Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 40 (THE END)

Episode 40 — Yang Tersisa, dan Yang Telah Selesai (THE END)

Pagi itu datang dengan tenang.

Seperti banyak pagi sebelumnya.

Cahaya masuk melalui jendela besar di dalam gedung itu. Udara mengalir dengan bersih. Tidak ada yang mengganggu.

Anneliese berdiri di dekat jendela.

Melihat halaman depan.

Beberapa orang sudah mulai bekerja.

Aktivitas berjalan dengan rapi.

Semua teratur.

Semua pada tempatnya.

Ia tidak sedang memikirkan apa pun yang berat.

Hidupnya sudah berada di titik yang stabil.

Ia mengajar.

Ia tinggal di tempat yang ia miliki.

Ia dikenal oleh orang-orang di sekitarnya.

Disapa dengan sopan.

Dihormati tanpa diminta.

Di kelas, para siswa menyukainya.

Bukan karena ia sempurna.

Namun karena ia jelas.

Tenang.

Dan tulus.

Di lingkungan sekitar, para pedagang mengenalnya.

Beberapa menyapanya saat ia lewat.

Ia membalas dengan anggukan kecil.

Tidak berlebihan.

Namun cukup hangat.

Ia tidak berusaha menjadi siapa-siapa.

Namun kehadirannya terasa.

Pelan.

Dan konsisten.

Siang hari, setelah mengajar, ia kembali ke gedung.

Langkahnya seperti biasa.

Tidak tergesa.

Di dalam, semuanya berjalan dengan tenang.

Tidak ada yang perlu diperbaiki.

Tidak ada yang perlu dikejar.

Namun hari itu, ada satu hal yang berbeda.

Sebuah pesan singkat.

DewaBuku.

Ia ingin bertemu.

Tidak ada penjelasan panjang.

Hanya waktu dan tempat.

Sore itu, Anneliese datang ke sebuah tempat sederhana di kota.

Tidak jauh.

Tempat yang tidak terlalu ramai.

DewaBuku sudah ada di sana.

Duduk seperti biasa.

Dengan penampilan yang hampir tidak pernah berubah.

Mereka saling menatap sejenak.

Lalu saling mengangguk.

“Terima kasih sudah datang,” katanya pelan.

Anneliese duduk di hadapannya.

“Ya.”

Percakapan mereka tidak langsung dimulai.

Beberapa detik hanya diam.

Seperti membiarkan waktu berjalan dulu.

Kemudian DewaBuku berbicara.

“Saya akan kembali ke Jakarta.”

Nada suaranya datar.

Tidak dibuat berat.

Tidak juga ringan.

Anneliese tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengangguk pelan.

Seolah sudah memahami.

Tidak ada pertanyaan kenapa.

Tidak ada usaha untuk menahan.

Semua terasa wajar.

Mereka berbicara beberapa hal sederhana setelah itu.

Tentang pekerjaan.

Tentang kota.

Tentang hal-hal kecil yang tidak penting bagi orang lain.

Namun cukup bagi mereka.

Tidak ada yang dibahas tentang masa lalu.

Tidak ada yang disinggung tentang apa yang pernah terjadi.

Semua tetap berada di tempatnya.

Ketika waktu mulai sore, mereka berdiri.

Keluar dari tempat itu.

Berjalan beberapa langkah bersama.

Di sebuah titik, langkah mereka berhenti.

Tidak ada yang perlu ditambahkan.

DewaBuku melihat ke arahnya.

“Jaga diri Anda.”

Anneliese menatapnya beberapa detik.

“Ya.”

Satu kata.

Namun cukup.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada jabat tangan yang lama.

Hanya anggukan kecil.

Kemudian mereka berjalan ke arah yang berbeda.

Tanpa menoleh.

Namun langkah Anneliese sedikit melambat.

Bukan karena berat.

Lebih karena ia menyadari sesuatu.

Beberapa pertemuan memang tidak ditakdirkan untuk berlangsung lama.

