Skip to content

KUNCI YANG TIDAK PERNAH DIPUTAR

Pagi itu begitu dingin, Februari 2015, masih gerimis…

Kabut pagi di Tawangmangu tidak pernah benar-benar turun. Ia hanya menggantung, seolah ragu untuk menyentuh tanah, dan karena itu pula segala sesuatu terlihat sedikit menjauh dari kenyataan. Terdapat sebuah rumah kayu yang sudah tua dan berukuran cukup besar dan tinggi dengan arsitektur Jawa, orang mengenalnya dengan nama Rumah Joglo. Pemandangan di sekitarnya tampak asri, air terjun Grojogan Sewu tampak jelas bila dilihat dari beranda. Udara sangat bersih dan segar.

Sepuluh meter dari rumah kayu itu terdapat sebuah penginapan kecil tetapi view didepannya sangat indah. Air terjun Grojogan Sewu juga terlihat dari dapan penginapan itu. Seorang pemuda berumur 30 tahunan, mantan staf Badan Intelijen dari Jakarta sedang menginap disitu. Ia diundang oleh seorang kepala dusun untuk dimintai tolong memecahkan sebuah kasus kematian seseorang.

Trunojoyo berdiri di beranda rumah kayu itu dengan jaket tipisnya masih terpakai. Udara dingin menusuk, tapi ia sudah terbiasa. Ia bukan orang sini — itu jelas dari caranya berdiri, dari sepatunya, dari caranya menatap rumah tua itu bukan dengan rasa memiliki, melainkan rasa ingin tahu yang ditahan.

Rumah itu milik Sutrisno Wiroatmojo, seorang pensiunan guru yang menghabiskan masa tuanya dengan menulis catatan harian dan mengoleksi buku-buku tua berbahasa Belanda. Ia ditemukan meninggal pagi itu, di ruang kerjanya, dengan pintu terkunci dari dalam.

“Mas Truno,” kata seorang lelaki paruh baya yang berdiri di dekat pagar. “Pintu itu betul-betul terkunci dari dalam.”

Trunojoyo menoleh. Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Pak Hadi, kepala dusun setempat.

“Siapa yang pertama menemukan?” tanya Trunojoyo.

“Bu Ratmi,” jawab Pak Hadi, menunjuk seorang perempuan berkerudung abu-abu yang duduk di kursi bambu. “Istrinya sendiri.”

Bu Ratmi mengangkat wajahnya. Matanya kering, tapi lelah.

“Saya bangun subuh seperti biasa,” katanya pelan. “Masak air. Lalu saya mau membangunkan bapak. Tapi pintunya terkunci.”

“Kunci di mana?” tanya Trunojoyo.

“Di dalam,” jawab Bu Ratmi cepat. “Selalu begitu kalau bapak menulis.”

Trunojoyo mencatat di kepalanya. Selalu. Kata itu sering dipakai orang tanpa pernah benar-benar diuji.

Ia masuk ke dalam rumah. Ruang kerja itu kecil, rapi, dan terlalu tenang. Meja kayu jati menghadap jendela. Di atasnya, sebuah buku terbuka, pena tergeletak, dan jam dinding tua berhenti pada pukul 21.43.

“Jamnya rusak?” tanya Trunojoyo.

“Tidak,” jawab seorang pria muda yang berdiri di dekat pintu. “Itu jam antik. Selalu tepat.”

“Mas ini keponakan,” kata Pak Hadi. “Namanya Bagas.”

Bagas mengangguk singkat. Wajahnya bersih, suaranya tenang.

“Terakhir saya lihat om saya sekitar jam sembilan,” katanya. “Saya pamit ke kamar. Saya tidak dengar apa-apa setelah itu.”

“Tidak dengar suara pintu?” tanya Trunojoyo.

Bagas menggeleng. “Sunyi.”

Di sudut ruangan berdiri Mbak Sri, pembantu rumah tangga yang sudah bekerja di rumah itu hampir sepuluh tahun.

“Saya yang antar teh malam,” katanya tanpa diminta. “Sekitar jam delapan.”

“Pintu bagaimana saat itu?” tanya Trunojoyo.

“Masih terbuka,” jawabnya mantap. “Bapak bilang nanti saja ditutup sendiri.”

Trunojoyo melihat pintu itu. Kayu tua, grendel besi sederhana, dan lubang kunci di bagian dalam. Tidak ada kerusakan. Tidak ada jendela terbuka. Tidak ada jalan keluar lain.

