Episode 14 — Bau Yang Mengajarkan Nilai

Bau itu datang tanpa alasan.
Bukan bau makanan yang jelas. Bukan aroma dapur. Bukan wangi daging yang benar-benar terbakar.
Ia muncul seperti serpihan mimpi yang tersesat ke kenyataan—tipis, hangat, tidak konsisten.
Anneliese berhenti berjalan.
Kotak beludru itu masih ia peluk, erat, seperti satu-satunya benda yang bisa menahan tubuhnya tetap tegak. Tangannya gemetar, tapi bukan karena dingin.
Ia mengangkat kepala sedikit, menghirup, lalu menahan napas.
Ada sesuatu.
Atau tidak ada apa-apa.
Sebuah jeda panjang mengisi dadanya. Lalu bau itu datang lagi—lebih jelas sepersekian detik—seperti daging yang dipanaskan terlalu lama, wangi yang seharusnya gurih tapi justru pahit, seperti api yang tidak menyala sempurna.
Anneliese memejamkan mata.
Ia menunggu.
Mungkin hanya lapar.
Mungkin trauma.
Mungkin gedung ini mengulang sesuatu yang tidak ingin ia ingat.
Tapi bau itu kembali.
Dan kali ini, bersamaan dengan suara.
Krek… tak…
Krek… tak…
Suara ritmis. Terlalu pelan untuk disebut orang memasak. Terlalu teratur untuk disebut kebetulan.
Seperti pisau yang mengiris… sesuatu.
Bukan dengan tergesa.
Dengan disiplin.
Anneliese membuka mata perlahan.
Ruangan itu tetap sama. Gelap. Bekas banjir masih membekas di dinding. Air menggenang setinggi betis, tenang seperti sengaja menahan napas.
Tapi dari jauh—dari ruangan yang dulu pernah ia intip—suara itu muncul lagi. Lebih tipis. Lebih sabar.
Krek…
…tak.
Lalu berhenti.
Anneliese tidak bergerak. Ia hanya memeluk kotaknya lebih kuat. Dadanya naik turun pendek, tidak sinkron. Tubuhnya melemah, tapi pikirannya justru terlalu sadar.
Air liurnya terasa tidak cukup. Tenggorokannya kering.
Ia tidak tahu apakah bau itu nyata.
Tapi rasa takutnya nyata.
Kemudian sebuah suara muncul dari belakangnya. Agak jauh.
“Ehemm…”
Anneliese membeku.
Bukan karena keras.
Bukan karena tiba-tiba.
Melainkan karena suara itu tidak berusaha menakut-nakuti.
Langkah pelan terdengar. Bukan langkah mengendap. Bukan ancaman yang dipaksakan.
Langkah biasa. Langkah seseorang yang tidak merasa perlu sembunyi.
Seorang gelandangan tua berdiri sekitar lima belas meter darinya.
Tubuhnya kurus, seperti rangka yang terlalu lama dipaksa hidup. Banyak bekas darah mengering di seputar mulutnya. Pertanda bahwa dia tidak pernah cuci muka. Apalagi gosok gigi. Bajunya lusuh, basah di beberapa bagian. Kulitnya penuh bekas luka lama – luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, hanya berhenti berdarah lalu dibiarkan.
Rambutnya acak-acakan.
Tapi matanya…
Tenang.
Bukan tenang kosong.
Tenang yang menilai.
Ia menatap Anneliese seolah sedang melihat barang lama di pasar loak—bukan dengan serakah, bukan dengan benci, melainkan dengan ketertarikan yang terukur.
“Hm…”
Ia memiringkan kepala sedikit.
“Kamu…”
Nada suaranya ringan. Nyaris ramah.
Seolah kalimat itu tidak punya kelanjutan yang berbahaya.
Anneliese mundur satu langkah. Tubuhnya goyah. Kotak beludru itu hampir terlepas dari pelukannya.
Gelandangan tua itu melihat gerakan kecil itu.
Matanya berubah—bukan karena marah.
Melainkan seperti seseorang yang baru menyadari nilai sebuah benda.
Ia tersenyum. Tipis.
Bukan senyum jahat.
Senyum orang yang sudah membuat keputusan.
Anneliese ingin bicara. Mulutnya terbuka sedikit. Tidak ada suara keluar.
Perutnya kosong. Kepalanya ringan. Luka-luka kecil dari hari-hari sebelumnya mulai berdenyut, menuntut perhatian yang tidak bisa ia berikan.
Ia hanya memeluk kotaknya lebih kuat.
Lalu ia mundur terlalu cepat.
Kakinya terpeleset lumpur tipis. Keseimbangannya runtuh dalam satu detik yang terlalu singkat untuk dicegah.
Kotak beludru itu terlepas.
Meluncur dari jari-jarinya yang tidak lagi punya tenaga.
Gelandangan itu menangkapnya.
Dengan refleks yang tidak masuk akal untuk tubuh setua itu.
Ia tidak membuka kotaknya.
Tidak memeriksanya.
Tidak penasaran.
Ia hanya menggenggamnya seperti barang yang bisa ditukar.
