Skip to content

Episode 4 – Penumpang Terakhir (The End)

SERIAL: “PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP”

Subuh selalu datang terlalu cepat bagi orang-orang yang bekerja di jalan malam.

Sopir bus.
Kernet.
Pedagang terminal.
Penjual kopi.
Petugas kebersihan.

Mereka hidup di antara jam-jam yang jarang diperhatikan orang lain.

Saat sebagian besar kota tertidur,
mereka justru mulai merasa paling hidup.

Dan mungkin karena itulah…
mereka juga menjadi orang pertama yang menyadari ketika ada sesuatu yang perlahan tidak lagi berjalan normal.


Junaedi mulai takut pada suara mesin bus.

Bukan karena bisingnya.

Tetapi karena setiap dengungan panjang itu sekarang selalu mengingatkannya pada satu hal:

kursi nomor dua puluh tujuh.


Sudah hampir seminggu ia tidak benar-benar tidur.

Matanya merah.
Tubuhnya terasa ringan seperti kosong.
Dan setiap kali memejamkan mata…

ia selalu melihat lorong kabin bus yang panjang dan redup itu.

Dengan satu kursi basah di belakang.

Menunggu.


Malam terakhir itu dimulai seperti malam-malam biasa lainnya.

Terminal Tirtonadi masih ramai.

Pedagang kopi berteriak menawarkan rokok.
Suara televisi kecil di warung makan bercampur dengan pengumuman keberangkatan bus.
Orang-orang berjalan tergesa sambil membawa tas.

Kota Solo masih hidup.

Seolah tidak ada sesuatu yang sedang menunggu di jalur menuju Surabaya.


Pak Harjo tampak lebih pendiam malam itu.

Ia duduk di balik kemudi sambil melinting tembakau pelan.

Biasanya ia suka bercanda sebelum berangkat.

Namun sekarang tidak lagi.


“Kamu sehat, Jun?”

Jun mengangguk kecil.

“Muka kamu kayak belum tidur setahun.”

Jun mencoba tersenyum tipis.

“Masih kuat.”

Pak Harjo menatapnya cukup lama.

Lalu berkata lirih:

“Kalau capek… bilang.”


Jun tidak menjawab.

Karena jauh di dalam dirinya…

ia tahu malam ini akan berbeda.


Bus berangkat pukul sebelas lewat dua belas menit.

Hujan tidak turun.

Namun udara malam terasa lembap.

Langit Surakarta terlihat terlalu gelap untuk bulan Juli.


Penumpang mulai memenuhi kursi satu per satu.

Tas diletakkan.
Kursi direbahkan.
Anak kecil mulai tertidur di bahu ibunya.

Rutinitas biasa.

Namun Jun memperhatikan sesuatu malam itu.

Jumlah tiket tepat.

Tidak kurang.
Tidak lebih.


25.


Ia menghitung dua kali.

Tetap sama.


Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari…

dadanya terasa sedikit lega.

Mungkin semuanya sudah selesai.

Mungkin perempuan itu tidak akan muncul lagi.


Bus mulai meninggalkan terminal.

Lampu kota perlahan menjauh.

Jalanan berubah sunyi.

Dan suara mesin bus mulai mendominasi malam.


Bu Siti naik dari titik pemberhentian kecil dekat Kartasura.

Seperti biasa.

Membawa tas anyaman dan bungkusan daun pisang.

Namun malam itu…

wajah perempuan tua itu terlihat sangat pucat.


“Ibu sakit?”

Bu Siti menggeleng pelan.

“Bukan sakit.”

Ia naik perlahan.

Lalu sebelum duduk…
ia menatap Jun cukup lama.


“Nanti kalau sudah dekat subuh…”

katanya lirih.

“…jangan lihat terlalu lama ke belakang.”


Jun membeku.

“Ibu tahu apa yang sebenarnya ikut di bus ini?”

Bu Siti tidak langsung menjawab.

Ia duduk pelan sambil menarik selendangnya lebih rapat.

Lalu berkata sangat pelan:

“Kadang ada orang yang meninggal sebelum sempat sampai.”


