Episode 20 – Hal-Hal Kecil Yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Air panas mengalir pelan dari keran.
Tidak deras. Tidak pelit. Cukup untuk membilas sisa sabun dari piring-piring yang disusun Anneliese dengan urutan yang kini sudah otomatis. Tangannya bergerak tanpa ragu. Gerakannya rapi, hemat, seolah tubuhnya telah belajar bahasa baru yang tidak perlu diterjemahkan ke pikiran.
Dapur sore itu tenang. Bukan sunyi — tenang. Ada suara piring bertemu piring, kain lap diperas, langkah kaki yang lewat sebentar lalu pergi. Tidak ada yang tergesa. Tidak ada yang menunggu.
Anneliese membilas satu piring lagi.
Lalu berhenti.
Bukan karena suara. Bukan karena seseorang memanggil namanya.
Karena bau.
Tipis. Hangat. Tidak konsisten.
Bau yang tidak seharusnya ada di tempat sebersih ini.
Tangannya masih memegang piring. Air terus mengalir, membentur porselen lalu jatuh ke bak dengan suara yang terlalu normal. Bau itu tidak kuat — justru itu masalahnya. Ia datang seperti ingatan yang lupa caranya mengetuk.
“Nel, bisa tolong buang sampah sebentar?”
Suara itu ringan. Biasa. Tidak curiga.
Anneliese mengangguk sebelum pikirannya sempat menimbang. Ia meletakkan piring terakhir, mengeringkan tangan, lalu mengangkat kantong sampah hitam dari sudut dapur. Beratnya normal. Isinya sisa hari ini: tulang ayam, kulit bawang, plastik kecil, sesuatu yang tidak dimakan siapa pun.
Pintu belakang terbuka.
Udara luar menyentuh wajahnya dengan perbedaan suhu yang jelas. Sore hampir habis. Cahaya sudah rendah. Tempat sampah berdiri di ujung lorong sempit, dekat pagar besi yang catnya mengelupas.
Dua langkah sebelum ia sampai —
bau itu menguat.
Bukan lebih keras.
Lebih jelas.
Anneliese berhenti. Jantungnya berdegup kencang.
Kantong sampah masih tergantung di tangannya. Ia tidak menoleh cepat. Ia tidak perlu. Tubuhnya sudah mengenali pola yang sama seperti dulu: udara yang terasa berat tanpa alasan, perut yang menegang, tangan gemetar, lidah yang tiba-tiba kering, bahkan untuk menelan ludahpun tak mampu.
Di dekat tempat sampah, seseorang berdiri membelakangi pagar.
Seorang gelandangan tua.
Posturnya sedikit membungkuk. Bajunya berlapis-lapis dan kusam. Tangannya bergerak pelan, mengais tanpa tergesa, seolah tahu persis apa yang ia cari. Tidak rakus. Tidak cemas.
Tenang.
Anneliese tidak melihat wajahnya.
Ia tahu.
Ia tahu dari cara bau itu menempel, dari ritme gerak tubuh yang tidak terburu, dari ketenangan yang salah tempat. Ini bukan orang asing. Ini bukan sosok baru yang muncul untuk menakutinya.
Ini orang yang sama.
Orang yang tidak pernah benar-benar pergi.
Anneliese tidak bergerak. Tidak mundur. Tidak maju. Kantong sampah di tangannya terasa lebih berat dari isinya. Ia menunggu — bukan dengan harapan, tapi dengan kewaspadaan yang sangat tinggi.
Beberapa detik berlalu. Tangan Anneliese masih gemetar.
Gelandangan itu mengikat sesuatu dalam plastiknya, lalu melangkah pergi tanpa menoleh. Langkahnya pelan, hampir santai. Bau itu ikut bergerak bersamanya, memudar perlahan, meninggalkan udara yang kembali netral.
Anneliese baru bernapas lega setelah sosok itu menghilang di ujung gang.
Ia membuang sampah dengan cepat, tangannya sedikit gemetar, lalu kembali ke dalam tanpa menoleh ke belakang. Pintu menutup. Suara dapur menyambutnya lagi — terlalu biasa, terlalu aman.
