Episode 22 — Orang Yang Diingat Tubuh

Anneliese selalu sampai di rumah ketika langit sudah kehilangan warna birunya.
Bukan karena ia pulang larut, tetapi karena bangunan kosong itu menelan cahaya lebih cepat dari tempat lain. Dinding beton yang mengelupas seperti menyerap sisa sore, menyisakan senja yang pucat dan cepat mati. Pohon kering di depannya berdiri miring, cabangnya kaku, seolah pernah berusaha tumbuh lalu menyerah di tengah jalan.
Ia membuka pintu dengan gerakan yang sudah dihafal tubuhnya.
Tidak ada bunyi engsel yang terkejut. Tidak ada langkah yang ragu.
Tempat itu mengenalnya.
Di dalam, bau lembap bercampur debu selalu sama. Anneliese tak pernah menyalakan lampu sebelum pintu tertutup sempurna. Kebiasaan lama. Dulu, di bangunan terbengkalai yang pertama, cahaya sering mengundang tatapan yang tidak diinginkan. Tubuhnya belajar lebih cepat daripada pikirannya.
Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding.
Sepatu dilepas perlahan.
Jari-jarinya memijat pergelangan kaki kiri — selalu kiri — karena di sanalah dingin sering tertinggal.
Hari itu seharusnya selesai.
Namun ingatan tidak mengenal jam pulang.
Bau itu kembali menyusup, samar tapi tegas. Bukan bau sampah. Bukan bau daging semata. Ada sesuatu yang lebih tua di dalamnya — bau kain basah yang tak pernah kering, bau kulit yang terlalu lama bersentuhan dengan udara dingin, bau yang dulu menempel di lorong-lorong gelap tempat ia belajar berjalan tanpa suara. Kamar sempit di bangunan kosong itu seperti telah menyatu dengan dirinya.
Anneliese menahan napas.
Ia tahu bau itu bukan benar-benar ada di ruangan ini.
Namun tubuhnya tidak sepenuhnya percaya.
Tangan kirinya mengepal tanpa sadar. Kukunya menekan telapak. Rasa sakit kecil itu menahannya di masa kini.
Ia berdiri, berjalan ke sudut ruangan, menata barang-barangnya dengan urutan yang selalu sama. Botol air. Jaket tipis. Tas kain. Kotak beludru. Jika urutan itu berubah, malam akan terasa lebih panjang.
Ketukan pintu terdengar.
Pelan.
Ragu.
Seperti seseorang yang menyesal telah mengetuk.
Anneliese membeku. Aroma wangi parfum Louis Vuitton menyeruak melewati celah pintu dan jendela.
Anneliese tahu aroma ini.
Ia tidak bergerak, tidak juga menjawab. Jantungnya berdetak bukan cepat, melainkan berat — seperti harus mendorong setiap denyut melewati dada.
Ketukan kedua menyusul.
Masih pelan.
Lebih sabar.
“Aku tidak akan lama,” suara itu berkata dari balik pintu. Suara pria dewasa, rendah, tidak mendesak. “Aku hanya ingin memastikan… kamu baik-baik saja.”
Anneliese menelan ludah.
Ada banyak suara pria di dunia ini. Kebanyakan mudah dilupakan. Namun suara ini membawa sesuatu yang lain — bukan ancaman, bukan juga belas kasihan. Ada kehati-hatian yang terasa nyata, seperti seseorang yang tahu bahwa satu langkah salah bisa membuat segalanya runtuh.
Ia mendekat ke pintu. Tidak langsung membukanya.
“Aku melihatmu tadi,” lanjut suara itu. “Di restoran.”
Anneliese menutup mata. Ia mencoba mengingat ketika sedang bekerja tadi siang.
Restoran itu bersih. Terlalu bersih. Ia mencuci piring hingga tangannya bau sabun dan logam. Di sela uap panas, ia merasa ada yang memperhatikannya — bukan tatapan yang menguliti, melainkan tatapan yang mencoba mengingat.
