Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 5

Episode 5 — Tidak Ada Tempat untuk Pulang

Siang itu panasnya aneh.

Bukan terik yang membakar, melainkan panas yang menempel di kulit seperti lapisan tipis yang tak bisa dikipas pergi. Anneliese berjalan di belakang Hendrik, koper kecil mereka berbunyi pelan setiap kali rodanya menghantam celah trotoar. Jalanan tampak biasa saja — toko-toko buka, sepeda motor lalu lalang, orang-orang berbicara dengan nada yang terdengar normal.

Justru itu yang mengganggunya.

Segalanya tampak berjalan seperti seharusnya, kecuali mereka.

“Sebentar lagi juga dapat,” kata Hendrik tanpa menoleh. “Tenang saja.”

Anneliese mengangguk, meski Hendrik tidak melihatnya.

Mereka sudah masuk ke tiga tempat sejak pagi. Dua rumah kos, satu penginapan kecil di gang sempit. Jawabannya selalu sama — harga, uang muka, atau tatapan yang berubah dingin begitu Hendrik menyebut durasi menginap.

Anneliese mulai menghafal pola itu.

Nada suara yang ramah di awal.
Senyum yang menipis saat angka disebut.
Lalu kalimat penutup yang sopan.

Ia tidak lagi merasa malu. Perasaan itu sudah lewat. Sekarang yang ada hanya kekosongan kecil di dada, seperti ruang yang tidak terisi apa pun.

Mereka berhenti di bawah bayangan pohon. Hendrik meletakkan koper, mengusap wajahnya dengan telapak tangan.

“Aku ke ATM dulu,” katanya. “Cek saja. Siapa tahu.”

Anneliese menatapnya.

“Sekarang?” tanyanya.

“Iya. Tunggu di sini.”

Hendrik pergi tanpa menunggu jawaban.

Anneliese berdiri sendiri di trotoar. Orang-orang melewatinya tanpa melambat. Seorang ibu menggandeng anak kecil. Dua remaja tertawa sambil melihat ponsel. Seorang pria tua duduk di bangku halte, menatap kosong ke arah jalan.

Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di kota ini, Anneliese menyadari sesuatu dengan sangat jelas:

Tidak ada satu pun tempat yang bisa ia tuju jika Hendrik tidak kembali.

Ia duduk di bangku halte itu.

Tas kecil diletakkan di pangkuannya. Tangannya menyentuh resleting, membukanya sedikit, memastikan kotak beludru itu masih di sana. Ada rasa lega singkat — kecil, cepat, lalu hilang.

Waktu berjalan lambat.

Lima menit. Sepuluh. Lima belas.

Panas tidak berkurang. Suara kendaraan terus mengalir. Hendrik tidak muncul.

Anneliese memandang ujung jalan. Ia mencoba membayangkan wajah ibunya di Belanda — dapur kecil yang selalu rapi, suara ketel air mendidih, nada bicara yang tenang namun tegas.

Kalau suatu hari kamu harus memilih…

Ia menutup mata sebentar.

Ketika membukanya, Hendrik masih belum ada.

Akhirnya ia datang — wajahnya datar, langkahnya lebih berat.

“Gagal,” katanya singkat. “Kita cari lagi.”

Anneliese berdiri.

Ia ingin bertanya bagaimana, berapa, sampai kapan. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang keluar hanya anggukan kecil, refleks yang sudah terlalu sering dipakai.

Mereka berjalan lagi.

Sore menjelang ketika hujan turun tiba-tiba. Bukan hujan deras, tapi cukup untuk membuat pakaian lembap dan jalanan licin. Mereka berteduh di emperan toko yang sudah tutup. Hendrik memeriksa ponselnya berkali-kali, seolah layar itu bisa memberi solusi.

“Ada satu tempat,” katanya akhirnya. “Murah. Tapi agak jauh.”

“Berapa?” tanya Anneliese.

Hendrik menyebut angka.

Anneliese langsung tahu. Bahkan sebelum ia menghitung ulang di kepalanya, tubuhnya sudah bereaksi. Bahunya menegang sedikit.