Seperti benda yang tidak penting—tapi jelas berharga.
Anneliese tersentak maju satu langkah.
Refleks.
Bukan keberanian.
Tangannya terulur, lalu berhenti di udara.
Keraguannya lebih kuat dari kemarahannya.
Apakah lelaki itu akan menyakitinya?
Atau… apakah ia sudah berniat melakukannya sejak awal?
Tubuh Anneliese terlalu lemah untuk merebut apa pun. Kakinya gemetar. Nafasnya pendek. Dunia terasa miring.
Gelandangan tua itu menimbang kotak beludru itu sebentar di tangannya, seperti menimbang berat daging.
“Ringan,” katanya pelan.
“Nggak kayak isinya.”
Ia melangkah satu kali mendekat.
Bau itu kini jelas. Bukan lagi samar.
Bukan sekadar masakan.
Bau daging yang pernah panas… lalu dingin… lalu dipanaskan lagi.
Anneliese mundur. Punggungnya menyentuh dinding. Tidak ada lagi ruang.
Matanya terisi air, tapi tidak jatuh.
Ia berpikir tentang ibunya.
Tentang tangan yang dulu meletakkan perhiasan-perhiasan itu ke dalam kotak beludru dengan sabar.
Tentang pesan yang tidak pernah diucapkan sebagai ancaman, hanya sebagai harapan.
Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya selesai.
Ia menubruk.
Bukan serangan.
Upaya bertahan yang putus asa.
Perkelahian itu tidak seimbang sejak awal.
Sambil berkelahi, gelandangan tua itu berpikir….
Dalam pikiran gelandangan tua itu hanya kata-kata “Hehe….Aku masih punya yang sama dengannya, Tangannya tinggal satu….tapi perempuan itu pasti lebih lezat kalau digoreng hehe…”
Sebuah perkelahian yang santai bagi si gelandangan tua.
Anneliese terlalu lemah. Setiap gerakannya lambat. Setiap sentuhannya gemetar. Gelandangan itu tidak terburu-buru. Ia menangkis, mendorong, menahan—seperti seseorang yang sedang mengatur posisi potongan daging agar tidak jatuh ke lantai.
Anneliese terjatuh. Lututnya membentur keras. Rasa sakit datang terlambat.
Ia bangkit lagi.
Terjatuh lagi.
Tangannya berhasil meraih kotak beludru itu sebentar—cukup lama untuk merasakannya—lalu terlepas kembali.
Gelandangan tua itu maju satu langkah terlalu jauh.
Lantai licin.
Kayu-kayu bekas menumpuk tidak rapi.
Ia tergelincir.
Tubuh tuanya kehilangan keseimbangan yang selama ini ia jaga dengan pengalaman, bukan tenaga.
Ia terjatuh ke depan.
Kayu runcing yang lapuk sedang menunggu.
Benturan itu tidak keras. Tidak dramatis.
Hanya bunyi tumpul. Nafas yang terhenti.
Tubuh yang berhenti bergerak.
Anneliese berdiri terengah-engah. Dunia berputar. Darah terasa hangat di beberapa bagian tubuhnya. Ia tidak tahu dari mana asalnya.
Kotak beludru itu tergeletak tidak jauh darinya.
Ia merangkak.
Mengambilnya.
Memeluknya.
Tangis tidak keluar.
Hanya nafas yang akhirnya menemukan ritmenya lagi.
Ia bersandar ke tembok. Membersihkan lukanya dengan air banjir. Merobek bajunya sendiri untuk perban. Gerakannya lambat, mekanis, seperti mengikuti daftar tugas yang harus diselesaikan agar tetap hidup.
Ia menunggu.
Satu hari.
Satu malam.
Air surut.
Dua malam kemudian, dengan tubuh tertatih, Anneliese kembali mendatangi tempat sampah restoran-restoran mewah. Mencari sisa-sisa makanan. Bertahan.
Saat tubuhnya cukup kuat, ia mencari air bersih. Membersihkan diri. Membersihkan jejak.
Lalu ia membuka kotak beludru itu.
Untuk terakhir kalinya sebagai kenangan.
Dan pertama kalinya sebagai modal hidup.
Bau itu masih tinggal di ingatannya.
Bukan sebagai rasa lapar.
Melainkan sebagai pelajaran:
Bahwa nilai sesuatu tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memilikinya—
melainkan oleh siapa yang masih sanggup mempertahankannya tanpa kehilangan diri sendiri.
Bersambung ke Episode 15 — Air Bersih Tidak Menghapus Apa Pun
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 3 - Sesuatu Yang Tidak Pernah Dibicarakan Pagi di Semarang selalu datang tanpa bertanya...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 7 — Air Tidak Pernah Meminta Izin Malam datang tanpa pengumuman. Tidak ada hujan...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 18 — Kalimat Yang Datang Terlalu Dini Restoran itu masih sama. Bersih. Tenang. Tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 29 — Kota yang Mulai Terasa Rumah Hari-hari berjalan tanpa terasa mendesak. Tidak ada...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 9 — Orang yang Tidak Pernah Pergi Malam tidak benar-benar datang di gedung itu.Ia...
Read More