Sekarang ia benar-benar ingat. Pasti dia adalah pria itu. Ia membuka pintu sedikit.
Pria itu berdiri dengan jarak yang sopan. Melepas kacamata hitam dan masker medisnya. Mantelnya sederhana. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang bergerak — seperti seseorang yang sedang menyusun kembali potongan lama.
“Kita pernah bertemu,” katanya, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan. “Dulu. Lama sekali.”
Anneliese menatapnya tanpa ekspresi. Namun bahunya menegang.
Ia pernah belajar bahwa menyangkal lebih aman daripada bertanya.
Pria itu mengangguk kecil, seolah memahami. “Di sebuah restoran,” lanjutnya pelan. “Yang jauh lebih mewah dari tempat kamu bekerja sekarang.”
Ada kilasan cahaya di ingatan Anneliese. Lampu kristal. Gelas bening. Suara sendok menyentuh piring dengan nada yang tidak ia kenal. Hendrik duduk di seberangnya. Tersenyum terlalu percaya diri.
Dan seorang pria — ini pria itu — yang menyapa mereka dengan ramah, lalu berlalu, membawa aroma kopi dan kertas.
“Kamu menulis,” kata Anneliese tiba-tiba. Suaranya serak, seolah jarang dipakai untuk kalimat sepanjang itu.
Pria itu tersenyum tipis. “Masih.”
“DewaBuku,” lanjut Anneliese. Nama itu keluar begitu saja. Seperti sesuatu yang tersimpan lama di sudut yang jarang dibuka.
DewaBuku menghela napas lega kecil. “Aku senang kamu masih ingat.”
“Aku tidak pernah benar-benar lupa,” jawab Anneliese. “Aku hanya… menyimpannya di tempat yang aman.”
Hening jatuh di antara mereka. Dari kejauhan, suara kota terdengar tumpul, seolah dunia lain sedang berlangsung tanpa mereka.
“Aku tidak mengikuti kamu,” kata DewaBuku akhirnya. “Aku hanya… melihat sesuatu yang terasa tidak selesai.”
Anneliese teringat bau daging pada siang hari itu. Pohon kering. Sosok tua yang duduk santai, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya.
“Ada hal-hal yang tidak pernah pergi,” katanya pelan. “Mereka hanya menunggu.”
DewaBuku menatapnya lama. Bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan pengakuan. “Aku percaya kamu.”
Itu saja.
Tidak ada janji.
Tidak ada solusi.
DewaBuku mengangguk pelan. Memakai kacamata hitam dan masker medisnya kembali. Perlahan ia balik badan dan berlalu. Dia pergi melangkah semakin jauh ditelan kegelapan malam.
Namun sesuatu di dada Anneliese mengendur sedikit. Seperti simpul lama yang akhirnya diakui keberadaannya, meski belum diurai. Anneliese menatap kepergian DewaBuku agak lama.
Ia menutup pintu kembali setelah DewaBuku pergi.
Malam masih panjang. Aroma Louis Vuitton masih tertinggal. Sedikit.
Aroma itu masih berputar di ingatan.
Namun untuk pertama kalinya, Anneliese tidak sendirian dalam mengingat.
Ia duduk kembali di lantai, menyandarkan punggung ke dinding.
Tangannya terbuka.
Napasnya lebih teratur.
Masa lalu belum selesai.
Tapi ia sudah berani menatapnya — tanpa menunduk.
*
Bersambung ke Episode 23 — Tempat yang Tidak Mengusir
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 31 — Ingatan Yang Datang Tanpa Luka Pagi berjalan seperti biasa. Tidak ada yang...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 36 — Hal Yang Mulai Dijalani Pagi itu datang seperti biasanya. Cahaya masuk melalui...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 7 — Air Tidak Pernah Meminta Izin Malam datang tanpa pengumuman. Tidak ada hujan...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 24 — Enam Bulan yang Diam-Diam Mengubah Segalanya Pagi di kamar kos itu tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 35 — Hal yang Mulai Disusun Pagi itu datang tanpa gangguan. Cahaya masuk seperti...
Read More