
Malam di Surakarta tidak pernah benar-benar sunyi.
Ia hanya berpura-pura diam.
Angin dari arah Bengawan Solo membawa bau lumpur yang basah dan sesuatu yang lebih tua dari sekadar air. Jembatan Jurug Lama berdiri seperti tulang tua yang menolak rapuh – berderit halus setiap kali roda kendaraan melintas, seakan mengingatkan bahwa ia pernah menyaksikan lebih banyak dari yang seharusnya dilihat manusia.
Orang-orang menyebutnya cerita lama.
Sebagian menyebutnya mitos.
Sebagian lain….tidak berani menyebutnya apa-apa.
Onggo-Inggi.
Raka Pradana datang bukan untuk percaya.
Ia datang untuk membuktikan bahwa semuanya omong kosong.
Sebagai jurnalis investigasi lepas, Raka sudah terbiasa membongkar cerita-cerita yang dibesar-besarkan. Urban legend, mistis lokal, kejadian “aneh” yang biasanya berakhir pada satu hal: manusia yang terlalu cepat menyimpulkan.
Namun ada sesuatu yang berbeda di sini.
Dalam tiga bulan terakhir, empat orang dilaporkan hanyut di sekitar Bengawan Solo, tepatnya di area sekitar Jembatan Jurug Lama. Tidak ada saksi jelas. Tidak ada pola kecuali satu hal yang sama: semuanya terjadi menjelang tengah malam.
Dan satu lagi.
Semua korban terakhir terlihat seperti….berbicara sendiri.
“Mas tetap mau lanjut malam ini?”
Suara itu milik Anik Wulandari, perempuan lokal yang ia temui dua hari lalu. Anik adalah guru sejarah di sebuah SMA di Surakarta, sekaligus orang yang pertama kali mengirimkan data ke Raka.
Raka hanya mengangguk singkat.
“Kalau mau bukti, ya harus lihat sendiri.”
Anik menatapnya agak lama. Ada sesuatu di matanya – bukan takut, tapi seperti….ragu apakah Raka akan pulang dalam keadaan yang sama.
Mereka tidak sendirian malam itu.
Di ujung jembatan, berdiri sosok yang sejak tadi tidak banyak bergerak.
Pria tinggi, tegap.
Rambut hitam panjang sebahu.
Beanie hitam menutupi sebagian kepalanya. Kacamata hitam tetap melekat meski malam pekat. Masker medis hijau muda menutup separuh wajahnya. Coat hitam panjang dengan kerah bulu putih di kanan kiri bergerak pelan tertiup angin sungai.
Celana baggy biru tua dan sneakers putihnya terlihat kontras dengan suasana yang gelap.
DewaBuku.
Ia tidak memperkenalkan diri.
Ia tidak menjelaskan kenapa ada di sana.
Ia hanya berdiri.
Mengamati.
“Temanmu?” tanya Raka pelan.
Anik menggeleng.
“Aku kira….teman Mas.”
DewaBuku tidak menjawab. Ia hanya menoleh sedikit, lalu kembali memandang ke arah sungai.
Mereka mulai merekam sekitar pukul 23.47.
Angin makin dingin.
Air Bengawan Solo tampak lebih gelap dari biasanya, seperti menyimpan sesuatu di bawah permukaan.
Raka menyiapkan kamera.
Anik membaca ulang catatan-catatan sejarahnya.
Dan DewaBuku….tetap diam.
“Menurut cerita lama,” kata Anik pelan, “Onggo-Inggi itu bukan sekadar makhluk halus biasa. Ada yang bilang dia jin penjaga keraton. Ada juga yang bilang dia dayang yang dihukum karena pengkhianatan.”
Raka tersenyum tipis.
“Semua cerita mistis selalu punya versi yang dramatis.”
“Yang menarik,” lanjut Anik, “semua versi sepakat satu hal….dia menjaga sesuatu. Bukan sekadar tempat.”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia mulai merasa….ada sesuatu yang tidak biasa.
Pukul 00.12.
Sesuatu berubah.
Angin berhenti.
Bukan mereda.
Berhenti.
Seolah-olah dunia menarik napas dan lupa mengembuskannya kembali.
Air sungai yang tadi mengalir perlahan….kini terlihat seperti diam.
Dan dari kejauhan –
Suara.
Pelan.
Seperti seseorang memanggil.
“Mas….kamu dengar?”
Raka tidak menjawab.
Ia mendengar.
Jelas.
Suara perempuan.
Lembut.
Memanggil….seseorang.
Anik mundur satu langkah.
“Jangan….jangan didekati…”
Namun Raka justru melangkah maju.
Seperti ditarik.
Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, DewaBuku bergerak.
Ia melangkah cepat.
Tidak terburu-buru.
Tapi pasti.
Tangannya meraih lengan Raka sebelum pria itu melangkah lebih jauh ke arah pembatas jembatan.
“Berhenti.”
Suaranya rendah.
Pendek.
Tapi cukup untuk memutus sesuatu.
Raka seperti tersadar.
Napasnya berat.
“Gue….tadi…”
“Dipanggil.”
DewaBuku menyelesaikan kalimatnya.
Suara itu kembali.
Kali ini lebih dekat.
Lebih jelas.
Dari bawah jembatan.
Mereka bertiga menoleh.
Dan di sanalah –
Di tepi sungai yang gelap –
Sosok itu berdiri.
Perempuan.
Berpakaian seperti abdi dalem lama.
Rambut panjang terurai.
