
Pagi baru mulai merayap masuk ke cakrawala Jakarta ketika elevator rahasia di bawah Hotel Fairmont kembali bergerak naik. Cahaya biru yang semalam memenuhi ruangan kini telah padam, menyisakan suasana yang jauh lebih tenang. Namun ketenangan itu tidak menghapus kenyataan bahwa para Sailor Guardian telah melewati malam yang paling melelahkan sepanjang hidup mereka.
Mereka berdiri di dalam elevator — Super Sailor Moon di samping DewaBuku, sementara Jupiter, Mars, Mercury, Venus, dan Chibi Moon berdiri berbaris rapi. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan mereka. Untuk pertama kalinya sejak kedatangan mereka di Jakarta, wajah-wajah itu memancarkan keteduhan, bukan ketegangan. Ada rasa lega yang halus namun nyata.
Keheningan berlangsung beberapa detik sebelum Jupiter menurunkan bahunya perlahan.
“Aneh ya…” katanya, suaranya lugas namun lembut. “Rasanya seperti baru saja melewati badai besar, tapi sekarang malah tenang.”
Mercury melirik panel elevator yang menunjukkan lantai demi lantai yang terus naik.
“Itu reaksi normal. Lonjakan energi kosmik semalam sudah turun ke level aman.”
Venus tersenyum miring.
“Dengan kata lain… kita berhasil pulang tanpa harus menjelaskan apa pun ke manajemen hotel.”
Chibi Moon terkikik kecil, lalu buru-buru menutup mulutnya saat Mars melirik sekilas. Namun Mars tidak menegur. Ia hanya kembali menatap lurus ke depan.
Mereka tahu, tugas mereka di kota ini sudah tuntas. Untuk sementara.
Begitu pintu elevator terbuka, hawa Jakarta yang hangat langsung menyambut. Udara luar terasa jauh lebih ringan dibanding ruang bawah tanah yang penuh energi intens semalam. Matahari mulai naik, memantulkan cahaya ke kaca-kaca bangunan tinggi sepanjang area Senayan.
Usagi—dalam wujud Super Sailor Moon—menatap rekan-rekannya dengan senyum tipis. Rambut kuning panjangnya yang terurai perlahan bergerak tertiup angin pagi, menciptakan siluet yang menenangkan. Di sampingnya, DewaBuku berdiri tegak, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih dari efek Arsip Nol. Ada garis samar kelelahan di wajahnya, tetapi tatapannya tetap jernih.
Hari itu adalah hari perpisahan.
Mereka berkumpul di area terbuka kecil di samping pintu servis hotel, tempat yang cukup sepi dari lalu-lalang orang. Suara kendaraan dari kejauhan bercampur dengan kicau burung pagi di pepohonan sekitar Senayan.
DewaBuku berdiri di tengah-tengah mereka, tangan terlipat di belakang punggung, memperhatikan satu per satu Guardian yang bersiap kembali ke Jepang. Cincin energi—hadiah yang ia berikan tadi malam—sekilas memancarkan kilau lembut di jari mereka. Di bawah cahaya matahari, cincin itu tampak lebih hidup, seolah merespons energi baru yang mengalir di tubuh para Guardian.
Momen hening berlangsung sejenak.
Lalu Mars melangkah maju. Ia memberi hormat ringan kepada DewaBuku dan Usagi. Sikapnya tegas, matanya serius, tetapi ada ketulusan yang lembut di balik semua itu.
“Kami datang ke Jakarta dengan kewaspadaan,” ucapnya.
“Kami pergi dengan keyakinan.”
Ia menoleh singkat ke arah Usagi.
“Dan itu bukan keputusan yang ringan.”
DewaBuku mengangguk singkat.
“Kepercayaan yang diberikan tanpa paksaan… justru yang paling berat dijaga.”
Mars tersenyum tipis.
“Justru karena itu kami percaya.”
Para Guardian tahu: perjalanan mereka bersama DewaBuku dan Sailor Moon di Jakarta bukanlah misi biasa. Mereka tidak hanya melawan musuh; mereka membuka pintu menuju rahasia yang seharusnya tak pernah disentuh manusia—terutama rahasia mengenai Brahma Surya dan Lady Umbra.
Dan kenyataan bahwa keduanya belum benar-benar mati adalah beban yang berat bagi siapa pun yang memegang janji perlindungan dunia.
Ritual perpisahan pun dimulai.
Jupiter melangkah maju pertama.
“Kalau nanti Jakarta kembali diserang,” katanya mantap, “aku nggak ragu kamu akan berdiri di garis depan. Itu cukup buatku.”
“Aku tidak pernah berniat mundur,” jawab DewaBuku tanpa ragu.
Venus menyusul, suaranya lebih santai.
“Dan kalau dunia kosmik mulai ribet lagi—” ia mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin di jarinya, “kami tahu harus ke mana.”
