Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 21

Episode 21 — Masa Lalu Masih Mengikutiku

Malam itu, Anneliese tidak kembali ke sudut bangunan itu.

Ia berhenti sebelum bayangan pohon kering menyentuh kakinya. Bau yang tertinggal di udara — logam, amis, dan sesuatu yang mengingatkan pada daging mentah — membuat dadanya mengeras. Tanpa sadar, ia menahan napas. Selalu begitu. Sejak dulu. Sejak malam-malam yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Gelandangan tua masih duduk di sana. Tenang. Mengunyah perlahan. Setiap gerakan rahangnya terdengar jelas di kepala Anneliese, meski jaraknya cukup jauh. Krek. Seperti tulang kecil patah. Atau mungkin hanya pikirannya yang sedang berlebihan.

Anneliese menggosok pergelangan tangannya — kebiasaan lama yang muncul saat takut. Ia mundur. Satu langkah. Dua. Lalu berbalik.

Ke mana pun, asal bukan ke sana.

Hujan turun deras, membungkus kota dengan suara yang rapat. Di halte tua, Anneliese duduk meringkuk. Bangku logam dingin menempel di punggungnya. Setiap kali angin bergerak, lampu neon bergetar dan mengeluarkan dengung pendek, seperti nyamuk yang terperangkap.

Ia mencoba tidur, tapi tubuhnya menolak. Ia menghitung detik lewat bunyi hujan: satu, dua, tiga — berhenti di tujuh belas. Angka favoritnya sejak kecil. Ia tak tahu kenapa.

Pagi datang tanpa kelegaan.

Di toilet umum, air dingin membasuh wajahnya. Bau sabun murahan mengingatkannya pada bangunan lama — tempat di mana bau bersih selalu kalah oleh bau lembap dan sesuatu yang busuk. Anneliese mengangkat wajah, menatap cermin terlalu lama, lalu menunduk. Ia selalu menunduk lebih dulu. Itu juga kebiasaan lama.

Restoran menyambutnya dengan suara piring dan sendok. Dentingnya berirama, menenangkan. Uap sup mengepul. Rempah hangat menempel di hidungnya. Untuk beberapa jam, ia aman.

Tangannya bergerak otomatis saat mencuci piring. Gosok. Bilas. Susun. Ia menyukai urutan. Urutan membuat pikirannya diam. Namun sesekali, bau sabun bercampur lemak membuat dadanya menegang. Bau itu mirip — tidak persis, tapi cukup dekat — dengan ingatan yang tidak mau pergi.

Malam menjelang. Sisa makanan dikumpulkan. Mereka makan bersama. Anneliese mengunyah pelan, memastikan tiap suap aman. Ia selalu begitu — makan dengan hati-hati, seolah takut ada sesuatu yang salah.

Saat pulang, hujan turun lagi. Trotoar basah. Lampu jalan memantulkan cahaya seperti kaca retak.

Di tengah langkahnya, seseorang berjalan dari arah berlawanan.

Beanie hitam. Kacamata gelap. Masker hijau tua. Jaket kulit mengilap dengan kerah bulu putih.

Anneliese menegang. Bahunya sedikit terangkat — refleks yang tak pernah ia sadari. Aroma parfum Louis Vuitton menyentuh hidungnya. Pria itu melewatinya, tapi langkahnya melambat satu detik terlalu lama.

Pria itu adalah DewaBuku.

Dan pada detik itulah, ingatan lama menyeruak di kepalanya — bukan sebagai gambar utuh, melainkan potongan: lampu kristal, suara gelas bertemu, tawa rendah seorang pria lain, dan seorang perempuan muda yang duduk sedikit terlalu kaku di kursinya.

Anneliese.

DewaBuku berhenti beberapa langkah setelah berpapasan. Hujan menyentuh bahu jaketnya. Ia menoleh.

Wajah itu… berubah. Tidak sepenuhnya, tapi mata itu — cara menahan napas, cara bahunya terangkat sesaat — ia pernah melihatnya. Bertahun lalu. Di restoran mewah. Makan malam yang terlalu terang. Hendrik berbicara banyak. Perempuan itu diam, tangannya berulang kali menggosok pergelangan.

DewaBuku berbalik dan berjalan mendekat.

“Permisi,” katanya pelan, menjaga jarak. Suaranya tenang, tidak menekan. “Maaf kalau saya salah.”

Anneliese berhenti. Tubuhnya ingin lari, tapi kakinya membeku. Bau hujan bercampur kulit semakin dekat.

“Kita… pernah bertemu, ya?” tanya DewaBuku. Ia melepas kacamatanya. Matanya menyipit sedikit, berusaha memastikan. “Di sebuah restoran. Lama sekali. Kamu bersama seseorang bernama Hendrik.”

Nama itu jatuh seperti benda keras ke lantai.

Anneliese menunduk. Tangannya mengepal, lalu rileks. Ia menarik napas pendek — lalu lebih panjang. Kebiasaan lain: menenangkan diri lewat napas yang dipaksa rapi.

“Aku tidak tahu apakah kamu masih mengingatnya,” lanjut DewaBuku, suaranya tetap rendah. “Tapi aku ingat wajahmu. Cara kamu diam. Cara kamu mendengar lebih banyak daripada bicara.”

Hujan semakin rapat. Suara kota menghilang.

Anneliese mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tidak marah. Tidak juga lega. Hanya waspada.

“Kamu penulis,” katanya akhirnya. Bukan pertanyaan.

DewaBuku mengangguk kecil. “Iya.”

Keheningan di antara mereka tidak canggung — lebih seperti ruang kosong yang sengaja dijaga. DewaBuku tidak melangkah lebih dekat. Ia membiarkan Anneliese memilih.

“Aku tidak akan menanyakan hal yang tidak ingin kamu jawab,” katanya. “Aku hanya ingin memastikan… kamu baik-baik saja.”

Anneliese menelan ludah. Bau hujan, bau masa lalu, dan aroma parfum bercampur dengan bau lain dari kepalanya — bau masa lalu yang selalu ia bawa.

“Aku masih di sini,” jawabnya singkat.

Itu cukup.

DewaBuku mengangguk lagi. “Kalau suatu hari kamu ingin bicara — tentang apa pun — aku ada.” Ia menyebut namanya, pelan, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.

Mereka berpisah tanpa janji.

Anneliese melanjutkan langkah menuju sudut bangunan tua. Pohon kering berdiri seperti biasa. Ia berhenti sejenak, memastikan sekeliling. Bau yang ia takuti tidak sekuat tadi. Atau mungkin ia hanya sedikit lebih siap.

Ia memasuki kamar sempit yang selama ini dia tempati, berbaring, menatap gelap.

Masa lalu memang masih mengikutinya. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, masa lalu itu menyebut namanya dengan suara yang tidak kejam.

Dan itu — entah bagaimana — membuatnya bertahan satu hari lagi.

*

Bersambung ke Episode 22 — Orang yang Diingat Tubuh

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 23

Episode 23 — Tempat yang Tidak Mengusir Bangunan kosong itu tidak marah ketika Anneliese pergi....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 39

Episode 39 — Tempat Yang Kembali Dimiliki Tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Cahaya masuk melalui...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 16

Episode 16 — Pekerjaan Pertama Restoran itu bersih. Bukan bersih yang berlebihan, bukan pula bersih...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 37

Episode 37 — Sesuatu Yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Pagi itu berjalan seperti biasa. Anneliese...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 17

Episode 17 — Ternyata Mereka Semua Menerimaku Pagi di restoran datang tanpa upacara. Pintu belakang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!