Wajahnya….tidak sepenuhnya terlihat.
Tapi cukup untuk membuat siapa pun tahu –
Itu bukan manusia biasa. Dia pucat.
Air di sekelilingnya tidak bergerak.
Seolah tunduk.
Anik gemetar. Berbisik pelan.
“Itu….Onggo-Inggi…”
Sosok itu mengangkat wajahnya perlahan.
Dan tersenyum.
Namun bukan senyum ramah.
Senyum yang terlalu tenang.
Terlalu….tahu.
“Sudah lama….tidak ada yang datang dengan niat mencari…”
Suaranya tidak keras.
Tapi terdengar jelas.
Seolah langsung masuk ke kepala.
Raka mencoba bicara.
“T-tunggu – kamu – ”
Namun kata-katanya terhenti.
Karena tiba-tiba –
Ia melihat sesuatu yang lain.
Bayangan.
Di dalam air.
Bukan satu.
Banyak.
Wajah-wajah.
Orang-orang.
Yang hilang.
Dan mereka….tidak diam.
Mereka bergerak.
Seperti berusaha naik.
Seperti….memanggil bantuan.
“Bukan dia yang mengambil mereka.”
Suara DewaBuku tiba-tiba muncul.
Tenang.
Tajam.
Raka menoleh.
“Apa maksud lo?”
DewaBuku menatap lurus ke arah sosok itu.
“Dia menjaga. Bukan membunuh.”
Sosok Onggo-Inggi tersenyum lagi.
Kali ini….sedikit berbeda.
“Tidak semua manusia cukup jujur untuk melihat kebenaran.”
Air mulai bergerak.
Perlahan.
Lalu lebih cepat.
Dan dari bawah –
Sesuatu muncul.
Bukan satu sosok.
Bukan manusia.
Tapi bayangan besar.
Gelap.
Tanpa bentuk jelas.
Dan saat itu, Raka akhirnya mengerti.
Onggo-Inggi bukan ancaman.
Dia….penjaga.
Dan yang selama ini menarik orang –
Bukan dia.
“Bengawan tidak hanya membawa air.”
Suara DewaBuku pelan.
“Tapi juga….sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi.”
Makhluk itu naik lebih tinggi.
Dan wajah-wajah di air mulai berteriak.
Namun tidak bersuara.
Anik menangis.
Raka terpaku.
Dan Onggo-Inggi –
Melangkah maju.
“Setiap tempat memiliki gerbang.”
Katanya.
“Dan setiap gerbang….harus dijaga.”
Ia mengangkat tangannya.
Air berhenti.
Makhluk itu terdiam.
Namun hanya sesaat.
Karena sesuatu yang lain –
Lebih dalam –
Mulai bergerak.
DewaBuku maju satu langkah.
Untuk pertama kalinya –
Ia terlihat….serius.
Lebih dari sebelumnya.
“Ini bukan sekadar penjagaan.”
Katanya pelan.
“Ini….kebocoran.”
Onggo-Inggi menoleh padanya.
Seolah mengenali.
“Dan kamu….bukan manusia biasa.”
DewaBuku tidak menjawab.
Makhluk itu menghilang perlahan.
Air kembali normal.
Angin kembali.
Suara malam kembali.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Onggo-Inggi mundur ke dalam bayangan.
Namun sebelum hilang –
Ia berkata satu hal.
“Selama manusia masih lupa….aku akan tetap di sini.”
Dan ia lenyap.
Sunyi.
Raka terduduk.
Tangannya gemetar.
“Gue….salah…”
DewaBuku hanya berdiri.
Anik menatap sungai.
Dengan mata yang berbeda sekarang.
Bukan takut.
Tapi mengerti.
Malam itu berakhir tanpa headline besar.
Tanpa bukti video yang jelas.
Tanpa jawaban yang bisa dipublikasikan.
Namun Raka tidak lagi mencari sensasi.
Ia menulis sesuatu yang berbeda.
Tentang bagaimana tidak semua hal harus dijelaskan untuk dihormati.
Tentang bagaimana ada penjaga –
Yang tidak pernah diminta.
Namun tetap bertahan.
Dan tentang satu malam –
Di mana ia hampir menjadi bagian dari sesuatu yang tidak seharusnya ia sentuh.
Sementara itu –
Di tempat lain –
DewaBuku berjalan sendiri.
Meninggalkan jembatan.
Tanpa suara.
Tanpa jejak.
Namun sebelum benar-benar pergi –
Ia berhenti sebentar.
Menoleh ke arah sungai.
Dan untuk sesaat –
Ia seperti….mendengar sesuatu.
Bukan panggilan.
Tapi peringatan.
Karena apa yang mereka lihat malam itu –
Bukan akhir.
Hanya….retakan kecil.
Dan sesuatu di baliknya –
Sedang belajar keluar.
THE END.
*
Author Profile
Categories
Related Posts
Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Penyebab Awal (Prolog) Keraton itu tidak pernah benar-benar...
Read MoreDewaBukuJSW
Kesaksian ini disampaikan oleh seorang saksi mata yang tidak ingin namanya dicatat. Aku menuliskannya sebagaimana...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Terminal Tirtonadi tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan setelah tengah malam...
Read MoreDewaBukuJSW
Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Pada suatu ketika di tahun 2024 akan diselenggarakan...
Read MoreDewaBukuJSW
Gedung tua itu berdiri tidak jauh dari kawasan pesisir Jakarta Utara. Cat dindingnya mulai mengelupas...
Read More