Episode 2 – Hari-Hari Yang Terlalu Indah

Semarang, pukul enam sore.
Matahari belum sepenuhnya tenggelam ketika mobil yang mereka sewa melaju perlahan menyusuri jalanan kota. Hidup mereka bedua memang sudah berubah dari yang tadinya sebagai pasangan kekasih yang biasa saja menjadi dua sejoli yang kaya raya. Sebagai alat transportasi untuk berkeliling Semarang setiap saat, Hendrik menyewa mobil Toyota Vellfire Hybrid-HEV termewah dengan biaya sewa 7 juta rupiah per 6 jam pemakaian. Dari balik jendela, Semarang tampak ramah — tidak tergesa, tidak berisik berlebihan, seolah memberi ruang bagi siapa pun yang datang membawa niat baik maupun niat sementara.
Hendrik duduk santai di kursi belakang, tubuhnya tegak dan wajahnya puas. Ia berpakaian rapi, terlalu rapi untuk sekadar makan malam, seolah setiap langkah adalah pernyataan bahwa hidupnya telah berubah. Dia mengenakan kaos oblong putih dipadukan dengan setelan jas hitam mewah Brioni Vanquish II seharga 650 juta, berpadu dengan jam tangan Rolex Split-Seconds Chronograph (Ref. 4113) seharga 44 miliar, jam tangan merek itu adalah jam tangan langka karena hanya dibuat 12 buah di dunia ini dan Hendrik adalah salah satu pemiliknya. Anneliese duduk di sampingnya, anggun tanpa berlebihan. Ia tidak merasa perlu menyesuaikan diri dengan kemewahan Hendrik. Baginya, kenyamanan selalu lebih penting daripada sebuah kesan.
Tak ada percakapan panjang di dalam mobil. Hendrik sibuk memandangi kota, sementara Anneliese menatap keluar jendela dengan pikiran yang berjalan lebih jauh daripada kendaraan itu sendiri.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran mewah yang berdiri tenang di tengah keramaian kota. Dari luar, bangunannya tidak mencolok. Dari dalam, suasananya hangat dan tertata. Lampu-lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan, menciptakan suasana romantis dan intim. Alunan musik gamelan Jawa yang menenangkan mengalun pelan, menambah kesan mewah dan otentik dengan kebudayaan Jawa yang kental. Dari jendela-jendela besar, pemandangan kota yang gemerlap terbentang luas, menampilkan kerlap-kerlip lampu yang menari-nari di kejauhan. Para pelayan bergerak dengan cekatan dan ramah, melayani setiap tamu dengan senyum tulus, dan udara dipenuhi aroma masakan yang membuat perut segera bereaksi.
Mereka dipersilakan duduk di meja dengan pemandangan kota. Lampu-lampu di kejauhan berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Saat hidangan pertama datang, Hendrik tampak seperti anak kecil yang menemukan sesuatu untuk pertama kalinya.
“Wow… ini enak sekali,” katanya setelah suapan pertama nasi liwet menyentuh lidahnya.
Anneliese tersenyum melihat reaksinya. Ia menikmati makanannya dengan lebih tenang, membiarkan rasa bekerja perlahan.
Penyajian dengan daun pisang membuat mereka terkesan. Ada sesuatu yang terasa sederhana tapi bermakna, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun.
Seorang pelayan perempuan berkebaya menghampiri meja mereka. Senyumnya tulus, gerakannya ringan.
“Baju kamu indah,” kata Anneliese spontan.
“Terima kasih, Nona,” jawab pelayan itu sopan. “Ini kebaya Jawa.”
Percakapan singkat itu berlanjut menjadi penjelasan tentang makanan yang mereka santap. Hendrik mendengarkan dengan antusias, Anneliese dengan ketertarikan yang lebih dalam. Saat pelayan itu berpamitan, Hendrik menyelipkan sejumlah uang ke tangannya — bukan sebagai pamer, melainkan sebagai ungkapan kegembiraan yang meluap.
Anneliese memperhatikannya. Ia tidak menegur, tapi perasaan ganjil menyelinap tanpa permisi.
Hidangan berikutnya datang. Soto ayam khas Semarang mengepul hangat di hadapan mereka. Musik gamelan terdengar lebih dekat, lebih nyata.