Namun tetap penting.

Dan cukup.

Malam mulai turun.

Anneliese kembali ke gedung.

Segalanya seperti biasa.

Tenang.

Terkendali.

Namun menjelang malam, suasana berubah sedikit.

Dari luar, terdengar suara.

Tidak keras.

Namun cukup mengganggu.

Seperti ada perdebatan kecil.

Ia berhenti sejenak.

Mendengarkan.

Kemudian berjalan ke arah depan.

Dua satpam terlihat sedang menahan seseorang.

Seorang pria tua.

Kotor.

Tubuhnya kurus.

Pakainya tidak terawat.

Namun matanya….

tidak kosong.

Tatapannya tajam.

Dan asing.

Anneliese berhenti beberapa langkah dari sana.

Ia melihat.

Tanpa terburu.

Tanpa panik.

Salah satu satpam berkata pelan bahwa pria itu mencoba masuk ke dalam.

Tidak jelas alasannya.

Anneliese tidak menjawab.

Matanya bertemu dengan mata pria itu.

Beberapa detik.

Diam.

Tidak ada suara.

Pria tua itu menyeringai.

Tipis.

Aneh.

Seperti mengenali sesuatu.

Namun tidak jelas apa.

Anneliese tidak menghindar.

Ia tetap melihat.

Tenang.

Tidak ada ketakutan di wajahnya.

Tidak ada reaksi berlebihan.

Hanya diam.

Dan hadir.

Beberapa detik berlalu.

Senyum di wajah pria itu perlahan hilang.

Tatapannya berubah. Ia tidak berontak lagi. Kedua satpam itu saling pandang sejenak.

Satpam pertama dan kedua saling memberi kode.

Mereka berdua tidak lagi memegangi gelandangan tua itu.

Gelandangan tua itu mengangguk kepada dua orang satpam itu.

Ia kembali menatap mata Anneliese yang juga masih menatapnya.

Peluh di wajah gelandangan tua itu keluar butir demi butir.

Ia ragu. Badannya gemetar.

Lalu….

ia mundur.

Perlahan.

Kemudian tiba-tiba berbalik.

Berlari.

Menjauh.

Tanpa melihat ke belakang.

Satpam tidak mengejar.

Tidak perlu.

Suasana kembali sunyi.

Seperti tidak pernah terjadi apa pun.

Anneliese tetap berdiri beberapa detik.

Kemudian berbalik.

Masuk kembali ke dalam.

Langkahnya tenang.

Tidak terganggu.

Tidak terpengaruh.

Semua sudah selesai.

Malam itu, ia duduk di dalam ruangannya.

Lampu menyala lembut.

Udara terasa hangat.

Ia tidak memikirkan kejadian tadi.

Tidak perlu.

Ia hanya duduk.

Diam.

Dan sadar.

Bahwa tidak ada lagi yang mengejarnya.

Tidak ada lagi yang perlu ia takuti.

Beberapa hari kemudian, berita mulai tersebar.

Tentang seorang pria tua.

Tentang gangguan jiwa.

Tentang seseorang yang pernah ditangkap lagi, ditahan, dan kemudian dilepaskan lagi.

Tidak banyak yang peduli.

Tidak banyak yang tahu.

Namun bagi Anneliese….

itu tidak lagi penting.

Hidupnya sudah berada di tempat yang berbeda.

Jauh dari semua itu.

Dan akan tetap begitu.

Malam semakin larut.

Lampu perlahan dimatikan.

Kamar menjadi gelap.

Dan di dalam keheningan itu,

semua yang pernah terjadi….

akhirnya benar-benar berhenti.


Sementara itu di tempat lain disebelah gedung yang ditinggali oleh Anneliese….

Mobil dan kendaraan berbagai jenis masih aktif berlalu-lalang.

Ramai.

Tapi tidak dibawah sana.

Dari sebelah kanan pintu gerbang menuju pinggir jalan.

