Skip to content

SAILORMOON – DEWA BUKU DITARIK KELUAR DARI ARSIP NOL (PART 14)

Kelelahan yang menyergap para Sailor Guardian malam itu bukan sekadar letih fisik. Ada sesuatu yang lebih dalam — lebih halus, lebih menusuk — seperti tenaga kehidupan mereka dikuras oleh ruang yang bahkan tidak seharusnya disentuh oleh makhluk hidup. Menghancurkan Luna Sanctum sudah cukup berat, tetapi yang membuat tubuh mereka benar-benar gemetar adalah proses menarik DewaBuku keluar dari dimensi Arsip Nol.

Malam Jakarta terlihat jauh lebih suram dibanding biasanya. Langit di atas Sudirman penuh semburat abu-biru tipis seperti awan radioaktif, sisa-sisa interferensi energi dari dimensi Arsip Nol yang berhasil ditembus oleh para Sailor Guardian. Bangunan-bangunan tinggi memantulkan sisa gemuruh energi itu seperti kaca raksasa yang tidak bisa memutus pantulan cahaya.

Di kejauhan, kendaraan masih melintas, tak mengetahui bahwa beberapa menit sebelumnya, dunia hampir kehilangan para pelindungnya.

Di salah satu titik rahasia di kawasan Senayan, sebuah elevator tua yang tampak seperti pintu servis biasa mulai menyala perlahan. Cahaya biru membentuk garis horizontal dan vertikal, mengikuti pola tertentu, seolah-olah mesin itu membaca ulang identitas semua yang berada di depan pintu. Setelah beberapa detik yang berlangsung seperti satu abad, pintu itu terbuka.

Para Sailor Guardian berjalan masuk satu per satu. Tubuh mereka sedikit membungkuk, langkah kaki melemah, dan aura masing-masing terlihat fluktuatif. Rambut mereka yang biasanya berkilau kini tampak kusut dan kurang cahaya. Bahkan langkah ringan Super Sailor Moon pun terdengar lebih berat, seperti ia membawa beban tak kasatmata.

Dan di tengah mereka, tubuh DewaBuku — penuh goresan, pakaian koyak, dan energi misterius yang masih terjebak di antara pori-porinya — melangkah perlahan ke dalam lift.

Elevator itu bergerak turun secara vertikal dengan kecepatan yang tidak mungkin dijelaskan oleh hukum fisika. Sensor gravitasi hampir tidak terasa, seolah ruang di sekeliling mereka membentuk kantung energi yang meniadakan tarikan bumi. Angin tipis sempat berputar di dalam ruangan, membawa aroma dingin dari dalam tanah.

Ketika angka-angka ketinggian digital berubah menjadi –50M, elevator berhenti dengan desiran halus. Pintu terbuka ke sebuah ruangan bawah tanah raksasa yang tersembunyi di 50 meter di bawah Hotel Fairmont, Jakarta Selatan.

Ruangan ini adalah ruang rapat rahasia yang hanya ada dalam dokumen paling gelap dari Consortium Umbra — dan tidak seorang pun menyangka bahwa DewaBuku, seorang manusia tanpa kekuatan supranatural, pernah membaca seluruh rekaman yang berkaitan dengan tempat ini.

Lampu-lampu kristal berwarna putih kebiruan menggantung di langit-langit kubah baja anti-radar. Suara kecil dari mesin pendingin dan generator multifungsi menyatu jadi satu irama ritmis, seperti jantung buatan yang menjaga ruangan tetap hidup.

Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar dari logam hitam berpendar halus menunggu.

Saat semua Sailor Guardian duduk di kursi masing-masing, mereka tampak seperti sekumpulan ksatria yang baru keluar dari peperangan kosmik. Mata mereka berat, napas naik-turun, dan tubuh mereka sesekali bergetar akibat resonansi energi yang belum stabil.
Namun, semua perhatian tertuju pada satu sosok: DewaBuku.

Ia berdiri di pinggir meja, menatap semua Guardian dengan pandangan yang tidak bisa diartikan: campuran rasa syukur, rasa bersalah, ketegasan, dan beban masa lalu. Ada garis halus di wajahnya, tanda bahwa perjalanan ke Arsip Nol bukanlah sekadar penyelaman data. Itu adalah pertempuran mental dan spiritual.

Perlahan ia mengangkat tangan kanannya. Dari saku mantelnya yang hangus di beberapa bagian, ia mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti sebuah kotak transparan yang terbuat dari kaca energi. Di dalamnya, tujuh cincin bercahaya biru kehijauan berputar pelan seperti planet-planet kecil.

