iya, sekarang kutelepon mereka, ‘jawab Stephanie sambil mengangkat gagang telepon.
Di sudut lain, Shane McMahon, putra Vince, mulai menyadari ketidakpuasan beberapa pemain WWE. Banyak yang merasa bahwa hasil pertandingan tidak adil dan bertentangan dengan usaha keras yang mereka berikan di atas ring.
Shane mengadakan pertemuan dengan para pemain di belakang layar untuk mendengarkan keluhan mereka. Suasana ruangan penuh dengan ketidakpuasan dan kekecewaan.
Beberapa menit setelah pertandingan antara John Cena dan Hardy Boys selesai, jauh dibelakang panggung sudah berkumpul banyak petugas medis yang sedang membantu John Cena untuk menuju ke mobil ambulan. Tampak juga disana Hardy Boys sedang bercakap-cakap dengan John Cena tentang pertandingan barusan.
‘Cena, maafkan kami, bukan maksud kami untuk mencelakaimu….itu diluar kehendak kami, kami mohon maaf’,ujar Jeff Hardy dan disetujui oleh Matt Hardy. John Cena tersenyum dan menjawab,’Santai aja, Bro. Jangan kuatir, aku baik-baik saja. Semua ini sudah resiko sebagai pegulat profesional seperti kita.’ ~ Setelah berkata begitu, mereka berpelukan sebantar dan Cena masuk mobil kemudian mobil itu perlahan meninggalkan Hardy Boys yang masih merasa bersalah.
Matt Hardy: ‘Jeff, meskipun kita hanya karyawan dari Mr. McMahon tapi ini semua nggak bisa dibiarkan karena kita selalu diminta untuk curang dan ekstrim. Pokoknya semua ini harus dihentikan.’
Jeff Hardy: ‘Kamu mau kita bonyok lagi dipukuli Triple H dan McMahon? Kita harus cari dukungan dari teman-teman lainnya.’
‘Kita harus melakukan sesuatu! Ini tidak adil bagi kita yang berjuang di dalam ring!’ protes John Cena, salah satu bintang utama WWE.
Seminggu kemudian setelah John Cena pulih….
Hardy Boys, Kane, The Undertaker, Batista, Rey Mysterio dan sejumlah pemain lainnya juga bergabung dalam protes tersebut. Mereka merasa bahwa pengorbanan dan kerja keras mereka harus diakui.
Shane McMahon, mendengarkan keluhan-keluhan itu, merasa bertanggung jawab untuk memberikan solusi. ‘Baik, saya akan bicara dengan ayah dan yang lainnya. Kita butuh perubahan di sini. Ini harus lebih adil.’
Namun, tindakan Shane malah menimbulkan reaksi tidak terduga. Triple H, yang memegang banyak kekuasaan di WWE sebagai COO (Chief Of Operational), mengetahui tentang pertemuan tersebut dan mulai menyusun rencana untuk menjaga kontrol atas para pemain.
‘Sialan, Shane mulai berani bersuara. Kita harus waspada,’ kata Triple H kepada Stephanie McMahon, yang hanya mengangguk setuju.
Pertemuan berikutnya antara Shane dan para pemain berlangsung dengan ketegangan. Shane mengumumkan bahwa mereka yang melanggar aturan atau memprotes hasil pertandingan tidak akan menerima kompensasi gaji dan bonus.
‘Kita perlu disiplin. Ini bisnis, dan kita harus mengikuti aturan,’ ujar Shane dengan tegas.
Beberapa pemain yang merasa terpinggirkan meradang, tetapi takut kehilangan pekerjaan dan pendapatan, mereka terpaksa menuruti peraturan baru tersebut.
Triple H, bagaimanapun, tidak berhenti sampai di situ. Dia memasang mata-mata di antara para pemain untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan baru. Komisaris WWE yang diam-diam mengawasi aktivitas di belakang layar.
‘Pokoknya kita harus mempertahankan kontrol, Steph. Mereka tidak boleh menggoyahkan kekuasaan kita,’ kata Triple H dengan nada penuh ketegasan.
Sementara itu, di luar dugaan semua orang, Ric Flair, legenda WWE dan sahabat dekat Arn Anderson, mulai merasa tidak puas dengan manipulasi yang terus terjadi di dalam bisnis ini.
‘Saya tidak mau nama baik saya dicemarkan oleh kecurangan ini. Kita harus berdiri untuk keadilan,’ ujar Ric Flair saat bertemu dengan Arn Anderson.
Arn Anderson setuju dan bersedia menjadi penengah antara para pemain dan McMahon. Mereka membentuk aliansi rahasia untuk menggulingkan kekuasaan McMahon dan membawa perubahan ke dalam dunia gulat profesional.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pemain yang menyadari kecurangan ini. Dalam pertandingan demi pertandingan, konspirasi ini semakin terkuak. Beberapa pemain mulai memberontak secara terbuka, menolak tunduk pada aturan baru Shane McMahon.
Para pemain, seperti Seth Rollins, CM Punk, Rey Mysterio, dan banyak lagi, mulai menyuarakan ketidakpuasan mereka kepada publik. Penggemar WWE turut angkat bicara, menuntut keadilan dan transparansi di dunia gulat profesional.
