
Ledakan cahaya hitam keemasan yang merobek gudang di Teluk Gong itu tidak hanya mengguncang bangunan, tetapi juga menggetarkan garis batas antara dunia fisik dan dunia arsip. Ketika energi itu meledak, setiap serpihan cahaya membentuk pola-pola kuno yang seolah telah lama menunggu dipanggil kembali. Spiralisasi cahaya itu bergerak seperti pusaran bintang yang gagal lahir di langit, pecah berantakan, kemudian tertarik kembali ke inti gelap yang menganga di tengah ruangan.
SailorMoon terdorong ke belakang oleh gelombang kejut terakhir. Tubuhnya terhantam dinding kontainer, namun medan lunar instingtifnya menciptakan lapisan pelindung tipis, menyelamatkannya dari benturan brutal, hanya pergelangan tangan kirinya yang sedikit ngilu terpapar energi dari Umbra Prime. Debu baja dan serpihan beton berterbangan, menciptakan kabut pekat yang menelan pandangan. Ketika debu mulai turun perlahan seperti salju kelabu, ia melihat sesuatu yang langsung membuat dadanya seperti dipelintir dari dalam.
Sudah taidak ada lagi DewaBuku yang selalu mendampinginya.
Tidak ada bayangan.
Tidak ada jejak kaki.
SailorMoon hanya menunduk sambil memegangi pergelangan tangan kirinya, airmata mulai membasahi pipinya. Bagaimanapun juga SailorMoon memiliki sisi kemanusiaan meskipun dia adalah gadis superhero. Dia bisa bersedih….menangis….dan merasa kehilangan.
Tidak ada siapapun lagi disebelahnya, tidak ada lagi seseorang yang memberinya masker disaat ada debu. Tidak ada apapun. Hanya ada puing-puing. Hanya lantai yang pecah membentuk pola lingkaran seperti mata yang terbuka ke arah langit, dan di tengah lingkaran itu terdapat residu cahaya keemasan tipis yang memudar cepat – seperti nafas terakhir dari seseorang yang meninggalkan dunia ini tanpa sempat berpamitan. Spiral hitam dari Arsip Nol menghilang hanya dalam hitungan detik setelah ledakan, menyisakan sensasi kosong yang aneh, seolah ruang itu telah ditarik paksa keluar dari dunia.
SailorMoon berusaha berdiri, lututnya masih gemetar. Tangannya menekan lantai, merasakan getaran halus yang seperti gema langkah seseorang yang semakin menjauh dari kenyataan. Ia tahu DewaBuku tidak mati. Tidak mungkin makhluk dengan kedalaman arsip sepertinya lenyap begitu saja. Namun ia juga tahu, ia tidak lagi berada di dunia ini. Sesuatu telah menariknya masuk – ke ruang yang tidak patuh pada hukum alam, ruang yang hanya DewaBuku dan entitas tertentu saja yang mungkin bisa mengenalinya.
Arsip Nol. Tempat asal kegelapan pertama. Ruang yang hanya dikenal melalui mitos di kalangan penjaga cahaya.
Ketika SailorMoon mencoba memusatkan energi untuk melacak keberadaan DewaBuku, ia justru merasakan sesuatu yang lebih besar dan lebih dalam. Sebuah denyutan lemah – mirip dengan getaran yang ia rasakan ketika pertama kali menyentuh Helios – namun jauh lebih tua, lebih berat, dan lebih sedih. Denyutan itu seperti panggilan dari jarak ribuan tahun cahaya, tetapi terbungkus dalam waktu yang sama sekali tidak bergerak.
SailorMoon nyaris tersungkur kembali ketika merasakan gelombang emosional itu. Ada kesepian yang pekat, ada rasa bersalah yang panjang, ada tekad yang tak henti menyala meski seluruh dunia berusaha memadamkannya. Hanya satu orang yang ia kenal memiliki getaran itu.
Raka.
Alias DewaBuku.
Ia menahan nafas. Ada sesuatu yang lain juga berada di sana – suara samar yang bergerak dalam gelap, seolah entitas yang baru saja bangun dari tidur panjangnya sedang memanggil, bukan dengan suara, tetapi dengan tekanan pada keberadaan itu sendiri. Suara itu tidak jelas, tetapi arahnya menuju celah yang tadi terbentuk.
Umbra Prime.
Sosok itu hilang dari pandangan fisik, tetapi kehadirannya masih menempel pada udara. Meskipun tubuhnya sempat terlempar oleh energi segel Lady Umbra, entitas itu tidak hancur. Ia telah kembali pada bentuk awalnya – bukan tubuh fisik, tetapi pola energi yang melayang di dimensi arsip. Ia mengejar jejak energi DewaBuku yang tertinggal, seperti predator yang mencium darah di lautan.