Cincin itu tidak tampak seperti logam biasa. Mereka memancarkan cahaya aneh yang meresap ke udara seperti kabut halus. Setiap cincin memuat inti energi yang berputar sendiri, tetap stabil meskipun tidak ada sumber gravitasi atau tempat bertumpu.

Cincin-cincin itu berasal dari Uranium mentah yang dibentuk ulang oleh hukum energi di dalam dimensi Arsip Nol — sesuatu yang mustahil dilakukan manusia biasa. Bahkan di dunia normal, logam uranium tidak pernah berwarna seperti ini dan tidak pernah terlihat sehalus permukaan kaca.

Ketika kotak itu dibuka, ruangan terasa seperti mengembang sejenak. Udara bergetar. Kandungan ion berubah. Dan seolah ada suara tak terdengar mengalun dari kedalaman dimensi yang tidak dikenal manusia.

DewaBuku memandang cincin tersebut sejenak sebelum menjelaskan: cincin energi ini bukan cuma alat pemulihan stamina; mereka adalah wadah penyatu kekuatan primordial. Bila dipakai oleh manusia biasa, tubuh akan hancur terurai karena tidak mampu menanggung intensitasnya. Tetapi para Sailor Guardian berbeda.

Tubuh mereka adalah wujud energi dan cahaya — mereka adalah kanal yang mampu menerima bentuk daya yang melampaui batas manusia.

Ketika masing-masing Guardian mengambil cincin mereka, sesuatu terjadi.

Begitu jari mereka menyentuh permukaan cincin, cahaya biru memanjang keluar seperti serat-serat optik yang saling membelit lembut. Dalam hitungan detik, tubuh mereka diselimuti efek resonansi spiralis yang mengembalikan stamina mereka. Otot-otot yang sebelumnya tegang kini terasa lebih ringan. Denyut nadi mereka kembali stabil. Aura mereka yang sempat meredup kini kembali berkilau.

Bagi Sailor Jupiter, cahaya cincin itu mengalir di lengan dan bahunya, menguatkan momentum kekuatan petirnya.
Bagi Sailor Venus, energi itu seolah menari di sekitar dirinya, memberi efek kilau keemasan yang memperkuat daya tarik spiritualnya.
Sailor Mars merasakan kehangatan yang berbeda: bukan api biasa, tetapi api yang menghubungkan dimensi.
Sailor Mercury merasakan kejernihan intelektual yang membuat seluruh perhitungan dan algoritma di otaknya bergerak lebih cepat dari sebelumnya.
Dan Super Sailor Moon… tubuhnya bersinar paling terang. Cincin itu seperti memanggil asal-usul kekuatan bulan purba yang pernah hilang.

Beberapa detik kemudian, seluruh ruangan dipenuhi cahaya intens selama tiga detik, lalu padam perlahan.

Para Sailor Guardian terdiam. Mereka merasakan sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya: kekuatan pada level tertinggi yang bahkan melampaui transformasi mereka selama ini.

Di hadapan mereka, DewaBuku menatap dengan senyum tipis. Ia memahami bahwa mereka layak menerima itu semua. Ia tahu bahwa cincin itu tidak untuk dirinya. Ia hanyalah manusia — dan cincin itu bukan bagian dari jalannya.

Ia menundukkan kepala sedikit, memberi hormat pada para prajurit cahaya itu.

Setelah itu DewaBuku mulai menjelaskan informasi yang ia pelajari dari Arsip Nol. Penjelasan itu vital. Ruang bawah tanah terasa seperti ruang perang antar dimensi.

Arsip Nol, menurutnya, bukan hanya wadah memori Consortium Umbra. Itu adalah perpustakaan berlapis-lapis yang menyimpan bayangan energi, pola ego, dan residu niat dari semua manusia yang pernah disentuh konsorsium. Yanto, Rojali, Sri Sumarni, Brahma Surya — semua tersimpan dalam bentuk pola neuro-astral di sebuah server yang tidak bisa dipahami oleh teknologi manusia.

Ada pula fakta yang lebih menegangkan: meskipun Luna Sanctum telah dihancurkan, sebagian kecil percikan energi Brahma Surya belum musnah. Seperti bara api terakhir yang tersembunyi di bawah abu, ia bisa menyala kembali.