Shane McMahon, yang semula berusaha menjaga ketertiban, mulai merasa terdesak. Dia menyadari bahwa keputusannya telah menciptakan perpecahan di antara pemain dan penonton.
Sementara itu, Triple H dan Stephanie McMahon mulai merasa tekanan dari dalam dan luar. Ketika Shane menyadari bahwa perubahan tidak mungkin terjadi jika mereka tetap mempertahankan konspirasi ini, dia membuat keputusan besar pada sebuah rapat darurat yang disaksikan oleh para petinggi WWE dalam satu meja, mereka adalah Stephanie McMahon, Triple H, Lord Steven Reagal, Ric Flair, dan salah satu petinggi komisaris WWE, Kurt Angle. Rapat darurat ini juga dihadiri oleh para pemain gulat profesional yang duduk di ratusan kursi di ruangan itu.
‘Sudah cukup! Kita harus membongkar konspirasi ini. Bisnis ini harus lebih adil, lebih transparan. Dan kita harus memberikan apresiasi yang pantas kepada para pemain yang telah memberikan segalanya untuk WWE,’ ucap Shane McMahon dalam pertemuan darurat.
Para pemain yang sebelumnya merasa terzalimi merespon dengan penuh sukacita. Mereka bersatu untuk menuntut perubahan dan memastikan keadilan di dunia gulat profesional.
Begitu berita ini mencuat ke publik, penggemar WWE memberikan dukungan penuh. Perubahan mendalam terjadi di dalam WWE, dengan Vince McMahon, Triple H, dan Stephanie McMahon dipaksa untuk mengakui kesalahan mereka.
Di balik layar, perubahan aturan dan kebijakan dilakukan. Pertandingan gulat kini menjadi lebih adil dan bersifat kompetitif. Kembali ke akar sejatinya, pertandingan tidak lagi disetting, dan pemain diberikan kebebasan untuk mengekspresikan kemampuan mereka di atas ring.
Revitalisasi WWE, Ketika Tradisi Bertabrakan dengan Bisnis…
Shane McMahon, yang awalnya dianggap sebagai ‘pemimpin yang kejam,’ kini dihormati sebagai orang yang membawa perubahan dalam bisnis WWE. Dengan demikian, konspirasi dalam bisnis gulat profesional WWE terungkap dan menghasilkan perubahan besar di dunia gulat profesional. Keseimbangan antara hiburan dan kompetisi kembali terwujud, memberikan pengalaman yang lebih adil dan memuaskan bagi para pemain dan penggemar, para pemain mendapatkan apa yang disebut dengan ‘Respect’ antar sesama pemain, sebuah bukti hasil dari latihan bertahun-tahun. Tetapi dapatkah ini bertahan? Karena tradisi penggunaan skenario telah berlangsung sangat lama. Mungkinkah ‘Respect’ dapat mengalahkan ‘Konspirasi?’
Pertarungan melawan konspirasi dalam bisnis gulat profesional WWE telah membuka mata para pemain dan penggemar akan keadilan dan integritas. Meski demikian, keputusan untuk menghilangkan tradisi settingan pertandingan tidak hanya membawa perubahan yang diharapkan, tetapi juga dampak tak terduga pada profit perusahaan. Vince McMahon, pemimpin WWE, mendapati dirinya dalam dilema antara keadilan dan keberlanjutan bisnis.
Hari-hari pertama tanpa settingan pertandingan membawa atmosfer baru di WWE. Para pemain terlibat dalam persaingan yang lebih sengit, mencari kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sejati mereka di atas ring. Namun, di balik kegembiraan publik, perusahaan mulai merasakan dampak finansial yang signifikan.
Dalam pertemuan darurat, Vince McMahon, Triple H, dan Stephanie McMahon duduk bersama untuk membahas masalah ini. Ditengah riuhnya sorakan penonton pada layar LED yang terpasang di tembok, mereka bertiga hanya bisa diam termangu melihat kearah layar itu. Kesedihan terasa sangat menusuk hati sanubari mereka.
Vince McMahon: ‘Profit kita turun drastis, ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus! Aku tidak tahu lagi apa yang musti kuperbuat. Aku nggak mungkin jika musti berhutang untuk membayar para pemain dan semua kebutuhan selama pertandingan.’
Triple H: ‘Mungkin kita perlu mempertimbangkan kembali tradisi settingan. Itu membawa hiburan dan profit, Vince.’
Stephanie McMahon: ‘Papa, kita bisa mencapai keseimbangan antara hiburan dan persaingan sejati. Publik ingin melihat pertarungan yang menegangkan, tapi juga butuh cerita yang menarik di belakangnya, dan bisnis ini juga butuh profit.’
Vince McMahon ragu-ragu. Dia menyadari bahwa mengembalikan tradisi settingan akan menghadirkan tantangan baru dalam dinamika keluarga dan bisnisnya. Namun, Triple H dan Stephanie berusaha meyakinkannya bahwa ini adalah langkah yang perlu diambil untuk keberlanjutan WWE.
Triple H meninggalkan ruangan pertemuan dengan langkah mantap. Dia memutuskan untuk mencari saran dari seseorang yang bisa mempengaruhi keputusan Vince McMahon: William Regal, atau yang dikenal sebagai Lord Steven Regal.