SailorMoon berusaha memperkuat medan lunar untuk menutup celah yang mulai terbuka kembali, tetapi tanpa DewaBuku yang biasanya menstabilkan formasi itu, usahanya terasa sia-sia. Retakan halus di udara mulai muncul lagi, garis-garis kecil seperti kaca yang tergores kuku raksasa. Cahaya keunguan merembes dari dalamnya, dan suhu ruangan turun drastis, seolah Teluk Gong mengadopsi suhu ruang bawah tanah kuno yang tidak pernah melihat matahari.
Ia memusatkan kekuatannya lagi, namun retakan itu tidak merespon. Ia tahu kenapa: energi Umbra Prime jauh lebih tua dan lebih kuat dari energi lunar yang ia miliki. Entitas itu tidak bisa dikunci begitu saja, apalagi sekarang ketika segel Lady Umbra telah pecah sebagian.
SailorMoon lalu melihat sesuatu yang lain. Di tempat buku hitam DewaBuku meledak, tersisa serpihan seperti abu hitam metalik, berkilauan samar. Ia meraihnya perlahan, dan serpihan itu memancarkan gelombang informasi ketika disentuh – bukan dalam bentuk tulisan, namun dalam bentuk kilas memori. Ia melihat bayangan seorang perempuan yang wajahnya samar – Sri Sumarni versi asli – mengangkat bayi di sebuah rumah kayu tua di Klaten. Ia melihat Raka kecil berlari di halaman malam-malam ketika hujan turun, mengejar cahaya kuning yang turun dari langit. Ia melihat dua figur misterius berdebat dalam bahasa kuno di atas menara arsip. Ia melihat mata Lady Umbra dalam bentuk terdalamnya, tanpa topeng, tanpa bayangan yang menutupi, hanya tatapan seorang manusia yang kehilangan segalanya.
SailorMoon tersentak. Serpihan itu tidak hanya menyimpan memori DewaBuku. Ia menyimpan memori seluruh generasi Umbra. Namun serpihan ini juga kunci untuk menemukan lokasi Raka di dalam Arsip Nol. Tanpa itu, ia hanyalah gadis yang mencoba menerobos ruang yang diciptakan bukan untuk manusia.
Ia menarik napas panjang, memegang serpihan itu erat-erat. Energi Lunar-lah satu-satunya sumber cahaya yang bisa menahan efek gila dari Arsip Nol. Tanpa itu, ia akan hancur oleh tekanan waktu dan ruang di dalamnya. Tapi ia tahu ia tidak bisa pergi sendirian. Dan ia tidak bisa membawa siapa pun. Dimensi itu memangsa siapa saja yang tidak memiliki pengetahuan arsip.
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, radar lunar di dadanya bergetar kuat. Ada sesuatu dari luar gudang. Sesuatu besar.
Ketika ia berbalik, pintu gudang yang setengah hancur itu bergoyang. Bukan karena angin, tapi karena sesuatu mendorong dari luar. Cahaya lampu jalan dari luar tampak berpendar aneh, seperti dibengkokkan oleh tekanan yang tidak terlihat. SailorMoon mengambil stance bertarung, tetapi saat daun pintu besi itu terbuka, ia melihat bahwa yang datang bukan musuh.
Melainkan cahaya putih yang memanjang seperti pilar.
Helios.
Namun bukan Helios yang ia kenal sebelumnya. Ini adalah mode lain – mode yang tidak pernah ia lihat. Energi lunar bercampur dengan energi arsip, menciptakan bentuk baru yang memancarkan kedalaman yang menyeramkan. Cahaya itu bergerak ke dalam ruangan, menyinari setiap sudut yang sebelumnya gelap. Dan ketika mencapai pusat lingkaran tempat DewaBuku menghilang, cahaya itu berhenti, lalu berubah bentuk – perlahan bergeser menjadi siluet manusia tinggi yang wajahnya tetap tertutup oleh cahaya.
SailorMoon tidak mendengar suara, tetapi ia menangkap pesan langsung: Helios merasakan lokasi DewaBuku.
Tidak hanya itu – Helios juga merasakan sesuatu lain yang mengikuti DewaBuku dalam bayangannya: Umbra Prime.
Dimensi Arsip Nol tidak pernah stabil bagi makhluk yang berasal dari dunia fisik, tetapi entitas seperti Helios – yang tidak terbatas pada tubuh materi – dapat bertahan lebih lama di sana. Namun Helios tidak bisa masuk tanpa jangkar. Dan jangkar itu adalah SailorMoon sendiri.
