Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 34

Episode 34 — Hal yang Mulai Dipilih

Hujan rintik-rintik mengguyur kota Semarang di pagi-pagi buta. Langit berwarna abu-abu gelap, angin berhembus agak kencang tapi tidak terlalu kencang.

Jam waker menunjukkan pukul lima pagi. Anneliese melirik sebentar kearah jam waker kecil di sebelah tempat tidurnya kemudian menggapai selimutnya. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dari ujung rambut ke ujung kaki.

Tidak kelihatan. Lebih mirip sekarung gandum yang tertutup kain.

“Dingin sekali pagi ini,” pikir Anneliese didalam selimutnya.

Ia kembali tertidur lelap terbungkus selimut tebalnya.

Sepuluh menit berlalu.

Tigapuluh menit berlalu.

Satu jam pun berlalu.

Tik tik tik tik tik tik….suara jam waker terdengar lebih keras daripada biasanya.

KRIIIIIING…..KRIIIIIING….

Anneliese tersentak. Setengah malas ia mematikan jam wakernya.

Alarm jam waker menunjukkan pukul enam pagi. Gerimis sudah berhenti.

Pagi itu tidak berbeda dari hari sebelumnya. Hanya saja terasa lebih dingin.

Matahari pagi bersinar agak redup. Sedikit mendung.

Cahaya masuk melalui jendela dengan cara yang sama. Udara terasa cukup. Tidak dingin, tidak hangat. Segalanya berada di titik yang seimbang.

Anneliese bangun tanpa tergesa.

Ia duduk sejenak di tepi tempat tidur, seperti kebiasaannya. Tidak ada yang dikejar. Tidak ada yang harus segera dimulai.

Namun pagi itu, ada satu hal kecil yang terasa berbeda.

Ia tidak hanya memulai hari.

Ia menyadari bahwa hari itu adalah sesuatu yang bisa ia bentuk.

Ia berdiri.

Melanjutkan rutinitas seperti biasa.

Air mengalir. Wajah dibasuh. Rambut dirapikan. Pakaian dipilih dengan sederhana, namun tetap dengan perhatian.

Bukan sekadar rapi. Lebih kearah….profesional.

Ada sedikit kesengajaan di sana.

Kelas pagi berjalan dengan tenang.

Anneliese mengajar seperti biasa. Suaranya stabil. Penjelasannya jelas. Siswa-siswa mengikuti dengan ritme yang semakin baik.

Tidak ada yang menonjol.

Namun ada sesuatu yang berubah dalam cara ia berdiri di depan kelas.

Ia tidak hanya menjelaskan.

Ia mulai memperhatikan.

Lebih dalam.

Salah satu siswa tampak kesulitan mengikuti.

Biasanya, Anneliese akan menunggu sampai siswa itu bertanya.

Namun kali ini, ia berhenti sejenak.

Mendekat.

“Wildan, ada kesulitan rupanya.” ujar Anneliese kepada seorang siswanya.

Siswa itu mengalami kesulitan dalam hal merangkai kalimat.

Anneliese tersenyum.

Menjelaskan ulang dengan cara yang lebih sederhana.

Tanpa diminta.

Siswa itu mengangguk pelan.

Wajahnya sedikit lebih tenang.

Anneliese kembali ke depan kelas.

Melanjutkan pelajaran.

Tanpa banyak kata.

Itu bukan perubahan besar.

Namun cukup untuk terasa.

Siang hari, setelah kelas selesai, ia tidak langsung pergi.

Ia duduk di kursinya.

Melihat papan tulis yang belum dihapus.

Tulisan-tulisan sederhana.

Kalimat-kalimat yang tadi ia jelaskan.

Ia bangkit.

Mengambil penghapus.

Menghapus perlahan.

Satu baris.

Lalu baris berikutnya.

Tangannya berhenti sejenak di tengah papan.

Ia menyadari sesuatu.

Selama ini, ia menjalani hari-harinya dengan baik.

Stabil.

Tenang.

Namun sekarang, ia mulai terlibat.

Bukan hanya menjalani.

Memilih.

Sore hari, setelah semua kelas selesai, ia keluar dari gedung.

Langkahnya seperti biasa.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Namun kali ini, ia tidak berjalan tanpa tujuan.

Ia berbelok ke arah yang sedikit berbeda.

Tidak jauh.

Masih di sekitar area yang sama.

Ada sebuah toko kecil yang pernah ia lewati beberapa hari lalu.

Toko alat tulis.

Sederhana.

Tidak ramai.

Ia masuk.

Tidak ada rencana khusus.

Tidak ada daftar yang harus dibeli.

Ia hanya melihat-lihat.

Beberapa buku catatan tersusun rapi.

Pulpen dengan berbagai warna.

Kertas-kertas kosong.

Tangannya mengambil satu buku kecil.

Membukanya.

Halaman pertama masih bersih.

Ia menatapnya beberapa detik.

Kosong.

Seperti sesuatu yang menunggu diisi.

Ia menutup buku itu.

Membawanya ke kasir.

Tidak mahal.

Tidak penting bagi orang lain.

Namun bagi dirinya, cukup berarti.

Malam datang dengan tenang.

Kamar kembali sunyi.

Anneliese duduk di meja kecil.

Buku yang ia beli diletakkan di depannya.

Ia membukanya.

Halaman pertama.

Tangannya memegang pulpen.

Namun tidak langsung menulis.

Ia berpikir.

Bukan tentang masa lalu.

Tentang sesuatu yang sederhana.

Apa yang ingin ia lakukan.

Apa yang ingin ia jalani.

Apa yang ingin ia capai.

Tidak perlu besar.

Tidak perlu sempurna.

Cukup jujur.

Akhirnya, ia menulis.

Perlahan.

Satu baris.

Tulisan itu tidak panjang.

Tidak rapi sempurna.

Namun cukup jelas.

Ia berhenti.

Melihatnya kembali.

Tidak ada perasaan besar.

Tidak ada rasa bangga yang berlebihan.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Ia tidak hanya memikirkan.

Ia mulai menentukan.

Buku itu ditutup.

Diletakkan kembali di meja.

Lampu dimatikan.

Malam berjalan seperti biasa.

Namun untuk pertama kalinya, sesuatu yang akan datang tidak lagi sepenuhnya belum diketahui.

Karena sebagian kecil darinya sudah mulai ia pilih sendiri.

*

Bersambung ke Episode 35 — Hal Yang Mulai Disusun

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 13

Episode 13 — Yang Akhirnya Disentuh Air surut tanpa pengumuman. Tidak ada suara hisap. Tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 14

Episode 14 — Bau Yang Mengajarkan Nilai Bau itu datang tanpa alasan. Bukan bau makanan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 11

Episode 11 — Lemari Yang Hampir Sama Pagi datang tanpa benar-benar masuk. Cahaya hanya berhenti...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 19

Episode 19 — Makanan Yang Tidak Diminta Makanan itu diletakkan di depannya tanpa suara. Tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 10

Episode 10 — Hal-Hal yang Tidak Ditanyakan Tidak ada burung. Tidak ada kendaraan. Bahkan suara...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!