Triple H: ‘Regal, aku butuh bantuanmu. Vince ragu untuk mengembalikan tradisi settingan. Kita perlu meyakinkannya bahwa ini adalah langkah yang benar. Tidak ada jalan lain’
William Regal: ‘Aku mengerti kekhawatiran Vince. Aku akan membantu tetapi nanti dulu, menunggu momen yang tepat.’
Mereka berdua menyusun rencana dan strategi untuk membujuk Vince McMahon agar mau membuka kembali tradisi settingan. Regal memahami kepentingan bisnis dan merasa berutang budi kepada Vince atas bantuan masa lalu.
Dalam kantornya, Triple H menghubungi Vince McMahon untuk memberitahu bahwa ia akan pergi sebentar ke McDonald’s untuk sarapan pagi. Namun, tujuannya sebenarnya adalah untuk menyusun langkah selanjutnya dalam mempengaruhi keputusan Vince.
Triple H: ‘Sialan, situasi ini memang rumit. Tapi kita harus menemukan solusinya.’
Sementara itu, Stephanie terus berbicara dengan Vince McMahon di ruangannya.
Stephanie McMahon: ‘Papa, kita bisa menciptakan skenario yang lebih menarik lagi. Penonton ingin melihat drama, tetapi mereka juga ingin melihat keseriusan di dalam pertandingan.’
Vince McMahon, meskipun ragu, mulai terbuka terhadap ide-ide baru yang dapat menggabungkan hiburan dan persaingan sejati. Ia lalu dengan lirih mengatakan kepada Stephanie, ‘Tolong biarkan aku sendiri.’ kata Vince McMahon sembari mengambil cerutu dan menyalakannya, lalu duduk dan menghisapnya dalam-dalam sampai habis. Ia sangat sedih karena tidak tahu harus melakukan apa. Dia letakkan cerutunya didalam asbak dan mulai bekerja lagi di depan PC diatas mejanya.
Triple H tiba di kantor William Regal dan langsung memulai pembicaraan.
Triple H: ‘Regal, aku butuh bantuanmu. Vince tidak bisa terus merugi seperti ini. Kita perlu membuktikan bahwa tradisi settingan adalah kunci kesuksesan WWE. Mengenai ‘Respect’ dan semuanya itu kan nanti bisa dibuat lagi….ini cuma hiburan saja, Regal….cuma hiburan.’
William Regal: ‘Baiklah, Aku setuju, Triple H. Aku akan berbicara dengan Vince. Kita butuh bukti bahwa profit akan meningkat dengan adanya skenario yang terencana.’ ujar William Regal sambil menyalakan PC dan printer diatas mejanya dan mencetak beberapa lembar data.
Triple H: ‘Terimakasih sobat, kalau begitu aku akan menemui Kurt Angle dulu.’
William Regal: ‘Iya, aku menyusul nanti.’
Beberapa saat kemudian setelah acara makan siang, William Regal menemui Vince McMahon di kantornya, membawa data dan analisis yang mendukung ide pengembalian tradisi settingan. Regal membawa beberapa lembar data berupa grafik profit bisnis WWE di masa lalu dan flashdisk berisi semua analisis dan kerugian di masa sekarang…..30 menit setelahnya, Triple H dan Stephanie McMahon memasuki ruangan yang sama dan duduk berhadap-hadapan dengan Vince dan Regal.
William Regal: ‘Vince, kita harus mengakui bahwa skenario settingan membawa hiburan ekstra kepada penonton. Ini tidak hanya tentang pertarungan fisik, tetapi juga tentang drama di belakang layar.’
Vince McMahon: ‘Aku tidak ingin mengecewakan pemain, terutama Shane. Dia anak keras kepala….sangat keras kepala tentang ini.’
William Regal: ‘Shane punya hati yang besar, Vince. Dia akan mengerti jika ini demi kelangsungan bisnis kita. Aku yakin profit akan kembali meningkat.’
Vince McMahon mulai mempertimbangkan saran dari Regal. Di sisi lain, Triple H dan Stephanie terus berusaha meyakinkannya dari sudut pandang yang berbeda.
Siang itu sangat menguras pikiran mereka, sampai larut malam mendiskusikan hal tersebut dengan diwarnai perdebatan, argumentasi, dan konflik-konflik kecil antara Vince McMahon dengan William Regal. Bisa jadi Vince McMahon memang belum memahami sepenuhnya tentang semua data dan analisis yang dijelaskan oleh William Regal.
Keesokan paginya, kegiatan di kantor WWE tetap berjalan seperti biasa. Udara pagi itu sangat cerah dengan langit berwarna biru diselimuti awan stratus yang menghiasi atap dunia. Mobil limousine berwarna hitam memasuki garasi khusus di kantor WWE, sang sopir membuka pintu dan mulai berjalan kearah pintu limousine bagian belakang, membukakan pintu untuk sang majikan. Seseorang dengan setelan jas berwarna krem super mewah keluar dari pintu belakang, ya….dialah sang pemilik WWE, Vince McMahon.
Vince McMahon: ‘Tolong kamu telepon suami putriku, suruh dia segera ke ruang kerjaku.’
