Skip to content

SAILORMOON – PENJAGA YANG DIAWASI (PART 19)

Setelah berpikir seperti itu, DewaBuku merasa bahwa perutnya sudah kosong karena selama sehari semalam tidak sempat makan apapun karena beberapa jam yang lalu dia bersama Usagi Tsukino baru saja selesai menghadapi musuh yang sangat berbahaya. Tapi syukurlah semuanya itu sudah selesai…..setidaknya untuk saat ini. Dia masih duduk di sebelah pantry sambil ngopi dan mengetik sesuatu di laptopnya.

DewaBuku menggeliat sebentar dan melihat jam dinding yang ternyata…..

“Alamaaak!!! sudah jam dua malam? ya sudahlah, aku makan biskuit saja.” teriak DewaBuku dengan kagetnya. Langsung saja dia mematikan laptopnya dan mengambil satu pack wafer coklat, kemudian menghabiskannya.

“Seandainya masih sore pasti aku akan bikin mie goreng.” gumamnya sambil membuang bungkus wafer di tempat sampah kecil di pantry itu. Malam itu sangat hening. DewaBuku mulai mencuci tangannya di wastafel, lalu dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci kakinya dan sikat gigi. Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dan mengeringkan kakinya, lalu naik ke tempat tidur.

DewaBuku melirik nightstand di sebelah tempat tidurnya. Disana ada satu lampu tidur, dibawahnya ada satu foto perempuan cantik dengan bingkai kayu jati berwarna coklat tua. DewaBuku teringat kata-kata perempuan itu 6 bulan yang lalu.

[Flashback 6 bulan yang lalu]

“Kakak, simpan fotoku ini bersamamu.” kata Usagi Tsukino sambil memandangi mata DewaBuku.
DewaBuku melepas kacamata dan masker medisnya, “iya, pasti.”
Usagi tersenyum, “Kak, aku tahu kamu bisa telepati.”
“Iya, itu cara kita berkomunikasi jarak jauh untuk menghindari penyadapan.” jawab DewaBuku.
Usagi berdehem sebentar, “Jaga dirimu baik-baik, kak.”
“Iya, Usagi…..”

[Flashback selesai]

DewaBuku melirik jam dinding di tembok sebelah kirinya, waktu menunjukkan jam 3 pagi. Dia mulai membaca doa dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Malam terus berjalan dan terus berjalan….
Setelah beberapa jam kemudian, pagipun menyapa.

Jakarta Selatan, Pukul 07:00 WIB

Jakarta tidak menyadari bahwa pagi itu berbeda.

Tidak ada sirene. Tidak ada berita darurat. Tidak ada langit retak atau cahaya aneh di televisi. Orang-orang berangkat kerja seperti biasa, mengeluh soal macet, hujan semalam, dan kopi yang terlalu pahit.

Namun di bawah rutinitas itu, dunia sedang diawasi.

Bukan oleh manusia.

Bukan oleh dewa.

Melainkan oleh sesuatu yang tidak mengenal belas kasihan maupun kebencian.


Jakarta Barat, Pukul 09:41 WIB

Usagi berdiri di depan jendela apartemennya, menatap kota dari ketinggian. Gedung-gedung tampak normal, tetapi baginya, semuanya terasa sedikit… terlambat. Pantulan cahaya matahari di kaca bergerak sepersekian detik lebih lambat dari seharusnya.

Ia tidak berubah menjadi Sailor Moon. Tidak perlu.

Ia bisa merasakan semuanya tanpa transformasi.

Getaran lift di gedung sebelah.
Pola arus listrik di bawah tanah.
Fluktuasi kecil medan gravitasi di sekitar pusat kota.

Semua itu mengalir melewati dirinya.
Dia tahu itu semua.
Dia merasakannya.

Usagi menunduk, menatap cincin uranium di jari manisnya. Permukaannya tenang, tidak bersinar, tidak dingin. Tetapi ia tahu: cincin itu sedang mendengar.

