Skip to content

EPISODE 3 — LAMPU YANG TAK PERNAH PADAM

SERIAL TITLE: “JALUR LINTAS SELATAN”

Lampu itu selalu menyala pukul 02.00 WIB.

Bukan lampu jalan. Bukan rumah penduduk. Bukan juga perahu nelayan.

Lampu petromaks tua — cahayanya kekuningan, bergetar halus — muncul di antara bakau dan karang di jalur Pantai Lampon menuju Goa Karangbolong. Setiap malam, tepat jam yang sama. Dan setiap orang yang mencoba mendekat, selalu pulang dengan cerita berbeda.

Catatan ini kutulis tiga minggu setelah Raka dinyatakan hilang.

Aku, DewaBuku, kembali ke selatan. Bukan karena penasaran semata, tapi karena bau asin itu tak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Kopi di warung pesisir terasa sama pahitnya. Angin membawa suara ombak yang terdengar seperti napas tertahan.

Di warung, aku bertemu Sari. Wajahnya lebih lelah dari terakhir kali kami bicara.

“Lampunya muncul lagi,” katanya tanpa basa-basi. “Tiap malam. Nelayan resah.”

“Sejak kapan?”

“Seminggu setelah Raka hilang.”

Kami berangkat sore itu. Motor menyusuri jalan sempit yang memotong hutan bakau. Matahari tenggelam cepat. Bau lumpur asin naik. Di kejauhan, mercusuar tua berdiri miring — tak lagi berfungsi, tapi masih dijaga oleh seorang lelaki sepuh bernama Pak Darman.

Pak Darman tidak banyak bicara. Ia hanya menunjuk jam dinding.

“Kalau mau lihat, tunggu sampai jam dua,” katanya. “Jangan dekat-dekat.”

“Kenapa?” tanya Sari.

“Karena yang terang belum tentu jalan pulang. Pasti kamu tahu maksud saya.”

Malam beranjak turun. Hingga akhirnya sangat gelap. Pukul 01.55.

Kami berdiri di batas hutan bakau. Jangkrik berhenti bersuara. Angin mati mendadak.

Lima menit berlalu.

Lampu itu menyala.

Muncul begitu saja, seperti dinyalakan dari dalam tanah. Petromaks tua tergantung pada dahan bakau, tanpa tali. Cahayanya memantul di genangan air, membuat jalur kecil seolah terbuka di antara pepohonan.

“Itu…” Sari menelan ludah.

Aku menyalakan perekam.

“Lokasi Pantai Lampon. Waktu menunjukkan pukul 02.00. Lampu terlihat jelas,” ucapku pelan.

Dari arah lampu, terdengar langkah.

Bukan langkah manusia dewasa. Pendek. Pelan.

Aku teringat jejak di pasir. Satu kecil.

“Kita nggak maju,” kataku.

Tapi Sari sudah melangkah satu langkah.

Lampu bergetar. Cahayanya menguat.

Dari balik bakau, sosok perempuan muncul. Gaunnya basah. Rambutnya panjang. Wajahnya pucat dengan senyum yang hampir tidak ada. Sebagian wajahnya hancur terkena air garam, tapi dapat berubah menjadi cantik apabila disapa oleh orang yang hatinya bersih.

Laras.

Ia tidak menatap kami. Matanya tertuju ke arah laut.

“Aku nyalain lampu,” katanya lirih. “Biar nggak gelap.”

“Untuk siapa?” tanyaku, suara tercekat.

Ia menoleh. Untuk sesaat, wajahnya bukan hantu — melainkan perempuan muda yang lelah.

“Untuk yang tersesat,” jawabnya.

Lampu petromaks bergoyang. Dari dalam hutan, terdengar suara air menetes, lalu tangisan kecil — tidak keras, seperti ditahan.

Sari mundur. “Kita pergi.”

Laras menggeleng. “Kalau lampu mati, mereka jatuh lagi.”

“Siapa mereka?”

“Yang percaya cahaya,” katanya.

“Iya.” jawabku singkat. Aku sempat berpikir, “Apakah si Laras ini dulunya mahasiswi filsafat ya? Kata-katanya filosofis banget. Semoga para pembaca situsku bisa memahaminya.”

Kemudian terlihat Laras menatap kearah laut sambil berbisik lirih, “Kemarilah nak, ini ibu menunggumu disini.”

Kami mundur perlahan. Lampu tetap menyala. Sari berkata. “Gimana kalo dilanjutkan besok pagi?”

“Baiklah, aku juga menggigil ini.”

Pagi harinya, seorang nelayan ditemukan linglung di tepi pantai. Bajunya basah asin. Ia selamat — katanya mengikuti lampu, lalu tersadar saat ombak menyentuh kakinya.

“Ada perempuan yang bilang jalannya aman,” katanya pada Sari.

Aku menutup buku catatan.

Lampu itu tidak memanggil.

Ia menunggu.

Dan selama masih ada yang percaya bahwa cahaya selalu berarti keselamatan — lampu di Jalur Lintas Selatan tak akan pernah padam. Para sopir truk yang terbiasa lewat di Jalur Lintas Selatan banyak yang sudah memahami fenomena ini, kecuali sopir-sopir baru.

BERSAMBUNG KE EPISODE 4

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
EPISODE 6 — AIR YANG MENGINGAT NAMA

SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Aku menutup seluruh catatan lama dan memulai yang baru di...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 5 – Radio AM 1476

SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Kadang aku berpikir bahwa hidup ini banyak menyimpan misteri. Salah...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 2 - AIR LAUT TAK PERNAH PERGI

SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Catatan ini aku tulis di sebuah warung kopi kecil di...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 1 – TANGISAN DI JALAN SEPI

SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Malam di Jalur Lintas Selatan selalu punya cara sendiri untuk...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 4 — POS KILOMETER YANG MENGHILANG

SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Pada saat seorang jurnalis perempuan bernama Sari menemukan seorang nelayan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!