Sopir : ‘Baik, pak’
Pada saat ditelepon oleh sang sopir, Triple H ternyata masih di McDonald’s sedang sarapan.
Triple H: ‘nyam nyam nyam….baik, aku kesana.’
Setelah berkata seperti itu dia langsung keluar dan menaiki mobilnya, mengambil tiga butir permen karet dan memasukkan ke mulutnya kemudian memacu mobil dengan cepat menuju kantor WWE memasuki ruang kerja Vince McMahon.
Triple H: ‘Nyam nyam nyam…..Vince, kita butuh tradisi settingan….Nyam nyam nyam….Itu adalah bagian penting dari identitas WWE.’
Vince McMahon: ‘Berbicara jangan sambil makan.’
Triple H: ‘Oh maaf.’ dengan segera Triple H memasuki toilet dan membuang permen karet dari mulutnya. Dengan tampang tak berdosa dia menghadap Vince McMahon lagi.
Triple H: ‘Regal benar, bukan?’
Vince McMahon: ‘Aku masih ragu, Triple H. Tapi Aku mendengarkan apa yang Regal katakan.’
Terlihat Stephanie McMahon memasuki ruangan itu dan bergabung dalam pembicaraan.
Stephanie McMahon: ‘Papa, lihatlah data-data ini. Dengan skenario settingan, kita bisa menciptakan naratif yang lebih kuat dan memikat penonton.’
Sudah hampir 20 menit Stephanie McMahon menjelaskan kepada ayahnya lalu ia terdiam. Hening tanpa ada kata-kata dari mulut mereka semua. Vince McMahon merenung sejenak, kemudian akhirnya mengangguk setuju.
Vince McMahon: ‘Baiklah, kita kembalikan tradisi settingan. Tapi kita lakukan dengan bijak, dan pastikan pemain tidak merasa terpinggirkan.’
Triple H dan Stephanie memberikan senyuman kemenangan. Mereka tahu bahwa keputusan ini akan membawa perubahan positif bagi WWE.
Triple H segera meninggalkan kantor dan bergegas menuju ruang kerja William Regal untuk memberikan kabar baik.
Triple H: ‘Regal, kita berhasil. Vince setuju untuk mengembalikan tradisi settingan!’
William Regal: ‘Baik sekali, Triple H. Kita harus membuatnya berhasil untuk kebaikan WWE.’
Ketiganya, Triple H, Stephanie McMahon, dan William Regal, bersatu untuk merencanakan langkah selanjutnya. Namun, perjuangan belum berakhir. Mereka harus meyakinkan semua pihak terlibat, termasuk para pemain dan manajer WWE.
Triple H mengumpulkan para pemain dan manajer dalam pertemuan besar. Di antara mereka, Shane McMahon menunjukkan ketidaksetujuannya.
Shane McMahon: ‘Aku tidak setuju dengan keputusan ini, Triple H. Ini tidak adil bagi para pemain yang sudah berjuang tanpa settingan.’
Triple H: ‘Shane, ini demi kelangsungan bisnis. Kita bisa memberikan penghargaan kepada pemain dengan membuat skenario yang lebih menarik dan dramatis.’
Kurt Angle, yang awalnya skeptis, berbicara.
Kurt Angle: ‘Aku tidak yakin ini akan berhasil. Tapi jika ini untuk kebaikan bersama, Aku mendukungnya.’
Triple H dan Stephanie terus meyakinkan semua pihak, menciptakan visi baru untuk WWE yang tetap menghibur tetapi juga memberikan penghargaan yang pantas kepada para pemain.
Pertandingan berikutnya di WWE mulai disetting kembali dengan cerita dan drama yang kental. Penonton terlibat dalam alur cerita yang menggugah emosi, sementara para pemain merasa dihargai kembali atas usaha keras mereka.
Dalam beberapa bulan, profit perusahaan kembali meningkat, dan penonton setia WWE kembali bersemangat menyaksikan pertarungan-pertarungan yang epik. Vince McMahon, yang awalnya skeptis, melihat bahwa pengembalian tradisi settingan telah membawa dampak positif pada bisnisnya.
Di akhir cerita, Shane McMahon duduk di ruangannya, melihat perubahan yang terjadi. Dia tetap merasa tidak setuju, tetapi menyadari bahwa dalam dunia hiburan dan bisnis, beberapa kompromi harus diambil untuk mencapai tujuan bersama.
Shane McMahon: ‘Ini mungkin memang bagian dari bisnis ini. Tapi Aku akan terus memastikan agar para pemain tetap dihormati dan dihargai.’
Pertarungan untuk keadilan dan bisnis yang berkelanjutan di WWE memunculkan keseimbangan yang baru. Skenario settingan yang dihidupkan kembali membawa hiburan yang diinginkan oleh penonton, sementara juga memberikan penghargaan yang layak kepada para pemain yang telah mengorbankan begitu banyak untuk WWE. Bisnis gulat profesional tetap berjalan, menghibur dan memikat dunia dengan drama dan aksi luar biasa di atas ring.
Skenario settingan yang dihidupkan kembali membawa keberhasilan bagi WWE. Bisnis kembali menggeliat, penonton antusias, dan para pemain merasa dihargai. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada konflik serius yang akan menguji solidaritas antar pemain.