“Aku suka rempahnya,” gumam Anneliese. “Rasanya… penuh.”
Mereka makan tanpa tergesa. Untuk sesaat, dunia terasa kecil dan cukup.
Lalu Hendrik memanggil pelayan lagi.
“Tolong bawakan anggur merah terbaik yang kalian punya.”
Anneliese menoleh. “Hendrik…”
“Sekali ini saja,” potong Hendrik ringan. “Untuk merayakan.”
Anneliese tidak melanjutkan. Ia hanya mengangguk pelan, meski ada sesuatu di dadanya yang terasa bergeser.
Botol anggur datang. Gelas-gelas diisi. Hendrik mengangkat minumannya dengan senyum lebar.
“Untuk hari-hari indah,” katanya.
Anneliese ikut mengangkat gelas, tapi tidak berkata apa-apa. Dia hanya mencoba untuk tetap menikmati suasana malam itu. Meskipun sedikit khawatir dengan pengeluaran tak terduga ini, Anneliese tetap berharap malam ini akan menjadi kenangan indah bagi mereka berdua.
Waktu berjalan tanpa mereka sadari. Ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam, suasana restoran mulai lebih lengang.
Di sudut lain ruangan, seorang pria duduk sendirian. Penampilannya sederhana, nyaris tak menarik perhatian. Seorang pria berambut hitam panjang sebahu, berbadan sehat dan tegap, memakai beanie hat hitam, mengenakan kacamata hitam dan masker medis berwarna hijau muda, mengenakan jaket kulit berupa coat hitam panjang dengan kerah bulu putih di sebelah kanan dan kirinya dan celana baggy blue jeans biru tua yang agak longgar dan memakai sneakers putih bermerek NIKE. Ia sudah lama selesai makan, tapi belum beranjak. Tatapannya sesekali jatuh ke arah Hendrik dan Anneliese — bukan tatapan iri, melainkan tatapan seseorang yang terbiasa mengamati manusia.
Pria itu adalah DewaBuku.
Ia tidak mendekat. Tidak menyapa. Tidak mencatat apa pun. Ia hanya memperhatikan: tawa Hendrik yang terlalu lepas, senyum Anneliese yang mulai lebih jarang muncul.
Saat akhirnya ia berdiri dan berjalan melewati meja mereka, langkahnya pelan. Hendrik dan Anneliese nyaris tak menyadari kehadirannya. Namun sebelum keluar, DewaBuku berhenti sejenak.
“Semoga malamnya menyenangkan,” ucapnya singkat, sopan, lalu pergi.
Hendrik mengangguk ramah.
Anneliese membalas dengan senyum tipis, entah mengapa dia merasa kalimat itu terdengar seperti doa… atau peringatan.

Setelah pria itu menghilang, Anneliese berkata pelan, “Orang-orang di sini baik.”
Hendrik tersenyum sambil menyesap anggurnya. “Iya. Dunia terasa ramah, ya?”
Anneliese tidak langsung menjawab. Ia menatap lampu kota di kejauhan. Indah. Terlalu indah.
Pukul sebelas malam, mereka akhirnya meninggalkan restoran. Mobil membawa mereka kembali ke hotel, menyusuri jalanan yang mulai lengang.
Hendrik bersandar nyaman, puas.
Anneliese menatap ke luar jendela, merasakan kebahagiaan — dan sesuatu yang belum bisa ia beri nama.
Malam itu berakhir dengan tenang.
Dan justru karena itulah, ia terasa berbahaya.
Bersambung ke Episode 3 – Kemewahan Yang Menyesatkan
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 37 — Sesuatu Yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Pagi itu berjalan seperti biasa. Anneliese...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 38 — Hal Yang Mulai Dimiliki Pagi itu datang dengan biasa. Tidak ada yang...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 13 — Yang Akhirnya Disentuh Air surut tanpa pengumuman. Tidak ada suara hisap. Tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 19 — Makanan Yang Tidak Diminta Makanan itu diletakkan di depannya tanpa suara. Tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 14 — Bau Yang Mengajarkan Nilai Bau itu datang tanpa alasan. Bukan bau makanan...
Read More