Episode 31 — Ingatan Yang Datang Tanpa Luka

Pagi berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang berbeda.
Langkah-langkah kecil di lorong gedung terdengar ringan. Beberapa siswa sudah datang lebih awal. Suara percakapan pelan terdengar dari dalam kelas yang masih terbuka.
Anneliese berjalan melewati mereka dengan anggukan kecil.
“Pagi.”
“Pagi, Bu.”
Ia masuk ke ruang kelasnya.
Meletakkan tas.
Membuka buku.
Semua dilakukan tanpa berpikir panjang.
Seperti sesuatu yang sudah menjadi bagian dari tubuhnya.
—
Kelas pagi berlangsung tenang.
Hari itu materi yang ia ajarkan tidak terlalu sulit. Beberapa siswa terlihat lebih percaya diri dari biasanya. Mereka mulai terbiasa mengucapkan kalimat dalam bahasa Belanda tanpa terlalu ragu.
Anneliese berdiri di depan kelas.
Menjelaskan.
Sesekali memperbaiki pengucapan.
Tidak ada yang perlu dikejar.
Tidak ada yang perlu dipaksakan.
—
Saat kelas berakhir, beberapa siswa masih bertanya.
Ia menjawab dengan sabar.
Satu per satu.
Sampai akhirnya ruangan kembali kosong.
—
Siang itu, ia menuju ke area belakang gedung.
Ada keran air di sana.
Beberapa peralatan kebersihan diletakkan di sudut.
Lantai terlihat sedikit basah.
Seseorang baru saja selesai mengepel.
Air mengalir perlahan ke arah saluran kecil di ujung lantai.
—
Anneliese berhenti.
Bukan karena sesuatu yang besar.
Hanya… berhenti.
—
Air itu.
Cara air itu bergerak.
Tipis.
Pelan.
Mengalir tanpa suara.
—
Ada sesuatu yang terasa… familiar.
—
Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Matanya mengikuti aliran air itu.
Turun perlahan.
Masuk ke celah kecil di lantai.
Menghilang.
—
Sebuah bayangan muncul.
Tidak jelas.
Tidak utuh.
—
Lorong yang lebih gelap.
Lantai yang lebih kotor.
Air yang tidak bening.
Lebih keruh.
Lebih dingin.
—
Sebuah ember.
Terguling.
—
Suara logam ringan yang beradu dengan lantai.
Pelan.
Namun cukup untuk diingat.
—
Dan sesuatu di dalamnya.
Tidak bergerak.
Atau mungkin… tidak lagi.
—
Anneliese tidak bergerak.
Ia tidak memejamkan mata.
Tidak juga menarik napas panjang.
—
Ia hanya melihat.
—
Bayangan itu tidak bertahan lama.
Tidak berkembang menjadi sesuatu yang lebih jelas.
Tidak menariknya lebih dalam.
—
Perlahan… hilang.
—
Suara di sekitarnya kembali terasa.
Langkah seseorang lewat di lorong.
Suara pintu dibuka dan ditutup.
Kehidupan berjalan seperti biasa.
—
Anneliese mengedip pelan.
Seperti seseorang yang baru saja selesai melihat sesuatu dari kejauhan.
—
Ia tidak mundur.
Tidak menjauh dari tempat itu.
—
Ia berjalan mendekat ke keran.
Membuka air.
Mencuci tangannya.
Air dingin mengalir di kulitnya.
Bersih.
Jernih.
—
Ia menggosok tangannya perlahan.
Seperti biasa.
Tidak tergesa.
—
Ketika selesai, ia menutup keran.
Mengeringkan tangannya dengan kain kecil yang tergantung di samping.
—
Semua kembali seperti semula.
—
Tidak ada yang berubah di sekitarnya.
Namun ada sesuatu yang jelas di dalam dirinya.
—
Ia tahu apa yang baru saja muncul.
Ia mengenalinya.
Ia tidak menolaknya.
—
Namun ia juga tidak mengikutinya.
—
Itu hanya… ingatan.
—
Sore hari datang.
Kelas berikutnya berjalan seperti biasa.
Anneliese kembali berdiri di depan kelas.
Menjelaskan.
Mendengarkan.
Sesekali tersenyum kecil ketika salah satu siswa salah mengucapkan kata.
—
Tidak ada yang tahu apa yang sempat terlintas di pikirannya siang tadi.
Tidak perlu ada yang tahu.
—
Hari berakhir tanpa kejadian lain.
—
Malam itu, di dalam kamar, lampu menyala lembut.
Anneliese duduk di tepi tempat tidur.
Diam beberapa saat.
—
Ia tidak mencoba mengingat kembali.
Tidak juga mencoba melupakan.
—
Ia hanya duduk.
Membiarkan hari itu selesai dengan sendirinya.
—
Sebelum berbaring, ia menarik napas pelan.
Menghembuskannya perlahan.
—
Tidak ada beban yang tertinggal.
Tidak ada rasa takut yang datang menyusul.
—
Hanya satu kesadaran sederhana yang menetap dengan tenang:
bahwa apa yang pernah terjadi…
tidak lagi tinggal di dalam dirinya.
—
Lampu dimatikan.
Kamar menjadi gelap.
—
Dan malam itu,
Anneliese tidur tanpa gangguan.
Tanpa bayangan.
Tanpa suara.
—
Untuk pertama kalinya,
sebuah ingatan datang…
dan pergi…
tanpa meninggalkan luka.
*
*
Bersambung ke Episode 32 – Hal Yang Mulai Dipikirkan
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 10 — Hal-Hal yang Tidak Ditanyakan Tidak ada burung. Tidak ada kendaraan. Bahkan suara...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 15 — Air Bersih Tidak Menghapus Apa Pun Pagi datang tanpa suara. Tidak ada...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 37 — Sesuatu Yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Pagi itu berjalan seperti biasa. Anneliese...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 27 — Senja di Kota Semarang Beberapa minggu telah berlalu sejak Anneliese meninggalkan restoran...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 38 — Hal Yang Mulai Dimiliki Pagi itu datang dengan biasa. Tidak ada yang...
Read More