Beberapa minggu setelah pengembalian tradisi settingan, pertarungan di WWE semakin menarik dan dramatis. Penonton terhibur oleh alur cerita yang penuh emosi, tetapi di antara para pemain, ada ketegangan yang mulai memuncak.
Di parkiran kantor WWE, ada seorang pemain gulat memakai T-shirt putih bergaris merah pada lengannya, bertuliskan UFC, sedang mencoba menelepon seseorang tetapi dari raut mukanya dia terlihat kecewa. Dialah Brock Lesnar, berjalan kaki menuju kantor Kurt Angle dengan tujuan untuk mengobrol santai. Tetapi bukan itu tujuan utamanya, melainkan untuk melihat apa saja makanan yang disimpan didalam kulkas milik Kurt Angle.
Dari kejauhan dia melihat Matt Hardy dan Jeff Hardy sedang berbicara serius dengan John Cena, namun itu bukanlah urusannya…..Brock Lesnar tak mempedulikan mereka, karena perutnya tidak bisa diajak bekerjasama. Dia terus saja berjalan tanpa menoleh tapi hanya melirik saja. Brock Lesnar tidak tahu bahwa John Cena juga sedang ada masalah pribadi yang membuatnya semakin sensitif dan gampang marah, saking sensitifnya Cena pun bisa marah kepada orang lain yang bahkan sudah pernah meminta maaf dan dia sendiri sudah memaafkannya.
Ternyata sebuah konflik yang serius terjadi antara John Cena dan Hardy Boys. Beberapa waktu lalu, Hardy Boys terlibat dalam kecurangan yang menyebabkan John Cena terkena sariawan akut. Cena harus beristirahat di rumah sakit selama seminggu, dan dendam pun membara di hatinya.
John Cena: ‘Kalian pikir kalian bisa selalu curang dan lolos begitu saja, huh?’
Jeff Hardy: ‘Hey, itu bagian dari bisnis, Cena. Kau tahu sendiri.’
Matt Hardy: ‘Jangan terlalu serius, Cena. Ini hanya hiburan. Kami sudah minta maaf, bukan? Dulu kau bilang sendiri kalau itu sudah resiko kita sebagai pegulat profesional’
Namun, Cena tidak peduli dan tidak dapat menahan amarahnya. Konflik semakin memanas di parkiran WWE. Sementara itu, di dalam gedung WWE, Kurt Angle sedang melihat pertandingan dari layar monitor sambil memakan pizza besar dengan kedua tangannya, sampai-sampai tangannya jadi berminyak. Mendengar keributan di parkiran, dia meletakkan pizza yang masih banyak itu diatas meja kerjanya dan menengok lewat jendela. Secepatnya dia menuju wastafel dengan tujuan mencuci tangan pakai sabun untuk menghilangkan sisa-sisa pizza dari tangannya. Tanpa mematikan kran wastafel dia memutuskan untuk turun dan melihat apa yang terjadi.
Kurt Angle: ‘Ada apa ini? Kalian sudah dewasa, harus menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih bijak.’
Cena memandang Angle dengan kesal, tetapi Angle bersikeras untuk memediasi konflik mereka.
Kurt Angle: ‘Sudah cukup! Kalian berdua memiliki masalah, tapi kita harus menyelesaikannya secara damai. Ayo bicarakan.’
Angle membawa Cena dan Hardy Boys ke dalam ruang rapat yang kosong, berharap dapat meredakan ketegangan.
Kurt Angle: ‘Cena, apa yang terjadi padamu itu tidak adil, tapi kalian semua harus mengerti bahwa WWE adalah hiburan. Kita semua berada di sini untuk memberikan tontonan terbaik kepada penggemar.’
John Cena: ‘Aku tahu itu, Kurt, tapi mereka terlalu jauh.’
Jeff Hardy: ‘Cena, maaf jika kau merasa seperti itu. Kami tidak bermaksud menyakitimu sungguhan.’
Kurt Angle: ‘Bagaimana kalau kita mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini? Mungkin ada pertandingan balas dendam yang bisa membuat semuanya selesai.’
Cena dan Hardy Boys saling pandang. Ide Angle tampaknya memberikan jalan tengah untuk menyelesaikan konflik mereka tanpa merusak solidaritas di antara pemain WWE.
John Cena: ‘ide bagus, bukan? hehe’
Matt Hardy: ‘Boleh juga tuh.’
Jeff Hardy: ‘Setuju!’
Namun sesuatu yang mendesak sedang terjadi, Kurt Angle terlihat panik.
Kurt Angle: ‘Eh aku masuk dulu ya….ada suara air di kantorku.’ sesudah berkata demikian langsung dengan secepat kilat Kurt Angle berlari membuka pintu kantornya dan dia terbelalak bukan main. Kaget sekaget-kagetnya, memegangi kepalanya yang gundul..
Kurt Angle: ‘OMG! What a fuck is this? Ya Tuhaaaaan…..apa lagi iniiiiii’
Ternyata didalam kantor Kurt Angle sudah ada Brock Lesnar yang memakan semua pizza yang tersisa didepan layar monitor, tapi semuanya sudah terlanjur, lalu Kurt Angle masuk dan menyapa Brock Lesnar sambil mematikan air kran wastafel. Hal seperti inilah yang sering dilakukan Kurt Angle yaitu lupa mematikan kran air.
