Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 12

Episode 12 — Yang Tidak Bisa Ditelan

Bau itu datang sebelum pagi.

Bukan bau yang keras. Tidak menusuk. Tidak langsung bisa diberi nama. Ia hanya hadir, tipis, seperti kesalahan kecil di udara yang seharusnya bersih. Anneliese menyadarinya saat menarik napas pertama setelah bangun—napas yang terhenti di tengah jalan.

Tangannya langsung bergerak.

Ia duduk, jari-jarinya mengusap telapak tangan sendiri, cepat lalu melambat, seolah sedang memastikan kulitnya masih ada. Kebiasaan itu kini muncul bahkan sebelum pikirannya sempat bekerja.

Bau itu tidak tinggal di satu titik. Ia menyebar perlahan, menempel di sudut-sudut ruangan, bersembunyi di balik kasur tingkat, menyelinap di sela lemari plastik. Bau lembap masih ada, tapi ini berbeda. Lebih hangat. Lebih… dekat.

Anneliese berdiri.

Langkahnya terhenti setelah dua langkah. Lantai kering, tapi ingatannya tidak. Ia bisa merasakan dingin air di betisnya lagi, meski sekarang hanya debu dan bekas lumpur yang tertinggal. Bau itu semakin jelas saat ia bergerak, seperti makhluk hidup yang bereaksi terhadap kehadirannya.

Ia menoleh ke kiri.

Deretan tempat tidur tidak berubah. Selimut kusut. Kasur bernoda. Tidak ada apa-apa yang bergerak. Namun bau itu terasa lebih kuat di sana.

Ia menoleh ke kanan.

Lemari-lemarinya berdiri dalam barisan yang tidak rapi. Biru, biru pucat, biru yang hampir abu-abu. Bau itu seperti berhenti sejenak di depan mereka, lalu berpindah lagi, seolah memilih.

Anneliese menelan ludah.

Rasa asin muncul di mulutnya. Ia berhenti, terkejut oleh rasa itu—bukan karena tidak familiar, tapi karena terlalu familiar. Ia tidak ingat kapan pertama kali merasakannya, hanya tahu bahwa rasa itu kembali.

Tangannya naik ke wajah tanpa ia sadari. Ia mengusap bibirnya sekali. Lalu sekali lagi.

Jauh di dalam gedung, terdengar bunyi logam bergeser.

Bukan keras. Bukan jelas. Hanya cukup untuk membuatnya berhenti bernapas selama dua detik.

Ia menunggu.

Tidak ada bunyi lanjutan.

Keheningan setelahnya terasa salah—bukan karena sunyi, tapi karena terlalu rapi. Seperti sesuatu yang sengaja tidak bergerak agar tidak terdengar.

Anneliese melangkah mundur.

Tumitnya menyentuh kaki tempat tidur. Ia hampir tersandung, tangannya refleks meraih udara, lalu menggenggam rangka besi. Sentuhan dingin itu membuatnya terdiam. Bau itu kini tepat di depannya. Tidak kuat, tapi jelas.

Ia menunduk.

Di lantai, ada bekas yang belum ia lihat sebelumnya. Bukan genangan. Bukan noda utuh. Hanya jejak samar, seperti sesuatu pernah diseret pelan, lalu berhenti, lalu bergerak lagi.

Ia tidak mengikuti jejak itu dengan mata.

Ia memilih menatap tangannya sendiri.

Jari-jarinya sedikit gemetar, tapi tetap bergerak—mengusap, meremas, menekan. Gerakan kecil yang kini terasa lebih penting daripada apa pun di ruangan ini. Seolah selama tangannya bergerak, ia masih punya kendali.

Bau itu tidak pergi.

Ia hanya menjauh sedikit.

Anneliese duduk kembali di lantai, punggungnya bersandar ke ranjang. Ia menarik napas pendek-pendek, seperti belajar bernapas dari awal. Di kepalanya, pikiran-pikiran kecil mulai bertabrakan: lemari yang hampir sama, suara yang tidak jadi terdengar, rasa asin yang tidak mau hilang.

Ia menutup mata.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya apa itu.

Ia bertanya seberapa dekat.

Dan pertanyaan itu, entah kenapa, terasa jauh lebih menakutkan.

Di lorong gedung yang lebih dalam, sesuatu bergeser lagi—sangat pelan—cukup pelan untuk tidak bisa dipastikan apakah itu nyata, atau hanya bau yang sedang mencari tempat baru untuk tinggal.

Anneliese berdiri menjauhi tempat tidur besi bertingkat itu, mundur beberapa langkah dan membuka mata. Suara menyeret yang pelan itu akhirnya lenyap.

Tangannya masih bergerak.

Dan kali ini, ia tidak berusaha menghentikannya. Ia mundur perlahan beberapa langkah sampai punggungnya menempel di pilar beton besar yang lusuh yang dibawahnya terdapat tumpukan-tumpukan sampah sisa banjir.

Tangannya terus saja bergerak, hingga akhirnya menyentuh sesuatu di tumpukan-tumpukan sampah sisa banjir itu. Ternyata sebuah kotak kecil terbuat dari plastik yang masih kokoh. Rupanya itu adalah tempat makan anak sekolah yang dulu hanyut terbawa banjir. Dia membukanya. Ada selembar uang kertas sepuluh ribu rupiah yang agak lusuh tetapi masih layak dipergunakan.

Ia mengambilnya. Dadanya berdebar-debar. Sudah lama ia tidak makan.

