
Tidak semua kehancuran dimulai dengan ledakan.
Sebagian dimulai dengan kesadaran.
Pukul 00.17 WIB, Teluk Gong berhenti menjadi kawasan industri. Ia berubah menjadi simpul kosmik — titik di mana kehendak, dendam, dan sejarah yang disangkal bertabrakan. Tidak ada hujan, tidak ada petir. Namun udara terasa berat, seperti dunia sedang ditekan dari dua sisi realitas yang berbeda.
Gudang-gudang tua runtuh perlahan. Bukan karena benturan fisik, melainkan karena konsep ruang yang gagal mempertahankan bentuknya. Baja berkarat melengkung seperti kertas basah. Beton retak membentuk pola spiral yang tidak mengikuti hukum geometri manusia.
Di pusat kehancuran itu, Brahma Surya berdiri.
Ia tidak turun dari langit. Ia tidak muncul dari api.
Ia terbentuk.
Tubuhnya bukan manusia, bukan pula dewa sepenuhnya. Struktur energinya tersusun dari lapisan ingatan: wajah-wajah yang pernah ia gunakan, data yang dicuri Consortium Umbra, emosi manusia yang diperas hingga kering. Cahaya hitam kemerahan menyelimuti wujudnya seperti kulit kedua.
Setiap denyut energinya mengirimkan gelombang tekanan ke seluruh Teluk Gong.
Dan untuk pertama kalinya sejak keberadaannya terfragmentasi, Brahma Surya sadar sepenuhnya. Dia sadar bahwa sewaktu dia menjadi manusia biasa, dia adalah pimpinan utama Violet Dragon. Sedangkan sekarang dia tidak bisa menjadi manusia lagi. Hanya dalam waktu kurang dari 30 menit kesadarannya sebagai mantan manusia pulih. Dia teringat ketika terjadi ledakan di gudang tua itu dia melarikan diri keluar tetapi tersandung pipa besi dan jatuh terjerembab diatas batu yang keras. Waktu itu dalam keadaan setengah sadar dia melihat ada dua pria tinggi besar berpakaian ilmuwan menyuntik lengannya dengan cairan ungu lalu membopongnya kedalam sebuah mobil Van. Pakaian ilmuwan yang mereka kenakan waktu itu berupa jas putih panjang yang di dada kirinya ada tulisan “Consortium Umbra”.
Brahma Surya mendengus pelan, “Gara-gara Yanto berkhianat, aku jadi seperti ini. Sialan.”
Setelah mendengus itu dia kembali berubah menjadi entitas asing lagi. Tiba-tiba ada bayangan-bayangan datang mengelilinginya. Semuanya terus bergerak di sekelilingnya.
Bayangan di sekelilingnya bergerak tidak sinkron. Itulah Lady Umbra — dengan kata lain, dia adalah Sri Sumarni generasi kedua, seorang mantan sahabat karib dan kekasih DewaBuku yang sekarang berubah menjadi suatu entitas yang bukan manusia lagi. Dia tidak berbentuk, tidak utuh, tetapi hadir. Ia menyatu dengan celah cahaya, dengan bayang gudang, dengan keraguan yang tumbuh di sudut pikiran manusia.
Di sisi timur gudang, dua sosok berdiri.
DewaBuku melangkah satu langkah ke depan. Jaketnya terkoyak oleh tekanan energi, napasnya berat, tetapi matanya fokus. Tidak ada ketakutan di sana — yang ada hanya kesiapan untuk kehilangan sesuatu.
Di sampingnya, Usagi telah berubah ke wujud penuhnya sebagai Sailor Moon. Cahaya bulan menyelubungi tubuhnya, memotong kegelapan seperti pisau perak. Cincin uranium di jarinya berdenyut kuat, nyaris panas.
Untuk sesaat, Teluk Gong menjadi panggung dua prinsip kosmik:
Dendam yang ingin diakui
melawan
Harapan yang memilih bertahan
Brahma Surya Bicara, suaranya berat dan pecah, suaranya terdengar seperti suara ratusan orang yang berbicara secara bersamaan.
Udara bergetar.
Suara itu tidak datang dari mulut. Ia datang dari segala arah sekaligus, masuk ke telinga, dada, dan ingatan.
“Kalian…”
Nada suaranya bukan amarah murni. Ada kelelahan di sana. Ada kesadaran.
“Kalian menyebutku kehancuran.”
“Padahal aku adalah hasil dari apa yang kalian simpan, sembunyikan, dan buang.”
DewaBuku tidak bergerak. Ia mendengarkan.
Usagi mengeraskan posturnya, tapi tidak menyerang.
“Aku bukan lahir dari kegelapan.”
“Aku lahir dari arsip.”
“Dari rahasia yang kalian takutkan.”
Lady Umbra berbisik lembut, memperkuat resonansi itu. Bayangan di lantai bergerak, mencoba menarik kesadaran DewaBuku ke sisa Arsip Nol.
“Kau membaca kami, Guru.” lanjut Brahma, suaranya kini mengarah langsung pada DewaBuku.
“Dan karena itu… kau bagian dari kami.”
DewaBuku akhirnya berbicara, suaranya tenang tapi tegas.
“Aku membaca. Tapi aku tidak menyimpan. Lagipula aku sudah bukan gurumu lagi.”
“Dan di situlah perbedaannya.”
Brahma Surya tertawa pendek — suara retak seperti logam patah, “Manusia selalu berkata begitu. Jangan menyangkal kenyataan bahwa kau adalah guruku.”
DewaBuku berusaha menahan amarahnya, “Dulu….itu dulu Brahma! Tapi kamu sudah menyelewengkan ciptaanku. Kamu sudah melampaui batas. Harap kamu ingat, aku sudah lama bukan gurumu lagi dan aku sudah lama ingin menghancurkan proyek jahat itu.”