Sembari mengunyah pizza, Brock Lesnar mengatakan sesuatu yang terdengar serius di telinga Kurt Angle.
Brock Lesnar: ‘Kurt, McMahon tadi memberitahuku tentang pertandingan kita besok malam di Summerslam. Menurutmu gimana?’
Kurt Angle: ‘Ya mau apa lagi? Kita lakukan saja toh ini juga pekerjaan kita.’
Brock Lesnar: ‘Benar juga, sebelum kita bertanding diatas ring pada Summerslam besok malam sebaiknya kita wisata kuliner dulu gimana? Cari streetfood apa kek diluar….’
Kurt Angle: ‘Ide bagus, setuju!’
Akhirnya di hari berikutnya mereka berdua benar-benar berwisata kuliner, tidak jauh-jauh, mereka hanya ke Dunkin Donuts di seberang jalan dekat kantor WWE. Waktu berjalan sangat cepat dan event Summerslam pertandingan antara Brock Lesnar VS Kurt Angle sudah berakhir. Pertandingan tadi sangat sengit dan brutal, beberapa menit yang lalu saat pertandingan ada dua orang brutal bertemu diatas ring untuk saling serang, yaitu Kurt Angle dan Brock Lesnar. Dua duanya menang, dua duanya kalah, dua duanya terkena diskualifikasi. Mereka masuk ke ruang ganti.
Brock Lesnar: ‘Kurt, kamu nggak apa-apa kan?’
Kurt Angle: ‘Santai aja, brock….aku baik-baik saja. Hanya saja aku sangat lapar.’
Pertandingan memang baru saja berakhir dengan kepuasan di pihak penggemar yang menonton secara LIVE saat itu, tetapi keadaan di sisi pemain bukanlah kepuasan tetapi rasa capek dan kesakitan di seluruh badan mereka dari kepala sampai kaki. Untuk menyembuhkan kesakitan mereka sekaligus untuk mengalihkan rasa sakit mereka maka Kurt Angle dan Brock Lesnar memutuskan untuk bersantap di ruang ganti. Lesnar, yang terkenal dengan nafsu makannya yang besar, melihat sebuah kotak pizza di atas meja Angle.
Brock Lesnar: (sambil tertawa) ‘Hei, Kurt, ini pizza apa? Baunya enak sekali!’
Kurt Angle: (tertawa) ‘Itu pizza favoritku. Aku pesan dari tempat terbaik di kota. Kenapa, mau ikut makan?’
Brock Lesnar: ‘Iya, aku lapar banget nih. Semua pizzanya boleh dimakan?’
Kurt Angle: ‘Tentu, Brock. Tapi ya jangan dimakan semuanya, aku juga lapar ini.’
Brock Lesnar & Kurt Angle: ‘Nyam nyam nyam nyam nyam’
Lesnar kemudian dengan rakusnya memakan semua potongan pizza di atas piring. Angle hanya bisa tertawa melihat nafsu makan Lesnar yang luar biasa.
Kurt Angle: ‘Brock, hati-hati, pelan-pelan saja, nanti kalau masih lapar kita bisa masak sendiri.’
Brock Lesnar: ‘Maaf, Kurt. Aku terlalu lapar. Makasih ya pizza-nya.’
Setelah makan pizza, Lesnar tetap lapar dan meminta segelas susu. Angle, yang tidak ingin membuat Lesnar kecewa, segera memberikan segelas susu. Namun, dengan pizza yang habis, Angle punya ide.
Kurt Angle: ‘Eh, Brock, bagaimana kalau kita masak sandwich bersama? Mumpung masih ada bahan kantorku.’
Brock Lesnar: ‘Kenapa nggak? Aku sih siap! Ayo jalan’
Mereka berdua pun mulai melangkahkan kaki mereka agak jauh menuju kantor Kurt Angle yang berjarak kurang lebih 15 meter dari tempat parkir mobil. Setelah sampai di kantor Kurt Angle mereka mulai mandi, Brock Lesnar mandi di Ruang-1 sedangkan Kurt Angle di Ruang-2. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian santai, mereka mulai saling mengobati luka-luka akibat pertandingan mereka tadi.
Brock Lesnar: ‘Kurt, mungkin tadi aku memukulmu terlalu keras, maaf ya,’
Kurt Angle: ‘No problem, Brock. This is our real life. Sudah resiko pekerjaan kita. Sudah lupakan, mari kita ke dapur’
Setelah saling mengobati dan bercanda, mereka mulai melangkahkan kaki ke dapur dan meracik bahan-bahan yang ada disitu. Hasilnya, sebuah sandwich lezat dan menggugah selera. Namun, aroma harum masakan itu ternyata sampai merambat keluar kantor dan memikat perhatian The Great Khali yang kebetulan lewat, ketika itu The Great Khali memakai celana panjang merah longgar seperti ciri khasnya, kebetulan dia baru saja selesai bertanding melawan Rey Mysterio. Dia penasaran, mengetuk pintu kantor Kurt Angle, kemudian nyelonong masuk ke dapur.

