Skip to content

SAILORMOON – GEMA DARI ARSIP NOL (PART 12)

Kabut tipis yang turun perlahan di wilayah Teluk Gong pada dini hari itu membawa hawa yang aneh — tidak sekadar dingin, tetapi seperti menyimpan denyut memori yang tidak berasal dari dunia ini. Angin mengalir rendah, menyisir bangunan industri tua yang berdiri seperti kerangka baja terkelupas, sementara pendar cahaya oranye dari lampu pelabuhan memantul pada genangan air yang bercampur minyak. Pada jarak tertentu, bila seseorang cukup peka, seperti ada riak halus yang seolah mencabik realitas. Para pekerja malam yang kebetulan melihat sekilas hanya mengira itu pantulan lampu, tapi sebenarnya, itu adalah sisa getaran dimensional dari pertempuran yang terjadi semalam — pertempuran yang membuat Sailor Moon berlutut sambil memeluk udara kosong tempat DewaBuku menghilang.

Dan di titik inilah, setelah kekalahan paling emosional dalam hidupnya sejak ia bertugas sebagai Sailor Guardian, ia berdiri sendirian, tangannya masih gemetar, napas tersendat karena rasa kehilangan yang terlalu besar. Namun pagi itu tidak memberinya waktu untuk tenggelam dalam kesedihan. Ada sesuatu yang berubah di udara. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sesuatu yang membuat rambutnya berdiri.

Sailor Moon masih berada di area reruntuhan gudang tua saat sensasi itu pertama kali muncul — sensasi yang sangat lemah, hampir tidak terdengar, tapi membuat seluruh tekanan dalam dadanya seolah terhenti sekejap. Itu bukan suara musuh. Bukan gema Umbra Prime. Bukan bisikan gelap dari Lady Umbra.

Itu… berbeda.

Itu seperti suara halaman buku yang dibalik dengan sangat pelan. Seperti sebuah perpustakaan yang berbisik. Seperti ada dunia lain yang memanggil dari balik lapisan-lapisan kenyataan.

Dan suara itu memanggil namanya.

Ia terpaku, berdiri tanpa bergerak, seperti terpaku oleh benang yang tak kasat mata. Dalam beberapa detik, ia merasa sedang berada di dua tempat sekaligus — di Teluk Gong yang hening dan di ruang tak bernama yang dipenuhi cahaya biru kusam. Ruang itu tampak seperti koridor yang tak ada ujungnya, seakan dibentuk dari lembaran-lembaran cahaya yang melayang. Semuanya bergerak pelan, seperti awan yang dibuat dari memori.

Suara itu kembali muncul — lebih jernih kali ini.

Dan Sailor Moon tahu persis siapa pemilik suara tersebut.

Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, terisak — tapi tidak berani berbicara, tidak yakin apakah suara itu nyata atau hanya harapan yang mencoba menyamar sebagai kenyataan.

Pada waktu yang sama, di tempat yang jauh di luar batas pemahaman manusia, DewaBuku berdiri di tengah pusaran cahaya biru yang menelan teks-teks hidup, menghimpun serpihan-serpihan ingatan yang berputar liar di sekitarnya. Arsip Nol bukan tempat yang diciptakan untuk manusia. Ketika sebuah pikiran manusia masuk ke dalamnya, realitas tidak lagi mengikuti aturan normal. Waktu tidak lurus. Kenangan tidak kronologis. Dan informasi tidak hanya disimpan — informasi hidup, bernapas, berbisik, bertanya, dan menunggu untuk dibaca.

DewaBuku berdiri di sana, wajahnya tertutup masker hitam yang membentuk garis tegas, kacamata hitamnya memantulkan cahaya biru yang tak pernah padam. Ia tidak takut. Tidak panik. Ia hanya mencoba memahami — atau lebih tepatnya, merasakan — di mana titik paling stabil dari ruang ini berada. Arsip Nol adalah dimensi berbasis memori, bukan fisik. Jadi seseorang tidak bisa mencarinya menggunakan logika ruang biasa. Untuk bertahan, seseorang harus memahami dirinya sendiri. Dan itulah yang DewaBuku lakukan.

Ia berdiri diam di tengah badai memori, merasakan aliran informasi yang mengalir dari setiap arah — dari dunia, dari bayangannya sendiri, dari masa lalu, dari kemungkinan masa depan. Ia menyaring. Ia menyusun. Ia memilih. Ia mengembalikan serpihan-serpihan itu ke posisinya. Dan semakin ia melakukannya, semakin ruang di sekelilingnya menyesuaikan diri.

