Episode 11 — Lemari Yang Hampir Sama

Pagi datang tanpa benar-benar masuk.
Cahaya hanya berhenti di ambang jendela-jendela tinggi gedung itu, seolah ragu apakah bangunan ini masih pantas disebut tempat tinggal. Air sudah surut sejak kemarin, meninggalkan garis-garis kecokelatan di dinding seperti bekas napas yang tidak pernah selesai. Bau lembap tidak pergi. Ia menetap.
Anneliese terbangun dengan tangan kanan yang sudah menggenggam sesuatu.
Ia tidak langsung membuka mata. Ia mengenali tekanan itu lebih dulu. Keras. Licin. Dingin.
Baru setelah beberapa detik ia sadar — itu hanya gagang tempat tidur tingkat. Tangannya selalu mencari pegangan saat bangun sekarang. Selalu. Bahkan ketika tidak ada apa-apa yang perlu dipegang.
Ia duduk pelan, menurunkan kaki ke lantai. Telapak kakinya menyentuh permukaan yang masih dingin, meski air telah lama pergi. Suara kecil muncul — bukan cipratan, hanya bunyi lengket yang enggan berpisah.
Ruangan itu tidak berubah. Dan justru karena itulah ia terasa salah.
Deretan tempat tidur bertingkat masih berdiri seperti kemarin. Lemari-lemari plastik kecil berjajar di sisi ruangan, sebagian terbalik, sebagian lagi terbuka tanpa isi. Warna-warna pudar — merah muda, hijau pucat, biru kusam — mencoba terlihat ceria di tempat yang tidak lagi mengenal fungsi itu.
Anneliese berdiri.
Langkahnya pelan, terukur, seakan lantai bisa kembali naik jika ia bergerak terlalu cepat. Tangannya tidak pernah benar-benar lepas dari tubuhnya. Jari-jarinya sering menekuk sendiri, seolah menghitung sesuatu yang tidak ingin ia sebutkan.
Ia berhenti di depan sebuah lemari plastik biru.
Bukan yang itu.
Ia tahu tanpa berpikir. Warna birunya terlalu terang. Stikernya berbeda. Retaknya di sisi kiri, bukan di kanan. Lemari ini salah — jelas salah.
Namun jantungnya tetap berdetak lebih cepat.
Ia berjalan satu langkah ke kiri.
Lemari biru lagi.
Yang ini… hampir.
Warna birunya lebih kusam. Stiker kartunnya terkelupas setengah. Pintu lemari sedikit melengkung ke dalam. Anneliese berlutut di depannya, tanpa sadar menahan napas.
Tangannya terangkat, berhenti beberapa sentimeter dari permukaan plastik.
Ia tidak langsung menyentuhnya.
Ada jeda yang terlalu panjang untuk disebut ragu, tapi terlalu pendek untuk disebut takut. Dalam jeda itu, pikirannya memutar hal-hal kecil: bunyi air menetes semalam, rasa asin di lidahnya yang tidak mau hilang, cara tangan Hendrik dulu selalu meraih dompetnya sebelum tidur.
Ia menempelkan telapak tangannya ke lemari itu.
Dingin.
Ia membuka pintunya.
Kosong.
Anneliese menutup mata.
Bukan kecewa yang datang, melainkan sesuatu yang lebih mengganggu: keyakinan sesaat bahwa lemari ini pernah berisi sesuatu. Ia bisa merasakannya, seperti bau yang tertinggal setelah orang pergi. Bukan ingatan yang utuh, hanya bekas.
Ia berdiri terlalu cepat. Dunia bergeser setengah detik. Tangannya refleks mencengkeram lengan sendiri, kuku menekan kulit hingga meninggalkan garis tipis.
Ia berpindah ke lemari berikutnya.
Lalu berikutnya lagi.
Beberapa ia buka. Beberapa hanya ia sentuh. Tidak satu pun yang tepat. Tapi semakin lama, perbedaannya semakin sulit ia jelaskan. Biru-biru itu mulai saling menyerupai. Retakannya terasa pindah. Warna-warnanya bertukar tempat dalam ingatannya.
