
Pintu besi tua itu mengerang pelan saat didorong, seperti benda yang sudah terlalu lama memendam rahasia.
Begitu celahnya terbuka, cahaya merah-keemasan menyergap keluar — bukan cahaya yang hangat…. tapi cahaya yang bergerak seperti makhluk hidup.
SailorMoon menahan napas.
DewaBuku merapatkan coat-nya. Bahunya mengeras.
Di tengah gudang, tepat di lantai beton yang retak-retak, sebuah spiral retakan realitas melayang beberapa sentimeter dari tanah. Ujung-ujung retakannya berdenyut seperti urat nadi raksasa. Cahaya di dalamnya berputar dalam pola yang sama sekali nggak menyerupai hukum fisika dunia.
“Ini…. bukan Helios.” bisik SailorMoon.
“Ya.” suara DewaBuku pelan tapi tegas.
“Ini jauh…. jauh sebelum Helios ditemukan.”
Frekuensi rendah dari spiral itu membuat baut-baut di dinding bergetar, kontainer baja mengeluarkan dengungan dalam, dan udara terasa seperti dihisap ke arah pusat lingkaran.
DewaBuku melangkah lebih dekat.
Suaranya merendah, hampir seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang sedang tidur.
“Ini Arsip Nol.”
SailorMoon mengerutkan dahi.
“Aku belum pernah dengar tentang itu.”
“Karena memang nggak boleh ada yang tahu.”
DewaBuku menatapnya sebentar, seakan sedang menakar apakah ia harus mengatakan ini atau tidak.
“Arsip Nol adalah…. permulaan dari semua arsip Umbra. Sebuah ruang yang merekam memori…. bahkan sebelum manusia lahir.”
SailorMoon tercengang.
“Jadi…. ini lebih tua dari Umbra?”
“Ya.”
DewaBuku menatap retakan itu, sorot matanya dingin sekaligus penuh rasa bersalah.
“Ini adalah arsip kegelapan pertama. Sumber dari semua anomali energi yang kemudian diteliti Umbra selama ribuan tahun. Dan sesuatu di dalamnya…. sedang bangun.”
Tiba–tiba retakan spiral itu terhenti.
Cahayanya mengeras.
Udara mengental.
Dan dari celah yang bergerak itu — keluar sepotong tangan berwarna emas kelam, seperti pahatan logam kuno tapi hidup.
SailorMoon mundur setengah langkah.
“Apa itu?!”
DewaBuku tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak SailorMoon mengenalnya…. ia terlihat takut.
Tangan itu meremas udara.
Dan saat membuka kepalan, suara laki-laki tua bergema dari dalam retakan:
“Raka…. penjaga kecil…. kau akhirnya kembali.”
SailorMoon menoleh kaget.
“Dia tahu nama asli Kk?!”
DewaBuku menelan napas.
Suara itu — ia tahu suara itu, meski tak pernah ingin mendengarnya lagi.
“Ng — nggak mungkin….”
DewaBuku memundurkan satu kaki.
Karena dari celah spiral itu, sebuah wajah mulai terbentuk.
Wajah yang tidak sepenuhnya manusia.
Seperti topeng emas dengan retakan ungu, mata menyala bagaikan bara dari dimensi lain.
Sosok itu melangkah keluar perlahan, setinggi hampir tiga meter, setiap jejaknya membuat lantai retak seperti kaca.
Dan namanya…. adalah sesuatu yang tidak pernah boleh diucapkan.
“Umbra Prime.”
DewaBuku berbisik.
“Tulang punggung dari seluruh arsip. Entitas yang seharusnya terkunci selamanya.”
SailorMoon membuka stance bertarung.
“Kk! Kita harus menghentikannya sekarang!”
DewaBuku menahan bahunya.
“Tidak. Dia bukan makhluk yang bisa kau serang begitu saja. Umbra Prime adalah arsip memori dari jutaan keberadaan yang pernah hidup dan mati sebelum sejarah tercatat. Dia — ”
Suara itu menginterupsi dengan gema berat.
“Raka…. kau membawa penerus cahaya.”
Umbra Prime menatap SailorMoon.
“Menantu Helios…. yang seharusnya tidak ikut campur.”
SailorMoon terkejut.
“Aku — menantu — apa?!”
DewaBuku langsung menariknya ke belakang.
“Jangan dengarkan! Dia memutarbalikkan segalanya!”
Umbra Prime melangkah maju selangkah.
Gudang bergetar seperti terkena gempa kecil.
“Helios tidak hanya mesin, Raka.”
“Dia…. makhluk.”
“Dan dia memilih gadis itu sebagai penjaga cahaya terakhir.”
SailorMoon merasakan jantungnya berdetak keras.
Seolah sesuatu di dalam dirinya…. sedang diaktifkan.
“Apa maksudnya, Kk?”
DewaBuku memejamkan mata.
Ia terlihat lebih tua, letih, dan…. kalah oleh kenyataan.
