Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 8

Episode 8 — Sesuatu Tidak Lagi Menjawab

Anneliese baru menyadari sesuatu pagi itu: air memang sudah naik, tetapi ada hal lain yang justru diam — dan diam itu tidak pernah ada di gedung ini sebelumnya.

Air tidak pernah benar-benar surut.

Ia hanya berhenti bergerak.

Di dalam gedung terbengkalai itu, tiga hari dan tiga malam berlalu tanpa ukuran waktu yang jelas. Cahaya matahari masuk lewat lubang-lubang jendela pecah, jatuh ke permukaan air yang keruh, lalu mati begitu saja di sana. Tidak ada bayangan yang utuh. Tidak ada pantulan yang bisa dipercaya.

Anneliese berhenti menghitung jam sejak hari kedua.

Yang ia hitung hanyalah napas Hendrik.

Awalnya Hendrik masih berbicara. Suaranya pelan, terputus-putus, lebih sering menggumam daripada membentuk kalimat. Bibirnya kering. Matanya cekung. Setiap kali ia menggigil, tubuhnya bergerak seperti tidak lagi sepenuhnya miliknya.

Air bersih sudah lama habis. Botol terakhir kosong dan dibiarkan mengapung di sudut ruangan, menabrak kaki ranjang bertingkat dengan bunyi kecil yang tidak pernah lagi terdengar setelah malam itu. Sejak saat itu, mereka hanya meneguk air dari genangan. Air yang rasanya asing. Air yang membuat lidah mati rasa. Tapi hanya itulah yang bisa dimanfaatkan untuk bertahan hidup.

Makanan tidak ada.

Roti terakhir sudah lama hancur, bukan dimakan, tapi diremas tanpa sadar saat tangan Anneliese gemetar. Remahannya tenggelam perlahan ke air, menghilang tanpa jejak. Ia menatapnya lama, seolah berharap sesuatu akan muncul kembali dari dasar genangan itu.

Tidak ada yang muncul. Padahal dia sangat lapar. Perutnya sakit. Sangat sakit.

Hendrik mulai demam di malam ketiga.

Tubuhnya panas, tapi tangannya dingin. Napasnya pendek-pendek, kadang tersangkut seperti tersedak sesuatu yang tidak terlihat. Anneliese duduk di sampingnya, punggung bersandar ke tiang besi ranjang, lutut dipeluk erat. Ia menatap wajah Hendrik tanpa menyentuhnya.

Ada jeda aneh di dadanya.

Bukan cemas. Bukan panik.

Sesuatu yang lebih sunyi.

Ketika Hendrik membuka mata dan memanggil namanya, Anneliese membuka mulut.

Tidak ada suara yang keluar.

Ia merapikan lipatan gaunnya yang basah, menghitung tiga tarikan napasnya sendiri, baru kemudian menyadari bahwa ia belum menjawab.

“Aku dingin,” kata Hendrik akhirnya.

Anneliese mengangguk. Ia tidak tahu harus melakukan apa dengan anggukan itu.

Malam itu, pertengkaran pertama meledak tanpa aba-aba. Bersamaan dengan bertambahnya genangan air disitu.
Bertambah sedikit lebih tinggi.

Mereka bertengkar bagaikan tidak sedang bertengkar.

Tidak keras. Tidak dramatis.

Justru datar, penuh kalimat yang selama ini disimpan rapi. Mereka sudah tidak punya tenaga lagi untuk bertengkar.
Mereka kelaparan.
Mereka lemas tak berdaya. Tapi mereka memang bertengkar.

Anneliese mengungkit hotel-hotel mewah. Jam tangan mewah. Restoran mewah….dan semua ungkapan yang dulu sering keluar dari mulut Hendrik, “nggak apa-apa” atau “tenang saja, uang kita masih bisa untuk liburan berminggu-minggu”.

Semua yang dulu terasa jauh, kini terasa menempel di kulitnya seperti lumpur. Hendrik mencoba menyela, mencoba menjelaskan, tapi setiap kata keluar terlalu lambat, terlalu lemah.