Para Sailor Guardian merespons dengan wajah tegang. Ilusi kemenangan ternyata hanya ilusi. Yang mereka hancurkan hanyalah wadah. Bukan sumber utama.

Tetapi inti dari pertemuan itu bukan ancaman itu.
Intinya adalah rasa syukur.

DewaBuku tidak hanya berterima kasih. Ia memberikan penghargaan itu bukan sebagai pemimpin, bukan sebagai komandan, bukan sebagai mentor — tetapi sebagai seseorang yang hidup kembali berkat usaha mereka.

Dan untuk pertama kalinya sejak peristiwa besar itu dimulai, ia merasakan ketenangan sesaat. Sebuah ketenangan yang jarang ia miliki.

Namun pertemuan itu hanya berlangsung singkat. Walau tubuh para Guardian telah kembali pulih, mereka tetap merasakan getaran samar dari cincin energi itu. Artinya, proses sinkronisasi belum selesai. Butuh waktu minimal 24 jam sebelum cincin benar-benar menyatu dengan tubuh mereka.

DewaBuku menyarankan mereka untuk kembali ke titik aman masing-masing dan menghindari penggunaan kekuatan penuh selama proses sinkronisasi berlangsung. Bila mereka memaksa, energi dalam cincin bisa menjadi liar.

Sebagai penutup, DewaBuku melepaskan drone putih kecil berlambang huruf “θ”. Drone itu bergerak perlahan, memindai wajah semua Guardian, lalu membuka selembar peta hologram tiga dimensi dari seluruh Jakarta. Titik-titik merah dan ungu mulai muncul, menandai lokasi-lokasi energi yang terhubung dengan sisa-sisa dimensi Arsip Nol.

Para Guardian saling berpandangan. Mereka sadar bahwa kemenangan ini hanyalah permulaan dari bab berikutnya.

Dimensi Arsip Nol boleh saja telah kehilangan pintu utamanya, tetapi retakan lain masih tertinggal di dunia nyata.

Dan di retakan-retakan itu, sesuatu sedang mencoba keluar.

Pertemuan berakhir.

Setelah para Guardian berjalan naik menuju permukaan, DewaBuku tetap berdiri di tengah ruangan. Ia memandang ke arah bayangannya sendiri yang terlihat memanjang di lantai metal. Di pundaknya, sisa-sisa resonansi energi Arsip Nol masih berputar samar, seperti debu bintang yang belum selesai lenyap.

Ia tahu bahwa tubuhnya masih tercemar oleh sisa dimensi itu. Dan ia tahu bahwa dalam beberapa minggu ke depan, ia akan mengalami berbagai efek samping — entah berupa mimpi-mimpi yang tidak bisa dipahami, entah berupa suara-suara samar, atau mungkin bayangan diri masa lalu yang mencoba berbicara padanya.

Namun ia tidak takut.

Ia mengatur napas panjang, lalu memandang pintu elevator.

Di luar sana, dunia kembali normal. Lampu-lampu Jakarta berkelip-kelip, kendaraan bersuara, dan manusia menjalani hidup tanpa mengetahui bahwa peperangan kosmik telah terjadi tepat di bawah kaki mereka.

Ia menepuk dadanya pelan.
Ia masih hidup.
Ia kembali.

Dan ia punya misi baru.

— DewaBuku benar-benar kembali.

Bersambung ke Episode SAILORMOON – SEMUA TELAH TERJADI (PART 15)

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
SAILORMOON – MANIFESTASI DENDAM BRAHMA SURYA (PART 17)

Tidak semua kehancuran dimulai dengan ledakan.Sebagian dimulai dengan kesadaran. Pukul 00.17 WIB, Teluk Gong berhenti...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — BULAN YANG MEMILIH (PART 20 - TAMAT)

Balkon tempatnya berdiri adalah sebuah tempat dimana Usagi bisa merenung dengan tenang. Saat ini tetap...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON – PENJAGA YANG DIAWASI (PART 19)

Setelah berpikir seperti itu, DewaBuku merasa bahwa perutnya sudah kosong karena selama sehari semalam tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON - KEPUTUSAN DARI ARSIP NOL (PART 13)

Cahaya fajar baru saja menyentuh langit Jakarta ketika sesuatu yang tidak biasa terjadi di seluruh...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — RAHASIA YANG TERBANGUN DI TELUK GONG (PART 9)

Pintu besi tua itu mengerang pelan saat didorong, seperti benda yang sudah terlalu lama memendam...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!