“….aku berharap hari ini nggak pernah datang.” katanya lirih.
Umbra Prime membuka kedua tangannya.
Cahaya spiral di belakangnya semakin melebar — menciptakan lorong realitas lain.
“Raka…. kau telah menyimpan dosa terlalu lama.”
“Dan kini, waktu membayarnya telah tiba.”
Suaranya menurun jadi bisikan yang mengguncang tulang.
“Bawa penerus cahaya itu masuk.”
Tiba-tiba — BUMMM!
Energi keemasan meledak dari belakang SailorMoon, membentuk perisai bundar raksasa yang mendorong Umbra Prime beberapa meter ke belakang.
DewaBuku membeku.
Karena cahaya itu….
bukan muncul dari SailorMoon.
Tetapi dari buku hitam DewaBuku yang terselip di coat-nya.
Buku itu keluar sendiri — melayang ke udara.
Halaman-halamannya terbuka dan berputar cepat, membentuk simbol kuno yang sama dengan simbol di Arsip Lapis Ketiga.
SailorMoon panik.
“Kk?! Kenapa bukunya bergerak sendiri?!”
DewaBuku menatap buku itu dengan tatapan ngeri.
“Karena…. buku itu bukan hanya catatan.”
Napasnya tercekat.
“Itu…. segel tubuh asli Lady Umbra.”
SailorMoon menutup mulutnya.
“A-apa?!”
DewaBuku menatap Umbra Prime yang kini sedang tertarik oleh cahaya segel itu.
“Dan kalau segel itu pecah…. Lady Umbra akan kembali. Lengkap. Dengan semua kekuatan versi pertama dan kedua.”
Umbra Prime tertawa dengan suara yang mengguncang seluruh gudang.
“Maka sempurnalah…. kembalinya malam abadi.”
Cahaya spiral meluap.
Buku hitam retak di udara.
SailorMoon memegang tangan DewaBuku.
“Kk…. apa yang harus kita lakukan?!”
DewaBuku menghela napas — panjang, putus asa, dan berat.
“….kita harus menghancurkan segel itu sebelum dia bangkit.”
“Tapi kalau aku yang melakukannya…. aku mati.”
SailorMoon menatapnya dengan mata membesar.
“Apa?! Tidak! Itu gila — !”
DewaBuku memaksanya mundur.
“Ini…. satu-satunya cara menebus semua kesalahanku.”
Di luar, langit Kapuk bergetar.
Air laut naik, membentuk gelombang yang tak wajar.
Karena bangunnya entitas besar akan memecah keseimbangan bumi.
DewaBuku menatap SailorMoon untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah ke arah inti cahaya.
“Jika aku jatuh nanti….”
suara DewaBuku pecah,
“….tolong jaga Sri Sumarni generasi kedua. Jangan biarkan dia bangkit sebagai Umbra sepenuhnya.”
SailorMoon menangis.
“Kk jangan pergi! Kk belum — belum menjelaskan semuanya!”
DewaBuku berhenti tepat tiga langkah dari buku hitam yang retak.
Ia menoleh.
Suaranya lembut, nyaris seperti Raka yang dulu. Jauh sebelum Raka menghapus namanya dan menjadi DewaBuku.
“Aku sudah terlalu lama hidup dengan bayangan. Sudah saatnya aku menghadapi cahaya. Dosaku sudah terlalu banyak.”
Ia membuka sarung tangan.
Cahaya dari buku hitam menyambar tangan telanjang itu….ZAPPPP!!!! DewaBuku tersedot kedalam cahaya spiral keemasan yang kini semakin melebar menjadi sebuah lorong.
SailorMoon menjerit:
“DewaBukuuuuu!!!”
Dan pada saat itu —
Umbra Prime mendorong seluruh energi spiral ke arah DewaBuku.
Buku hitam pecah.
Cahaya hitam dan keemasan bercampur.
Gudang meledak oleh energi yang tidak manusiawi…..DHUAAARRRR!!!!!
Bersambung ke Episode SAILORMOON — JEJAK TERAKHIR DI ARSIP NOL (PART 10)
Author Profile
Categories
Related Posts
Hening selalu punya cara untuk menyembunyikan bising. Jakarta pada dini hari itu terlihat seperti tubuh...
Read MoreDewaBukuJSW
Jakarta Utara, Teluk Pluit. Pukul 05.23 pagi. Kabut tebal menggantung di atas perairan.Dari kejauhan, pelabuhan...
Read MoreDewaBukuJSW
Keesokan harinya…. Cuaca hari ini sama mendungnya dengan pikiran DewaBuku, mungkin sewaktu ada Brahma Surya...
Read MoreDewaBukuJSW
Beberapa hari kemudian, gudang di Kembangan berubah jadi tempat rapat besar.Brahma Surya mempersiapkan pengiriman “serbuk...
Read MoreDewaBukuJSW
Kabut tipis yang turun perlahan di wilayah Teluk Gong pada dini hari itu membawa hawa...
Read More