Anneliese keluar saat sore hampir habis. Dunia berjalan seperti biasa. Motor lewat. Seseorang tertawa. Bau gorengan menyentuh udara. Semua tampak terlalu utuh.

Ia membeli air minum dan sebungkus nasi kucing menggunakan uang yang dia temukan tadi. Botolnya dingin di telapak tangan. Ia membuka tutupnya, mengangkat sedikit, lalu berhenti. Tenggorokannya menutup, bukan oleh takut—oleh penolakan yang tenang. Ia menurunkan botol itu, menyimpannya kembali, seolah tak pernah berniat minum.

Makanan terlihat normal. Tubuhnya tidak. Ia mencoba menelan satu suap kecil. Suap itu berhenti di tengah, tak mau turun, tak mau kembali. Ia menunggu, sabar, sampai akhirnya suap itu dikeluarkan dengan hati-hati, tanpa bunyi. Tidak ada muntah. Tidak ada dramatik. Hanya kegagalan kecil yang terasa final.

Ia menyadari sesuatu saat melihat orang lain makan: ia merasa tidak pantas berada di antara mereka. Bukan karena kotor. Bukan karena miskin. Melainkan karena standar “manusia” di dalam dirinya telah bergeser tanpa izin.

Hari berlalu sangat cepat dan beranjak malam. Sebungkus nasi dan sebotol minuman masih digenggam di tangan kirinya.

Malam itu, saat kembali, rasa asin-logam itu muncul lagi. Ia tidak meludah. Ia membiarkannya.

Anneliese mendengar sayup-sayup bunyi kentongan yang dipukul warga dari jauh. Rupanya mereka berteriak-teriak bahwa banjir datang lagi dengan cepat tanpa suara.

Takut. Gugup. Kuatir.
Itulah yang dirasakan Anneliese saat ini.
Ia melihat sebungkus nasi dan sebotol minuman di genggaman tangan kirinya.
Anneliese berpikir cepat. Melemparkan sebungkus nasi dan sebotol minuman itu di tempat tidur besi tingkat di bagian atas.

Air sudah menyentuh lututnya tanpa terasa. Anneliese hanya diam mematung.
Sudah 30 menit dia berdiri mematung.
Matanya melihat kebawah.

Air masih menggenang, tapi tidak lagi bergerak.

Itu yang pertama kali disadari Anneliese.
Bukan ketinggiannya. Bukan dinginnya.
Melainkan diamnya.

Anneliese mulai memegang rangka besi tempat tidur. Hanya memanjatnya dan berhenti disitu.

Ia berdiri dengan kaki gemetar di atas rangka besi tempat tidur bertingkat yang sudah berkarat. Nafasnya pendek, terputus-putus. Bau air lama bercampur kayu lapuk dan sesuatu yang ia tidak mau beri nama memenuhi paru-parunya.

Di gedung itu, suara selalu ada.
Tetesan. Rembesan. Kayu yang mengerang pelan.
Malam ini—tidak.

Anneliese menurunkan satu kaki, menyentuh permukaan air. Air itu tidak beriak seperti biasanya. Seolah lantai di bawahnya menelan suara.

Ia turun dan melangkah satu kali lagi.

Lalu sesuatu menyentuh tulang keringnya.

Bukan tangan.
Bukan makhluk.

Sesuatu yang keras, bersudut, dan ringan—terdorong pelan oleh arus yang hampir mati.

Anneliese membeku.

Ia tidak langsung melihatnya.
Ia mengenalinya dari warna.

Biru.
Biru yang terlalu cerah untuk tempat seperti ini.

Ia berjongkok perlahan, air mencapai pahanya. Tangannya menyibak genangan dengan gerakan ragu, seperti takut air itu akan mengingat apa yang disentuhnya.

Di bawah permukaan, ada sudut plastik. Retak. Kotor. Tapi warnanya tetap sama.

Biru ceria yang salah tempat.

Anneliese menarik tangannya kembali seolah tersengat. Nafasnya tertahan terlalu lama, dadanya terasa sakit. Pikirannya sudah tidak sinkron dengan hatinya.

Tidak.
Bukan sekarang.

Ia berdiri tergesa, hampir terpeleset, lalu mundur beberapa langkah sampai punggungnya menyentuh tembok dingin. Matanya tidak lepas dari titik di air itu.

Ia tahu apa itu.
Ia tahu kenapa itu ada di sini.

Tapi ia juga tahu satu hal lain, dengan kepastian yang membuat perutnya melilit:

Jika ia menyentuhnya sekarang,
sesuatu di dalam dirinya akan berubah selamanya.

Air tetap diam.
Lemari itu tidak bergerak.
Seolah menunggu.

Anneliese menutup matanya, menggeleng pelan—bukan menolak, hanya menunda.

Malam itu, untuk pertama kalinya,
ia tidur sambil mengetahui di mana harapannya berada—
dan memilih untuk tidak mengambilnya.

Bersambung ke Episode 13 — Yang Akhirnya Disentuh

*

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 16

Episode 16 — Pekerjaan Pertama Restoran itu bersih. Bukan bersih yang berlebihan, bukan pula bersih...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 38

Episode 38 — Hal Yang Mulai Dimiliki Pagi itu datang dengan biasa. Tidak ada yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 5

Episode 5 — Tidak Ada Tempat untuk Pulang Siang itu panasnya aneh. Bukan terik yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 31

Episode 31 — Ingatan Yang Datang Tanpa Luka Pagi berjalan seperti biasa. Tidak ada yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 14

Episode 14 — Bau Yang Mengajarkan Nilai Bau itu datang tanpa alasan. Bukan bau makanan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!