Saluran air itu….orang menyebutnya gorong-gorong.

Dulu tanpa penutup beton.

Kini lebih rapi semenjak Anneliese membangun gedung yang sudah dibelinya.

Gorong-gorong kecil dengan aliran yang tidak terlalu deras.

Tidak dalam.

Namun cukup gelap.

Banyak tikus cerurut yang kotor berseliweran.

Banyak kotoran biawak dan kadal mati berserakan.

Air limbah rumah tangga ikut menyatu dengan semua itu.

Terdengar rintihan seorang pria.

Satu tangannya tidak ada.

Terendam air dengan arus yang tidak begitu deras.

Setidaknya untuk saat ini. Tak tahu nanti bagaimana.

Dia adalah Hendrik, yang disangka warga sudah jadi mayat.

Tapi ternyata dia masih bernafas.

Entah berapa lama dia tergeletak disitu.

Kelaparan.

Dulu ia punya dua tangan. Sekarang tidak.

Sudah berbelatung menggerogoti lukanya yang tidak dirawat dengan benar.

Semua yang dia ingat terpampang jelas di kelopak matanya.

Restoran mewah, hidangan mewah, menang lotre, uang banyak, hotel mewah, dan pacar yang cantik.

Tapi itu dulu.

Gorong-gorong itu tetap sunyi.

Hanya suara dari perut Hendrik yang kosong.

Seekor siput mulai merayapi wajahnya yang kotor.

Tangan Hendrik meraihnya dan memakannya hidup-hidup.

Dia masih lapar.

Tiba-tiba dia panik namun tak bisa bergerak.

Hanya satu tangannya yang berusaha menggapai dinding gorong-gorong.

Percuma. Sia-sia saja.

Belasan biawak lapar mengerubungi dirinya.

Menggigit, mencabik, dan mengoyak isi perutnya.

Memakannya dengan buas.

Hidup-hidup.

Tadi dia masih hidup.

Setelah jeritan demi jeritan.

Dini hari itu jalan raya masih ramai.

Langit mulai menampakkan kemarahannya.

Hujan turun sangat lebat.

Petir dan kilat menyambar.

Terang benderang.

Hanya sekejap.

*

*

Epilog

Ada orang-orang yang tidak pernah benar-benar terlihat.

Tidak pernah menjadi pusat.

Tidak pernah menjadi sorotan.

Namun kehadiran mereka….

mengubah arah hidup orang lain.

Bukan dengan cara yang besar.

Bukan dengan kata-kata yang panjang.

Melainkan dengan hal-hal kecil yang tepat.

Pada waktu yang tepat.

Anneliese tidak kembali menjadi orang yang sama seperti dulu.

Ia menjadi seseorang yang baru.

Lebih tenang.

Lebih kuat.

Lebih sadar.

Ia tidak melupakan masa lalunya.

Namun ia tidak lagi hidup di dalamnya.

Dan dari tempat yang pernah menjadi titik terendah,

ia membangun sesuatu.

Pelan.

Namun pasti.

Sampai akhirnya….

apa yang dulu hanya terasa seperti mimpi,

menjadi sesuatu yang benar-benar ia miliki.

Dan itu cukup.

Lebih dari cukup.

THE END

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 34

Episode 34 — Hal yang Mulai Dipilih Hujan rintik-rintik mengguyur kota Semarang di pagi-pagi buta....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 29

Episode 29 — Kota yang Mulai Terasa Rumah Hari-hari berjalan tanpa terasa mendesak. Tidak ada...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 26

Episode 26 — Selebaran yang Datang Terlalu Tepat Hari itu sebenarnya dimulai seperti hari-hari biasa....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai -Episode 24

Episode 24 — Enam Bulan yang Diam-Diam Mengubah Segalanya Pagi di kamar kos itu tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 15

Episode 15 — Air Bersih Tidak Menghapus Apa Pun Pagi datang tanpa suara. Tidak ada...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!