Bus terus melaju.

Melewati jalan-jalan panjang yang mulai sepi.

Lampu toko satu per satu padam.

SPBU terlihat kosong.

Dan udara malam terasa makin dingin.


Pak Harjo memutar radio pelan.

Lagu dangdut lama terdengar samar.

Namun beberapa kali…
suaranya terganggu desis panjang.


Jun duduk dekat pintu sambil memegang buku hitungannya.

Tangannya terus mengusap sampul kulit kusam itu tanpa sadar.

Seperti seseorang yang sedang menenangkan diri.


Pukul 01:48.


Lampu kabin mulai diredupkan.

Penumpang tertidur.

Dan jalanan mulai berkabut.


Jun menatap lorong bus cukup lama.

Kursi nomor dua puluh tujuh masih kosong.

Namun entah kenapa…

ia justru merasa lebih takut saat kursi itu kosong.


Lalu…

ting.


Suara koin jatuh.

Sangat pelan.

Namun cukup membuat seluruh tubuh Jun langsung menegang.


Pak Harjo melirik lewat kaca tengah.

Kali ini ia juga mendengarnya.

Tidak ada yang bicara.

Karena mereka mulai sadar…

suara itu tidak pernah berasal dari tempat lain.

Selalu dari belakang.


Jun berdiri perlahan.

Lorong kabin tampak lebih panjang malam itu.

Lampu redup.
Udara dingin.
Dan aroma bunga mulai muncul lagi.

Lebih kuat dibanding sebelumnya.

Harum lembut yang tidak dikenal.

Seperti bunga yang sudah terlalu lama direndam air.


Langkah Jun pelan.

Satu demi satu kursi terlewati.

Penumpang tetap tertidur.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang sadar.


Sampai akhirnya…

kursi nomor dua puluh tujuh terlihat lagi.


Dan perempuan itu sudah duduk di sana.


Gaunnya masih basah.

Rambut hitam panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah.

Tangannya menggenggam tiket sobek yang sama.

Namun malam itu…

sesuatu berubah.


Kursi di sebelahnya tidak kosong lagi.


Ada satu sosok lain duduk di sana.

Kabur.

Samar.

Seperti bayangan manusia yang tertutup kabut.


Jun langsung berhenti berjalan.

Dadanya sesak.


Lalu perlahan…

ia menyadari sesuatu yang jauh lebih buruk.


Kursi lain mulai terisi.


Satu demi satu.

Diam.

Tanpa suara.


Bayangan orang-orang duduk memenuhi bagian belakang kabin.

Wajah mereka tidak jelas.

Namun pakaian mereka tampak basah.

Dan seluruh tubuh mereka diam terlalu kaku.


Jun tidak bisa bergerak.

Lorong bus terasa makin dingin.

Lampu kabin berkedip pelan.


ting.

ting.

ting.


Suara koin jatuh mulai terdengar dari berbagai arah.

Seperti banyak tangan sedang menghitung ongkos perjalanan.


Jun mundur perlahan.

Dan saat itulah…

semua sosok itu perlahan menoleh bersamaan ke arahnya.


Sunyi.

Sangat sunyi.

Bahkan suara mesin bus seperti menjauh.


Perempuan di kursi dua puluh tujuh perlahan berdiri.

Gaunnya meneteskan air.

Namun lantai tetap kering.


Lalu dengan gerakan lambat…

ia mengangkat tiket sobeknya ke arah Jun.


Dan untuk pertama kalinya…

ia berbicara.


“Sampai…”


Suaranya sangat pelan.

Seperti angin yang hampir habis.


Bus mendadak melambat sendiri.

Pak Harjo langsung memegang rem.

“Astaghfirullah…”


Di depan mereka…

jalan lama dekat hutan itu muncul lagi.

Kabut turun tebal sekali.

Dan di tengah jalan…

ada halte tua yang sudah lama tidak dipakai.


Jun membeku.

Karena halte itu tidak pernah ada sebelumnya.


Lampu kabin mati total.

Gelap.


