Episode 30 — Hal Kecil yang Tidak Kebetulan

Sore itu datang seperti hari-hari sebelumnya.
Tidak ada yang berbeda.
Kelas terakhir selesai tepat waktu. Para siswa keluar satu per satu, meninggalkan ruangan dengan suara langkah yang perlahan menghilang di lorong.
“Terima kasih, Bu Anneliese.”
Ia mengangguk kecil.
“Ya. Hati-hati di jalan.”
Pintu kelas tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
—
Anneliese merapikan buku di mejanya.
Menghapus sisa tulisan di papan.
Gerakannya teratur.
Tidak terburu-buru.
Seperti seseorang yang sudah tahu kapan harus selesai.
Ketika semuanya sudah rapi, ia mematikan lampu dan keluar dari ruangan.
Langit di luar belum sepenuhnya gelap.
Masih ada sisa cahaya sore yang menggantung tipis di antara gedung-gedung.
—
Hari itu ia tidak langsung kembali ke asrama.
Langkahnya kembali memilih berjalan.
Tanpa tujuan khusus.
Seperti beberapa hari terakhir.
Ia menyusuri trotoar yang mulai dipenuhi orang-orang yang pulang kerja.
Beberapa wajah terlihat lelah.
Beberapa terlihat terburu-buru.
Beberapa hanya berjalan seperti dirinya—tanpa arah yang jelas.
—
Langkahnya berhenti di depan sebuah toko buku kecil.
Bukan yang pernah ia datangi sebelumnya.
Tempat ini sedikit lebih sempit.
Rak-raknya lebih padat.
Cahaya di dalamnya sedikit redup.
Namun terasa tenang.
Anneliese masuk.
—
Di dalam, suasana hampir sama seperti tempat-tempat yang ia kunjungi beberapa hari terakhir.
Sunyi.
Hanya suara kertas yang sesekali dibalik oleh seseorang di sudut ruangan.
Ia berjalan pelan di antara rak.
Matanya membaca judul demi judul.
Tangannya sesekali menyentuh buku.
Tidak ada yang benar-benar ia cari.
Hanya berjalan.
Hanya melihat.
—
Di salah satu rak, ia berhenti.
Sebuah buku berbahasa asing menarik perhatiannya.
Bahasa Belanda.
Ia mengambilnya.
Membuka beberapa halaman.
Membaca satu paragraf.
Kemudian satu lagi.
Lama.
Lebih lama dari biasanya.
—
“Bahasanya cukup formal.”
Suara itu datang dari sampingnya.
Tenang.
Datar.
Namun tidak asing.
Anneliese menoleh.
—
Pria itu berdiri tidak jauh darinya.
Beanie hitam.
Kacamata hitam.
Masker medis berwarna hijau muda.
Coat hitam panjang dengan kerah bulu putih di kedua sisi.
DewaBuku.
—
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Bukan karena canggung.
Lebih karena pertemuan itu datang… terlalu biasa.
Seolah memang tidak perlu dibuat menjadi sesuatu yang besar.
—
Anneliese menutup buku di tangannya.
“Sepertinya begitu.”
DewaBuku sedikit mengangguk.
Matanya tidak terlihat, tapi arah wajahnya cukup jelas—ia memperhatikan buku itu.
“Biasanya digunakan untuk tulisan resmi.”
Ia berhenti sebentar.
“Tidak terlalu nyaman untuk percakapan sehari-hari.”
Anneliese mengangguk kecil.
“Ya. Terlalu kaku.”
—
Tidak ada yang terburu-buru.
Mereka berdiri di tempat yang sama selama beberapa detik.
Seperti dua orang yang kebetulan bertemu…
tapi tidak merasa perlu segera berpisah.
—
DewaBuku akhirnya bergerak sedikit menjauh dari rak.
“Tempat ini cukup tenang.”
Anneliese mengikuti langkahnya dengan jarak yang wajar.
“Tidak banyak orang yang datang ke sini.”
“Ya.”
Jawabannya singkat.
Namun cukup.
—
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di luar toko.
Langit mulai gelap.