“Dokter sudah lihat?” tanya Trunojoyo.

Seorang pria berkacamata maju selangkah. “Saya Dr. Surya. Teman lama almarhum. Tidak ada tanda kekerasan. Serangan jantung, kemungkinan besar.”

“Jam berapa terakhir Anda bertemu beliau?” tanya Trunojoyo.

“Sore hari. Sekitar jam lima,” jawab dokter. “Beliau baik-baik saja.”

Semua jawaban terdengar rapi. Terlalu rapi.

Trunojoyo berdiri di tengah ruangan, mendengarkan mereka berbicara satu sama lain — bukan pada apa yang mereka katakan, tapi bagaimana mereka mengatakannya. Tidak ada kepanikan. Tidak ada kebohongan mencolok. Hanya satu kesamaan: semua sepakat bahwa pintu itu terkunci dari dalam.

Malam mulai turun lagi di Tawangmangu ketika Trunojoyo pamit.

“Saya akan kembali besok,” katanya.

Tidak ada yang bertanya mengapa.

Pagi berikutnya, kabut masih setia.

Rupanya ada sekumpulan orang didalam ruang tamu itu. Ruang tamu berdinding kayu dengan jendela kaca berukuran sedang, berlantai keramik berwarna putih, dilengkapi satu set sofa dan sebuah meja telepon.

Trunojoyo duduk di ruang tamu rumah itu bersama keempat saksi. Ia meminta mereka menceritakan ulang malam itu. Dengan kata-kata mereka sendiri.

“Mulai dari Mbak Sri,” katanya.

“Saya antar teh jam delapan,” ulang Mbak Sri. “Pintu masih terbuka.”

“Bu Ratmi?”

“Saya tidur,” katanya. “Saya dengar bunyi logam kecil sekitar jam sembilan lebih.”

“Bunyi apa?” tanya Trunojoyo.

“Seperti… besi bertemu besi,” jawabnya ragu. “Saya kira bapak mengunci pintu.”

Trunojoyo mencatat, lalu menoleh ke Bagas.

“Saya membaca,” kata Bagas. “Tidak dengar apa pun.”

“Dokter?”

“Saya pulang jam enam,” kata Dr. Surya. “Semua normal.”

Trunojoyo diam lama. Lalu ia berdiri dan berjalan ke ruang kerja.

Jam itu masih berhenti di 21.43.

“Jam ini berhenti saat pemiliknya meninggal,” katanya pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri. “Bukan karena rusak.”

Ia berbalik.

“Bu Ratmi,” katanya, “Anda bilang mendengar bunyi logam kecil.”

“Iya.”

“Dan Anda mengira itu suara kunci?”

“Iya.”

“Apakah Anda melihat beliau mengunci pintu?”

Bu Ratmi terdiam. “Tidak.”

Trunojoyo menoleh ke Mbak Sri.

“Pintu terbuka jam delapan. Setelah itu?”

“Saya tidak tahu,” jawabnya.

“Bagas,” kata Trunojoyo. “Anda bilang tidak mendengar apa pun. Tapi rumah ini sunyi. Bunyi logam sekecil itu seharusnya terdengar.”

Bagas mengangkat bahu. “Mungkin saya terlalu fokus membaca.”

Trunojoyo tersenyum tipis. Senyum yang tidak menghibur siapa pun. Senyum yang dia lakukan sambil melihat seisi ruang kerja.

Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari kemarin.

Tidak ada yang duduk. Tidak ada yang bergerak. Bahkan napas pun terdengar seperti sesuatu yang sebaiknya ditahan.

Trunojoyo berdiri dekat meja, jari-jarinya menyentuh tepi kayu dengan ringan, seolah memastikan meja itu nyata.

“Semua dari kita,” katanya pelan, “terlalu cepat sepakat bahwa pintu itu terkunci dari dalam.”

Tak ada yang menyahut.

“Padahal,” lanjutnya, “tidak satu pun dari Anda melihat kunci itu diputar malam itu.”

Bu Ratmi menelan ludah.
“A… apa maksud Mas Truno?”

“Maksud saya sederhana,” jawab Trunojoyo. “Kita semua percaya pada hasil akhirnya, bukan pada prosesnya.”

Ia menoleh ke Mbak Sri.
“Jam delapan, pintu masih terbuka.”

Mbak Sri mengangguk, nyaris tak terdengar.

