Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 1

Episode 1 – Terbang ke Semarang dengan Sayap Impian

Siang hari jam 11 waktu setempat…

Hari ini tepat tanggal 15 Juli 2024, sebuah hari yang lumayan panas di Belanda karena bertepatan dengan musim panas. Temperatur udara pada saat ini bisa lebih dari 30°C, berbeda jauh dengan suhu udara beberapa minggu kemarin saat masih musim semi pada awal bulan Juni 2024.

Sebuah gedung yang cukup prestisius di Rijswijk sedang sibuk-sibuknya beraktifitas. Tepatnya di Kantor pusat Nederlandse Loterij yang berlokasi di Laan van Hoornwijck 55, 2289 DG Rijswijk, Belanda. Disana banyak sekali orang dengan tampang ceria dan juga sedih. Suara mesin penghitung uang bergemuruh. Hendrik, seorang pria bule berdarah Belanda berusia sekitar 30 tahun, berambut pirang acak-acakan dan mata biru yang berbinar-binar, melompat-lompat kegirangan sambil memegang tiket lotere di tangannya. Di sampingnya, Anneliese, perempuan bule berdarah Belanda seusia Hendrik, dengan rambut cokelat panjang yang dikepang dan mata hijau yang lebih tenang, tersenyum tipis namun terlihat lega. Mereka adalah sepasang kekasih yang berasal dari Rotterdam.

Petugas keuangan mulai menyodorkan tujuh lembar surat yang musti ditandatangani oleh Hendrik, “Silahkan tanda tangan disini, Tuan.”

Setelah beberapa saat ia menandatangani lembar demi lembar, petugas keuangan mengajak Hendrik dan Anneliese ke sebuah ruangan customer yang sangat luas dan bersih, “Silahkan duduk Tuan dan Nona, hadiah anda sedang menuju kesini.”

Tidak lama kemudian, dari sebuah ruangan yang berjarak 30 meter dari tempat duduk Hendrik ada dua orang pria dengan setelan jas hitam berdasi abu-abu berumur sekitar 45 tahun sedang mendorong troli yang berisi satu koper besar berwarna hitam mengkilat dengan ukuran 60×50 centimeter dengan ketebalan 27 centimeter. Hendrik dan Anneliese menunggu dan menatap mereka dengan wajah berbinar dan penuh kebahagiaan.

Sesampainya di depan Hendrik dan Anneliese, dengan ramah dan senyum hormat mereka berjabat tangan. Salah satu dari dua pria itu berkata, “Selamat atas kemenangan Anda, Tuan Hendrik. Semua ini milik Anda.”

Setelah bejabat tangan lagi, dua pria itu berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Kita menang! Kita benar-benar menang! Lihat ini, Anneliese! 100 juta Euro! Kita kaya!” teriak Hendrik berapi-api.

Tapi tidak demikian dengan Anneliese, dia hanya menarik napas dalam-dalam, “Hendrik, tenanglah. Jangan terlalu bersemangat. Ini uang yang sangat banyak, kita harus merencanakannya dengan bijak.”

Hendrik malah menunjukkan muka tidak senang, “Rencana? Rencana itu membosankan! Kita akan bersenang-senang! Kita akan melakukan semua yang selalu kita impikan! Mobil mewah, rumah besar, pesta setiap malam!”

“Hendrik, aku tidak yakin itu ide yang bagus. Kita harus memikirkan masa depan, investasi, tabungan…” ujar Anneliese sambil mengerutkan kening, karena sesungguhnya walaupun dia ikut merasa senang tetapi tetap saja merasa kuatir seandainya Hendrik salah jalan.

“Masa depan? Masa depan itu masih jauh! Sekarang yang penting adalah menikmati hidup! Aku selalu ingin keliling dunia, mencoba semua makanan enak, tidur di hotel mewah…Anneliese, kau ini pacarku kan? Seharusnya kau ikut senang dengan kemenanganku ini.” Hendrik mencoba beralasan se-diplomatis mungkin.

Anneliese malah terlihat sangat cemas dengan apa yang Hendrik bicarakan, “Aku juga ingin menikmati hidup, Hendrik. Tapi aku tidak ingin uang ini habis dalam sekejap. Aku ingin kita punya sesuatu yang bisa diandalkan di masa depan.”

Hendrik merangkul Anneliese dan berusaha meyakinkannya, “Ayolah, sayang. Jangan khawatir. Kita akan bersenang-senang, tapi kita juga akan berhati-hati. Aku janji. Bagaimana kalau kita pergi berlibur? Ke tempat yang eksotis, dengan makanan yang enak dan pemandangan yang indah?”

“Ke mana?” rupanya Anneliese sedikit tertarik.

“Sebentar….Aku tahu! Semarang! Aku pernah membaca tentang kota itu. Katanya makanannya enak-enak, dan budayanya unik. Banyak makanan khas disana. Ada Lumpia Semarang, Tahu Gimbal, Wingko Babat….”

Mata Anneliese berbinar-binar senang, “Semarang? Kedengarannya menarik. Aku selalu ingin mencoba masakan Jawa yang autentik. Seperti apa Lumpia Semarang itu?”

“Aku pernah lihat gambarnya tahun lalu, tapi aku lupa….mungkin semacam sandwich hehehe.” ujar Hendrik bersemangat.
“Aku setuju, Hendrik!”
“Kalau begitu, Semarang adalah tujuan kita! Ayo kita pulang!”

….dan mereka pun melangkah keluar dari kantor itu, pulang dengan penuh semangat dan sangat senang.

Sehari kemudian, sore yang cerah di Rotterdam…jam 5 sore

“Siapkan kopermu, sayang. Petualangan kita dimulai sekarang!” kata Hendrik kepada Anneliese sambil memasukkan kopernya kedalam Taxi untuk menuju ke Bandara Zestienhoven-RTM.