Ia kembali mencuci piring.
Tangannya bergerak. Air mengalir. Tidak ada yang bertanya kenapa ia sedikit lebih pucat.
Dan Anneliese tidak bercerita.
Langit sudah gelap saat jam kerjanya berakhir. Azan maghrib sudah berkumandang di semua tempat, saling bersahutan.
Ia mengganti celemek, menyimpan upah hariannya, lalu berjalan keluar bersama orang-orang lain yang pulang ke arah berbeda. Tidak ada yang mengikutinya. Tidak ada yang memperhatikannya lebih lama dari perlu.
Langkahnya tenang. Terlalu tenang, bahkan bagi dirinya sendiri.
Ia melewati gang kecil, lampu jalan yang berkedip, dinding penuh bekas poster. Setiap langkah membawanya mendekati sudut bangunan kosong dengan pohon kering di depannya — tempat yang selama ini cukup. Tidak nyaman. Tidak aman. Tapi cukup.
Saat jaraknya tinggal beberapa meter, rasa itu datang.
“Ya Tuhan…” gumam Anneliese pelan, sangat pelan.
Bukan panik.
Bukan takut yang meledak.
Hanya ketegangan dingin di tulang punggung.
Ia memperlambat langkah.
Di bawah pohon kering itu, ada seseorang duduk.
Posisinya santai. Punggung bersandar ke batang pohon yang retak-retak. Satu kaki diluruskan, satu ditekuk. Di tangannya, sesuatu yang dibungkus plastik. Ia makan pelan, tidak tergesa, seperti seseorang yang sedang menikmati waktu sendiri.
Bau itu — kini tidak perlu dikenali lagi.
Sama persis.
Anneliese berhenti di tempat.
Ia tidak berteriak. Tidak berlari. Tidak bersembunyi. Tidak ada yang perlu dilakukan selain berdiri dan menerima fakta bahwa tempat yang ia kira tersembunyi ternyata tidak pernah benar-benar kosong.
Gelandangan tua itu tidak menoleh. Tidak menyapanya. Tidak menunjukkan minat apa pun padanya.
Ia hanya makan.
Dan bau itu mengisi ruang di antara mereka, mengikat masa lalu dan sekarang dalam satu garis lurus yang tidak bisa diputus.
Anneliese mundur satu langkah.
Lalu satu lagi.
Ia berbalik tanpa suara dan berjalan pergi, menjauh dari sudut itu, menjauh dari pohon kering, menjauh dari bau yang terlalu dikenalnya. Langkahnya tetap rapi. Tidak tergesa. Tidak kacau.
Di dadanya, jantungnya berdetak pelan tapi keras — seperti pintu yang ditutup tanpa dibanting.
Malam itu, ia tidak kembali ke sudut bangunan itu.
Bukan karena takut.
Karena ia akhirnya mengerti sesuatu yang lebih dingin dari rasa takut:
Bahwa menjadi “normal” bukan berarti masa lalu selesai.
Bahwa ingatan tidak perlu mengejar untuk tetap dekat.
Dan bahwa hidup bisa berjalan rapi…
sementara sesuatu yang busuk memilih duduk diam dan menunggu.
Anneliese terus berjalan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tahu satu hal dengan pasti:
Ia tidak sedang kembali ke titik nol.
Ia sedang belajar berjarak.
Dan jarak itu — ternyata — juga punya harga.
*
Bersambung ke Episode 21 — Masa Lalu Masih Mengikutiku
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 16 — Pekerjaan Pertama Restoran itu bersih. Bukan bersih yang berlebihan, bukan pula bersih...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 33 — Arah Yang Tidak Tergesa Pagi datang dengan tenang. Hampir sama seperti kemarin....
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 19 — Makanan Yang Tidak Diminta Makanan itu diletakkan di depannya tanpa suara. Tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 27 — Senja di Kota Semarang Beberapa minggu telah berlalu sejak Anneliese meninggalkan restoran...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 28 — Ritme yang Tidak Tergesa Pagi datang tanpa suara yang berarti. Cahaya matahari...
Read More