Episode 9 — Orang yang Tidak Pernah Pergi

Malam tidak benar-benar datang di gedung itu.
Ia hanya mengganti warna.
Lampu-lampu kota sudah lama padam dari jangkauan jendela yang pecah. Yang tersisa hanya cahaya abu-abu, memantul dari genangan air yang belum sepenuhnya surut. Udara lembap menempel di kulit seperti kain basah yang lupa dilepas.
Anneliese duduk di salah satu tempat tidur bertingkat. Tangannya bertumpu di lutut, setengah menutup. Ibu jarinya menekan telapak tangan, seperti kebiasaan baru yang tidak pernah ia sadari kapan dimulainya.
Ember itu sudah tidak ada.
Air sudah pergi.
Tapi ruangannya belum kembali.
Hendrik tidak ada. Dan kali ini, tidak ada yang perlu dijelaskan.
Gedung itu kembali sunyi.
Sunyi yang berbeda.
Bukan sunyi setelah hujan.
Bukan sunyi karena lelah.
Ini sunyi yang menunggu.
Anneliese berdiri perlahan. Setiap langkahnya terdengar terlalu jelas di telinganya sendiri. Ia berjalan melewati lorong panjang bekas kamar-kamar kos. Pintu-pintu terbuka setengah. Beberapa ranjang masih berdiri, miring, seperti tulang-tulang yang lupa rubuh.
Ia berhenti di depan satu pintu.
Tidak ada tanda apa pun.
Tidak ada simbol.
Tidak ada bekas rusak yang berbeda dari ruangan lain.
Tapi bau di udara berubah di sana.
Bukan bau busuk.
Bukan bau darah.
Lebih seperti… dapur yang sudah lama tidak dipakai, tapi masih hangat.
Anneliese tidak masuk. Ia hanya berdiri, memiringkan kepala, mencoba memastikan apakah hidungnya berbohong. Ia menarik napas pendek, lalu menghembuskannya pelan. Tangannya meraih dinding di samping pintu — permukaannya kasar, lembap.
Dari dalam ruangan itu, terdengar suara.
Bukan langkah.
Bukan napas.
Suara logam bersentuhan pelan. Seperti pisau yang diletakkan di meja, lalu diangkat kembali. Tidak berulang cepat. Justru terlalu teratur untuk disebut kebetulan.
Anneliese mundur satu langkah.
Suara itu berhenti.
Keheningan menutup ruang dengan cepat, seolah suara tadi tidak pernah ada. Jantung Anneliese berdetak lebih keras, tapi tubuhnya tetap diam. Ia tidak lari. Ia tidak menoleh ke belakang.
Ia sudah terlalu lelah untuk panik.
Ia berbalik pelan dan kembali ke ruang utama. Duduk di lantai, bersandar ke tiang beton. Dari sudut itu, ia bisa melihat hampir seluruh lantai bawah. Bayangan-bayangan bergerak pelan mengikuti perubahan cahaya malam.
Di kejauhan, seseorang lewat.
Bukan di lorong yang ia lalui.
Lebih jauh.
Lebih dalam.
Sosok itu berjalan tanpa tergesa. Tubuhnya kurus, punggungnya sedikit membungkuk, langkahnya berat tapi mantap. Ia membawa sesuatu di tangan — dibungkus plastik hitam, diikat rapi.
Anneliese menahan napas.
Sosok itu berhenti di bawah lampu mati. Ia tidak menoleh. Tidak mencari siapa pun. Ia hanya berdiri sebentar, seperti memastikan arah, lalu melanjutkan langkahnya ke ruangan yang sama dengan bau aneh tadi.
Anneliese baru menyadari bahwa lidahnya menempel di langit-langit mulutnya. Ia menurunkannya perlahan, menelan sekali, dan rasa pahit yang asing menyebar pelan.
Ia tidak mengejar.
Ia tidak memanggil.
Ia tidak bertanya.
Ada sesuatu dalam dirinya yang memahami, tanpa kata, bahwa orang itu tidak tersesat.
Ia sudah ada di sana jauh sebelum mereka datang.
Dan ia tidak pernah pergi.
Malam bergerak lambat setelah itu. Tidak ada suara lain. Tidak ada langkah susulan. Bahkan suara air yang biasanya menetes dari plafon ikut menghilang.
Ketika fajar datang, Anneliese masih duduk di tempat yang sama. Tangannya kaku, tapi tetap setengah menutup. Ia menatap ke arah ruangan itu sekali lagi.
Pintu masih terbuka.
Bau itu masih ada.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Anneliese menyadari satu hal dengan sangat jelas:
Gedung ini bukan kosong.
Gedung ini dipakai.
Dan seseorang sedang bekerja disini.
Bersambung ke Episode 10 — Hal-Hal Yang Tidak Ditanyakan
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 24 — Enam Bulan yang Diam-Diam Mengubah Segalanya Pagi di kamar kos itu tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 15 — Air Bersih Tidak Menghapus Apa Pun Pagi datang tanpa suara. Tidak ada...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 40 — Yang Tersisa, dan Yang Telah Selesai (THE END) Pagi itu datang dengan...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 37 — Sesuatu Yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Pagi itu berjalan seperti biasa. Anneliese...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 28 — Ritme yang Tidak Tergesa Pagi datang tanpa suara yang berarti. Cahaya matahari...
Read More