
Jakarta Barat, pukul 04.07 pagi.
Langit mulai memudar ke abu-abu muda, tapi udara masih berat oleh sisa hujan dan bau besi terbakar dari reruntuhan separuh bangunan barbershop JSW Gentlemen’s Room. Ya….barbershop JSW Gentlemen’s Room terbakar sebagian akibat korsleting listrik yang disebabkan oleh runtuhnya reklame besar tadi. Di pinggir jalan, polisi sudah memasang garis kuning, sementara dua petugas Damkar sibuk menyemprotkan air ke tiang reklame yang masih mengepulkan asap tipis.
SailorMoon berdiri diam di bawah atap ruko sebelah, rok birunya basah menempel di kulit pahanya akibat hujan gerimis. Matanya sembab, tapi tenang. Di sebelahnya, DewaBuku masih memegang silet perak yang kini kusam oleh darah dan air hujan.
“Dia mati dengan tersenyum,” ujar SailorMoon pelan.
DewaBuku menatap langit. “Dan itu… jarang terjadi di dunia ini.”
Sailormoon melirik wajah DewaBuku dengan agak trenyuh, “….dan tempat usahamu hancur sebagian.”
“Nggak apa-apa, semua kebaikan butuh pengorbanan.” ujar DewaBuku tenang sambil membersihkan silet peraknya dan memasukkannya di saku jaketnya.
Suara radio polisi terdengar sayup di belakang mereka.
“Unit 34 ke pos pusat. Kami menemukan sesuatu di lokasi kejadian. Bukan bom, tapi semacam kapsul logam dengan simbol bulan sabit di tengah.”
DewaBuku menoleh cepat. “Kapsul?”
SailorMoon menatapnya curiga. “Simbol bulan sabit?”
DewaBuku tidak menjawab. Ia langsung berjalan cepat ke arah garis polisi, menunjukkan tanda pengenal lipat yang entah dari mana munculnya — kartu dengan lambang “Divisi Arsip Kota Jakarta”, yang rupanya selalu berhasil membuat petugas mundur setengah langkah tanpa banyak tanya. Semua petugas polisi sangat respect terhadap lambang itu.
Begitu garis dibuka, keduanya masuk ke dalam area reruntuhan. Di antara pecahan kaca dan papan kayu terbakar, benda itu terlihat jelas: silinder kecil seukuran botol parfum non alkohol yang biasa dipakai untuk sholat Jumat, berwarna hitam dengan pola ukiran perak di permukaannya.
Dan di bagian bawahnya, ada tulisan halus:
“Property of Project Lunaris – YANTO.”
SailorMoon menahan napas.
“Yanto…? Tunggu… Yanto itu kan—”
“—tukang servis aki yang dulu kerja di bengkel belakang pasar Meruya, dan menjadi pejuang di Afghanistan. Dia ahli merakit bahan peledak.” potong DewaBuku dengan nada rendah. “Dia orang yang kamu selamatkan dua minggu lalu dari serangan monster kabut di Kali Angke, dan direkrut oleh Brahma Surya.”
SailorMoon mengingat dengan jelas — pria sederhana agak kurus, tinggi, berambut agak panjang dan sedikit keriting, berkumis tipis, berpembawaan tenang, selalu membawa alat semacam pengait di tangan kanannya, memakai sandal jepit, yang waktu itu dia memakai kemeja hitam lengan panjang dan sempat berteriak “Saya cuma mau beli nasi uduk!” sebelum kabut hitam menelan separuh jalan. Tapi… bukankah Yanto bilang setelah itu dia mau ke warteg dan menghilang tanpa kabar?
“Nggak mungkin,” gumam SailorMoon. “Dia cuma orang biasa.”
DewaBuku menatap kapsul itu, lalu mendekatkannya ke telinganya. Suara dengungan halus terdengar, seperti mesin yang belum benar-benar mati.
“Orang biasa nggak bakal ninggalin benda apapun dari proyek rahasia.” gumam DewaBuku
Sebelum SailorMoon sempat bertanya, kapsul itu tiba-tiba bergetar pelan. Permukaannya memanas, memancarkan cahaya biru pucat yang menembus udara lembab. Dari dalamnya keluar semacam hologram — gambar buram seorang pria berkumis tipis dengan senyum tenang.
Itu Yanto.
“Kalau kalian melihat ini,” suara digitalnya serak tapi jelas, “berarti aku gagal menghapus jejak Violet Dragon. Mereka tahu aku bukan teknisi biasa. Aku bagian dari tim pertama yang menguji Lunaris Drive — mesin yang bisa memanipulasi energi bulan untuk… memperkuat pikiran manusia.”
SailorMoon terbelalak. “Lunaris Drive…?”
DewaBuku menunduk sedikit, wajahnya serius. “Aku pernah dengar. Tapi itu proyek lama — dihentikan sejak insiden Depok tahun 2018.”