The Great Khali: (tertawa) ‘Apa ini, teman-teman? Sandwich buatan kalian? Boleh aku mencoba?’
Kurt Angle: ‘Tentu, Khali! Silakan mencicipi.’
Khali pun bergabung bersama mereka dan mencicipi sandwich itu. Mereka bertiga mulai mengobrol dengan sangat akrab sembari mengunyah sandwich mereka masing-masing. Sesaat kemudian Brock Lesnar dan Kurt Angle mengatakan bahwa mereka berdua masih lapar, dan The Great Khali pun tertawa renyah mendengar pengakuan mereka.
The Great Khali: ‘Kalian berdua pasti belum pernah mencicipi makanan khas India, bukan?’
Brock Lesnar dan Kurt Angle saling pandang sambil tersenyum lebar, ‘Ya belum laah,’ ujar mereka secara bersamaan dengan tampilan wajah seperti orang yang tak berdosa.
The Great Khali: ‘Sekarang aku akan memasak makanan khas India untuk kita semua, bagaimana?’
Mata Kurt Angle dan Brock Lesnar berbinar-binar sangat senang bagaikan dapat hadiah gratis: ‘WOW….IYA IYA IYA IYA….SILAHKAN HEHEHE’
The Great Khali mulai beraksi mencampur berbagai bahan makanan yang kebetulan sudah banyak tersedia disitu, dia memasak sambil bernyanyi lagu-lagu India jaman dulu seperti: Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Kushi Khabi Gham, Bole Judiyan, dan sebagainya. Kurt Angle dan Brock Lesnar juga ikut menirukan bait-bait lagu yang mereka tahu meskipun pelafalannya terdengar sangat lucu. Hal itu membuat The Great Khali tertawa renyah.
Lesnar dan Angle tercengang oleh keahlian masak Khali yang tak terduga. Setelah selesai memasak, The great Khali melakukan plating yang sangat indah dan mengandung seni tinggi khas India, dia menyajikannya di meja makan yang ada di dapur dengan sama sekali tanpa terlihat adanya fingerprint. Sangat bersih. Mereka makan bersama dengan penuh sukacita
Kurt Angle: ‘Wah wah wah….enak sekali…luar biasa kamu, Khali.’
Brock Lesnar: ‘Khali, ini enak banget! Kamu jago masak ya?’
The Great Khali: ‘Terima kasih, teman-teman. Aku suka memasak di waktu luang. Selain gulat, ini adalah hobiku.’
Suasana pun semakin hangat, dan mereka bertiga tertawa bersama. Namun, momen ini terputus ketika The Great Khali memiliki permintaan yang lebih serius. Hal itu terlihat dari raut mukanya yang tiba-tiba kehilangan senyuman khasnya. Senyuman khas seorang The Great Khali.
The Great Khali: ‘Maaf, teman-teman. Aku ingin meminta izin libur selama 5 hari. Aku perlu membuat surat resmi sebagai warga negara Amerika Serikat, menurut pengacaraku, semua membutuhkan kehadiranku secara fisik untuk mengurusnya.’
Kurt Angle: ‘Tentu, Khali. Aku bantu kamu untuk mengajukan proposal ke Triple H. Kita pasti bisa menyelesaikannya bersama.’
Namun, setelah membicarakan proposal, Angle merasa perutnya mulai keroncongan.
Kurt Angle: ‘Maaf, Khali. Sebelumnya, boleh aku minta sesuatu?’
The Great Khali: ‘Tentu, Kurt. Apa yang bisa Aku bantu?’
Kurt Angle: ‘Aku lapar, Khali. Bolehkah kamu masak masakan India lagi untukku?’
Tanpa ragu, The Great Khali mengangguk setuju. Mereka berdua masuk ke dapur improvisasi mereka, dan Khali mulai memasak roti canai dengan kuah kari khas India.
Brock Lesnar: (tertawa) ‘Ini dia! Khali, kamu luar biasa!’
The Great Khali: ‘Terima kasih, Brock. Ayo makan lagi sepuasnya.’
Mereka bertiga duduk bersama di dapur. Roti canai Khali, semua bumbu pelengkap, tiga gelas susu, semuanya tersusun rapi di atas meja sederhana. Mereka tertawa, bercanda, dan menikmati hidangan lezat yang dibuat oleh The Great Khali.
Kurt Angle: ‘Khali, ini luar biasa! Aku tak tahu bahwa kamu punya keahlian masak sehebat ini.’
The Great Khali: ‘Terima kasih untuk kedua kalinya, Kurt. Ini hal kecil saja untuk teman-teman sehebat kalian.’
Setelah makan bersama, The Great Khali berpamitan. Brock Lesnar mengantar Khali ke mobil offroadnya.
Brock Lesnar: ‘Khali, terima kasih banyak ya. Ini makanan terenak yang pernah aku cicipi.’
The Great Khali: ‘Sama-sama, Brock. Semoga bisa bertemu lagi. Terima kasih juga kepadamu, Kurt.’
Khali menjabat tangan Lesnar dan pergi dengan mobil offroadnya. Sementara itu, Brock Lesnar berjalan kaki menuju parkiran dan menemukan sopir pribadinya yang ternyata tertidur pulas.