“Berhentilah…,” gumamnya pelan. “Aku cuma mau hidup normal pagi ini.”

Cincin itu tidak menjawab.

Namun bulan di langit siang — yang seharusnya tak terlihat — terasa hadir.


Gama Tower, Jakarta Selatan

DewaBuku duduk sendirian di ruang arsip pribadinya. Meja kayu tua di depannya penuh dengan kertas kosong. Tidak ada satu pun tulisan. Laptopnya tertutup.

Untuk pertama kalinya sejak Arsip Nol runtuh, ia tidak bisa membaca masa depan secara utuh.

Bukan karena kemampuannya hilang.

Melainkan karena ada sesuatu yang memotong pembacaan itu dari atas.

Ia mengusap wajahnya pelan, lalu berkata pada ruang kosong:

“Mereka sudah mulai.”

Udara di ruangan itu bergetar tipis.

Bayangan di sudut ruangan tidak jatuh ke arah yang benar.

Dan dari sana, suara muncul — bukan suara manusia, bukan pula gema gaib.

Suara itu bersih, netral, tanpa emosi.

“Subjek Sailor Moon telah melewati ambang toleransi kosmik.”

DewaBuku tidak terkejut.

“Jadi akhirnya kalian memperkenalkan diri,” katanya tenang.

Bayangan itu memadat, membentuk siluet geometris yang terus berubah, seperti bangunan yang dirancang oleh matematika murni.

“Kami bukan pihak. Kami adalah sistem.”

“Nama?” balas DewaBuku singkat.

“Dalam arsip lama, manusia menyebut kami:
Custodian Equilibrium.”

DewaBuku menghela napas panjang.

“Penjaga keseimbangan… yang tidak pernah turun tangan sampai semuanya hampir terlambat.”

“Intervensi dini menciptakan paradoks,” jawab suara itu.
“Intervensi terlambat menciptakan kehancuran.
Sailor Moon menciptakan jalur ketiga.”

DewaBuku menatap lurus ke arah entitas itu.

“Dan sekarang jalur ketiga itu membuat kalian tidak nyaman.”

Keheningan.

Lalu:

“Ia terlalu terikat.
Ia terlalu manusia.
Ia terlalu penting.”


Sementara itu di Jakarta Barat….

Usagi terhuyung saat sedang menyeberang jalan.

Bukan pusing.

Bukan lelah.

Melainkan lonjakan informasi yang masuk bersamaan.

Ia melihat—
seorang anak hampir jatuh dari balkon lantai tiga,
retakan kecil di jembatan layang yang belum terlihat mata manusia,
denyut anomali di dasar laut ribuan kilometer dari Jakarta.

Semua muncul bersamaan.

Usagi berlutut, napasnya terengah.

“Ini… tidak seperti ini sebelumnya…”

Cincin uranium memanas sesaat.

Bukan menyakitkan.

Melainkan mengoreksi.

Realitas di sekitarnya menyesuaikan napasnya.

Orang-orang berhenti sejenak — lalu berjalan lagi, tidak sadar bahwa dunia baru saja menunggu keputusan dari seorang gadis.


Hari ini benar-benar hari yang aneh. Sebuah kehidupan yang berbeda dan tidak seperti biasanya….itu semua dialami oleh Usagi dan DewaBuku.

Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam.

Malam itu, DewaBuku berdiri di atap gedung tua dekat Monas. Dia masih teringat dan terngiang dengan semua yang dikatakan entitas asing di kamarnya dua hari yang lalu. DewaBuku melihat ke langit sekilas, bintang-bintang berkelap-kelip dengan indahnya. Namun ada bintang lain yang jauh lebih indah dan sedang bergerak ringan di angkasa, ternyata ada Usagi yang sedang terbang menuju ke arah tempat DewaBuku berdiri.

Usagi mendarat di depannya tanpa suara.

Tidak ada transformasi dramatis.

Tidak ada cahaya.

Hanya dua manusia yang terlalu tahu beban masing-masing.

