Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 17

Episode 17 — Ternyata Mereka Semua Menerimaku

Pagi di restoran datang tanpa upacara.

Pintu belakang dibuka. Lampu dinyalakan. Air mengalir. Pisau diletakkan di talenan. Segalanya berjalan seperti kemarin — dan justru itu yang membuat Anneliese berhenti sejenak di ambang pintu.

Ia datang tepat waktu. Bahkan sedikit lebih awal.

Seragamnya sudah rapi. Celemeknya terlipat baik. Rambutnya diikat sederhana, tidak terlalu kencang. Ia berdiri sebentar, memastikan napasnya stabil, lalu masuk.

“Pagi.”

Suaranya keluar pelan. Tidak goyah.

“Pagi,” jawab dua orang hampir bersamaan. Tidak ada yang menoleh lama. Tidak ada yang terkejut.

Ia berjalan ke bak cuci. Mengambil posisi yang sama seperti kemarin. Tangannya langsung bergerak, seolah tubuhnya sudah mengingat urutan kerja sebelum pikirannya sempat ragu.

Air. Sabun. Piring.

Biasa.

Itu kata yang aneh.
Dan hari ini, ia mulai memahaminya.

Menjelang siang, dapur semakin padat. Pesanan datang bergantian. Meja dibersihkan cepat. Gelas disusun. Sisa makanan dikumpulkan.

Anneliese memegang satu piring yang masih menyisakan nasi dan potongan lauk. Tangannya berhenti.

Refleks lama muncul tanpa diminta.

Masih bisa dimakan.

Pikirannya mengatakannya dengan nada datar, seperti fakta. Bukan dorongan. Bukan keinginan. Hanya kebiasaan lama yang belum mati.

Ia menatap piring itu beberapa detik terlalu lama.

Lalu seseorang di sampingnya berkata, ringan, hampir bercanda,
“Yang itu buang aja. Ambil baru nanti pas makan.”

Bukan perintah. Bukan larangan.

Hanya asumsi bahwa makan layak adalah sesuatu yang wajar.

Anneliese mengangguk. Tangannya bergerak. Sisa makanan itu masuk ke tempat sampah. Ia teringat sewaktu Hendrik masih ada, mereka berdua mengais makanan dari tempat sampah dan minum air genangan banjir hanya untuk bertahan hidup selama berminggu-minggu. Hanya saja makanan yang ia buang kali ini sangat layak dimakan.

Dadanya mengencang — sebentar saja.
Tidak sakit. Tidak juga lega.

Hanya kosong.

Waktu menunjukkan pukul 12:00 WIB, jam istirahat tiba.

Mereka duduk di area belakang. Sebuah area terbuka dibelakang dapur. Tanpa dinding, dengan tiang-tiang besi. Dengan atap genteng sintetis transparan berwarna hitam. Bangku kecil. Meja seadanya. Makanan dibagikan tanpa daftar nama. Tanpa hitung-hitungan. Ada juga yang makan sambil duduk bersila di lantai, ada yang bersandar dibawah pohon, dan ada pula yang makan sambil melihat ikan berenang di aquarium.

Anneliese menerima bungkusan itu dengan dua tangan.

Ia menunggu. Ia menatap bungkusan itu.

Uap tipis naik. Bau nasi hangat, lauk sederhana, dan minyak yang masih segar. Bukan bau yang mengancam. Bukan bau yang harus diwaspadai. Ini adalah bukan bau, tetapi ini adalah aroma. Aroma yang sangat lezat.

Ia membuka bungkusnya perlahan.

Orang lain sudah mulai makan. Bicara pelan. Tertawa kecil. Mengeluh tentang pegal. Tentang pelanggan cerewet. Tentang cuaca.

Tidak ada yang memperhatikannya.

Ia mengambil satu suap kecil.

Masuk ke mulut. Dikunyah.

Ada rasa.

Bukan rasa luar biasa. Bukan rasa yang membuat mata terpejam. Tapi utuh. Jelas. Tidak tercampur dengan rasa lain. Tidak tercampur dengan jamur seperti yang pernah ia makan dulu.

Ia menelan.

Tubuhnya tidak menolak.

Ia mengambil suap kedua.

Sedikit lebih besar.

Dan di titik itu — tanpa peringatan — dadanya terasa hangat. Bukan emosi besar. Bukan ingatan tajam. Hanya kesadaran sederhana bahwa ia sedang makan.

Dan itu tidak berbahaya.