Dua jam kemudian…jam 7 malam

Hendrik dan Anneliese sudah duduk dengan nyaman didalam pesawat milik maskapai Transavia untuk menuju ke Jakarta. Mereka sangat menikmati perjalanan itu. Hingga akhirnya pesawat mereka melakukan transit di Frankfurt, Hendrik dan Anneliese menyempatkan diri untuk berfoto dan makan makanan ringan selama beberapa saat. Tiga jam kemudian pesawat lepas landas dan terbang menuju Jakarta. Sungguh perjalanan yang melelahkan tetapi menyenangkan. Hendrik dan Anneliese melihat pemandangan indah yang selama ini tidak pernah mereka lihat dari jarak dekat. Formasi awan yang berbeda-beda, mulai dari awan cumulus yang berbulu hingga lapisan awan stratus yang luas, tidak luput dari pandangan mata mereka. Meeka sangat senang bisa melihat matahari terbenam dari dalam pesawat.

Ketika waktu menginjak jam 11 siang, Anneliese membangunkan Hendrik yang tengah tertidur karena dia membuka jendela dan melihat garis pantai utara Jawa dengan pantai dan pelabuhan dibawahnya.

“Hendrik, bangun.”
“Hmm? Apa sayang?”
“Kita sudah diatas Jakarta, lihat itu….” kata Anneliese sambil menunjuk ke jendela pesawat, diikuti wajah Hendrik yang terlihat masih ngantuk.

Jam tangan mereka menunjukkan pukul 13:00 WIB, mereka sangat antusias melihat keluar jendela pesawat. Mereka melihat kompleks Bandara Soekarno-Hatta, termasuk landasan pacu, terminal, dan pesawat-pesawat lain yang parkir.

“Sayangku, ayo siap-siap.” kata Hendrik sambil mengambil ransel dari bagasi kecil diatasnya

Bandara Internasional Soekarno-Hatta – jam 13:15 WIB

Hendrik dan Anneliese keluar dari pintu kedatangan bandara, disambut oleh udara panas dan lembap Jakarta. Hendrik mengenakan kemeja Hawaii yang mencolok dan celana pendek, sementara Anneliese mengenakan gaun katun sederhana dan topi lebar. Hendrik mengipasi wajahnya karena dia tidak terbiasa dengan suhu diatas 32°Celcius. Baginya saat di Belanda, suhu 24°Celcius sudah amat panas.

“Wow, panas sekali di sini! Aku tidak menyangka akan sepanas ini.” gumam Hendrik perlahan, tapi terdengar oleh telinga Anneliese.

Anneliese hanya tersenyum melihat Hendrik sudah seperti kepiting rebus, “Selamat datang di Indonesia, Hendrik. Ini baru Jakarta, pas kita transit di Frankfurt aku sempat ngobrol dengan orang Indonesia, katanya Semarang lebih sejuk”.

“Begitu ya? Dia bilang begitu?”
“Iya, lebih sejuk”.

Hendrik melihat sekeliling, “Aku suka suasananya! Ramai, sibuk, dan penuh warna. Ayo kita cari taksi ke hotel. Aku sudah memesan kamar di hotel bintang lima dengan pemandangan kota yang indah.”

Hendrik berjalan agak cepat dan Anneliese mengikuti di belakangnya sambil bergumam, “Aku harap hotelnya punya kolam renang. Aku ingin berenang setelah perjalanan yang panjang ini.”

“Benar, aku juga ingin berenang. Perjalanan kita hampir 18 jam tadi.”

Semarang, jam 7 malam di salah satu Hotel Mewah….

Hendrik dan Anneliese tiba di hotel mewah di pusat kota Semarang. Mereka terpukau dengan lobi yang megah dan kamar mereka yang luas dengan pemandangan kota yang menakjubkan. Tentu saja, mereka tinggal di kamar President Suite tepatnya di lantai 45.

Hendrik berdecak kagum, “Ini baru namanya hotel! Lihat pemandangannya, Anneliese! Kita bisa melihat seluruh kota dari sini”

Sambil menata rambutnya, Anneliese melihat ke luar jendela, “Indah sekali. Aku suka lampu-lampu kota di malam hari.”

Malam itu benar-benar sebuah malam yang terindah untuk mereka, Hendrik memeluk Anneliese dari belakang sambil melihat pemandangan kota Semarang di bawah sana, “Aku senang kita datang ke sini. Aku merasa seperti mimpi.”

“Aku juga senang, Hendrik. Tapi aku masih khawatir tentang uang kita.”
“Jangan pikirkan itu sekarang. Ayo kita nikmati malam ini. Aku sudah memesan meja di restoran terbaik di kota. Mereka punya masakan Jawa yang sangat terkenal.”

Anneliese tersenyum, “Kedengarannya sempurna. Aku sudah lapar.”

Bersambung ke Episode 2 – Hari-Hari Yang Terlalu Indah

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 40 (THE END)

Episode 40 — Yang Tersisa, dan Yang Telah Selesai (THE END) Pagi itu datang dengan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai -Episode 24

Episode 24 — Enam Bulan yang Diam-Diam Mengubah Segalanya Pagi di kamar kos itu tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 16

Episode 16 — Pekerjaan Pertama Restoran itu bersih. Bukan bersih yang berlebihan, bukan pula bersih...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 35

Episode 35 — Hal yang Mulai Disusun Pagi itu datang tanpa gangguan. Cahaya masuk seperti...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 28

Episode 28 — Ritme yang Tidak Tergesa Pagi datang tanpa suara yang berarti. Cahaya matahari...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!