“Aku tahu mereka akan datang mencariku,” lanjut suara Yanto. “Mereka pikir aku kabur ke warteg sore itu… padahal aku menitipkan ini ke Rojali dan menuju markas utama mereka di Pluit. Tapi kalau pesan ini sampai ke kalian, berarti Rojali sudah mati….karena di otaknya sudah ditanam chip untuk mempertahankan silinder pesan ini dengan segenap jiwanya. Satu lagi….ada yang jauh lebih besar di balik semua ini. Violet Dragon cuma pion. Yang sebenarnya menggerakkan semua… adalah mereka yang menamai dirinya Consortium Umbra. Brahma Surya itu cuma orang bawah. Aku diminta oleh komisaris Consortium Umbra untuk menjadikan Rojali sebagai mata-mata yang akan menyelidiki loyalitas Brahma Surya kepada Consortium Umbra. Jika dia terbukti loyal, maka mereka akan menjadikannya Entitas khusus untuk melindungi Server pusat, dan setelah itu Brahma Surya sudah bukan manusia lagi, melainkan sebuah entitas purba yang menyimpan milyaran memori manusia bahkan sebelum manusia ada di muka bumi ini. Dia akan melindungi Consortium Umbra dan mustahil untuk dibunuh dengan cara apapun kecuali oleh seseorang dengan hati yang bersih dan tanpa pamrih. Selamat tinggal.”
Hologram berkedip, lalu padam. Kapsul itu retak di bagian bawah dan berhenti berdengung.
SailorMoon menggenggam tongkat kristalnya erat-erat. “Consortium Umbra… organisasi bayangan yang memperdagangkan ‘harapan’, seperti kata kamu semalam?”
DewaBuku mengangguk perlahan. “Dan sekarang kita tahu mereka bukan sekadar pedagang. Mereka pencipta — pencipta ilusi, pencipta kekuatan yang bisa menipu pikiran manusia. Rojali adalah salah satu korbannya”
Ia menatap ke arah barat, tempat matahari mulai menembus awan.
“Yanto nggak pernah ke warteg. Dia pergi ke neraka, demi menghentikan sesuatu yang bahkan pemerintah pun pura-pura nggak tahu.” ujar DewaBuku menjelaskan.
SailorMoon menarik napas dalam. “Kalau begitu… kita harus ke Pluit.”
DewaBuku menatapnya dengan ekspresi samar. “Pluit, pagi-pagi begini? Di sana pusat distribusi mereka, dan kalau benar Yanto sempat masuk ke markas utama, kemungkinan besar… mereka tahu kita akan datang.”
“Bagus,” balas SailorMoon sambil menatap lurus. “Berarti mereka juga tahu siapa yang akan menghancurkan mereka.”
DewaBuku tersenyum tipis — senyum yang tak terlalu lama bertahan.
“Kalau kamu masih percaya cahaya bisa melawan bayangan, SailorMoon… maka saatnya kamu belajar satu hal.”
“Apa itu?”
“Bayangan hanya muncul kalau ada cahaya yang terlalu terang.”
Ia berjalan pergi, meninggalkan SailorMoon yang berdiri menatap reruntuhan. Di tangan gadis itu, kristal tongkatnya berpendar lembut — bukan keemasan lagi, tapi biru keperakan dengan denyut samar, seolah bereaksi terhadap sesuatu yang jauh… di utara Jakarta.
Dan dari menara tinggi di pusat kota, seseorang sedang memperhatikan mereka melalui layar holografik. Wajahnya tidak terlihat jelas — hanya siluet dengan mata berwarna merah muda menyala.
“DewaBuku…” suara itu bergema pelan, seperti berbisik di antara kabut. “Kau akhirnya keluar dari bayanganmu. Jangan coba-coba bermain denganku….”
Layar padam.
Langit Jakarta memucat. Dan badai baru… perlahan mulai terbentuk di atas Teluk Pluit.
Bersambung ke episode SAILORMOON — BAYANGAN DI TELUK PLUIT (PART 6)
Author Profile
Categories
Related Posts
Jakarta Utara, Teluk Pluit. Pukul 05.23 pagi. Kabut tebal menggantung di atas perairan.Dari kejauhan, pelabuhan...
Read MoreDewaBukuJSW
Setelah fragmen energi Brahma Surya terurai habis satu per satu, awan hitam dan kabut Teluk...
Read MoreDewaBukuJSW
Keesokan harinya…. Cuaca hari ini sama mendungnya dengan pikiran DewaBuku, mungkin sewaktu ada Brahma Surya...
Read MoreDewaBukuJSW
Kelelahan yang menyergap para Sailor Guardian malam itu bukan sekadar letih fisik. Ada sesuatu yang...
Read MoreDewaBukuJSW
Malam di Teluk Gong tidak pernah benar-benar gelap. Lampu-lampu pelabuhan tua masih menyala redup, memantul...
Read More