Brock Lesnar: ‘Hei, bangun! Aku butuh mobilku.’
Sopir Pribadi: (terkejut) ‘Oh, maaf, pak. Saya tertidur. Sekarang saya siap mengantarkan Anda ke mana saja.’
Brock Lesnar pun naik ke dalam mobilnya, merenungkan hari yang tak terduga ini. Setelah itu, dia menghubungi Kurt Angle.
Brock Lesnar: ‘Hey, Kurt. Terima kasih atas semuanya. Ini salah satu hari terbaikku.’
Kurt Angle: ‘Sama-sama, Brock. Kapan-kapan kita bisa mengulang momen seperti ini. Selamat jalan.’
Seiring berakhirnya panggilan telepon, Brock Lesnar melihat ke langit malam sambil tersenyum. Festival kuliner WWE hari ini menjadi bukti bahwa di luar arena gulat, kebersamaan dan persahabatan bisa tumbuh di antara para bintang yang selalu bersaing di atas ring.
Beberapa hari kemudian, di acara WWE berikutnya, pertandingan balas dendam antara John Cena dan Hardy Boys dijadwalkan. Pertandingan ini menjadi sorotan utama, dan penggemar tidak sabar untuk melihat bagaimana konflik ini akan diakhiri.
Kurt Angle, yang bertindak sebagai mediator, memastikan aturan dan kondisi pertandingan berjalan dengan adil. Dia ingin memastikan bahwa semua pihak merasa puas dengan hasilnya.
Pertandingan akhirnya dimulai, dipenuhi dengan ketegangan dan drama. Cena dan Hardy Boys saling memberikan serangan brutal, menciptakan momen-momen epik di atas ring. Penonton terhanyut oleh intensitas pertarungan ini.
Di akhir pertandingan, Cena akhirnya memenangkan pertarungan setelah melakukan gerakan khasnya, ‘Attitude Adjustment.’ Hardy Boys mengakui kekalahan mereka dengan saling jabat tangan, dan Angle naik ke atas ring untuk mengakhiri pertandingan secara resmi.
Kurt Angle: ‘Sekarang, kita semua bisa fokus kembali pada bisnis ini. WWE adalah tempat bagi persaingan yang adil, hiburan, dan solidaritas di antara kita.’
Cena dan Hardy Boys, meskipun awalnya bermusuhan, akhirnya merangkul solidaritas yang diinginkan Angle.
Ketika pertandingan selesai, Cena, Hardy Boys, dan Kurt Angle berkumpul di belakang panggung. Mereka menyadari bahwa dalam dunia hiburan dan bisnis WWE, konflik mungkin terjadi, tetapi kekuatan solidaritas dan keadilan akhirnya bisa mendamaikan.
John Cena: ‘Terima kasih, Kurt. Kau benar, ini adalah tempat bagi persaingan yang adil.’
Jeff Hardy: ‘Maaf lagi, Cena. Ini hanya hiburan, teman.’
Kurt Angle: ‘Baguslah, teman-teman. Kita bisa kembali fokus pada memberikan yang terbaik untuk para penggemar WWE.’
Setelah bercakap-cakap dengan Hardy Boys dan John Cena, Kurt Angle mengangkat teleponnya dan bercakap sebentar, setelah itu dia memasukkan handphonnya ke saku jasnya, ‘Teman-teman, barusan Vince McMahon meneleponku untuk mengajak kita semua ke kantor imigrasi minggu depan, semua petinggi WWE dan para pemain dianjurkan untuk hadir dan memberikan dukungan pada teman kita The Great Khali, agar proses dia untuk menjadi warga negara Amerika diijinkan pengadilan dan dimudahkan semua urusannya.’
John Cena dan Hardy Boys menjawab serentak, ‘Amen’ ….dan merekapun saling berpamitan pulang.
Waktu terus berlalu, hari berganti hari, pertarungan di WWE tidak hanya terjadi di atas ring, tetapi juga di luar ring, dan dalam pertarungan yang sesungguhnya, solidaritas dan hiburan adalah kuncinya. Bisnis WWE kembali memasuki babak baru, diisi dengan drama, darah, aksi, dan tentu saja……Keadilan.
REFERENSI: Youtube, Vimeo, Netflix
Author Profile
Categories
Related Posts
Catatan ini disusun dari berbagai kesaksian tentang perjalanan kereta malam di Jawa Barat—tentang gerbong yang...
Read MoreDewaBukuJSW
Montgomery, Alabama — 1 Desember 1955 Senja turun perlahan di atas kota Montgomery.Langit kelabu menggantung...
Read MoreDewaBukuJSW
Terowongan Casablanca bukan tempat yang asing bagi warga Jakarta. Ia bukan bangunan bersejarah, bukan pula...
Read MoreDewaBukuJSW
Lokasi: Lawang Sewu Alamat: Jalan Pemuda, Semarang, Jawa Tengah Posisi Kejadian: Tangga Utama di Gedung...
Read MoreDewaBukuJSW
Angin dari Laut Mediterania berembus lembut sore itu. Langit di atas Alexandria berwarna jingga keemasan,...
Read More