“Jam sembilan lewat sedikit,” Trunojoyo melanjutkan, “Bu Ratmi mendengar bunyi logam kecil. Bukan melihat. Hanya mendengar.”

Bu Ratmi menunduk.

“Dan jam ini,” katanya sambil menunjuk jam dinding, “berhenti di pukul dua puluh satu empat puluh tiga. Bukan karena rusak.”

Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi keheningan bekerja.

“Pak Sutrisno meninggal saat berdiri,” ucapnya. “Bukan di kursinya.”

Bagas mengangkat kepala.
“Bagaimana Mas bisa yakin?”

“Karena jam itu jatuh,” jawab Trunojoyo. “Bukan dihentikan. Dan seseorang yang duduk tidak mungkin bisa menjatuhkan jam setinggi itu.”

Ia berbalik perlahan, kini menghadap Dr. Surya.

“Dokter,” katanya sopan, nyaris ramah, “Anda satu-satunya yang tahu kondisi jantung beliau memburuk. Anda juga satu-satunya yang dianggap paling masuk akal berada di rumah ini tanpa menimbulkan kecurigaan.”

Dr. Surya tidak langsung bereaksi.

“Kita tidak sedang bicara tentang niat,” lanjut Trunojoyo. “Hanya tentang kesempatan yang disalahartikan sebagai kewajaran.”

Dr. Surya tersenyum tipis. Senyum orang yang terlalu lama hidup bersama logika.

“Dia sudah tua,” katanya akhirnya. “Dan dia tahu waktunya tidak panjang.”

“Mengetahui bukan berarti memilih,” jawab Trunojoyo lembut.

“Kadang,” kata Dr. Surya, “membiarkan sesuatu terjadi terasa lebih manusiawi daripada mencegahnya.”

Trunojoyo mengangguk perlahan.
“Itulah yang membuat kasus ini selesai,” katanya. “Dan itulah juga yang membuatnya tidak pernah benar-benar berakhir.”

Tidak ada yang menepuk meja.
Tidak ada yang menangis.

Hanya suara kayu rumah tua yang menyusut oleh dingin.

Bu Ratmi melangkah dengan tenang ke hadapan Dokter Surya yang sedang salah tingkah. Bu Ratmi mendekatkan mukanya ke wajah dokter itu dan berbicara dengan sangat pelan.
“Dokter Surya, seharusnya Anda memberitahu saya waktu itu.”

Dokter Surya mulai berkeringat dingin, bajunya basah. “Maafkan saya…”
Bu Ratmi melangkah perlahan ke meja telepon, “Halo pak polisi…”

Semuanya terdiam sambil menatap Dokter Surya dengan perasaan tidak senang. Situasi ruang kerja itu menjadi kikuk dan hening, membuat Trunojoyo ingin mendinginkan kepala sejenak.

“Baiklah Bu Ratmi, Mbak Sri, dan saudara-saudara sekalian….saya cari angin dulu.” kata Trunojoyo dengan sopan. Kemuadian dia melangkah santai menuju tempatnya menginap.

Malam itu, di teras penginapan, Trunojoyo duduk di kursi rotan sambil menghisap rokoknya. Pemandangan air terjun Grojogan Sewu di kegelapan malam masih dapat dinikmati. Ia bangkit dari kursinya dan berdiri lama mendengarkan air jatuh.

Air selalu menemukan jalannya sendiri.
Tanpa dikunci.
Tanpa diminta.

Ia sadar, ia bisa kembali ke Jakarta kapan saja.

Namun di Tawangmangu,
sebuah pintu akan selalu dianggap terkunci — bukan karena kuncinya,
…melainkan karena semua orang sepakat, tidak perlu membukanya lagi.

Ia mematikan rokoknya di asbak, menghabiskan kopinya, mematikan lampu teras
Ia tertidur dengan lelapnya.

THE END

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mister Gathot Beraksi di Thailand

“Cerpen ini terinspirasi oleh buku-buku Agatha Christie” Di tengah kota Bangkok yang ramai, terdapat sebuah...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Darah di Meja Rias

Gerimis turun sejak subuh, tipis namun tak pernah benar-benar berhenti. Udara di perbukitan Ciwidey terasa...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Misteri Pencurian Kepala Patung Buddha

“Cerpen ini terinspirasi oleh buku-buku Agatha Christie” Di tengah pegunungan yang sejuk dan hijau di...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!