
SERIAL TITLE: “JALUR LINTAS SELATAN”
Kadang aku berpikir bahwa hidup ini banyak menyimpan misteri. Salah satunya adalah gelombang Radio berfrekuensi 1476 AM. Sampai sekarang tahun 2026 pun tetap membuat aku heran.
Yang sering aku dengar waktu itu…
Suara statis.
Lalu suara lelaki tua yang berkata. “Kalau lihat lampu, jangan dikejar.”
Nah, yang membuatku heran adalah adanya cahaya petromaks yang tiba-tiba muncul di antara pohon bakau, dan satu lagi yang di sisi jalan, pada waktu malam hanya terlihat sebagai bayangan bangunan kecil….bisa-bisanya bergeser.
Dan itu semuanya selalu aku catat dan aku simpan rapi hanya sebagai pengetahuan baru untukku, bahwa aku pernah mengalami hal ini. Aku memang mencatatnya selama berbulan-bulan, lalu aku meninggalkannya begitu saja.
Seluruh catatan yang kutinggalkan selama berbulan-bulan berkeliling selatan Jawa selalu kembali ke satu hal sederhana: suara. Bukan yang nyata di depan mata, tetapi yang masuk lewat udara, lewat gelombang yang seharusnya tak lagi digunakan. Suatu frekuensi yang tak kunjung mati — 1476 AM.
Jalur Lintas Selatan (JLS) membentang dari Banyuwangi hingga Cilacap, melintasi pesisir Samudra Hindia, desa-desa kecil, hutan bakau, dan perbukitan karst yang tajam. Ini bukan jalan besar seperti Pantura; ini jalur yang bernafas, yang punya denyut, yang menyimpan ingatan.
Sepulang dari penemuan Pos Kilometer yang Menghilang (JLS-03), aku merasa ada satu bagian besar yang belum pernah dituliskan dengan benar: hubungan antara radio mobil yang selalu menyala sendiri dan suara-suara yang menembus jam tidur sopir malam.
Gelombang AM, terutama di frekuensi 1476 kHz, seharusnya sudah jarang dipakai. Stasiun-stasiun radio lokal di Jawa umumnya ada di FM. Tetapi setiap kali kendaraan lewat malam, terutama antara Pantai Suwuk (Jawa Tengah) dan Pantai Karanggadung, lebih dari satu sopir melaporkan bahwa 1476 AM muncul sendiri dalam statis, kadang membawa suara samar, kadang lebih jelas — nama seseorang, peringatan, atau desah yang tak teridentifikasi.
Aku kembali ke titik itu: Pantai Suwuk, yang letaknya di Kabupaten Kebumen. Tepat di bawah tebing-tebing jamrud yang berlapis batu kapur dan hutan jati, suara ombak yang menghantam menciptakan ritme alami yang kuat. Jam menunjukkan pukul 02.03 WIB, pukul yang sama ketika lampu petromaks muncul di Lampon, ketika tangisan mulai terdengar di JLS-01, di titik dimana Raka menemukan “bayi” itu.
Aku menyalakan radio tuaku — AM/FM tua yang sering kugunakan untuk merekam suara gelombang di perjalanan. Suara debur ombak dan deru angin menyelimuti kabin, lalu aku putar ke 1476 kHz. Statis — begitu banyak statis — sampai tiba-tiba sebuah suara samar tertangkap.
Tidak seperti suara manusia, tetapi seperti montase: potongan suara lelaki tua, desis, dan sesuatu yang terdengar seperti bisikan perempuan. Frekuensi itu tak pernah stabil; tiap kali berubah sedikit saja, suaranya lenyap. Sama seperti suara-suara yang dialami Raka.
Aku turun dari mobil, berjalan pasir menuju air laut yang gelap. Malam itu langit cerah, bintang tertata rapi di atas tanpa satu pun awan. Itu membuat gelombang radio jadi lebih kuat — fenomena ionosfer malam yang sering kualami saat bulan hampir purnama.
Ada struktur aneh yang kurasakan di sana, seperti udara menjadi lapisan-lapisan suara. Bukan hanya gelombang radio, tetapi sesuatu yang lebih tua dari penerima radio sendiri.
Aku kembali ke mobil dan memeriksa catatan lamaku dari Pantai Lampon dan KM 214. Ada satu kesamaan yang tak dapat diabaikan:
di setiap lokasi munculnya kemunculan tak terjelaskan, 1476 AM tercatat muncul lebih dulu dalam pengalaman para sopir — kadang hanya statis, kadang dengan potongan suara yang menyerupai nama seseorang.
Sementara Raka hilang dan pos darurat lenyap, frekuensi itu tetap sama. Setiap malam.