Tangannya berhenti sebentar di udara. Lalu turun lagi.

Ia menghabiskan makanannya.

“Anneliese.”

Namanya disebut tanpa tekanan.

Ia menoleh.

“Kamu nggak harus buru-buru. Santai aja makannya. Jam satu siang masih setengah jam lagi.”

Ia mengangguk. Hampir tersenyum, tapi tidak jadi.
Gerakan kecil itu sudah cukup.

Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan. Tidak ada upaya menembus diamnya.

Mereka menerima ritmenya seperti menerima cuaca.

Sore berjalan pelan.

Anneliese membersihkan meja. Mengangkat gelas. Mengelap sisa saus. Ia mulai mengenali wajah-wajah tetap. Pelanggan yang sama. Pola yang sama.

Ia mulai tahu kapan harus bergerak cepat, kapan bisa menunggu setengah detik lebih lama.

Sesekali, seseorang bercanda. Sesekali, seseorang mengeluh. Semua itu tidak diarahkan padanya — dan justru itu yang membuatnya merasa ada di dalam, bukan di pinggir.

Di satu momen singkat, ia tertawa kecil. Refleks. Tidak direncanakan.

Ia langsung berhenti.

Menunggu sesuatu.

Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang bereaksi.

Tawanya menguap begitu saja ke udara.

Dan dunia tidak runtuh.

Saat jam kerja selesai, mereka merapikan bersama. Tidak ada perpisahan khusus. Hanya kalimat-kalimat pendek.

“Besok ketemu.”
“Jangan lupa jam yang sama.”
“Hati-hati di jalan.”

Anneliese berjalan keluar dengan langkah yang lebih ringan dari kemarin.

Di trotoar, ia berhenti sebentar.

Ponselnya ada di saku. Ia tahu itu. Ia bisa merasakannya tanpa menyentuh.

Ibunya muncul di pikirannya bukan sebagai suara, tapi sebagai kebiasaan lama:
menanyakan kabar, memastikan semuanya baik-baik saja, percaya bahwa dunia bekerja dengan cara yang teratur.

Anneliese belum tahu bagaimana menjelaskan hari ini.

Bagaimana menjelaskan bahwa ia bekerja serabutan, makan sederhana, dan merasa… cukup.

Belum.

Ia memasukkan tangannya kembali ke saku. Tidak mengeluarkan ponsel.

Langit mulai gelap.

Ia pulang. Sebuah rumah terbengkalai sudah menunggunya. Sebuah sudut bangunan kosong dengan pohon kering didepannya. Tak seorangpun tahu bahwa ia tinggal disitu.

Sebuah bangunan kosong yang sangat jarang dilewati manusia. Tentu saja. Lokasinya memang ada di sudut yang dilewati gang kecil berupa jalan setapak dan semak belukar yang tidak terlalu tinggi. Halaman depannya berkerikil dan berdebu saat tidak hujan.

Selama ini ia tidur di dalam sebuah kamar yang kecil. Hanya ruangan itulah yang paling layak untuk ditempati.

Setidaknya sampai nasibnya membaik. Tapi apakah itu mungkin?

Malam itu, di kamar kecilnya, ia duduk di tepi tempat tidur. Tangannya bergerak pelan, mengusap ibu jari dengan telunjuk. Gerakan lama. Satu kali. Lalu berhenti.

Ia membiarkannya.

Hari ini, ia tidak merasa sendirian.

Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, pikiran itu tidak membuatnya takut.

Besok, ia akan kembali bekerja.

Dan entah kapan — belum sekarang — ia mungkin akan menelepon ibunya.

Untuk saat ini, bukan waktu yang baik. Ia harus menahan rasa itu.

Meskipun sesungguhnya ia tak mampu.

*

Bersambung ke Episode 18 — Kalimat Yang Datang Terlalu Dini

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 33

Episode 33 — Arah Yang Tidak Tergesa Pagi datang dengan tenang. Hampir sama seperti kemarin....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 13

Episode 13 — Yang Akhirnya Disentuh Air surut tanpa pengumuman. Tidak ada suara hisap. Tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 36

Episode 36 — Hal Yang Mulai Dijalani Pagi itu datang seperti biasanya. Cahaya masuk melalui...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 2

Episode 2 – Hari-Hari Yang Terlalu Indah Semarang, pukul enam sore. Matahari belum sepenuhnya tenggelam...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 40 (THE END)

Episode 40 — Yang Tersisa, dan Yang Telah Selesai (THE END) Pagi itu datang dengan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!