Episode 38 — Hal Yang Mulai Dimiliki

Pagi itu datang dengan biasa.
Tidak ada yang berubah dari cara cahaya masuk ke dalam kamar. Tidak ada yang berbeda dari suara di luar. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Namun ada sesuatu yang sudah selesai.
Bukan karena dilupakan.
Melainkan karena tidak lagi perlu dipertanyakan.
Anneliese bangun dengan tenang.
Ia tidak memikirkan kejadian kemarin.
Tidak mencoba mengulangnya di dalam kepala.
Tidak juga menghindarinya.
Semuanya sudah berada di tempatnya.
Ia menjalani pagi seperti biasa.
Air mengalir. Wajah dibasuh. Rambut dirapikan. Pakaian dipilih dengan rapi.
Tidak ada yang berubah dari kebiasaan itu.
Namun hari ini, langkahnya terasa lebih pasti.
Kelas berjalan dengan tenang.
Ia mengajar seperti biasa.
Menjelaskan, mendengarkan, memberi ruang.
Tidak ada yang berbeda.
Namun bagi dirinya sendiri, ada satu hal yang sudah tidak lagi mengikat.
Sesuatu yang dulu selalu ada di belakang pikirannya…
sekarang tidak lagi ikut berjalan bersamanya.
Siang hari, setelah kelas selesai, Anneliese tidak kembali ke kamar.
Ia duduk sebentar di ruang kosong.
Tangannya terletak di atas meja.
Matanya tidak mencari apa pun.
Namun pikirannya mulai menyusun sesuatu.
Bukan tentang masa lalu.
Tentang langkah berikutnya.
Selama ini, ia sudah cukup stabil.
Pekerjaan tetap.
Penghasilan cukup.
Tempat tinggal yang layak.
Semua sudah berada di posisi yang aman.
Namun itu belum selesai.
Ia tahu ada satu hal yang belum ia sentuh kembali.
Sesuatu yang dulu ia tinggalkan.
Sesuatu yang pernah menjadi titik terendah dalam hidupnya.
Gedung itu.
Ia tidak langsung memutuskan.
Ia tidak terburu-buru.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak menghindar dari pikiran itu.
Ia membiarkannya ada.
Sore hari, ia keluar dari gedung lembaga pendidikan.
Langkahnya tidak berubah.
Namun arah langkahnya kali ini lebih jelas.
Ia tidak berjalan tanpa tujuan.
Ia menuju sebuah tempat.
Tidak jauh dari pusat kota.
Sebuah kantor kecil dengan papan nama sederhana.
Kantor properti.
Ia berhenti di depan pintu.
Melihat sebentar.
Tidak ragu.
Ia masuk.
Seorang pria menyambut dengan sopan.
Anneliese menjelaskan dengan singkat.
Tidak panjang.
Tidak emosional.
Hanya menyebutkan satu hal.
Ia ingin mencari informasi tentang sebuah gedung lama.
Lokasinya.
Status kepemilikannya.
Apakah masih bisa dibeli.
Percakapan berlangsung sederhana.
Beberapa data dicatat.
Beberapa pertanyaan dijawab.
Tidak semua langsung jelas.
Namun cukup untuk memulai.
Anneliese tidak terburu menyelesaikan.
Ia hanya membuka pintu.
Langkah pertama.
Setelah itu, ia keluar dari kantor itu.
Langit sudah mulai berubah warna.
Sore menuju malam.
Ia berjalan kembali dengan tenang.
Tidak ada perasaan besar.
Tidak ada rasa bangga.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Ia tidak lagi hanya menjalani hidup.
Ia mulai mengambil bagian di dalamnya.
Beberapa hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama.
Mengajar.
Beristirahat.
Menjalani rutinitas.
Namun di sela-sela itu, ia mulai melakukan hal-hal kecil.
Mengumpulkan informasi.
Mencari tahu siapa pemilik sah gedung itu.
Mencari jalur yang tepat untuk berbicara.
Ia juga mulai berhubungan dengan pihak-pihak yang terkait.
Tokoh masyarakat setempat.
Orang-orang yang memahami lingkungan sekitar gedung itu.
Percakapan dilakukan dengan sederhana.
Tidak tergesa.
Tidak menekan.
Ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.
Beberapa proses berjalan lambat.
Beberapa hal membutuhkan waktu.
Namun tidak ada yang terasa menghambat.
Semua bergerak dengan ritme yang wajar.
Suatu sore, ia duduk di sebuah ruangan sederhana.
Di hadapannya, seorang pria paruh baya.
Pemilik sah gedung itu.
Percakapan tidak panjang.
Tidak berbelit.
Anneliese menyampaikan maksudnya dengan jelas.
Ia ingin membeli gedung itu.
Tidak ada penawaran yang berlebihan.
Tidak ada tekanan.
Hanya keseriusan.
Pria itu mendengarkan.
Beberapa saat ia diam.
Lalu mulai menjelaskan kondisi gedung tersebut.
Statusnya.
Nilainya.
Beberapa hal administratif yang harus diselesaikan.
Anneliese mendengarkan dengan tenang.
Tidak menyela.
Tidak terburu menyetujui.
Namun juga tidak ragu.
Percakapan itu tidak menghasilkan keputusan hari itu.
Namun arah sudah jelas.
Kesepakatan mulai terbentuk.
Di hari yang berbeda, ia juga duduk bersama beberapa tokoh masyarakat.
Membicarakan hal yang sama.
Dengan cara yang sama.
Tenang.
Terbuka.
Tanpa ambisi yang berisik.
Semua berjalan sebagaimana mestinya.
Malam itu, ketika ia kembali ke kamar, ia duduk sebentar di kursi.
Tidak membuka buku kecilnya.
Tidak menulis apa pun.
Ia hanya duduk.
Merasakan satu hal yang sederhana.
Apa yang dulu hanya ia hindari…
sekarang ia dekati.
Apa yang dulu hanya ia lewati…
sekarang ia pegang.
Tidak dengan emosi.
Tidak dengan kemarahan.
Namun dengan kesadaran.
Ia tidak mencoba menghapus masa lalu.
Ia hanya memastikan bahwa masa lalu itu…
tidak lagi berada di atasnya.
Lampu dimatikan.
Kamar menjadi gelap.
Dan untuk pertama kalinya,
gedung itu bukan lagi tempat yang ia jauhi.
Melainkan sesuatu yang perlahan…
ia miliki.
*
Bersambung ke Episode 39 — Tempat Yang Kembali Dimiliki
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 28 — Ritme yang Tidak Tergesa Pagi datang tanpa suara yang berarti. Cahaya matahari...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 17 — Ternyata Mereka Semua Menerimaku Pagi di restoran datang tanpa upacara. Pintu belakang...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 3 - Sesuatu Yang Tidak Pernah Dibicarakan Pagi di Semarang selalu datang tanpa bertanya...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 11 — Lemari Yang Hampir Sama Pagi datang tanpa benar-benar masuk. Cahaya hanya berhenti...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 32 - Hal yang Mulai Dipikirkan Pagi datang dengan cara yang sama seperti hari-hari...
Read More