Selama seminggu aku melakukan rekaman sambil berkendara antara Pantai Lampon, Goa Karangbolong, Pantai Suwuk, dan titik-titik lain di JLS. Tidak ada pola geografis yang jelas selain satu: semua titik itu adalah pesisir dekat Samudra Hindia, dan gelombang radio ikut berubah intensitas ketika kendaraan mendekati pantai.
Aku mulai berpikir, mungkin ini bukan sekadar radio yang error. Mungkin ini ruang gelombang yang beresonansi dengan trauma tertentu. Pada setiap titik misteri JLS, selalu ada sesuatu yang tersisa — suara, cahaya, bau laut yang aneh.
Di beberapa malam, aku merekam suara yang ternyata bukan manusia modern. Suara itu berlapis, seperti rekaman yang tertumpuk: baris bisikan, sesuatu yang terdengar seperti rintihan, sesekali desisan keras yang tak bisa dijelaskan dengan statis normal. Dan yang paling mengejutkan: nama-nama sopir lama yang hilang di selatan, terekam samar di antara frekuensi.
Aku menyadari apa yang terjadi ketika aku memasuki desa-desa pesisir di Kebumen dan bertanya pada penduduk tentang legenda lokal. Mereka bercerita tentang “Gelombang Laut Selatan” — bukan sekadar kisah hantu yang menangis, tapi sebuah konsep bahwa laut menyimpan ingatan orang-orang yang tidak pernah kembali. Mereka bilang: lantas suara itu muncul di malam hari lewat angin, lewat deburan ombak, lewat radio yang terdengar seperti manusia.
Astaga. Itu seperti mengatakan laut itu berbicara.
Tidak bisa kuterima secara rasional, tapi data lapangan terus mendukung narasi itu. Suara-suara itu bukan halusinasi pengemudi yang lelah — banyak dari mereka memiliki jam terbang tinggi, pengalaman malam di JLS yang tidak sedikit.
Di satu titik, aku menyusuri Pantai Karanggadung menjelang pukul dua pagi. Angin laut membawa aroma garam pekat. Kakiku basah karena lembab. Aku memasang antena radio eksternal — tinggi dan berbahan tembaga — supaya menangkap sinyal sekecil apa pun. Dan benar saja: saat dialku berhenti di 1476 AM, suara statis jadi lebih kuat daripada biasanya.
Lalu suara itu berubah—lebih tegas—seperti seseorang yang memanggil namaku.
Bukan hanya sekali. Beberapa kali suara itu mengulang namaku perlahan:
“De-waBu-ku…. De-waBu-ku….”
Kentara bahwa itu bukan sekedar transmisi hidup-mati. Ini seperti gelombang itu mengetahui keberadaanku, menerima getar tubuhku sebagai sinyal balik. Itu membuatku merinding bukan karena takut, tetapi karena sesuatu yang disebut resonansi psikologis — keadaan di mana frekuensi tertentu memicu reaksi emosional yang dalam.
Aku tiba di Goa Karangbolong sebelum subuh. Sinar matahari hampir menyentuh permukaan laut. Aku duduk di pasir dan merekam akhir perjalanan itu. Di sana, antara karang dan gelombang, aku mendengar sesuatu berbeda—bukan suara radio, tetapi suara gelombang yang membawa potongan sebuah cerita: nama sopir yang hilang, bisikan tentang tempat yang tak pernah benar-benar ditemukan, dan sebuah pesan samar yang tak pernah terucap secara utuh.
Dalam catatan terakhirku malam itu, aku menulis:
“Frekuensi 1476 AM bukan sekadar siaran. Ia adalah lapisan memori Jalur Lintas Selatan. Tempat di mana laut, jalan, dan ingatan bertemu, berulang, dan tak pernah benar-benar hilang.”
Saat pagi menyapa Samudra Hindia, gelombang datang lagi, bergulung. Dan di antara debur itu, aku sadar satu hal:
Jalur Lintas Selatan punya frekuensi sendiri — suara yang menunggu untuk didengarkan — dan setiap pengendara malam yang melintas menjadi bagian dari resonansinya.
BERSAMBUNG KE EPISODE 6 TAMAT
Author Profile
Categories
Related Posts
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Aku menutup seluruh catatan lama dan memulai yang baru di...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Pada saat seorang jurnalis perempuan bernama Sari menemukan seorang nelayan...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Malam di Jalur Lintas Selatan selalu punya cara sendiri untuk...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Lampu itu selalu menyala pukul 02.00 WIB. Bukan lampu jalan....
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Catatan ini aku tulis di sebuah warung kopi kecil di...
Read More