Arsip Nol mulai merespons.

Dinding cahaya biru itu bergerak, seperti tarikan napas lambat. Lantai memanjang, membentuk garis lurus seakan menciptakan jalan. DewaBuku tidak bergerak. Ia membiarkan ruang itu mengatur aturan baru. Dan ketika semuanya menjadi stabil untuk sesaat, itulah pertama kalinya ia bisa mendengar dunia luar.

Lebih tepatnya… suara seseorang.

Suara yang sangat ia kenal.

Suara yang memanggilnya dengan putus asa.

Ia menoleh — ke arah yang seharusnya tidak ada apa-apa — namun di sana, seberkas pendar perak-samudera berkedip lemah. Cahaya itu seperti retakan kecil di antara dua realitas. Dan dari retakan itu, terdengar suara lirih.

Ia memajukan sedikit tubuhnya. Cahaya biru di sekelilingnya bergetar. Dan suara itu kembali terdengar, lebih jelas.

Sailor Moon.

Ia mencoba menjawab dengan nada selembut mungkin, menjaga agar kestabilan Arsip Nol tidak runtuh. Dimensi ini sensitif. Satu getaran emosi terlalu kuat bisa merobek strukturnya, membuatnya terlempar semakin jauh masuk ke lapisan terdalam Arsip Nol — tempat bahkan ingatan pun tidak bisa kembali. Jadi ia memilih kata yang paling aman, paling stabil, paling mampu menjaga keseimbangan dimensi:

Sebuah kata yang sederhana, tapi penuh makna bagi Sailor Moon.

Ia mengucapkannya seperti bisikan yang digabung dengan cahaya.

Dan di Teluk Gong, Sailor Moon jatuh berlutut karena lututnya tidak sanggup menopang tubuhnya.

Karena suara itu… nyata.

Bukan halusinasi. Bukan harapan palsu. Bukan efek samping dari kekalahan.

Itu suara DewaBuku.

Tapi begitu Sailor Moon mencoba menjawab, retakan cahaya itu langsung bergetar. Suaranya terlalu kuat untuk dimensi itu. Ia menutup mulutnya lagi, air mata bergulir tanpa kontrol. Ia harus menahan seluruh dorongan untuk memanggil kembali. Ia berusaha keras mengendalikan pernapasan agar tidak menyebabkan getaran berlebihan. Ia memahami pola itu: suara dari dunia fisik dapat mengganggu keseimbangan ruang ingatan.

Ia mengusap air mata. Ia menegakkan punggung. Ia bercahaya. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menemukan cara untuk membuka jalan menuju Arsip Nol.

Karena nyawa DewaBuku tidak berada dalam bahaya fisik… tetapi dalam bahaya metafisik. Jika ia terperangkap terlalu lama, ingatannya akan mulai terurai menjadi serpihan yang menyatu dengan ruang itu. Ia tidak bisa mati di sana — tapi ia bisa hilang sebagai individu.

Sailor Moon tidak akan membiarkan itu terjadi.

Ia berdiri dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya, dan memulai pencarian. Ia meninggalkan Teluk Gong dengan langkah ringan namun hati penuh beban. Pusat pencariannya bukan lokasi fisik, melainkan lokasi energi. Ia harus mencari sumber resonansi memori yang terhubung dengan Arsip Nol. Tempat-tempat yang memiliki catatan sejarah kuat. Tempat-tempat yang menyimpan kenangan intens. Tempat-tempat di mana realitas menipis secara alami.

Jakarta memiliki banyak tempat seperti itu.

Ia memulai pencarian dari kawasan yang paling dekat dengan kejadian semalam. Pabrik-pabrik tua. Gudang-gudang besar yang ditinggalkan. Jalan-jalan sempit antara tumpukan kontainer. Setiap tempat yang ia lalui menyimpan sedikit sisa energi dimensi. Namun tidak ada yang cukup kuat. Tidak ada satu pun yang bisa membuka portal.

Hingga ia mendekati sebuah gedung tua yang sudah dipenuhi mural. Gedung itu dulunya adalah tempat penyimpanan arsip perusahaan besar pada era 80-an. Dan di sana… ia merasakan riak yang sama. Riak yang identik dengan suara DewaBuku.

