Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 7

Episode 7 — Air Tidak Pernah Meminta Izin

Malam datang tanpa pengumuman.

Tidak ada hujan deras, tidak ada kilat, tidak ada suara apa pun yang bisa dijadikan alasan. Udara hanya terasa lebih lembap dari biasanya. Lengket di kulit. Seperti napas seseorang yang terlalu dekat.

Anneliese terbangun lebih dulu.

Ia tidak tahu apa yang membangunkannya. Bukan suara. Bukan mimpi. Hanya perasaan bahwa sesuatu telah bergeser, meski ia belum tahu apa.

Gedung itu gelap, tetapi matanya sudah terbiasa. Cahaya bulan masuk dari jendela-jendela pecah di lantai atas, jatuh dalam potongan-potongan tidak rata ke lorong panjang bekas rumah kost itu. Tempat tidur bertingkat berjejer seperti rangka-rangka diam, beberapa masih berkasur tipis, beberapa sudah kosong.

Hendrik masih tidur di ranjang bawah, punggungnya menghadap Anneliese. Napasnya pendek-pendek. Tidak teratur.

Anneliese duduk perlahan, menurunkan kakinya ke lantai.

Dingin.

Ia menarik kakinya kembali seketika. Bukan dingin lantai semen. Ini lain. Lebih licin. Lebih hidup.

Ia menurunkan tangannya, menyentuh permukaan lantai dengan ujung jari.

Air.

Tidak banyak. Tipis. Seperti lapisan yang sengaja diratakan.

Air tidak datang dengan suara. Tidak mengalir. Tidak menetes. Ia hanya ada.

Anneliese berdiri. Perlahan. Ia melangkah satu langkah, lalu berhenti. Air bergerak mengikuti kakinya, membuat riak kecil yang segera hilang. Gedung itu tetap diam.

Ia berjalan ke ujung lorong, ke arah tangga. Air sedikit lebih tinggi di sana. Menyentuh mata kaki. Ia menelan ludah.

Baru kali ini ia membangunkan Hendrik.

“Hen.”

Suaranya hampir tidak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri.

Hendrik bergeser, mengerang pelan, lalu membuka mata. “Apa…?”

Anneliese tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke lantai.

Hendrik duduk. Menurunkan kaki. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, sangat pelan, “Oh.”

Itu saja.

Tidak ada kepanikan. Tidak ada rencana. Mereka sudah terlalu lelah untuk dua hal itu.

Malam itu, mereka tidak keluar.
Padahal mereka sangat kelaparan.

Sudah seminggu lebih mereka hanya keluar setelah tengah malam, berjalan memutar, menghindari lampu jalan hanya supaya tidak dilihat orang, menyusuri belakang restoran-restoran mewah yang dulu bahkan tidak berani mereka dekati. Tempat sampah menjadi tujuan. Sisa roti. Nasi yang sudah mengering. Kadang tulang ayam. Hanya itulah yang bisa mereka makan.

Malam ini, air membuat itu mustahil. Sangat tidak memungkinkan untuk mencari makanan di tempat-tempat sampah itu dalam kondisi seperti ini. Air menggenangi hampir di semua tempat.

Mereka kembali ke area tidur. Anneliese naik ke ranjang atas. Hendrik tetap di bawah, kakinya ditekuk agar tidak terlalu lama menyentuh air.

Anneliese membuka tas kecilnya. Bukan kotak beludru itu yang ia cari.

Ia mengeluarkan sepotong roti.

Roti terakhir. Sudah agak berjamur.

Bungkusnya sudah lembek di sudut-sudut. Ia menyobeknya menjadi dua, sama besar. Ia menyerahkan satu bagian ke bawah, tanpa menatap Hendrik.

Hendrik memakannya perlahan. Terlalu perlahan untuk orang lapar.

Anneliese menunggu sampai Hendrik selesai sebelum ia menggigit bagiannya sendiri. Rasanya hampir tidak ada. Hanya tekstur.

Air naik sedikit demi sedikit.

Tidak terasa seperti peristiwa. Lebih seperti keputusan yang sudah dibuat jauh sebelumnya.

Menjelang subuh, air mencapai betis. Mereka memindahkan barang-barang ke ranjang atas. Tas kecil Anneliese ia letakkan paling dekat dengan dinding. Ia ragu sejenak, lalu memasukkan tas itu ke dalam lemari plastik bergambar Doraemon biru yang mereka temukan beberapa bulan lalu.

Gambar Doraemon tersenyum cerah. Terlalu cerah.

Air menyentuh bagian bawah lemari itu. Anneliese menahan napas. Lemari itu tidak bergerak. Belum.

Lalu sesuatu terjadi.

Bukan suara baru.

Justru suara yang hilang.

Biasanya, malam di gedung itu tidak pernah benar-benar sunyi. Ada bunyi jauh dari jalan raya. Ada gesekan tikus. Ada tetesan dari atap yang bocor. Selalu ada sesuatu.

Malam ini, salah satunya tidak kembali.

Anneliese tidak langsung tahu yang mana. Tubuhnya lebih dulu bereaksi.

Bulu kuduknya berdiri. Dadanya terasa ditekan dari dalam. Napasnya tertahan setengah jalan, seperti lupa cara kembali keluar.

Ia menyadari keheningan itu bukan keheningan biasa saat jantungnya mulai berdetak terlalu keras, terlalu jelas.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Hal pertama yang disentuhnya setelah itu bukan Hendrik.

Ia menyentuh besi dingin ranjang bertingkat. Mencengkeramnya. Meyakinkan diri bahwa benda itu masih padat. Masih nyata.

Dari kejauhan, terdengar sesuatu seperti langkah.

Tidak jelas dari mana. Tidak jelas berapa banyak.

Langkah itu tidak sinkron. Seperti dua orang berjalan dengan tempo yang tidak pernah sepakat.

Anneliese tidak menoleh. Ia tidak memanggil. Ia hanya mendengarkan sampai langkah itu berhenti dengan sendirinya.

Pagi datang pelan.

Air sudah setinggi hampir satu meter. Mereka duduk di ranjang, menunggu tanpa benar-benar tahu apa yang mereka tunggu. Hendrik menggigil. Matanya cekung.

Anneliese menarik napas panjang. Dia terdiam dan sudah tak mampu lagi untuk menangis. Sejauh ini dia sudah bertahan dengan segala keadaan. Anneliese berpikir jika andai saja dulu Hendrik menerima sarannya, ini tidak akan terjadi.

Anneliese memandang lorong panjang itu.

Gedung tetap berdiri. Tempat tidur tetap di tempatnya. Lemari Doraemon masih ada, setengah terendam, tersangkut di antara kayu-kayu bekas.

Segalanya tampak sama.

Dan justru itu yang membuatnya salah.

Bersambung ke Episode 8 — Sesuatu Tidak Lagi Menjawab

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 15

Episode 15 — Air Bersih Tidak Menghapus Apa Pun Pagi datang tanpa suara. Tidak ada...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 1

Episode 1 - Terbang ke Semarang dengan Sayap Impian Siang hari jam 11 waktu setempat…...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 36

Episode 36 — Hal Yang Mulai Dijalani Pagi itu datang seperti biasanya. Cahaya masuk melalui...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 17

Episode 17 — Ternyata Mereka Semua Menerimaku Pagi di restoran datang tanpa upacara. Pintu belakang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 25

Episode 25 — Tubuh yang Kembali Mengingat Cara Hidup Perubahan tidak selalu datang dengan suara...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!