“Itu… semua,” katanya pelan.

“Iya,” jawab Hendrik cepat. “Tapi nanti kita pikirkan lagi. Yang penting malam ini aman dulu.”

Aman.

Kata itu terdengar berbeda sekarang.

Mereka tiba di tempat itu saat langit hampir gelap. Bangunan tua, catnya mengelupas, lorong sempit dengan lampu kuning redup. Seorang pria paruh baya duduk di balik meja kecil, menatap mereka dengan mata lelah.

Hendrik berbicara. Anneliese mendengarkan dari samping.

Pria itu menggeleng.

“Minimal tiga malam,” katanya. “Bayar di depan.”

Hendrik menoleh ke Anneliese.

Ada jeda yang terlalu panjang di antara mereka. Jeda yang tidak diisi kata, tapi penuh makna.

Untuk pertama kalinya, Hendrik tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunggu.

Anneliese merasakan sesuatu mengeras di dalam dirinya.

Ia tahu momen ini. Ia sudah merasakannya sejak pagi, sejak hotel, sejak koper pertama ditutup. Ini bukan tentang uang. Ini tentang keputusan — dan siapa yang harus menanggungnya.

Tangannya masuk ke tas.

Ia merasakan kotak beludru itu. Beratnya tidak berubah, tapi maknanya bertambah.

Ia menatap Hendrik.

Hendrik tidak berkata apa-apa. Tidak menolak. Tidak mencegah. Tidak juga menyarankan.

Hanya menunggu.

Dan di situlah Anneliese benar-benar sendirian.

Bukan karena tidak ada orang di sekitarnya.
Bukan karena Hendrik pergi.

Melainkan karena pilihan ini — apa pun hasilnya — akan menjadi miliknya seorang.

Ia menarik tangannya keluar dari tas.

“Tidak jadi,” katanya pelan.

Pria di balik meja mengangkat bahu, kembali menunduk. Hendrik mengangguk singkat, seolah keputusan itu wajar.

Mereka berjalan keluar.

Malam sudah turun sepenuhnya. Hujan berhenti, menyisakan udara lembap dan bau tanah. Jalanan terlihat asing, meski mereka sudah melewatinya beberapa kali.

“Kita cari lagi besok,” kata Hendrik. “Sekarang kita jalan saja.”

“Ke mana?” tanya Anneliese.

Hendrik tidak langsung menjawab.

Ia berjalan dulu beberapa langkah, lalu berkata, “Entah.”

Mereka berjalan tanpa tujuan. Tanpa rencana. Tanpa tempat untuk kembali.

Di sebuah sudut jalan, Anneliese berhenti.

Lampu jalan memantulkan bayangan mereka di aspal basah — dua sosok yang berdiri berdampingan, tapi tidak benar-benar bersama.

Ia menatap bayangan itu lama.

Di dalam tasnya, kotak beludru tetap tertutup.

Di dalam dirinya, sesuatu akhirnya terbuka — bukan harapan, bukan keberanian, melainkan pemahaman yang dingin dan tenang:

Ia tidak sedang tersesat di kota asing.
Ia sedang berdiri di tempat yang lebih menakutkan.

Tempat di mana pulang tidak lagi berarti arah,
melainkan keputusan yang terus ditunda.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya,
Anneliese tahu —
tidak ada tempat untuk pulang

Bersambung ke Episode 6 — Tempat Yang Tidak Bertanya

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 6

Episode 6 — Tempat Yang Tidak Bertanya Mereka menemukannya menjelang sore. Hujan baru saja berhenti....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 18

Episode 18 — Kalimat Yang Datang Terlalu Dini Restoran itu masih sama. Bersih. Tenang. Tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 31

Episode 31 — Ingatan Yang Datang Tanpa Luka Pagi berjalan seperti biasa. Tidak ada yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 27

Episode 27 — Senja di Kota Semarang Beberapa minggu telah berlalu sejak Anneliese meninggalkan restoran...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 19

Episode 19 — Makanan Yang Tidak Diminta Makanan itu diletakkan di depannya tanpa suara. Tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!