Ia berjalan memasuki gedung itu. Hiruk pikuk kota hilang. Cahaya lampu jalan tidak mampu menembus interiornya. Suara angin tidak terdengar. Udara terasa berat — seperti perpustakaan tua yang penuh buku tebal yang belum pernah dibuka selama puluhan tahun.

Ketika ia menyentuh salah satu dindingnya, ada getaran begitu halus seperti sentuhan halaman.

Dan tiba-tiba, suara itu terdengar lagi.

Kali ini lebih jelas.

Lebih dekat.

Lebih hangat.

Ia memejamkan mata, membiarkan suara itu masuk ke dalam kesadaran tanpa ditahan. Ia merasakan denyut cahaya. Merasakan pola frekuensinya. Merasakan bentuk memori yang ingin dikirimkan. Suara itu tidak berbicara banyak. Tidak bisa berbicara banyak. Namun suara itu menyampaikan satu hal:

Lokasi.

Koordinat.

Bukan fisik.

Melainkan titik resonansi.

Ia langsung tahu apa artinya. Untuk masuk ke dalam Arsip Nol, ia tidak butuh pintu. Ia butuh memori dengan frekuensi yang cocok. Ia butuh kenangan yang tidak bisa dipisahkan dari DewaBuku. Ia butuh emosi paling kuat yang menghubungkan mereka.

Dan memori itu… ada di tempat yang sangat spesifik.

Tempat yang ia dan DewaBuku datangi bersama — tempat di mana ia pertama kali menyadari bahwa DewaBuku bukan sekadar manusia bijak, tapi seseorang yang membawa beban masa lalu yang lebih besar dari apa pun yang ia bayangkan.

Tempat itu adalah jantung dari Jakarta malam.

Tempat itu adalah awal dari segala perubahan.

Dan ketika Sailor Moon membuka mata, ia tahu persis ke mana ia harus pergi.

Ia harus kembali ke lokasi pertama kali mereka bertarung bersama: Cengkareng.

Di sana, kenangan paling kuat berada.

Dan di sanalah portal pertama menuju Arsip Nol dapat dibuka.

Ia berlari, sinar peraknya menyapu gelapnya malam, meninggalkan jejak lembut di udara. Setiap langkah membawa tekad, membawa harapan, membawa cinta yang tersembunyi dalam bentuk paling rahasia. Ia tidak bisa membiarkan DewaBuku terus terperangkap. Ia tidak akan membiarkan laki-laki yang mengubah hidupnya hilang di dimensi yang tidak memiliki waktu.

Dan di Arsip Nol, DewaBuku berdiri menatap seberkas cahaya kecil yang semakin stabil, merasakan koneksi semakin kuat.

Ia tidak tersenyum.

Tapi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Karena ia tahu.

Sailor Moon sedang datang menjemputnya.

Perlahan tapi pasti.

Dan inilah awal dari perjalanan yang lebih berbahaya daripada semua pertempuran sebelumnya.

Karena para penjaga Arsip Nol — entitas yang bahkan Umbra Prime takutkan — sudah mulai terbangun.

Dan mereka tidak suka ada manusia yang mencoba keluar.

Bersambung ke Episode SAILORMOON – KEPUTUSAN DARI ARSIP NOL (PART 13)

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
SAILORMOON - DEWA BUKU DITARIK KELUAR DARI ARSIP NOL (PART 14)

Kelelahan yang menyergap para Sailor Guardian malam itu bukan sekadar letih fisik. Ada sesuatu yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON – PENJAGA YANG DIAWASI (PART 19)

Setelah berpikir seperti itu, DewaBuku merasa bahwa perutnya sudah kosong karena selama sehari semalam tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON – MANIFESTASI DENDAM BRAHMA SURYA (PART 17)

Tidak semua kehancuran dimulai dengan ledakan.Sebagian dimulai dengan kesadaran. Pukul 00.17 WIB, Teluk Gong berhenti...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON – SEMUA TELAH TERJADI (PART 15)

Pagi baru mulai merayap masuk ke cakrawala Jakarta ketika elevator rahasia di bawah Hotel Fairmont...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — ROJALI SUDAH BUKAN ROJALI (PART 3)

Beberapa hari kemudian, gudang di Kembangan berubah jadi tempat rapat besar.Brahma Surya mempersiapkan pengiriman “serbuk...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!