Di satu titik, ia berhenti mencoba mengingat.
Ia hanya mencari.
Pagi ini memang tidak membawa perubahan. Cahaya masuk lewat lubang-lubang lama, menimpa debu di tembok yang bergerak pelan. Anneliese berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu berhenti — seolah lantai bisa memutuskan sesuatu tanpa memberi tahu.
Ia menyusun ulang kejadian, tanpa suara. Selalu ada satu versi di mana ia sedikit terlambat. Satu langkah lebih lambat. Satu napas lebih panjang. Versi itu mengulang dirinya sendiri dengan disiplin yang kejam.
Di dekat tempat tidur bertingkat, selembar plastik tipis menempel pada kaki besi. Ia menariknya. Bunyi kecil itu membuat perutnya menegang. Lidahnya bergerak sendiri, menyentuh langit-langit mulut, memastikan rasa yang tertinggal masih ada. Masih.
Ia mencoba duduk dan berdiam. Tubuhnya menolak diam. Bukan gelisah — lebih seperti kewaspadaan yang tidak punya objek. Ia menyentuh dinding, lalu menarik tangan secepat mungkin, seolah dinding menyimpan panas lama.
Tidak ada suara yang datang. Tidak ada yang memanggil. Keheningan ini bekerja — bukan dengan menekan, melainkan dengan membiarkan pikiran berputar tanpa akhir.
Ruangan terasa lebih sempit dari kemarin. Langit-langit seperti turun beberapa sentimeter. Udara mengental. Setiap kali ia menggerakkan tangan, ada sensasi aneh — seperti menyentuh sesuatu yang baru saja ditarik pergi.
Ia akhirnya duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur. Tangannya tetap aktif. Jari-jarinya mengusap, meremas, menggosok telapak tangan sendiri. Gerakan kecil, berulang, hampir tidak ia sadari.
Seolah jika ia berhenti, sesuatu akan terjadi.
Ia menatap deretan lemari sekali lagi.
Ada satu lemari di ujung ruangan. Birunya sangat pucat. Hampir abu-abu. Dari jauh, ia tampak salah. Dari dekat, ia tampak… mungkin.
Anneliese tidak mendekat.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia memilih tidak memastikan.
Ia menunduk, memejamkan mata, dan membiarkan tangan kanannya terus bergerak kecil di atas paha — menggosok, berhenti, menggosok lagi — sebuah kebiasaan baru yang tidak pernah ia putuskan, tapi kini tidak bisa ia hentikan.
Di luar, angin melewati lorong-lorong kosong gedung itu dan menghasilkan bunyi yang menyerupai gesekan plastik.
Anneliese membuka mata.
Ia tidak lagi yakin apakah bunyi itu datang dari luar,
atau dari sesuatu yang bergeser sedikit di dalam kepalanya.
Dan di ruangan penuh lemari yang hampir sama itu,
ia menyadari satu hal dengan sangat tenang:
Kadang yang paling berbahaya bukanlah kehilangan,
melainkan ketika sesuatu hampir kembali —
tapi tidak pernah benar-benar sama.
Bersambung ke Episode 12 — Yang Tidak Bisa Ditelan
v
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 2 – Hari-Hari Yang Terlalu Indah Semarang, pukul enam sore. Matahari belum sepenuhnya tenggelam...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 32 - Hal yang Mulai Dipikirkan Pagi datang dengan cara yang sama seperti hari-hari...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 3 - Sesuatu Yang Tidak Pernah Dibicarakan Pagi di Semarang selalu datang tanpa bertanya...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 36 — Hal Yang Mulai Dijalani Pagi itu datang seperti biasanya. Cahaya masuk melalui...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 17 — Ternyata Mereka Semua Menerimaku Pagi di restoran datang tanpa upacara. Pintu belakang...
Read More