Episode 25 — Tubuh yang Kembali Mengingat Cara Hidup

Perubahan tidak selalu datang dengan suara besar. Kadang-kadang ia muncul lewat hal kecil yang nyaris tidak disadari.
Pagi itu, Anneliese berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya sedikit lebih lama dari biasanya.
Bukan karena ia merasa ada sesuatu yang salah. Justru sebaliknya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Wajahnya tidak lagi terlihat setajam dulu. Garis lelah di sekitar matanya mulai memudar. Kulitnya terlihat lebih segar, seolah tubuhnya perlahan mengingat bagaimana rasanya hidup tanpa ketakutan yang terus-menerus.
Ia menyentuh pipinya sebentar.
Bukan untuk memastikan, hanya refleks.
Tubuhnya memang berubah sedikit dalam beberapa bulan terakhir.
Berat badannya bertambah, tapi tidak berlebihan. Sekarang bentuk tubuhnya terlihat lebih proporsional, lebih sehat. Bukan lagi tubuh yang terlalu kurus karena kurang makan dan kurang tidur seperti dulu.
Ia bahkan mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Seperti aroma sabun yang ia pilih sendiri.
Seperti cara menyisir rambut sebelum berangkat kerja.
Hal-hal sederhana, tetapi bagi Anneliese, itu tanda bahwa ia sudah kembali memiliki kendali atas hidupnya.
Di atas meja kecil di dekat tempat tidur, ada satu benda yang masih sering ia lihat, tetapi jarang ia buka.
Kotak beludru itu.
Kotak yang berisi perhiasan dari masa lalunya.
Selama ini ia belum menjual semuanya.
Sebagian memang sudah dilepas untuk bertahan hidup di masa-masa awal ketika ia hampir tidak punya apa-apa. Tapi masih ada beberapa yang tersisa.
Benda-benda itu bukan hanya bernilai uang.
Mereka membawa ingatan.
Dan kadang Anneliese belum siap untuk memutuskan semuanya.
Pagi itu ia hanya melihat kotak itu sebentar, lalu menutup kembali pikirannya tentangnya.
Belum sekarang.
Hari-harinya mulai terasa lebih teratur.
Bangun pagi.
Membersihkan kamar kecilnya.
Sarapan sederhana di warung dekat kos.
Lalu berjalan menuju restoran.
Beberapa orang di sekitar kos sudah mulai mengenalnya sebagai orang yang selalu pergi kerja dengan langkah tenang. Tidak banyak bicara, tetapi sopan.
Dan tanpa disadari, Anneliese juga mulai mengenali dirinya sendiri yang dulu.
Gadis yang dulu hidup di Belanda.
Gadis yang pernah tertawa dengan mudah.
Perasaan itu belum sepenuhnya kembali, tetapi sudah mulai terlihat bayangannya.
Di restoran, perubahan Anneliese juga mulai diperhatikan.
“Kelihatan lebih segar sekarang,” kata salah satu rekan kerjanya suatu siang sambil tersenyum.
Anneliese hanya tersenyum kecil.
Ia tidak terbiasa menerima komentar seperti itu, tetapi ia tahu maksudnya baik.
Bos restoran juga pernah memperhatikannya dari kejauhan. Cara ia bekerja sekarang lebih stabil. Tidak lagi terlihat seperti seseorang yang selalu menahan sesuatu di dalam dirinya.
Anneliese bekerja dengan ritme yang tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak juga lelah berlebihan seperti dulu.
Ia sudah makan lebih teratur sekarang. Itu membuat tubuhnya perlahan kembali kuat.
Kadang ia membeli makanan tambahan setelah pulang kerja — hal yang dulu jarang ia lakukan karena selalu menghitung setiap rupiah yang ia miliki.
Sekarang ia masih berhati-hati dengan uangnya.
Tetapi tidak lagi hidup dalam rasa kekurangan.
Suatu sore, setelah restoran sedikit sepi, Anneliese sempat duduk sebentar di kursi dekat dapur.
Uap dari panci sup naik perlahan.
Aroma rempah-rempah memenuhi ruangan.
Ia menyadari sesuatu yang cukup penting.
Ia tidak lagi merasa seperti orang yang sedang bertahan hidup dari hari ke hari.
Ia mulai merasa seperti seseorang yang benar-benar hidup.
Perasaan itu datang pelan, tetapi nyata.
Malam itu ketika pulang ke kamar kos, Anneliese melakukan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan.
Ia merapikan rambutnya dengan lebih hati-hati.
Lalu ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel.
Layar ponsel menyala pelan di ruangan yang sunyi.
Ia melihat daftar kontak.
Ada satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi.
Ibunya.
Anneliese tidak langsung menekan tombol panggil.
Belum.
Ia hanya menatap layar itu cukup lama.
Bukan karena takut.
Lebih karena ia ingin memastikan satu hal terlebih dahulu.
Bahwa ketika hari itu tiba — ketika ia benar-benar berbicara dengan ibunya lagi — ia ingin terlihat seperti dirinya yang dulu.
Normal.
Sehat.
Tidak membawa bayangan gelap dari masa lalu.
Ia menaruh ponsel kembali ke meja.
Langkah itu belum perlu dilakukan hari ini.
Tapi sekarang ia tahu, suatu hari nanti ia akan siap.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, pikiran itu tidak terasa berat.
Hanya terasa seperti rencana yang perlahan mendekat.
*
Bersambung ke Episode 26 — Selebaran yang Datang Terlalu Tepat
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 18 — Kalimat Yang Datang Terlalu Dini Restoran itu masih sama. Bersih. Tenang. Tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 30 — Hal Kecil yang Tidak Kebetulan Sore itu datang seperti hari-hari sebelumnya. Tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 29 — Kota yang Mulai Terasa Rumah Hari-hari berjalan tanpa terasa mendesak. Tidak ada...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 39 — Tempat Yang Kembali Dimiliki Tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Cahaya masuk melalui...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 35 — Hal yang Mulai Disusun Pagi itu datang tanpa gangguan. Cahaya masuk seperti...
Read More