Brahma Surya kembali tertawa pendek, terdengar seperti alumunium yang retak, “Munafik!”
“Kamulah yang munafik, membunuh Brahma Surya dan mengambil memorinya!” seru DewaBuku dengan sedikit marah.
“Ternyata kau sudah tahu, wahai manusia. Baiklah.” suara Brahma Surya masih saja terdengar di seluruh ruangan bagaikan suara ratusan manusia yang berbicara secara bersamaan.
Udara semakin lama semakin berat, menekan lemari, meja, kursi, mobil, dan apapun sampai hancur.
BRAAAKKK….BRAAAKKK…BRAAAKKKK
Tekanan meningkat. Lantai gudang runtuh lebih dalam. Air laut dari kanal terdekat mulai merembes masuk, menguap seketika saat menyentuh medan energi Brahma Surya.
Ketika air menguap saat menyentuh energi Brahma Surya itulah terjadi sebuah Benturan Konsep. Sebuah konsep cikal bakal pertempuran yang tidak disadari oleh zat-zat disekitarnya, baik zat cair maupun zat padat. Kecuali udara dan angin, karena energi Brahma Surya selalu melewati dua jenis zat itu.
Pertempuran tidak dimulai dengan serangan.
Ia dimulai dengan upaya dominasi realitas.
Lady Umbra bergerak lebih aktif. Bayangan memanjang, mencoba menautkan kembali DewaBuku ke sisa-sisa Arsip Nol yang masih tertanam di tubuhnya. Kilasan memori muncul: lorong tak berujung, server neuro-astral, suara manusia yang pernah dihapus.
DewaBuku merasa sedikit pusing, dia memegangi kepalanya sesaat sebelum Usagi melangkahkan kakinya. Kemudian Usagi melangkah di depannya untuk membuat perisai dari sinar bulan. Dia bermaksud melindungi DewaBuku yang sedang sakit kepala, cahaya bulan diluar sana semakin menguat dan menembus melalui celah atap.
Lady Umbra masih sibuk mencoba memusatkan energinya untuk menautkan gelombang dari kepala DewaBuku. “Dia tidak lagi terhubung,” katanya dingin.
Usagi pun berkata, “Kau terlambat.”
Lady Umbra merespons tanpa suara. Tekanan mental menghantam Usagi, mencoba menanam keraguan: Bagaimana jika cahaya tidak cukup? Bagaimana jika pengorbanan sia-sia?
DewaBuku menarik napas panjang.
Ia membuat keputusan.
Dengan kesadaran penuh, ia memutus seluruh sisa akses ke Arsip Nol. Tidak ada ritual. Tidak ada efek visual dramatis. Hanya satu momen hening — lalu sesuatu di dalam dirinya hilang.
Ia jatuh berlutut.
Darah menetes dari hidungnya.
Lady Umbra bereaksi keras. Bayangannya terdistorsi, seolah kehilangan jangkar.
“Tidak — ”
Untuk pertama kalinya, ada kepanikan dalam eksistensinya.
Brahma Surya meraung. Energinya meledak liar, gelombang mentah menghantam gudang dan sekitarnya. Teluk Gong hampir lenyap.
Usagi bergerak.
Cincin uranium menyala maksimal. Cahaya bulan, energi primordial, dan sisa kode kosmik Sailor Guardian menyatu. Ia tidak menyerang dengan niat menghancurkan.
Ia memurnikan.
Cahaya menyelimuti Brahma Surya.
Brahma Surya berteriak — bukan kesakitan, tetapi kesadaran yang runtuh.
“Jika aku pergi…”
“Ingatlah… aku adalah bayangan kalian.”
Fragmen energinya terurai, satu per satu, kehilangan kehendak destruktifnya. Cahaya hitam kemerahan memudar menjadi debu cahaya yang terangkat ke udara, lalu lenyap.
Lady Umbra menjerit tanpa suara. Bayangannya terbelah, tercerai oleh cahaya bulan, lalu menghilang ke celah realitas yang menutup dirinya sendiri.
Langit Jakarta terbuka.
Awan hitam lenyap.
Kabut Teluk Gong menghilang.
Sunyi turun perlahan, berat tapi damai.
Usagi berlutut, napasnya berat.
DewaBuku berdiri tertatih, menatap langit yang kembali normal.
Mereka selamat.
Tapi tidak tanpa kehilangan.
Dan mereka tahu:
energi cincin uranium belum menunjukkan wujud penuhnya.
Teluk Gong kembali sunyi.
Gudang-gudang runtuh diam. Laut berkilau pelan.
Dua sosok berdiri di tengah puing dunia yang hampir berakhir.
Ini bukan kemenangan mutlak.
Ini adalah harga.
Dan harga itu akan dibayar sepenuhnya di episode berikutnya.
Bersambung ke episode SAILORMOON – ENERGI DAHSYAT CINCIN URANIUM USAGI (PART 18)
Author Profile
Categories
Related Posts
Ledakan cahaya hitam keemasan yang merobek gudang di Teluk Gong itu tidak hanya mengguncang bangunan,...
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi baru mulai merayap masuk ke cakrawala Jakarta ketika elevator rahasia di bawah Hotel Fairmont...
Read MoreDewaBukuJSW
Jakarta Barat, pukul 04.07 pagi. Langit mulai memudar ke abu-abu muda, tapi udara masih berat...
Read MoreDewaBukuJSW
Cahaya fajar baru saja menyentuh langit Jakarta ketika sesuatu yang tidak biasa terjadi di seluruh...
Read MoreDewaBukuJSW
Pintu besi tua itu mengerang pelan saat didorong, seperti benda yang sudah terlalu lama memendam...
Read More