Ia berdiri lebih dekat ke cahaya itu. Energi lunar dalam tubuhnya mulai menyatu dengan cahaya Helios, membentuk jalinan tipis seperti benang tak kasat mata. Rasanya dingin, namun menenangkan. Rasanya seperti memegang tangan seseorang yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski ia tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Begitu jalinan itu kuat, Helios menunjuk ke titik di udara. Titik itu mulai berubah menjadi celah tipis, seukuran jari awalnya, namun perlahan melebar menjadi retakan panjang. Tidak seperti celah sebelumnya yang berwarna hitam dan keunguan, retakan ini memancarkan cahaya putih kebiruan – seperti retakan di langit yang memperlihatkan fajar di balik badai.
Helios membuka jalan.
Namun sebelum SailorMoon melangkah, sebuah suara menggelegar dari jauh di luar gudang – suara berat seperti besi raksasa yang ditarik paksa. Ketika suara itu merambat melalui tanah, SailorMoon merasakan energi yang sangat ia kenal dari kejauhan. Energi yang pernah ditemuinya di malam ketika kegelapan pertama kali datang ke Jakarta. Energi yang menjadi sumber semua kekuatan Umbra.
Energi Brahma Surya, seorang pimpinan Violet Dragon yang tidak diperhitungkan, seorang boss dari Bang Ujang alias Jackal dan almarhum Rojali.
Ia menoleh ke luar. Langit Kapuk berubah warna. Arah Teluk Pluit memantulkan cahaya jingga pekat yang tidak berasal dari lampu kota. Cahaya itu bergerak seperti denyut nadi raksasa, seolah sesuatu di bawah permukaan air sedang bergerak. Sesuatu besar. Sesuatu yang mulai membuka matanya.
Helios memancarkan nada peringatan. SailorMoon tahu artinya: waktu terbatas. Jika Brahma Surya benar-benar bangun, maka Umbra Prime akan mendapatkan energi yang ia butuhkan untuk mengambil bentuk fisik sempurna, dan pada saat itu – mencari DewaBuku akan menjadi tugas mustahil. Karena seluruh dimensi Arsip Nol akan runtuh menyesuaikan kedatangan entitas sakral itu.
Namun SailorMoon juga tahu satu hal penting: ia tidak bisa meninggalkan DewaBuku. Tidak sekarang. Tidak ketika ia sudah melihat bagaimana Raka berusaha menyelamatkan semuanya dengan mengorbankan dirinya.
Ia memegang serpihan buku hitam itu lebih kuat, lalu melangkah ke arah celah cahaya yang Helios buat.
Begitu ia menembus batas pertama, ia merasakan gravitasi seperti menghilang. Ruang berubah menjadi datar, lalu melengkung, lalu pecah menjadi ribuan fragmen waktu. Ia melihat bayangan DewaBuku – bukan tubuhnya, tetapi jejak energi yang tertinggal. Jejak itu mengarah ke dalam, lebih dalam, ke ruang yang bahkan Helios tidak bisa terangi sepenuhnya.
Arsip Nol menyambutnya dengan dingin kuno yang tidak punya asal.
Langkah pertamanya ke dalam dimensi itu adalah awal dari perjalanan panjang – perjalanan untuk menemukan satu-satunya orang yang tidak bisa ia biarkan hilang.
Di luar, retakan dimensi menutup perlahan.
Sementara jauh di Teluk Pluit, sebuah mata berwarna emas menyala dari dasar laut.
Brahma Surya mulai terbangun.
Bersambung ke Episode SAILOR MOON – KONSEKUENSI HILANGNYA DEWABUKU (PART 11)
Author Profile
a href=”https://gravatar.com/jatigift” target=”_blank” title=”Click to see the complete profile”>Categories
Related Posts
Jakarta Barat, tahun 2025.Langit malam memantulkan cahaya oranye dari lampu jalan yang redup, menyatu dengan...
Read MoreDewaBukuJSW
Jakarta Barat, pukul 01.42 dini hari.Langit masih diguyur hujan deras. Di sepanjang Jalan Meruya, lampu-lampu...
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi baru mulai merayap masuk ke cakrawala Jakarta ketika elevator rahasia di bawah Hotel Fairmont...
Read MoreDewaBukuJSW
Hening selalu punya cara untuk menyembunyikan bising. Jakarta pada dini hari itu terlihat seperti tubuh...
Read MoreDewaBukuJSW
Jakarta Utara, pukul 03.47 dini hari.Hujan sudah berhenti, tetapi awan masih menggantung berat seperti menahan...
Read More