“Kamu sudah bertemu mereka,” kata Usagi.

DewaBuku mengangguk.

“Mereka ingin apa?” tanya Usagi langsung.

“Observasi,” jawabnya jujur.
“Dan… kemungkinan koreksi.” tambah DewaBuku sesaat kemudian.

Usagi terdiam.

“Koreksi seperti apa?”

DewaBuku menatap kota.

“Jika satu jangkar terlalu sadar, terlalu bebas memilih…
sistem akan mencari cara untuk membatasi.”

Usagi mengepalkan tangan.

“Jadi solusinya apa? Menjadikanku alat?”

“Tidak,” jawab DewaBuku cepat.
“Solusinya… adalah keputusan.”

Ia menatap Usagi, sungguh-sungguh.

“Kamu harus memilih, sebelum mereka memilihkan untukmu.”

“Memilih apa?”

DewaBuku menelan ludah.

“Apakah kamu tetap manusia yang menjaga keseimbangan…
atau menjadi penjaga keseimbangan yang harus melepaskan kemanusiaan.”

Angin malam berhembus.

Bulan menggantung diam.

Usagi menunduk, lalu tersenyum kecil — senyum yang lelah, tapi utuh.

“Aku tahu,” katanya pelan.
“Rupanya tentang itu, ya?”

DewaBuku tidak tersenyum.

“Iya.”

Dua manusia dengan beban berat itu saling berpandangan. Mereka berkomunikasi menggunakan pandangan mata….lebih tepatnya, telepati.

Sementara itu jauh di atas atmosfer bumi, Custodian Equilibrium mencatat ulang parameter.

“Subjek menunjukkan resistensi emosional tinggi.”
“Probabilitas anomali meningkat.”
“Aktivasi Protokol Final… ditunda.”

Namun satu catatan ditambahkan:

Jika Sailor Moon memilih manusia…
maka keseimbangan akan menuntut korban yang setara.

Usagi berdiri sendirian di balkon apartemennya malam itu.

Bulan terlihat penuh.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bulan memanggilnya.

Ia merasa bulan menunggu jawabannya.

Dan jauh di dalam dirinya, sebuah pertanyaan yang tidak bisa dihindari mulai terbentuk, dan itu sangat tidak nyaman untuk Usagi.

Selama Usagi berdiri di balkon apartemennya, hatinya selalu bergejolak. Pertanyaan demi pertanyaan selalu muncul.

Usagi menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, batinnya terus bertanya, “Apakah dunia ini layak diselamatkan…apa iya?…jika untuk itu, apakah aku harus berhenti menjadi diriku sendiri? Apakah aku harus selalu menjadi SailorMoon? Tidak. Tidak. Aku ingin hidup normal.”


Bersambung ke episode terakhir SAILORMOON — BULAN YANG MEMILIH (PART 20 – THE END -)

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
SAILORMOON — TERNYATA YANTO TIDAK PERGI KE WARTEG (PART 5)

Jakarta Barat, pukul 04.07 pagi. Langit mulai memudar ke abu-abu muda, tapi udara masih berat...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — BULAN YANG MEMILIH (PART 20 - TAMAT)

Balkon tempatnya berdiri adalah sebuah tempat dimana Usagi bisa merenung dengan tenang. Saat ini tetap...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — BULAN DI ATAS CENGKARENG (PART 1)

Jakarta Barat, tahun 2025.Langit malam memantulkan cahaya oranye dari lampu jalan yang redup, menyatu dengan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON – MANIFESTASI DENDAM BRAHMA SURYA (PART 17)

Tidak semua kehancuran dimulai dengan ledakan.Sebagian dimulai dengan kesadaran. Pukul 00.17 WIB, Teluk Gong berhenti...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILOR MOON — KONSEKUENSI HILANGNYA DEWABUKU (PART 11)

Hening selalu punya cara untuk menyembunyikan bising. Jakarta pada dini hari itu terlihat seperti tubuh...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!