Mercury kemudian berbicara, suaranya tenang dan analitis.
“Semua simulasi menunjukkan satu hal. Keberadaanmu menciptakan titik stabil baru.”
Ia menatap DewaBuku dengan serius.
“Secara ilmiah… kamu seharusnya tidak ada.”
DewaBuku tersenyum tipis.
“Manusia sering berada di luar perhitungan.”
Mars kembali melangkah ke depan untuk terakhir kalinya.
“Lady Umbra masih bernapas. Dan Brahma Surya belum selesai.”
Ia mengepalkan tangan.
“Kami akan bersiap. Jangan menunggu terlalu lama untuk memanggil kami.”
“Jika panggilan itu datang,” jawab DewaBuku pelan, “aku tahu kalian akan mendengarnya.”
Chibi Moon melangkah maju dengan ragu kecil.
“Om… eh—DewaBuku.”
Ia tersenyum polos.
“Jangan berubah jadi orang jahat, ya.”
DewaBuku terkekeh pelan.
“Aku akan berusaha mengecewakan Lady Umbra.”
Usagi belum bergerak. Ia mematung sejenak. Ada banyak hal yang ingin ia katakan—lebih banyak dari yang bisa dilafalkan oleh kata-kata. Akhirnya ia berbicara, suaranya lembut namun jelas.
“Jakarta akan aman… untuk sekarang.”
Ia menatap DewaBuku.
“Tapi perang berikutnya akan berbeda.”
“Aku tidak mengharapkan yang mudah,” jawab DewaBuku.
Usagi mengangguk.
“Bagus. Karena aku juga tidak akan datang sendiri.”
Para Sailor Guardian lalu mengambil posisi formasi bulan sabit. Energi mereka mulai bersinar perlahan, menciptakan getaran halus yang membuat dedaunan di sekitar pohon-pohon kecil ikut bergerak tanpa angin.
Sinar merah muda dari cincin energi menyatu dengan warna-warna kekuatan masing-masing Guardian. Pilar cahaya memancar ke langit Jakarta yang mulai cerah. Dentingan ringan terdengar, seperti bel kristal yang pecah menjadi ribuan partikel suara.
Tubuh para Guardian terangkat beberapa sentimeter dari tanah. Rambut mereka melayang anggun, baju tempur mereka bersinar.
Beberapa warga yang lewat sempat menoleh, namun refleks ruang membuat persepsi manusia normal kabur—seolah mereka hanya melihat pantulan cahaya biasa.
Tepat sebelum cahaya menelan mereka, suara Venus terdengar:
“Hei, DewaBuku—jangan mati sebelum kami balik!”
Tawa ringan menyatu dengan dentingan kristal.
Cahaya meledak.
Dan para Sailor Guardian menghilang ke langit—kembali ke Jepang.
Ketika cahaya perlahan menghilang, Senayan kembali normal. Angin kembali bergerak, suara kendaraan mengalir, aroma pagi Jakarta terasa nyata.
Tinggal dua sosok di sana: DewaBuku dan Usagi.
Mereka berdiri diam beberapa saat. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, mereka mendengar suara manusia biasa—langkah kaki, pedagang asongan, dan notifikasi ponsel.
Usagi menghela napas panjang.
“Kota ini… aneh ya. Damai, tapi rapuh.”
“Itulah manusia,” jawab DewaBuku.
Ia menoleh ke arah Teluk Gong.
“Dan itulah alasan dunia ini layak dijaga.”
Usagi tersenyum tipis.
“Kalau begitu… kita jaga bersama.”
DewaBuku mengangguk.
Tanpa sumpah.
Tanpa janji berlebihan.
Karena mereka tahu—perang terakhir tidak akan dimenangkan oleh satu cahaya saja.
Dan di suatu tempat di Teluk Gong, fragmen Brahma Surya mulai berdenyut.
Bayangan Lady Umbra perlahan membuka matanya.
Bersambung ke SAILORMOON – MENUJU PERANG TERAKHIR (PART 16) 🌙🔥
Author Profile
Categories
Related Posts
Kelelahan yang menyergap para Sailor Guardian malam itu bukan sekadar letih fisik. Ada sesuatu yang...
Read MoreDewaBukuJSW
Kabut tipis yang turun perlahan di wilayah Teluk Gong pada dini hari itu membawa hawa...
Read MoreDewaBukuJSW
Beberapa hari kemudian, gudang di Kembangan berubah jadi tempat rapat besar.Brahma Surya mempersiapkan pengiriman “serbuk...
Read MoreDewaBukuJSW
Jakarta Utara, pukul 03.47 dini hari.Hujan sudah berhenti, tetapi awan masih menggantung berat seperti menahan...
Read MoreDewaBukuJSW
Setelah berpikir seperti itu, DewaBuku merasa bahwa perutnya sudah kosong karena selama sehari semalam tidak...
Read More