Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 10

Episode 10 — Hal-Hal yang Tidak Ditanyakan

Tidak ada burung. Tidak ada kendaraan. Bahkan suara gedung yang biasanya berderak saat suhu berubah pun tidak terdengar. Seolah bangunan itu menahan napas bersama Anneliese.

Ia berdiri di dekat jendela pecah, memandangi halaman depan gedung yang masih basah. Air banjir sudah benar-benar surut, meninggalkan garis kecokelatan di dinding — seperti bekas tangan yang terlalu besar untuk disebut manusia.

Air memang sudah surut tanpa suara.

Lantai gedung meninggalkan garis kotor setinggi betis, seperti penanda yang enggan dihapus. Anneliese berdiri lama di sana, menatap bekas itu seolah menunggu sesuatu kembali naik. Tidak ada yang naik. Tidak ada yang datang. Yang tersisa hanya bau lembap dan perasaan bahwa keheningan ini terlalu rapi untuk disebut aman.

Ia mencoba membersihkan tangan dengan air yang lebih jernih. Air itu terasa salah. Bukan dingin, bukan hangat — melainkan tidak jujur. Ia menghentikan gerakan sebelum air menyentuh pergelangan. Mulutnya terasa asin, seperti logam yang lama digenggam. Ia menelan, refleks, lalu berhenti. Tidak ada yang perlu ditelan.

Di sudut ruangan, ember bekas tergeletak miring. Tidak ada isi. Tidak ada jejak. Hanya bau dan bentuknya yang membuat lututnya lemas. Ia duduk, punggung menempel tembok, menunggu tubuhnya berhenti gemetar. Gemetar itu tidak pergi. Ia hanya mengecil, lalu menetap.

Malam datang tanpa bunyi. Tidak ada langkah, tidak ada tetesan. Anneliese menyadari sesuatu yang mengganggu: ia tidak merasakan lega. Yang ada hanyalah ruang kosong yang tidak meminta diisi.

Anneliese mencuci wajahnya dengan air sisa yang ia tampung semalam. Dingin. Berbau besi tipis. Ia tidak peduli. Yang ia perhatikan hanya satu hal: tangannya gemetar saat menyentuh air.

Bukan karena dingin.

Ia memeriksa gedung itu lagi.
Pintu depan masih terbuka.
Tidak ada jejak baru.
Tidak ada barang yang berpindah.

Semuanya terlihat… normal.

Dan itulah yang salah.

Anneliese mulai membersihkan lantai tempat dia tidur. Bukan karena ingin bersih, tapi karena ia perlu melakukan sesuatu yang tidak melibatkan berpikir. Ia menyapu pecahan kayu, sisa plastik, dan kain-kain yang tidak ia kenali asalnya.

Di sudut ruangan, ia menemukan sesuatu.

Plastik hitam. Kosong. Terlipat rapi.

Ia menatapnya lama. Tidak menyentuhnya. Tidak membungkuk. Ia hanya berdiri, menunggu tubuhnya bereaksi — tapi tubuhnya tidak melakukan apa pun.

Tidak ada muntah.
Tidak ada tangis.
Tidak ada jeritan.

Hanya satu pikiran kecil yang muncul, tenang dan jernih:

Plastiknya sama.

Ia meninggalkan plastik itu di tempatnya.

Siang hari, Anneliese memberanikan diri keluar gedung. Bukan jauh. Hanya sampai tepi jalan. Udara kota terasa asing di paru-parunya. Terlalu luas. Terlalu terbuka.

Sebuah warung kecil di seberang jalan sudah buka. Seorang pria paruh baya duduk di bangku plastik, menyeruput kopi.

Anneliese berdiri beberapa meter darinya, ragu. Lalu mendekat.

“Pak,” katanya pelan. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri. “Gedung itu… dulunya apa?”

Pria itu menoleh. Menyipitkan mata. Melihat ke arah gedung terbengkalai di belakang Anneliese.

“Oh,” katanya singkat. “Kos. Dulu bagus.”

“Kenapa ditinggalkan?”

Pria itu mengangkat bahu. “Banyak cerita.”

Anneliese menunggu. Pria itu tidak melanjutkan.

“Cerita apa?” tanya Anneliese lagi.

Pria itu menyesap kopinya. Lama. Lalu berkata, hampir santai, “Orang-orang pindah. Katanya tidak betah.”

“Kenapa?”

Pria itu menoleh lagi ke gedung. Kali ini lebih lama.

“Katanya,” ucapnya pelan, “malam-malam suka ada yang masih masak.”

Anneliese tidak bertanya lebih jauh.

Ia mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu kembali ke gedung. Langkahnya cepat, tapi tidak panik. Di dalam kepalanya, kalimat itu berulang:

Masih masak.

Sore hari, bau itu muncul lagi.

Lebih jelas sekarang. Bukan dari satu ruangan saja. Tapi dari dua. Mungkin tiga. Bau yang sama, konsisten. Seperti rutinitas.

Anneliese duduk di lantai, memeluk lutut. Tangannya kembali menekan telapak tangan, ibu jarinya menggali sedikit ke kulit.

Ia sadar sesuatu:
Ia belum merasa takut.

Yang ia rasakan justru… keterlambatan.

Seperti datang ke sebuah tempat setelah sesuatu yang penting selesai dilakukan.

Malam itu, suara logam terdengar lagi. Lebih dekat. Lebih pelan. Tidak terburu-buru.

Anneliese menutup mata.

Ia tidak berdoa.
Ia tidak berharap.
Ia hanya membuat satu keputusan kecil di kepalanya:

Besok, ia harus menemukan kotak beludru itu.

Apa pun yang terjadi setelahnya, setidaknya satu hal harus kembali ke tangannya.

Di luar, gedung itu mengeluarkan bunyi halus — bukan retakan, bukan gesekan — lebih seperti napas panjang yang dilepaskan dengan puas.

Dan untuk pertama kalinya sejak Hendrik menghilang, Anneliese membiarkan dirinya tertidur.

Tidak nyenyak.
Tapi setidaknya cukup.

Bersambung ke Episode 11 — Lemari Yang Hampir Sama

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 19

Episode 19 — Makanan Yang Tidak Diminta Makanan itu diletakkan di depannya tanpa suara. Tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 28

Episode 28 — Ritme yang Tidak Tergesa Pagi datang tanpa suara yang berarti. Cahaya matahari...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 3

Episode 3 - Sesuatu Yang Tidak Pernah Dibicarakan Pagi di Semarang selalu datang tanpa bertanya...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 20

Episode 20 - Hal-Hal Kecil Yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Air panas mengalir pelan dari...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 34

Episode 34 — Hal yang Mulai Dipilih Hujan rintik-rintik mengguyur kota Semarang di pagi-pagi buta....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!