Lalu terdengar suara pintu bus terbuka sendiri.


psssht.


Udara dingin langsung masuk memenuhi kabin.

Dan aroma bunga itu menjadi sangat kuat.


Dalam gelap…

Jun mendengar suara langkah kaki turun satu per satu.

Pelan.

Basah.


Tidak ada yang bicara.

Tidak ada suara penumpang bangun.

Seolah hanya Jun dan Pak Harjo yang menyadarinya.


Beberapa detik kemudian…

terdengar suara perempuan itu sekali lagi.

Sangat jauh.


“Terima kasih…”


Lalu sunyi.


Lampu kabin menyala kembali.

Bus kembali normal.

Mesin berdengung seperti biasa.

Radio menyala lagi pelan.

Dan kursi belakang…

kosong seluruhnya.


Kursi nomor dua puluh tujuh masih basah.

Namun untuk pertama kalinya…

bau bunga itu menghilang.


Pak Harjo memandang kaca depan tanpa bicara cukup lama.

Tangannya gemetar kecil di setir.


“Jun…”

suaranya serak.

“…kamu lihat juga?”

Jun mengangguk pelan.


Mereka tidak membahasnya lagi sampai Surabaya.

Tidak ada yang sanggup menjelaskan apa pun.


Saat matahari mulai muncul…

kabut perlahan hilang.

Jalan raya kembali ramai.

Motor lewat.
Pedagang mulai buka.
Kota kembali hidup.

Seolah malam tadi tidak pernah terjadi.


Namun ketika bus sedang dibersihkan di terminal…

Jun menemukan sesuatu di kursi nomor dua puluh tujuh.


Satu tiket lama.

Utuh.

Tidak sobek lagi.


Tulisan tinta merah di belakangnya sudah hilang.

Yang tersisa hanya nomor kursi:

27


Dan di bagian bawah…

ada tanggal yang sangat tua.

1998.


Jun memegang tiket itu lama sekali.

Lalu perlahan memasukkannya ke dalam buku catatan kulitnya.

Tidak dibuang.

Tidak dihancurkan.

Hanya disimpan.


Beberapa minggu setelah itu…

suara koin tidak pernah terdengar lagi.

Lampu kabin tidak pernah berkedip sendiri.

Dan kursi nomor dua puluh tujuh akhirnya selalu kosong.

Benar-benar kosong.


Namun sampai sekarang…

bus malam jurusan Solo–Surabaya itu tetap berjalan seperti biasa.

Penumpang tetap naik.
Terminal tetap ramai.
Dan orang-orang tetap sibuk mengejar tujuan mereka masing-masing.


Hanya saja…

kadang menjelang subuh…

saat jalan mulai berkabut dan lampu kabin diredupkan…

Junaedi masih sesekali menghitung ulang jumlah penumpang lebih dari sekali.

Bukan karena ia lupa.

Tetapi karena beberapa perjalanan…

ternyata memang tidak selalu membawa orang yang masih benar-benar hidup.


THE END

*

Link Serial “Penumpang Terakhir Bus AKAP”

Episode 1 – Hitungan Yang Selalu Benar
Episode 2 – Kursi Yang Tidak Pernah Kosong
Episode 3 – Penumpang Yang Tidak Tercatat
Episode 4 – Penumpang Terakhir (The End)

*

Author Profile
jatigift

Categories

Related Posts

image
EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Penyebab Awal (Prolog) Keraton itu tidak pernah benar-benar...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Pengantin Yang Selalu Duduk di Kursi Nomor 4

Gedung Landmark di Jalan Braga terlihat berbeda saat malam. Siang hari, bangunan itu masih tampak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 3 — MALAM YANG MENJADI TERLALU TENANG

Serial Title: Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil Keraton tidak berubah.Pagi datang seperti biasa. Siang berjalan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kamar 302

Seorang saksi mata yang tidak ingin disebut namanya menceritakan pengalamannya kepada penulis. Ia mengatakan ia...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
ONGGO-INGGI

Malam di Surakarta tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya berpura-pura diam. Angin dari arah Bengawan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!