Ia memegangi perutnya.

Awalnya Anneliese mengira itu hanya refleks. Kebiasaan lama Hendrik yang sering mengeluh sakit perut setiap kali kelelahan atau minum terlalu banyak.

Lalu Hendrik roboh.

Tubuhnya jatuh ke air dengan suara tumpul. Air bergelombang kecil, menyentuh ujung gaun Anneliese. Ia berdiri membeku beberapa detik, menatap tubuh Hendrik yang terbaring miring, satu tangannya masih menekan perutnya sendiri.

Anneliese berteriak. Bukan teriakan kesedihan. Dia sangat tertekan.

Bukan memanggil nama. Bukan meminta tolong.

Hanya suara yang keluar dari batinnya yang sedang tertekan.

Suara yang memantul ke dinding-dinding kosong, lalu kembali kepadanya dalam bentuk yang lebih pecah. Ia menendang ember bekas di dekat kakinya, membiarkannya menabrak tembok dan terbalik. Sebuah ember plastik berwarna hitam, dengan tutupnya yang sudah retak-retak dimakan usia.

Tapi ada sesuatu yang kurang. Lemari plastik.

Lemari plastik bergambar Doraemon biru itu sudah tidak ada.
Hanyut entah kemana.

Anneliese baru menyadarinya saat ia menoleh ke sudut ruangan tempat ia biasa memastikan keberadaannya. Ruang itu kosong. Hanya kayu-kayu bekas dan sisa-sisa barang yang tertumpuk tak beraturan.

Ia berteriak lagi.

Kali ini lebih panjang. Lebih dalam.

Ia mengacak-acak tumpukan kayu, mencelupkan tangannya ke air, menarik apa saja yang tersentuh, berharap menemukan plastik biru yang terlalu ceria untuk tempat ini. Tangannya hanya menemukan permukaan kasar dan serpihan basah.

Tidak ada Doraemon.
Tidak ada kotak beludru.

Ketika ia kembali ke sisi Hendrik, tubuh itu sudah tidak bergerak.

Anneliese tidak menangis. Tidak bisa menangis lagi.

Ia menyeret tubuh Hendrik ke dalam ember bekas dengan gerakan yang terasa mekanis, seperti mengikuti instruksi yang tidak pernah benar-benar ia dengar. Ember itu terlalu kecil. Tutupnya tidak menutup sempurna. Ia membiarkannya begitu saja.

Beberapa saat kemudian, ia menendangnya. Ember itu mengapung sebentar, lalu terbawa arus air yang perlahan tapi pasti bergerak menuju bagian gedung yang lebih gelap. Anneliese menatapnya sampai bentuk itu menghilang di balik lorong.

Anneliese duduk kembali. Tidak ada sesuatu yang perlu ia lakukan lagi. Setelah itu, gedung menjadi terlalu sunyi.

Tidak ada bunyi air menabrak logam.
Tidak ada suara napas berat.
Tidak ada jawaban.

Anneliese duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding yang dingin. Tangannya menyentuh permukaan tembok yang lembap, memastikan bahwa ia masih ada. Bahwa sesuatu masih nyata.

Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di kota ini, Anneliese menyadari bahwa yang benar-benar hilang bukanlah Hendrik, melainkan seseorang yang dulu masih mampu merasa takut kehilangannya.

Bersambung ke Episode 9 — Orang yang Tidak Pernah Pergi

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 11

Episode 11 — Lemari Yang Hampir Sama Pagi datang tanpa benar-benar masuk. Cahaya hanya berhenti...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 20

Episode 20 - Hal-Hal Kecil Yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Air panas mengalir pelan dari...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 39

Episode 39 — Tempat Yang Kembali Dimiliki Tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Cahaya masuk melalui...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 12

Episode 12 — Yang Tidak Bisa Ditelan Bau itu datang sebelum pagi. Bukan bau yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 38

Episode 38 — Hal Yang Mulai Dimiliki Pagi itu datang dengan biasa. Tidak ada yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!