Lampu jalan menyala satu per satu.
Suara kendaraan terdengar lebih jelas.
—
Di seberang jalan, ada sebuah warung kopi kecil.
Tidak terlalu berbeda dari yang pernah dikunjungi Anneliese sebelumnya.
DewaBuku melihat ke arah itu sebentar.
Lalu kembali ke Anneliese.
“Kalau tidak keberatan.”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun maksudnya cukup jelas.
—
Anneliese hanya mengangguk.
“Baik.”
—
Mereka duduk di meja yang sama.
Dua cangkir kopi datang tidak lama kemudian.
Uap tipis naik dari permukaannya.
Aroma kopi memenuhi ruang kecil itu.
—
Percakapan mereka berjalan pelan.
Tidak panjang.
Tidak juga dalam.
Namun tidak kosong.
—
“Sudah terbiasa mengajar?” tanya DewaBuku.
“Mulai.”
Jawabannya jujur.
Tidak berlebihan.
“Tidak mudah di awal.”
“Tidak.”
Ia menatap cangkirnya sebentar.
“Namun sekarang… terasa cukup.”
—
DewaBuku mengangguk.
Seolah itu jawaban yang ia harapkan.
—
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Namun tidak terasa canggung.
—
“Tempat seperti ini…” kata DewaBuku pelan,
“biasanya membuat orang lebih mudah berpikir.”
Anneliese tidak langsung menjawab.
Ia memutar cangkirnya sedikit.
“Mungkin karena tidak ada yang menuntut apa-apa.”
—
DewaBuku sedikit menoleh.
“Dan itu jarang.”
“Ya.”
—
Percakapan berhenti di sana.
Tidak dipaksa untuk lanjut.
—
Setelah beberapa saat, DewaBuku kembali berbicara.
“Kota ini cukup… stabil.”
Anneliese mengangkat pandangannya sedikit.
“Stabil?”
“Tidak terlalu cepat berubah. Tidak terlalu lambat.”
Ia berhenti sejenak.
“Cukup untuk seseorang yang ingin memulai lagi.”
—
Kalimat itu tidak berat.
Namun tidak juga ringan.
—
Anneliese tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan.
Seolah ia mengerti maksudnya.
—
Ketika kopi mereka hampir habis, suasana di luar sudah berubah menjadi malam sepenuhnya.
Lampu-lampu menyala.
Jalanan tetap ramai, tapi tidak bising.
—
Mereka berdiri hampir bersamaan.
Tidak ada yang memulai lebih dulu.
Tidak ada yang menahan.
—
Di depan warung, langkah mereka berhenti sejenak.
Seperti sebelumnya.
Di persimpangan kecil yang tidak benar-benar ditentukan.
—
“Jaga diri Anda.”
Kata DewaBuku.
“Ya.”
Anneliese mengangguk.
“Terima kasih.”
—
Tidak ada tambahan kata.
Tidak ada janji.
—
Mereka berjalan ke arah yang berbeda.
—
Namun kali ini, ada sesuatu yang sedikit berbeda.
Bukan perasaannya.
Bukan langkahnya.
—
Melainkan kesadaran yang muncul pelan di dalam dirinya.
Bahwa pertemuan seperti itu…
tidak benar-benar terjadi begitu saja.
—
Dan tanpa perlu memaksakan arti,
Anneliese hanya menerima satu hal sederhana:
tidak semua hal kecil adalah kebetulan.
*
Bersambung ke Episode 31 — Ingatan yang Datang Tanpa Luka
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 26 — Selebaran yang Datang Terlalu Tepat Hari itu sebenarnya dimulai seperti hari-hari biasa....
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 11 — Lemari Yang Hampir Sama Pagi datang tanpa benar-benar masuk. Cahaya hanya berhenti...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 7 — Air Tidak Pernah Meminta Izin Malam datang tanpa pengumuman. Tidak ada hujan...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 39 — Tempat Yang Kembali Dimiliki Tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Cahaya masuk melalui...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 27 — Senja di Kota Semarang Beberapa minggu telah berlalu sejak Anneliese meninggalkan restoran...
Read More